
Selang beberapa menit kemudian Cantika pun dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Sampai di sana Cantika memilih untuk duduk sambil mengobrol bersama sang mami.
"Cantika mau makan?" tanya Mikhayla kemudian karena mengingat perut putrinya sama sekali tidak menyentuh makanan selama tiga bulan ini.
"Hmm, Cantika mau nasi goreng buatan mami," jawab anak itu sambil tersenyum manis membayangkan nasi goreng terasi dengan banyak irisan telur dadar di atasnya.
"Baiklah kalau begitu mami pulang untuk bikinin pesanan Cantika ya. Kamu sama papi aja dulu," ujar Mikhayla dan Cantika mengangguk lemah.
"Baik, Kak bantu aku jagain Cantika ya," ujarnya pada Bima kemudian.
"Siap Mik."
Mikhayla pun mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah ya mami pulang sekarang!"
Mikhayla pun berlalu dari hadapan Bima dan putrinya. Sampai di depan pintu dia melihat Tian yang duduk acuh.
"Om," sapa Mikhayla meskipun wanita itu masih merasa canggung.
Rian tidak menjawab dan menganggap sarapan Mikhayla hanya angin lalu saja.
"Hah." Mikhayla hanya menghembuskan nafas kasar lalu pergi dari ruangan itu.
"Mau kemana Mik?" tanya Fera, wanita itu kembali dengan kantong plastik di tangannya. Entahlah Mikhayla tidak mau mencari tahu apa yang dibawa ibu dari Bima itu.
"Pulang Tan, Cantika minta dibuatkan nasi goreng."
Fera hanya mengangguk dan Mikhayla melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit.
"Kamu tidak marah lagi sama papi?"
Fera menghentikan langkah tatkala Bima mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Cantika.
Cantika hanya menggeleng.
"Baguslah kalau begitu. Papa minta maaf ya. Ada alasan kenapa papi tidak bisa membersamai kalian berdua selama ini. Namun, tetap saja papi yang bersalah. Maafkan papi ya!"
Kali ini Cantika mengangguk.
"Papi mencintai mami?" tanya
Cantika kemudian.
"Ya sejak dulu sampai sekarang papi hanya mencintai mami dan juga Cantika," sahut Fergi sambil tersenyum dan memegang pipi putrinya.
"Berikan kesempatan papi untuk terus mencintai kalian."
__ADS_1
"Kenapa papi tidak tinggal sama kamu saja? Papi teman-teman di sekolah tinggal satu rumah dengan mami mereka," ujar anak itu dengan begitu polosnya.
"Nanti setelah papi nikahi mami kamu baru kita hidup satu rumah."
"Hmm, baiklah."
"Bima saya bawakan kalian makanan." Fera masuk ke dalam ruangan dan membuka kantong plastik yang dibawanya. Dia mengeluarkan beberapa kotak kecil styrofoam berisi nasi dan lauk-pauknya.
"Kalian makan ya!"
Bima meraih dua kotak dan mengajak Cantika makan.
"Cantika makan ya? Biar papi suapin."
"Nggak Pi, Cantika mau menunggu nasi goreng buatan mami aja."
"Tapi kan mami masih lama sayang. Ini saja mami pasti masih dalam perjalanan pulang, belum lagi masaknya. Mami juga butuh waktu untuk tiba kembali di rumah sakit ini. Jadi untuk saat ini Cantika makan ini dulu ya?"
"Jadi benar ini mama Papi Bima?" Bukannya mendengarkan penjelasan Bima, Cantika malah fokus menatap Fera.
Fera hanya tersenyum sedangkan Bima terlihat mengangguk.
"Berarti benar dia oma Cantika?" Cantika jadi teringat saat Fera dan Tian menculik dirinya.
Bima mengangguk.
"Itu hanya salah paham sayang," ucap Fera dengan senyum manisnya dan duduk di samping Cantika.
Bima mengernyit, pria itu heran tiba-tiba sang mama respek pada Cantika. Apakah karena Fera sudah tahu bahwa Cantika benar-benar anak Bima?
Sudahlah, Bima tidak perduli. Dia hanya berharap sikap yang ditunjukkan mamanya saat ini benar-benar tulus, bukan ada udang di balik batu.
"Terus kenapa Oma ini mengata-ngatai mami Mika?" tanya Cantika lagi dan kali ini Fera tidak menjawab.
"Masih karena salah paham Sayang. Sekarang bukan waktunya Cantika tahu, tapi kalau nanti Cantika sudah besar papi pasti akan menceritakan segalanya. Sekarang makan dulu ya. Nanti nasi goreng buatan mami untuk makan selanjutnya saja. Bagaimana mau, kan?"
Cantika menatap mata Bima sebelum akhirnya mengangguk.
"Sip, bagus kalau begitu." Bima pun membuka kotak styrofoam itu dan menyuapi Cantika.
"Mama enggak makan juga?" tanya Bima pada Fera sambil terus menyuapi Cantika.
"Ini jatah makan untuk mama juga ada. Sebentar ya mama mau kasih ini sama papa dulu."
Bima mengangguk dan Fera langsung melangkah ke luar.
"Taruh saja Ma, saya tidak lapar. Saya pergi ke kantor saja." Tian bangkit dari duduknya dan meninggal begitu saja Fera yang masih mematung, tak percaya Tian akan bersikap secuek itu pada dirinya.
__ADS_1
"Ngapain juga aku nungguin di sini? Mama itu benar-benar keterlaluan memaksaku untuk ke tempat ini, sudah kukatakan Cantika belum tentu putra Bima. Kalau pun benar untuk apa juga aku pusing-pusing di rumah sakit hanya demi seorang anak dari wanita yang pernah mengatakan diriku pria pengecut." Tian melangkah sambil menggerutu.
Walaupun perkataan Mikhayla yang mengatakan Tian adalah pria pengecut sudah bertahun-tahun, tetapi tidak pernah lekang dari ingatan Tian. Kata-kata itu pulalah yang membuat pria itu sangat membenci Mikhayla.
Di ruko tempat tinggalnya, Mikhayla sedang sibuk berkutat di dapur. Tentunya dia sedang membuat pesanan Cantika.
Ponsel miliknya berdering, Mimhyla mengelap tangannya yang basah sebelum akhirnya mengangkat telepon.
"Kak Bima, ada apa?" Mikhayla menjadi panik sebab takut hal buruk terjadi pada Cantika.
"Halo Kak!
"Mik, kau tidak usah terburu-buru masaknya sebab pagi ini Cantika sudah makan. Jadi nasi gorengnya untuk makan siang saja."
"Oh iya Kak, kirain ada apa. Aku sampai ketar-ketir nih ngangkat teleponnya."
"Cantika tidak apa-apa. Dia aman bersamaku kok. Sudah ya aku tutup teleponnya. Kami lanjutkan aktivitas kamu dengan tenang."
"Bu Mika ada pelanggan yang langsung ingin ditangani oleh Bu Mika."
"Kenapa tidak kamu saja yang tangani Nes? Saya masih sibuk ini."
"Saya sudah bilang bahwa ibu masih sibuk, tetapi dia memaksa. Katanya dia ingin membeli dalam jumlah banyak dan ingin menegosiasikan masalah harga langsung dengan Bu Mika."
"Oh baiklah kalau begitu." Mikhayla membuka celemek lalu berjalan keluar dapur menuju toko.
Setelah selesai melayani pembeli Mikhayla pun melanjutkan aktivitas memaksanya yang sempat tertunda.
"Aku tinggal lagi ya Nes, kalau ada apa-apa boleh panggil aku lagi."
"Siap Bu."
Nasi sudah matang dan bumbu sudah diracik. Kini saatnya Mikhayla menggoreng nasinya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya nasi goreng ala-ala Mikhayla jadi juga.
Wanita itu langsung membungkus 5 nasi goreng untuk di bawa ke rumah sakit. Rasanya tidak etis jika dirinya hanya membawakan untuk Cantika dan Bima saja sementara di sana juga ada Fera dan Tian. Mikhayla tidak mau ambil pusing jika keduanya nanti tidak mau dengan masakan buatannya toh, di rumah sakit ada banyak manusia mungkin mau menerima nasi goreng itu.
"Nes aku ke rumah sakit lagi ya!" pamit Mikhayla.
"Iya Bu."
"Kamu jaga toko, kalau ada apa-apa kalian berdiskusilah dulu sebab saya mau fokus pada Cantika saja."
"Iya Bu."
Mikhayla mengangguk lalu berangkat ke rumah sakit.
Bersambung.
__ADS_1