
Mikhayla masih menyusuri jalanan dengan berjalan kaki sambil memikirkan dirinya dan Mailena hingga dia tersadar telah meninggalkan Cantika dalam waktu yang lama.
Dia langsung menoleh ke belakang dan melihat taksi yang lewat.
"Kok sepi sekali ya?" Akhirnya Mikhayla memutuskan untuk menelepon taksi online.
Beberapa saat kemudian taksi yang dipesannya pun datang dan Mikhayla langsung naik serta meminta sopir taksi untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih sebab dirinya teramat khawatir dengan Cantika yang ditinggalkannya dalam waktu yang lama. Padahal dia berjanji pada anak itu akan kembali dalam waktu yang cepat.
Saat taksi melaju kencang di jalanan, mendadak kepala Mikhayla terasa pusing.
"Pak pelankan saja!" Mikhayla kira dirinya mabuk perjalanan karena mobil melaju dalam keadaan kencang.
"Baik Nona." Pak sopir pun melakukan apa yang diperintahkan.
Tiga setengah jam melakukan perjalanan akhirnya Mikhayla sampai juga di depan ruko tempat tinggalnya.
"Benar ini alamatnya Nona?"
"Iya Pak terima kasih." Mikhayla pun meraih dompet di kantong celananya dan membayar ongkos taksi sesuai dengan yang tertera di taksi meter.
"Sama-sama Nona." Taksi pun melintas kembali di jalanan.
"Aduh kenapa kepalaku tambah sakit?" Mikhayla berjalan sambil tertatih menuju bangunan ruko.
"Apa karena aku banyak pikiran?" Perempuan itu memijit pelipisnya tanpa menghentikan langkah. Rasanya begitu lama sampai ke toko sedangkan jarak dari jalan raya ke toko hanya beberapa meter saja.
"Mami!" Cantika yang melihat sang mami datang, bersorak-sorai sambil berlari ke arah Mikhayla.
__ADS_1
Mikhayla tersenyum melihat putrinya begitu bahagia menyambut kedatangannya padahal mereka hanya terpisah beberapa jam saja.
"Mami kok lama sekali?"
"Maaf Sayang mami tadi ada urusan mendadak." Mikhayla merentangkan tangan agar putrinya masuk ke dalam pelukannya. Cantika pun mengencangkan larinya.
Namun, sebelum Cantika sampai di depannya, pandangan Mikhayla mengabur kemudian menghitam. Keringat dingin bercucuran dan badannya terasa lemas.
Bruk.
Tubuh Mikhayla terhuyung dan terbentur lantai.
"Mami!"
"Om Johan tolong!" teriak Cantika histeris.
"Ada apa Cantika?" Johan dan Agnes langsung berlari ke arah Cantika yang menunduk sambil menangis.
"Ada apa Cantika? Ada apa dengan mamimu?"
"Nggak tahu Om, tiba-tiba Mami jatuh." Menjawab sambil menyeka air matanya.
"Dia menutup mata, hiks."
Segera Johan memeriksa denyut nadi Mikhayla.
"Tenanglah, mami kamu hanya pingsan saja. Nanti juga sadar."
__ADS_1
Cantika mengangguk.
"Agnes bantu aku membawa tubuh Mika ke dalam!"
"Baik Bang Jo." Keduanya hendak menggotong tubuh Mikhayla. Namun tiba-tiba,
"Ada apa ini?" Fergi yang melihat ada orang berkerumun di depan toko Mikhayla segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya dan berlari mendekat.
"Mika tiba-tiba pingsan Pak Fer," lapor Agnes.
"Om Fergi tolong Mami." Cantika mendekap erat tubuh Fergi dengan air mata yang bercucuran.
"Tenang Cantika ada Om Fergi di sini. Om Fergi tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada mami kamu."
Cantika mengangguk. "Saya percaya pada Om Fergi."
Fergi tersenyum sambil mencubit pipi Cantika. "Anak manis tidak boleh bersedih."
Mata Fergi langsung tertuju pada tangan Mikhayla yang ada perbannya.
"Sepertinya ada yang tidak beres cepat bawa dia ke dalam mobilku. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!"
"Apa ada yang gawat Pak?" tanya Agnes sambil menggotong tubuh Mikhayla berdua dengan Johan sedangkan Fergi langsung menggendong tubuh Cantika dan juga membawanya ke mobil.
"Agnes ikut dan Johan kendalikan toko!" perintah Fergi.
"Baik Pak."
__ADS_1
Setelah Agnes masuk ke dalam mobil, Fergi pun memutar haluan dan membawa Mikhayla ke rumah sakit.
Bersambung.