Mikhayla, Strong Mother

Mikhayla, Strong Mother
MSM BAB 9. Tidak Bisa Move On Dan Bertemu Bima.


__ADS_3

"Kamu kenapa Mik?" Fergi segera turun dari mobil dan mendekati Mikhayla yang terduduk lemas.


"Fergi, kau kembali?" Pipi Mikhayla sudah basah dengan air mata.


"Iya dompetku ketinggalan. Kau sendiri kenapa?"


"Cantika hilang Fer dan sepertinya dia diculik. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Mbak mereka pergi ke arah mana?"


"Ke sana Mbak." Tetangga yang ditanyakan Mikhayla tadi menunjuk ke arah kanan dari tempatnya berdiri saat ini.


"Baiklah ayo kita cari sekarang!" ajak Fergi.


"Kau ambillah dompetmu dulu dan aku akan menutup toko dulu." Dengan susah payah Mikhayla mencoba berdiri sebab tubuhnya masih terasa lemah. Fergi mengulurkan tangan dan membantu wanita itu berdiri.


Setelah menarik rolling toko dan mengunci pintu segera keduanya berlari menuju mobil.


"Ayo Mik cepat, jangan sampai kita kehilangan jejak!"


Mikhayla mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Fergi pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak perduli pengendara lainnya yang protes tidak suka dengan cara menyetir Fergi yang seperti mau balapan saja.


"Bagaimana kita bisa tahu mobil mana yang membawa Cantika?" gumam Fergi.


"Entahlah aku juga tidak mengerti." Otak Mikhayla benar-benar buntu.


"Oh my God seharusnya kita tadi bertanya pada Mbak yang melihat Cantika bagaimana ciri-ciri mobilnya." Fergi menepuk dahinya. Dia benar-benar merasa bodoh kali ini. Gara-gara panik dirinya melupakan untuk menanyakan sesuatu yang krusial tentang mobil dan ciri-ciri orang yang membawa Cantika pergi.


"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja," saran Fergi.


"Terserah, apapun itu yang penting Cantika bisa kembali dengan selamat."


"Oke." Mendapatkan persetujuan dari Mikhayla, Fergi segera menelepon polisi sedangkan dirinya dan Mikhayla masih berusaha mencari Cantika di jalanan meskipun tidak tahu harus mencari kemana.


Mendapatkan laporan dari Fergi, polisi segera bertindak. Mereka langsung menyebarkan berita kehilangan anak kecil dan menyebar anggotanya untuk mencari keberadaan Cantika.


"Pa, kenapa ada banyak mobil polisi di jalanan?" Fera tampak panik sedangkan Tian masih fokus menyetir. "Tenanglah Ma, jangan bersikap yang membuat orang curiga. Mungkin polisi sedang melakukan patroli seperti biasa."


"Tapi Pa mereka memberhentikan semua mobil yang ada dan memeriksa ke dalam mobil." Fera terlihat takut sedangkan Cantika tampak cuek di dalam mobil. Gadis kecil itu fokus memainkan boneka Barbie pemberian Fera.


"Tenanglah Ma, mungkin mereka ingin memeriksa adanya narkoba di mobil-mobil. Mungkin saja ada berita penyeludupan yang masih belum dipecahkan kasusnya." Tian sama sekali tidak menggubris kekhawatiran sang istri. Dalam hati berpikir tidak mungkin Mikhayla secepat ini melaporkan berita kehilangan. Menurutnya Mikhayla saat ini pasti sedang mencari Cantika disekitaran toko.


Tok, tok, tok.


"Buka kacanya!" Seorang polisi tampak mengetuk kaca mobil.


"Tuh kan Pa, bagaimana ini?" Fera semakin panik.


"Tenang Ma, tenang!" tekan Tian. Kalau Fera begini terus, polisi pasti akan mencurigai mereka.


"Buka kacanya!" ulang polisi.


Tok, tok, tok.


"Iya Pak sebentar. Ada apa?" tanya Tian dengan masih bersikap tenang.


Polisi tidak menjawab, hanya memasukkan kepala lewat kaca dan memeriksa keadaan di dalam mobil. Dia menatap Cantika dan layar ponselnya secara bergantian.


"Anda ditangkap atas tuduhan penculikan anak."


Fera terpaku di tempat. Kekhawatirannya terbukti sudah, sedangkan Tian masih berusaha bersikap tenang.


"Maksud Bapak?"


"Itu ... gadis kecil itu Cantika, kan? Ibunya melaporkan anak tersebut diculik dan sekarang ditemukan di dalam mobil Anda," terang polisi.


"Loh-loh kok sembarangan menuduh? Saya ini kakek dan neneknya loh Pak," akunya.


"Mana mungkin menculik cucu sendiri?"


"Anda membawa gadis itu tanpa izin. Kalau memang salah paham, ikut kami dan selesaikan di kantor polisi."


Mendengar pernyataan polisi segera Tian menghidupkan mesin mobil ingin kabur dari tempat tersebut. Namun, polisi yang lain segera menghadang di depan mobil.

__ADS_1


"Anda tidak bisa kabur, kalau kabur maka bisa dipastikan ***** ini akan mengenai betis Anda."


"Pistol? Pak polisi mau menembak?" Cantika ketakutan. Dia yang berbicara dengan Barbie langsung kaget saat melihat polisi memperlihatkan pistol pada Tian.


"Tidak anak kecil, kami hanya ingin menyelamatkan dan membawamu ke orang tuamu. Ibumu panik saat ini dan mencarimu kemana-mana."


"Apa, Mami mencari Cantika? Kata nenek ini sudah izin sama mami akan membawaku jalan-jalan."


"Tidak mereka berbohong, mereka ingin menculikmu."


Mendengar penjelasan dari polisi, Cantika langsung mengingat video yang ditontonnya di YouTube tentang cerita penculikan anak. Dengan sigap dia langsung membuka pintu mobil dan turun ke bawah. Polisi segera meraih tubuh gadis kecil itu dan menggendongnya.


"Anak kecil tenang saja, kami akan mengantarkanmu pada ibumu."


Mikhayla mengangguk dalam gendongan. Polisi itu membawa Cantika ke dalam mobil, sedangkan beberapa polisi lainnya langsung menangkap Fera dan Tian.


"Terima kasih Pak polisi, kalian telah menyelamatkan anak saya," ucap Mikhayla saat menyerahkan Cantika padanya.


"Sama-sama, itu sudah tugas kami."


Mikhayla mengangguk. "Beri hukuman yang sepadan agar orang tersebut tidak melakukan aksi penculikan lagi," pinta Mikhayla.


"Pasti, setiap kejahatan akan memperoleh balasan yang setimpal."


"Kok aku jadi penasaran sama orangnya seperti apa? Apa kamu tidak ingin melihatnya Mik? Saya pikir ini perlu sebagai antisipasi kalau suatu saat nanti orang itu akan melakukan hal yang sama."


"Ayo silahkan masuk ke dalam. Tersangkanya sudah ada di dalam."


Fergi dan Mikhayla mengangguk dan mengikuti langkah polisi masuk ke dalam.


Sampai di dalam Cantika kaget melihat dua orang yang telah menculik putrinya ternyata adalah orang tua Bima.


"Mika!" seru Fera.


Namun, Mikhayla acuh dan langsung pergi keluar.


"Mik!" panggil Fera.


Tian langsung menghubungi Bima dan memberitahukan bahwa diri dan istrinya ditahan karena kesalahpahaman.


"Fer antar aku pulang."


"Oke ayo."


Setelah mengucapkan terima kasih pada pihak kepolisian sekali lagi, mereka langsung pamit.


Fergi menggendong Cantika dan membawanya ke dalam mobil.


"Kita ke restoran dulu ya sebentar," ucap Fergi.


Mikhayla menoleh ke arah Cantika. Melihat anak kecil itu mengangguk, Mikhayla pun ikut mengangguk.


Setelah makan-makan di restoran Fergi, pria itu tidak langsung mengantarkan Mikhayla pulang melainkan membawa keduanya ke pusat permainan agar kedua wanita itu bisa melupakan kesedihan yang dialaminya tadi. Apalagi sedari tadi Mikhayla tampak murung terus.


Sebenarnya Mikhayla ingin protes, tetapi karena melihat senyum Cantika yang merekah karena Fergi memberitahukan kemana akan pergi, Mikhayla urung.


Di dalam gedung, Fergi langsung membawa Cantika ke area permainan. Dia mengajak Cantika bermain berdua sebab Mikhayla tidak mau ketika diajak.


"Aku mau jadi koki seperti Om Fergi." Cantika berlari ke arah mainan masak-masakan. Dia terlihat fokus memasak seperti yang dilakukan Mikhayla waktu itu di restoran Fergi. Setelah selesai dia menyuruh Fergi mencicipi masakannya dan pria itu pun pura-pura mengunyah.


"Aku mau jadi dokter." Kini Cantika beralih pada mainan dokter-dokteran. Gadis kecil itu meraih stetoskop dan memaksa Fergi untuk membuka baju.


"Nggak mau Cantika, Om nggak mau diperiksa kalau dokternya kayak gini. Kamu itu dokter atau tukang urut sih."


"Ayolah Om." Cantika tetap memaksa dengan menarik baju Fergi.


"Cantika!" Fergi kabur dengan tertawa-tawa dan Cantika mengejar juga dengan tawa renyahnya.


Melihat keakraban keduanya, Mikhayla tersenyum senang.


"Ayo mami kita mandi bola." Cantika menarik tangan Mikhayla, wanita itupun menurut sebab tidak ingin senyum yang tertoreh di bibir si kecil layu begitu saja.

__ADS_1


Akhirnya mereka bermain bertiga sambil tertawa-tawa. Semua orang yang melihat keakraban ketiganya pasti menyangka mereka adalah satu keluarga. Keluarga kecil yang bahagia.


Setelah selesai dengan permainan mandi bola, Mikhayla dan Fergi memilih duduk dan menyaksikan Cantika yang sedang mencoba wahana permainan lainnya.


"Mik aku mau bicara."


"Bicara saja Fer, masa mau ngomong aja pakai minta izin segala."


Fergi menarik nafas dulu sebelum berkata. Pria itu terlihat gugup. Mikhayla mengernyit, dia merasa Fergi hari ini begitu aneh.


"Mik, mau tidak kamu jadi kekasihku?" Fergi langsung menggaruk kepala saat menyadari ucapannya terlalu to the poin sehingga tidak ada romantisnya sama sekali.


"Kamu ngomong apa sih Fer, bercanda saja." Mikhayla menjawab dengan mata yang fokus mengawasi Cantika.


"Aku tidak bercanda Mik, sebenarnya sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah tertarik padamu. Perlahan tapi pasti rasa ketertarikan itu semakin dalam dan berubah menjadi cinta."


Mikhayla menghela nafas panjang.


"Bagaimana Mik apa kau mau menerimaku? Menikah dan punyaku anak denganku? Hidup dan menua bersama?"


Mikhayla tidak menjawab. Dia bingung harus berkata apa. Andai saja cinta bisa dipaksakan sudah dipastikan dia akan memilih Fergi untuk menjadi suaminya. Sebagai seorang pria Fergi terlihat begitu sempurna. Tampan, body bagus, kaya dan baik. Apalagi yang kurang dengannya?


"Mik, kalau kau tidak bisa menjawab sekarang tidak apa-apa aku akan menunggunya." Fergi mengetuk-ngetukkan jari pada pahanya untuk menghilangkan rasa gugup.


Mikhayla menatap wajah Fergi.


"Fer!"


"Iya?"


"Aku minta maaf, aku tidak bisa menerima cintamu, maaf." Sekuat hati Mikhayla menahan rasa tidak enak pada Fergi. Namun, dia tidak ingin memberikan harapan lebih jauh kepada Fergi sebab tidak ingin pria itu kecewa terlalu dalam padanya. Jujur meski sekuat apapun Mikhayla melupakan Bima. Namun, nama laki-laki itu tetap bersarang di hatinya. Ada rasa benci dan cinta bersamaan di sana.


"Apa kurangku sehingga kau menolak cintaku?" Fergi mencoba bertanya disela rasa kecewa yang menyeruak.


"Kau terlalu sempurna Fer, biarkan kau mendapatkan gadis sesempurna dirimu."


"Kau sudah sempurna di mataku Mik."


"Tidak Fer kau salah sebab hatiku sudah tertahan di lain hati. Rasa cintaku sudah menjadi milik orang lain Fer, aku tidak bisa memberikannya padamu."


"Huft, rupanya kamu masih belum bisa melupakan papi Cantika?"


Mikhayla mengangguk lemah. "Maaf ya Fer aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya aku ingin memaksa diriku untuk bisa cinta padamu, tapi rasanya sulit dan aku tidak mau kau hanya menjadi pelarian saja."


"Hmm, baiklah tidak masalah. Jika suatu saat kau bisa melupakan rasa cinta padanya katakan padaku."


Meskipun ragu Mikhayla mengangguk juga.


"Mi, capek mau pulang."


"Oke ayo om antar sekarang."


***


"Mami Cantika sudah lama tidak makan ayam di sini." Cantika menunjuk restoran fast food yang dilintasinya saat pulang dari sekolah.


"Mau beli sekarang?"


"Iya."


"Baiklah." Mikhayla pun menepikan motornya di depan restoran cepat saji dan menggandeng tangan Cantika masuk ke dalam.


"Ramai banget. Kamu duduk di sini ya biar mami yang ngantri."


"Iya."


Mikhayla pun masuk ke dalam barisan antrian sedangkan Cantika menunggu di kursi dengan tenang.


"Cantika selain chicken mau pesan apala-?" Mikhayla tercengang ternyata Cantika sedang asyik mengobrol dengan Bima.


"Kak Bima?" Mikhayla menutup mulut. Dia keluar dari barisan antrian tetapi tidak langsung mendekat ke arah Cantika dan Bima melainkan mengawasi keduanya dari jarak jauh.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2