Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 19


__ADS_3

Mahesa ke tempat dimana kecelakaan terjadi, ia ingin mengambil hasil tes yang diambil oleh Angga di rumah sakit. tiba di sana dapat ia lihat mobil Angga yang sudah ringsek di bagian depan.


Mahesa keluar dari mobil dan mendekati mobil Angga. ia membuka pintu dan mencari map yang berwarna coklat. sayangnya bahkan sampai di tempat duduk belakang, ia tidak menemukan map itu.


"Cakra bilang ada di dalam mobil, ini kenapa nggak ada" Mahesa bingung dan menggaruk kepala. ia mengambil ponselnya dan menghubungi Cakra


panggilan tersambung


πŸ“žCakra


halo Hes, ada apa...?


πŸ“ž Mahesa


elu bilang map-nya ada di dalam mobil kan...?


πŸ“ž Cakra


iya, apa elu sudah menemukannya...?


πŸ“ž Mahesa


gue nggak menemukan apapun, bahkan gue udah cari di setiap sudut tapi nggak ada


πŸ“ž Cakra


masa sih nggak ada, Angga simpan di kursi bagian tengah


πŸ“ž Mahesa


nggak ada Cak, gue udah periksa semuanya


πŸ“ž Cakra


mungkin diamankan oleh polisi lain. coba elu cari tau siapa yang bertugas saat itu


πŸ“ž Mahesa


ya sudah, gue tutup


Mahesa mematikan panggilan dan menghubungi seseorang. ia menghubungi teman sesama polisi untuk menanyakan siapa yang bertugas dalam mengamankan kecelakaan yang terjadi di jalan itu.


saat tau siapa orangnya, Mahesa segera masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke kantor. ia ingin menemui polisi tersebut.


"Raga, Juna ada...?" tanya Mahesa kepada Raga. Raga adalah rekan kerja Arjuna


"ada tuh di dalam. tumben tanyain Juna" ucap Raga


"gue ada perlu" jawab Mahesa


segera Mahesa membuka pintu dan ia dapat melihat seorang polisi yang sedang sibuk dengan berkas di depannya.


"Jun" panggil Mahesa


"oi Hes, ada apa...?" Arjuna melihat ke arah Mahesa


"kecelakaan yang terjadi di jalan Kenanga elu yang urus kan...?" tanya Mahesa


"iya emang kenapa...?" Arjuna bertanya balik


"elu sempat periksa di dalam mobil Angga nggak...?"


"periksa sih, kenapa sih. elu cari sesuatu...?"


"iya. elu melihat amplop coklat nggak di dalam mobil itu...?"


"amplop coklat...? Arjuna bertanya dan Mahesa mengangguk


"seingat gue, gue nggak melihat amplop coklat. emang kenapa dengan amplop itu...?"


"elu benar-benar nggak lihat amplop itu...?" bukan menjawab, Mahesa malah bertanya


"nggak Hes, kalau gue liat ngapain juga gue bohong. emang penting banget ya isi di dalam amplop itu"


"sangat penting Jun. sial, siapa sih ngambil" Mahesa memijit pelipisnya


"thanks ya Jun, kalau gitu gue cabut dulu" Mahesa beranjak dari tempat duduknya


"oke" Arjuna mengangguk


Mahesa keluar dari ruangan Arjuna dengan perasaan kesal. ia kemudian berjalan meninggalkan kantor polisi dan akan ke rumah sakit untuk menemui Cakra.


di kost 010 tampak sepi dan sunyi. tentu saja sepi karena penghuninya sedang melakukan aktivitas di luar.


Damar sedang bersiap untuk ke kampus, laptop sudah ia masukkan ke dalam tas begitu juga buku-buku yang lain. ia kemudian keluar dari kamarnya dan mengunci pintu. namun saat sudah di ruang utama ia teringat dengan sesuatu.


"oh iya, cucianku kan belum gue jemur" Damar menepuk jidatnya


ia melepas tasnya dan menyimpan di atas meja. setelah itu ia naik ke lantai dua menuju tempat cucian kemudian ia berjalan ke arah balkon untuk menjemur pakaian yang telah ia cuci tadi.


saat menjemur pakaian Damar dapat melihat salah satu teman kost yang sedang duduk di balkon itu sambil menghisap sebatang rokok

__ADS_1


(sejak kapan dia merokok) batin Damar saat melihat penghuni kost itu


posisi Damar sekarang berada di sebelah kanan, balkon di kanan adalah khusus untuk jemuran sedang di bagian kiri biasa digunakan penghuni kost 010 untuk bersantai. keduanya dihalangi oleh pot bunga yang besar sehingga seseorang itu tidak dapat melihat Damar.


selesai menjemur, Damar melangkah pelan untuk mendekati teman kostnya itu. ia ingin mengejutkannya namun tidak disangka malah Damar yang terkejut saat dirinya mendengar ucapan laki-laki itu.


"bagaimana hubungan mu dengan Mahendra...?" tanya seseorang itu yang sedang berbicara dengan seseorang di sambungan telepon


"kamu masih mencintainya...?"


(kenapa dia menyebut nama Mahendra, dan dengan siapa dia berbicara" Damar bersembunyi di pot bunga. meski sedikit jauh namun suaranya sangat terdengar jelas


"begitu ya...?" ia kembali menghisap rokoknya. kemudian ia menghidupkan speaker ponselnya dan meletakkan di sampingnya


"iya, kamu laki-laki tipe aku banget" ucap seorang wanita di sebrang sana.


mendengar suara wanita itu, Damar terlonjak kaget. ia tau suara siapa itu. Damar tidak percaya bagaimana keduanya bisa saling mengenal.


(itu kan suara..... bagaimana bisa mereka saling kenal. pantas saja dia menyebut nama Mahendra) batin Damar


Damar melihat jam tangannya, 20 menit lagi perkuliahan akan dimulai, namun karena masih penasaran apa yang akan mereka bicarakan, Damar bertahan ditempat itu.


(gue kok seperti pencuri yang takut ketahuan tuan rumah ya) batin Damar


"jadi sekarang Mahendra bukan lagi tipemu...?"


"dia itu membosankan dan sangat cupu. berani nyentuh aku aja nggak. aku suka laki-laki yang terlihat cool seperti kamu. kamu lebih mempesona daripada Mahendra"


pria itu hanya tersenyum tipis mendengar ucapan wanita di sebrang sana. sesekali ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya.


"kamu mau bermain denganku...?"


(bermain...?) Damar mengernyitkan keningnya


"tentu saja aku mau, siapa yang akan menolak bermain dengan laki-laki tampan dan memesona seperti kamu"


"baiklah, aku akan tentukan kapan permainan kita dimulai. aku sudah tidak sabar" pria itu tersenyum menyeringai


"aku juga tidak sabar ingin secepatnya bertemu denganmu"


"masih ingat pesanku kan...?"


"tentu, tidak ada seorangpun yang tau siapa kamu termasuk teman-teman dan keluargaku"


"bagus. kalau gitu aku tutup dulu ya, sampai bertemu nanti"


"oke...see you"


setelah mematikan panggilannya, ia membuka kartu miliknya dan mematahkan kemudian melemparnya dibawah.


"permainan akan dimulai lagi. tidak sabar rasanya ingin mendengar jeritanmu. apakah sama seperti korban-korban yang lainnya ataukah suara mu lebih seksi dari mereka" ia kembali membakar rokok dan menghisapnya


(korban....? apa maksudnya...?) Damar semakin dibuat penasaran


pria itu bersandar di kursi namun tanpa sengaja luka di bagian belakang kepalanya tertanduk membuat dirinya meringis kesakitan dan mengumpat.


"ssshhh...aw...sialan" ia memegangi kepalanya


"gara-gara anak sialan itu kepala gue jadi luka seperti ini. harusnya bukan temannya saja yang gue tusuk tapi dia juga gue tikam sekalian. Alan sialan"


deg


deg


deg


mendengar ucapan pria itu seketika tubuh Damar bergetar bahkan dirinya sudah berkeringat dingin. jantungnya berpacu lebih cepat, nafasnya seakan tercekat di tenggorokan. ia sama sekali tidak menyangka kalau pembunuh berdarah dingin yang selama ini dicari oleh polisi ada diantara mereka.


apa yang didengarnya tadi harus ia beritahu kepada yang lain. mereka harus tau siapa pembunuh yang selama ini menjadi incaran polisi.


Damar membalikkan badannya namun sayang keranjang yang dipegangnya tanpa sengaja ia tendang sehingga mengeluarkan bunyi.


(mampus gue) Damar menutup mata


"siapa di situ...?" tanya pria itu


"perasaan kost ini kosong deh, Damar juga udah ke kampus layaknya tadi" ucapnya lagi


ia melangkah untuk memastikan siapa yang berada dibalik pot bunga itu. Damar semakin deg-degan dan bahkan kini ia menahan nafas agar suaranya tidak keluar.


"meong....meong" seekor kucing entah darimana menghampiri pria itu. bahkan kucing itu keluar dari tempat persembunyian Damar


"ternyata kucing, gue kira siapa" ia kembali duduk di kursinya


Damar bernafas lega, kucing itu menyelamatkan nyawanya. dengan hati ia berjalan dengan posisi duduk. sangat pelan agar langkah kakinya tidak terdengar. setelah berbelok, Damar berdiri dan berjalan terburu-buru. ia bahkan sempat oleng karena tubuhnya yang bergerak. di tangga hampir saja dirinya jatuh, untungnya seseorang menahan tubuhnya.


"hati-hati dong Dam" Mahendra membantu Damar


"Hen...g-gue....g.gue" Damar terbata, entah mengapa lidahnya sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata


"tenangin diri dulu. ayo gue bantu ke ruang utama" Mahendra merangkul bahu Damar dan membawanya ke ruang utama

__ADS_1


"tunggu disini, gue ambil minum dulu"


Mahendra meninggalkan Damar yang sedang kalut ketakutan. tangannya dingin dan bahkan kini wajahnya pucat. tidak lama Mahendra datang dengan segelas air minum ditangannya.


"nih minum dulu" Mahendra memberikan gelas itu kepada Damar


Damar mengambil gelas yang diberikan Mahendra dan meneguk airnya tanpa sisa. setelah itu ia menyimpan gelas itu di atas meja.


"sekarang ceritakan pelan-pelan, elu tadi kenapa sampai hampir jatuh dari tangga" Mahendra bertanya


"Hen, gue mau ngomong sesuatu. ini penting banget dan kalian semua harus tau" Damar berucap dengan serius


"emang elu mau ngomong apa...?" Mahendra menatap Damar, bersiap mendengarkan


belum sempat Damar menceritakan kejadian yang dia alaminya tadi, pria yang sedang berada di balkon tadi turun dan menghampiri mereka.


seketika Damar membisu dan tidak bersuara. ia menelan ludah dengan susah payah. pria itu tersenyum ke arah mereka dan duduk bergabung bersama mereka.


"elu belum ke kampus Dam...? tanyanya


"emmm..belum" jawab Damar berusaha terlihat seperti biasanya


"lanjut dong Dam, elu mau ngomong apa...?" Mahendra kembali mengingatkan Damar untuk melanjutkan perkataannya tadi


"aduh maaf banget ya Hen gue harus cabut. udah telat nih" tanpa pamit Damar mengambil tasnya dan meninggalkan keduanya


"tuh anak kenapa...?"


"nggak tau juga, pas dari atas tadi sikapnya udah rada aneh. bahkan dia hampir jatuh dari tangga"


"dari atas...?" pria itu mengangkat satu alisnya


"iya, gue berpapasan dengannya tadi. katanya ada yang mau dia omongin tapi entah apa gue juga nggak tau. dia bilang ini penting banget dan kita semua harus tau"


pria itu menatap ke arah pintu dimana Damar sudah lama menghilang dibalik pintu.


"gue ke atas dulu ya mau rebahan" ucap Mahendra


"oke" setelah Mahendra pergi, ia pun pergi ke kamarnya.


saat ini Damar tampak sangat gelisah, bahkan disaat dosen menjelaskannya di depan, dirinya tidak fokus. pikirannya melalang buana ke tempat lain. teringat dengan kejadian di kost 010 tadi, ia tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang yang begitu dianggapnya sangat baik ternyata adalah seorang psikopat.


"Dam, elu kenapa sih. dari tadi gue liat elu gelisah banget" Evan teman jurusannya bertanya


"nggak kenapa-kenapa" jawab Damar


"nggak kenapa-kenapa tapi elu gelisah gitu. elu punya masalah...?


"nggak, gue hanya nggak enak badan aja"


Damar sebenarnya sedang memikirkan cara bagaimana dia bisa untuk memberitahu semua penghuni kost 010 bahwa diantara mereka ada seorang pembunuh.


(apa yang harus gue lakukan) Damar begitu frustasi


(apa gue beritahu ketiga polisi itu saja. tapi kalau gue beritahu mereka terus buktinya apa. gue nggak punya bukti apapun)


Damar semakin dilema, pikirannya semakin berkecamuk dan kacau. terbayang para korban yang telah dibunuh oleh salah satu penghuni kost 010. Damar takut kalau seandainya ia tidak memberitahu siapapun, teman satu kostnya itu akan mencari korban selanjutnya.


(astaga, apa jangan-jangan yang dia maksud bermain tadi adalah....dia ingin membunuh...?)


(ini nggak boleh dibiarkan, gue harus beritahu Mahendra. iya, orang yang harus gue kasi tau pertama adalah Mahendra)


tekad Damar sudah bulat, tentang kejadian tadi dia akan memberitahu Mahendra. karena pemikiran Damar, target selanjutnya adalah seseorang yang pernah dekat dengan Mahendra, terbukti tadi saat pria itu menyebut nama Mahendra dan dia sedang berbicara lewat sambungan telepon dengan wanita itu.


Damar mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan untuk ia kirimkan ke Mahendra.


Damar : Hen, ada waktu nggak...? gue mau ngomong sesuatu sama elu


Damar mengirim pesannya kepada Mahendra. 1 detik....2 detik....3 detik....4 detik.....5 detik.... dan bahkan sudah 5 menit namun belum juga ada balasan dari Mahendra. hingga nanti menit ke 10 Damar menunggu barulah ponselnya berbunyi


ting....


Damar segera membuka layar kunci ponselnya dan membaca balasan pesan dari Mahendra.


Mahendra : ada, mau ngomong apa Dam...?


Damar : gue mau lanjutin pembicaraan yang terhenti tadi. kita ketemu di cafe depan kampus ya


Mahendra : oke, gue yang milih tempatnya ya. nanti gue kirim lokasinya dimana


Damar : oke


setelah menunggu beberapa saat pesan Mahendra akhirnya masuk lagi.


Mahendra : kita ketemu di jalan cendrawasih jam 9 malam


Damar mengernyitkan keningnya saat menerima pesan dari Mahendra. untuk apa ke jalan itu kalau hanya ingin sekedar bertemu. jalan itu jauh dari tempat mereka.


Mahendra : gue ada kegiatan di sana jadi sekalian aja kita ketemu disana


pesan Mahendra masuk lagi dan saat Damar membacanya, ia tidak segera menyetujui tempat yang diusulkan oleh Mahendra.

__ADS_1


Damar : oke, jam 9 malam gue nyusul elu


setelah mengirim pesan itu, Damar kembali fokus dengan perkuliahannya. namun ia juga tidak sabar menunggu malam tiba karena beban pikirannya tidak bisa ia tanggung seorang diri


__ADS_2