
"Danil jadi takut" ucap Danil yang merapatkan badannya ke Mahendra
"tenang dek, ada Abang" Mahendra merangkul adiknya itu
"jadi apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Iyan
"waspada dan berhati-hati. tetap menjaga diri masing-masing. kita nggak tau siapa diantara kita yang menjadi pelaku karena kita semua adalah tersangkanya. mulai sekarang jangan terlalu percaya kepada siapapun termasuk itu gue" Rahim menjawab
"jadi sekarang kita akan saling mencurigai satu sama lain...?" tanya Wili
"masih mencurigai Wil, belum menuduh" timpal Damar
"gue jadi nggak berselera makan" ucap Faiz
"gue juga" timpal Randi
"makanlah, habiskan makanannya. kita boleh curiga, takut dan resah tapi harus tetap jaga kesehatan. bagaimana mau melawan pembunuh kalau kita lemah" Rahim mengambil piringnya dan kembali melanjutkan makannya
"abang santai sekali seolah tidak punya ketakutan sama sekali" Kevin melihat ke arah Rahim
"takut hanya akan membuat pembunuh itu semakin senang. yang perlu ditakuti itu Tuhan bukan seorang pengecut yang sembunyi dibalik topeng malaikat dan berlagak layaknya manusia paling baik" skak Rahim
Kevin manggut-manggut dan memakan nasi gorengnya, yang lain pun kembali makan.
setelah sarapan, mereka bersiap untuk pergi ke ulang tahun anak ibu kost, ibu Nani. mereka masih bersikap seperti biasa tidak ada yang berubah hanya saja satu persatu dihati mereka memiliki rasa was-was terhadap sesama.
"emang mulainya jam berapa sih...?" tanya Alan
"jam 10, di rumah Tante Nani" jawab Faiz
sekarang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tersisa 1 jam lagi waktu untuk dimulainya acara. setelah semuanya siap, mereka segera berangkat menuju rumah ibu Nani.
rumah ibu Nani memang jauh dari tempat kost, sekitar 30 menit mereka telah sampai di rumah yang berlantai dua dengan cat warna ungu. wanita itu sepertinya pecinta warna ungu.
"rumahnya gede" ucap Danil
"namanya juga juragan kost" timpal Kevin
mereka memakirkan kendaraan di depan rumah kemudian Faiz menyuruh semuanya untuk masuk ke dalam.
di dalam sudah ada anak-anak panti asuhan yang diundang dan juga salah seorang ustad. ibu Nani menyambut kedatangannya squad 010 dan mempersilahkan mereka duduk. semua duduk di lantai beralaskan karpet yang tebal. di dekat ibu Nani, seorang gadis yang memakai hijab duduk manis sambil memperhatikan squad 010. dia sepertinya heran namun Faiz melambaikan tangan ke arahnya, barulah ia mengerti kalau mereka adalah teman kakaknya itu.
di saat akan segera mulai, dari arah dapur muncul salah beberapa orang lainnya, mereka adalah laki-laki dan Iyan sangat mengenal salah satunya, termasuk Olan dan Alan.
(*dia kan yang pengacau kemarin di cafe) batin Iyan menatap Ardian
(loh, dia ada di sini juga) batin Olan*
Ardian melihat ke arah Iyan dengan tatapan tajam. laki-laki itu kaget kenapa bisa ada Iyan di acara ulang tahun tersebut.
acara pun dimulai. satu persatu rangkaian acara berlanjut sampai kini pemberian amplop untuk anak-anak panti. setelah itu acara dilanjutkan dengan makan-makan, ibu Nani mempersilahkan semuanya untuk mencicipi hidangan mereka.
"Iz, laki-laki itu siapa...?" tanya Iyan, dia melihat ke arah Ardian yang sedang berbincang dengan anak ibu Nani
"pacarnya Melan, namanya Ardian. kenapa...?" tanya Faiz. Melan adalah nama anak ibu Nani
"nggak, nggak kenapa-kenapa" Iyan menggeleng
dia tidak memberitahu kalau sebenarnya Ardian pernah datang ke cafe tempatnya bekerja bahkan membuat keributan. dia membawa pacarnya tapi bukan Melan melainkan gadis lain. Iyan jadi teringat dengan gadis di cafe tersebut.
setelah acara selesai dan para tamu yang diundang pulang, kini penghuni kost 010 berniat untuk pamit juga. Faiz mendekati ibu Nani untuk berpamitan. wanita itu berjalan ke arah yang lainnya untuk menyapa mereka.
"terimakasih ya kalian sudah hadir" ucap ibu Nani
"harusnya kami yang berterimakasih Bu, sudah diundang ke acara ini" timpal Rahim
"sudah jangan sungkan dengan saya. oh iya kalian tunggu sebentar" ibu Nani meninggalkan mereka
sambil menunggu mereka duduk di sofa ruang tengah. Melan menghampiri mereka bersama dengan Ardian.
"kak Faiz" panggil Melan
"ada apa Mel...?" tanya Faiz
"mau ngucapin terimakasih sudah datang diacara ulang tahun aku" jawab Melan
"kamu ngundang mereka sayang...?" tanya Ardian
"kami diundang ibunya, kenapa...?" Iyan menjawab ketus
"dasar sampah" ucap Ardian menghina Iyan
"woi elu jangan kurang ajar ya" Kevin naik pitam Ardian memanggil abangnya dengan sampah
"kenapa...? dia itu memang sampah, seorang pelayan cafe yang sok jagoan" cibir Ardian
"mending sok jagoan daripada menjadi laki-laki playboy tukang selingkuh" skak Iyan
Ardian tercekat, dia kini menjadi kikuk jangan sampai Iyan mengatakannya apa yang terjadi di cafe kemarin, bisa hancur hubungannya dengan Melan"
"tukang selingkuh...?" Melan melihat Ardian
"jangan dengarkan dia sayang, dia itu sampah yang nggak guna, bicaranya pasti ngawur" Ardian membujuk Melan untuk tidak mendengarkan ucapan Iyan
"cih, dasar munafik" cibir Iyan
"ngomong apa lu...?" Ardian menarik baju Iyan
"apa lu" Iyan menepis tangan Ardian dengan kasar
bughhh
Ardian memberikan bogem mentah ke wajah Iyan. tidak terima di pukul, Iyan membalas memukul Ardian bahkan laki-laki itu tersungkur beberapa meter.
"bangun lu, jangan kira gue takut ya sama lu" Iyan mulai emosi
__ADS_1
"Iyan cukup, ini bukan rumah kita" Rahim membentak adiknya itu
"tapi dia yang mulai bang" elak Iyan
"gue bilang cukup" bentak Rahim lagi
Melan mendekat Ardian yang memegangi wajahnya. yang lain kaget begitu juga ibu Nani yang baru saja datang dengan beberapa rantang susun di tangannya yang sudah di isi dengan beberapa makanan dan lauk
"ada apa ini...?" tanya ibu Nani
"maafkan kami bu, sudah membuat keributan di sini. kami akan pulang sekarang" Rahim sangat menyesalkan apa yang diperbuat oleh Iyan
"ya sudah, ini bawalah untuk kalian di kost" ibu Nani memberikan rantang makanan itu
"tidak usah Bu, kami sudah diundang saja sudah sangat berterimakasih sekali" Rahim menolak. dia sangat tidak enak hati dengan ibu kost mereka itu
"jangan sungkan, kalian itu anak-anak saya. ambillah dan hati-hati di jalan" ibu Nani memberikan makanan itu kepada Faiz dan Randi dan dengan terpaksa mereka menerima
"makasih banyak Bu, kalau begitu kami pulang dulu" ucap Rahim
"iya" jawab ibu Nani
"tante, Faiz pulang ya" Faiz berpamitan
"iya iya, hati-hati" ibu Nani mengelus lengan keponakannya itu
Ardian pun ikut pamit saat squad 010 telah pulang. dia pulang bersama beberapa temannya yang diajaknya untuk ke ulang tahun Melan.
rupanya mereka mengejar squad 010 dan menghadang mereka di jalan. terpaksa squad 010 berhenti dan turun dari motor masing-masing.
"urusan kita belum selesai sampah" Ardian menunjuk Iyan
"gue nggak punya nafsu untuk mengurusi orang naif seperti elu" Iyan menjawab
"aduh gimana dong ini, bakalan di hajar kayaknya kita" Danil mulai khawatir
"mundur dek, kamu di belakang saja" Mahendra berada di belakangnya Danil
"kalian semua mau apa...?" tanya Olan
"menghajar sampah sialan itu" Ardian menunjuk Iyan
"sampah yang elu maksud itu adik gue, berani lu sentuh dia, elu berurusan sama gue" Rahim menjawab
"oke, siapa takut. kalian pikir bisa mengalahkan kami" Ardian melihat ke arah teman-temannya yang sepertinya sudah siap untuk bertarung
"hajar mereka" perintah Ardian
buaaaak
buaaaak
baru saja memberi perintah, Kevin sudah melayangkan tendangan ke arah dua teman Ardian. keduanya langsung tumbang seketika.
"brengsek"
baku hantam pun tidak dapat dielakkan. mereka saling serang satu sama lain. Danil yang memang tidak pintar bela diri hanya bersembunyi di balik motor.
jebret
jebret
buaaaak
bughhh
kraaaak
"aaaggghh"
Kevin mematahkan tangan lawannya yang berusaha menusuk Iyan. Damar yang sepertinya mahir bela diri langsung mengukung lawannya dan meninju hidungnya bahkan sepertinya sampai patah.
"aaaa bang Arga" teriak Danil saat salah satu teman Ardian mendekat dirinya
buaaaak
Faiz menendang kepala laki-laki itu hingga menabrak motor dan menindihnya.
sementara Ardian melukai salah satu squad 010 dengan pisaunya yang ia sembunyikan di balik jaketnya.
sreeet....
"aaaggghh"
"Kevin"
"bangsat lu"
buaaaak
bughhh
bughhh
jebret
melihat Kevin terluka, Wili langsung menghajar Ardian dengan membabi buta. Olan menarik tubuh Wili agar menjauhi Ardian. bisa mati Ardian kalau Wili terus menghajarnya tanpa ampun. teman-teman Ardian yang lainnya pun sudah babak belur.
"lepasin bang, manusia seperti dia dibunuh saja sekalian" Wili memberontak saat Olan memeluk dirinya
"sadar Wili, elu mau jadi pembunuh dan masuk penjara" Olan membentak Wili dan seketika Wili terdiam
sementara Kevin yang sudah dibutakan emosi, mengambil pisau salah satu teman Ardian yang pingsan dan akan menusuk Ardian.
"bang Kevin jangan" Alan berlari dan
__ADS_1
jleb....
"Alan" semuanya shock dan kaget saat pisau itu di tahan oleh Alan dengan tangannya Rahim berlari mendekati keduanya dan
plaaaak
tamparan keras mendarat di wajah Kevin. bahkan Kevin tersungkur ke tanah. tangan Alan terluka dan mengeluarkan banyak darah.
"pakai ini bang" Mahendra memberikan sapu tangannya kepada Rahim
segera Rahim mengikat tangan Alan agar darah tidak terus keluar. sedang Kevin dibantu oleh Damar untuk berdiri.
Ardian sudah kabur bersama teman-temannya. mereka yang awalnya songong pada akhirnya dikalahkan oleh squad 010.
"marah boleh saja Vin, tapi jangan sampai membunuh" Rahim mendekat Kevin dan mengikat lukanya dengan baju di sobeknya
Kevin menarik tangannya dengan kasar namun Rahim menahannya karena belum selesai mengikat luka adiknya itu.
"gue nggak mau hanya karena membunuh kalian masuk penjara. gue nggak mau kehilangan kalian semua, cukup Damar aja yang pergi, kalian jangan" Rahim mengatakan hal itu dengan suara bergetar
"tapi dia melukai gue bang, dia udah buat kita babak belur. harusnya gue hajar dia tadi sampai mampus" Kevin masih emosi
"lalu apa setelah membuat dirinya mati hidup elu bisa tenang...? elu akan jadi pembunuh Vin" ucap Faiz
Kevin tidak mengatakan apapun lagi namun tangannya terkepal kuat. Randi mengelus lengannya untuk menenangkan temannya itu.
kini mereka pulang namun bukan ke kost melainkan ke rumah sakit untuk mengobati luka Alan dan Kevin. setelah mendapat pengobatan, mereka pulang ke kost. hari yang sangat melelahkan untuk mereka semua.
tiba di kost, Faiz menyimpan makanan yang dibawa pulang tadi ke dalam kulkas. Kevin langsung naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Alan pun disuruh istirahat oleh Iyan. yang lainnya masih berkumpul di ruang utama. hingga setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat.
Zulfikar baru saja membaca data setiap pemuda yang mereka selidiki. tidak ada yang mencurigakan selain yang pertamakali yang dia dapatkan di salah satu data pemuda itu. kemudian dia mencari-cari sesuatu di akun sosial media milik korban, hingga dirinya menemukan sesuatu. segera ia menghubungi Mahesa.
📞 Mahesa
ada apa Zul...?
📞 Zulfikar
masih lama nggak..?
📞 Mahesa
nggak, udah mau pulang juga ini
📞 Zulfikar
gue tunggu di kantor
📞 Mahesa
ok
setelah menerima telepon dari Zulfikar, Mahesa segera tancap gas menuju kantor polisi. beberapa menit dia sampai di kantor mereka dan segera menemui Zulfikar.
"bagaimana, ada hasil...?" tanya Mahesa
"lihatlah...?" Zulfikar menunjukkan sebuah foto yang dia ambil di salah satu akun sosial media milik seseorang
"foto apa ini...?" Mahesa terlihat bingung
"itu adalah foto Clara dengan seorang teman perempuannya. namun bukan foto mereka yang harus elu perhatian melainkan seseorang yang berada di belakang mereka"
Mahesa memperhatikan seseorang yang tertangkap kamera ponsel kedua gadis itu. di belakang mereka salah satu laki-laki sedang memperhatikan keduanya, tampak terukir senyuman di sudut bibir laki-laki tersebut. dia memakai topi hitam, yang mempunyai tulisan huruf S di samping topinya
"dia bukankah...?" Mahesa melihat ke arah Zulfikar
"iya, dia salah satu dari mereka. dan lihat foto yang ini" Zulfikar menunjukkan foto yang lainnya
"di foto itu juga, laki-laki yang sama sedang duduk di sebuah taman, dia tertangkap kamera saat Clara mengambil gambar dirinya kemudian memposisikan di akun sosial medianya. bukankah dia melirik ke arah Clara...?" ucap Zulfikar
"iya benar, tapi di foto ini tidak menunjukkan kalau mereka berteman. laki-laki itu hanya tertangkap kamera dari ponsel Clara saja"
"oke, sekarang lihat yang ini" Zulfikar menunjukkan foto yang lain
"di situ Clara sedang berada di pantai, dan lagi-lagi seorang laki-laki tertangkap kamera. wajahnya tidak terlihat namun elu pasti tau mengenai topi yang dia kenakan" lanjut Zulfikar
"ini sama dengan topi yang dikenakan dirinya" Mahesa mengambil dua foto dan melihatnya dengan jelas
"ini mungkin belum menjadi bukti yang kuat tapi dengan itu kita dapat mengawasi gerak-geriknya" ucap Zulfikar
"darimana elu mendapatkan foto-foto ini...?" tanya Mahesa
"dari akun sosial media milik Clara"
"tapi dulu Cakra telah memeriksa namun dia tidak menemukan foto ini"
"mungkin Cakra tidak melihat dengan jelas foto-foto itu. kita pun kalau melihat sekilas akan tidak terfokus kepada seseorang yang tertangkap kamera di belakang sana. kita hanya akan fokus kepada dua gadis cantik ini" ucap Zulfikar
"bagus, dengan ini kita akan semakin mengawasinya. bukan hanya dirinya namun juga yang lain akan terus kita pantau" ucap Mahesa
"sekarang apa yang kamu temukan di sana...?" Zulfikar bertanya
"memang benar, dia pernah terapi di salah satu dokter psikolog yang gue temui tadi. dia adalah salah satu pasien yang rutin menemui dokter tersebut" jawab Mahesa
"elu nggak tanya apa yang dia keluhkan...?" tanya Zulfikar
"emosional, dirinya tidak dapat mengontrol dirinya dalam emosi yang menguasainya. bahkan saat merasa tidak suka, dia berani menyakiti seseorang bahkan berniat menghabisinya"
"mentalnya tertekan sewaktu kecil. dia pernah melihat ayahnya terus menyiksa ibunya bahkan sampai menyaksikan ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri"
"di saat itu mentalnya mulai terganggu. dirinya bahkan sering menyakiti orang lain bahkan menyiksa hewan-hewan yang dianggapnya mengganggu"
"sebenarnya itu adalah emosi yang ingin dia keluarkan, namun karena tidak berani karena akan dipukul oleh ayahnya, dia menyimpan rasa marah dan dendam itu dalam dirinya. sehingga setelah dewasa dia tidak mudah mengontrol emosi dan melampiaskan kepada orang lain saat dia merasa orang tersebut mengganggunya"
"baiklah, dua orang ini akan terus diawasi namun bukan berarti yang lainnya terlepas dari jangkauan kita"
__ADS_1