Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 38


__ADS_3

"udah mau mati masih sempat juga meracau ya lu" Wili tersenyum mengejek ke arah Kevin yang kini sudah tidak meresponnya


kemudian Wili meninggalkan Kevin di bilik itu. seakan sudah hafal dengan seluk beluk ruang bawah tanah itu, Wili bahkan tidak memerlukan cahaya untuk meneranginya. ponselnya diambil oleh Maureen untuk menerangi jalan gadis itu.


sampai di ujung, Wili menaiki anak tangga satu persatu dan setibanya di atas, dia membuka pintu ruang rahasia itu. rupanya pintu adalah sebuah lemari. dia hanya menggeser lemari yang ada di kamarnya itu dan seketika dirinya sudah berada di dalam kamar. kamar yang pernah Mahesa periksa sebelumnya.


"cewek sialan. kalau aku menemukanmu akan aku keluarkan semua isi perut mu" Wili mengumpat kesal


dia mengambil ponsel cadangan di dalam lemari dan mengaktifkannya. setelah itu dirinya memeriksa keberadaan seseorang, kemudian dia memasukkan ke dalam kantung celananya dan keluar dari kamar meninggalkan rumah itu.


sementara Maureen masih terus menyusuri jalan. dirinya masih berada di dalam hutan dan belum sampai di ujung kota. tenaganya sudah hampir tidak ada namun dirinya memaksa untuk tetap berjalan. sesekali dia melihat di belakangnya, jangan sampai Wili mengejarnya.


"ya Allah, aku udah nggak kuat" Maureen berhenti di sebuah pohon dan duduk bersandar di sana


nafasnya tersengal, dia begitu haus dan kelaparan. beberapa hari tidak makan dan minum membuat dirinya tentu saja merasa lemah dan tidak punya tenaga.


setelah merasa cukup istirahat, dia kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya. ponsel yang ada di tangannya tidak bisa dibukanya lantaran pemiliknya memakaikan kata sandi. ponsel itu hanya dapat dia gunakan untuk menerangi jalannya.


lama berjalan dia pun menemukan jalan raya, namun bukannya di tempat penduduk melainkan masih berada di tengah hutan. dia baru saja keluar dari jalan setapak yang pernah di lalui Mahesa sebelumnya untuk mencari jejak.


"kenapa lama sekali aku belum juga sampai" Maureen sudah semakin lelah


hingga kemudian langkahnya terhenti karena mendengar suara mobil dari arah belakang. dengan cepat dia bersembunyi di balik pohon dan mematikan senter ponselnya. dia tau kalau itu pasti adalah Wili.


setelah mobil itu melewatinya dan semakin jauh, Maureen keluar dari tempat persembunyiannya dan mengatur nafas.


"berusaha Maureen, Kevin sedang menunggumu" dia menyemangati dirinya sendiri


di sisi lain Mahendra sedang bersama Damar di cafe kopi nikmat. Damar yang sedang menyamar menjadi mahasiswa dan kost di tempat Mahendra, kini sedang memakai jaket, topi, masker serta kacamata agar dirinya tidak diketahui oleh orang lain. kacamata bulat yang kekinian bertengger di hidungnya dan menambah aura misterius dari polisi itu.


"elu sudah memasang cctv...?" tanya Mahendra


"gue sudah menyuruh seseorang untuk memasangnya" jawab Damar


"siapa, elu begitu percaya dengan orang-orang yang ada di kost itu"


"gue percaya pada Danil adik elu, makanya gue menyuruh dia untuk memasang kamera itu di tempat yang aman"


mendengar nama adiknya, Mahendra merasa lega. tidak ada yang dapat dia percaya selain Damar dan adiknya sendiri untuk saat ini. pembunuh bermuka dua akan menjelma menjadi siapa saja untuk mengelabui semua orang.


"apa rencana kali ini akan berhasil...?"


"tidak akan berhasil kalau kita hanya diam ditempat. kita harus merencanakan sesuatu yang lain dan rencana ini adalah yang akan kita lakukan"


"bagaimana kalau dia nggak memunculkan diri...?"


"nggak mungkin, saat merasa dia terancam karena seseorang gue yakin dia pasti akan mencari dan mendatangi orang itu"


Mahendra diam dan menatap minumannya, entahlah dia merasa apakah bisa menahan emosi saat tau siapa nanti pelakunya.


"kenapa, apa elu takut...?" Damar menyelidik


"nggak sama sekali, gue hanya nggak sabar ingin tau siapa pelakunya. apakah gue bisa menahan diri atau nggak" Mahendra menjawab


"ambil ini" Damar memberikan sesuatu yang dibungkus oleh sapu tangan. dia menyimpan benda itu di depan Mahendra


"apa ini...?" Mahendra menatap Damar


"untuk berjaga-jaga, kalau nanti elu terancam elu bisa menggunakan itu"


"jangan bilang kalau ini adalah..."


"iya betul, gue berikan itu padamu karena gue nggak punya senjata yang lain"


Mahendra membuka sapu tangan itu, dapat dia lihat isi di dalamnya. sebuah pistol milik Damar yang sengaja diberikan untuknya. Mahendra menutup kembali dan melihat Damar.


"gue nggak tau cara menggunakannya"


"gampang saja, elu tinggal arahkan pistol ke arah buruanmu dan tarik pelatuknya. gue yakin nggak sesulit itu buat elu untuk menggunakan benda seperti ini. bukannya elu sering nonton film action bersama Kevin, maka seperti itulah cara pakainya" Damar menjelaskan


"tenang saja, gue akan bersiap untuk selalu di dekat elu"


"bagaimana dengan yang ada di kost, apa mereka akan aman...?"


"pembunuh itu pastinya akan mengincar elu, jadi gue yakin yang di kost mereka akan baik-baik saja"


Mahendra manggut-manggut tanda mengerti. sementara Wili menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mengirimkan pesan ke grup 010.

__ADS_1


Wili : siapa yang ada di kost...?


Rahim : tinggal elu, Iyan, Olan dan Mahendra yang ada di luar


setelah membaca pesan dari Rahim, Wili kembali menyalakan mobilnya dan tancap gas ke suatu tempat.


seperti yang telah direncanakan, Mahendra pulang setelah jarum pendek menunjukkan angka 1. malam itu Mahendra bersiap untuk pulang, dia mengendarai motornya hingga kemudian dirinya sampai di kost. namun di depan sudah ada yang menunggu dirinya, seseorang yang tidak dia kenali namun dia tau kalau sosok itu adalah si pembunuh.


"elu menungguku...?" Mahendra turun dari motornya. dirinya dan si pembunuh saling berhadapan


"bukan gue yang menunggumu tapi malaikat maut yang sedang menunggu kepulangan mu" jawabnya dari balik maskernya


"sudah gue duga elu pasti akan datang. kenapa takut sekali identitasmu terbongkar. harusnya elu bangga akan dikenal banyak orang nantinya" Mahendra melihat ke arah kaca spion motornya, dibelakang sana sudah bersiap beberapa orang yang akan melindunginya nanti


"harusnya gue habisi elu bersama mantan pacarmu itu, sayang sekali dia sudah menghadap Tuhan lebih dulu. kini giliran elu yang akan gue kirim ke akhirat" dia mengeluarkan pisau tajam di balik jaketnya


"bersiaplah mati Mahendra Argadinata"


dia mulai menyerang Mahendra, dengan segera Mahendra menghindar dan terjadilah pertarungan antar keduanya.


buaaaak


buaaaak


pukulan di perut dan tendangan mendarat di kepala si pembunuh. di balik maskernya dia tertawa dan merenggangkan otot-ototnya.


"boleh juga kemampuan mu"


baru saja hendak menyerang kembali Mahendra, Damar dan tiga orang polisi langsung keluar dari persembunyian dan mengepung keduanya.


"angkat tangan, jangan bergerak" Mahesa dan ketiga rekannya mengarahkan pistol ke arah si pembunuh


"bajingan, elu menjebak gue" dia menatap nyalang ke arah Mahendra


"rupanya si jenius psikopat seperti elu punya otak yang kerdil juga" Mahendra mengejek


di dalam kost Danil yang baru saja bangun dan turun ke bawah ingin mengambil air minum mendengar suara di depan sana. dia kemudian mengintip dari jendela dan dapat dilihat beberapa orang termasuk si pembunuh yang berpakaian seperti biasanya saat akan menghabisi korbannya.


"bang Arga"


"bang Rahim, gawat bang" ucap Danil


"kenapa sih Dan, apanya yang gawat...?" Rahim masih dengan muka bantalnya


"bang Arga dan pembunuh itu...mereka di luar... mereka"


"apa...?" Rahim kaget seketika


tanpa menunggu lagi dia segera berlari ke ruang utama dan membuka pintu. Danil segera membangunkan semua penghuni kost. kini suasana tampak heboh dan mereka semua berlumba keluar dari kost. di luar pagar, mereka dapat melihat seseorang yang telah dikepung oleh ketiga polisi dan juga Mahendra.


"Mahendra" Rahim membuka pagar dan mendekat


"lihat bang, pembunuhnya datang memunculkan dirinya sendiri" Mahendra menunjuk seseorang yang wajahnya tidak terlihat karena ditutupi oleh masker


"siapa kamu sebenarnya...?" Rahim bertanya


yang lainnya pun mendekat. Danil bersembunyi di belakang Mahendra. mereka baru kali ini berhadapan langsung dengan buronan polisi yang selama dicari-cari.


"hanya ada tiga pilihan bang. dia kalau bukan bang Olan, bang Iyan maka dirinya adalah Wili. karena hanya mereka yang belum pulang sampai sekarang" ucap Randi terus melihat sosok yang masih misterius bagi mereka


"buka saja maskernya bang" ucap Faiz


Zulfikar segera meringkus pembunuh itu bahkan kini telah memborgolnya. anehnya si pembunuh hanya tertawa terbahak melihat dirinya dikeroyok oleh banyak orang.


hingga kemudian dia melawan dan mendorong Zulfikar yang akhirnya tersungkur ke tanah. dia menarik salah satu penghuni kost yang dijadikan sebagai sandera.


tangannya yang diborgol sudah berada di leher Randi dengan pisau yang bertengger di lehernya.


"Randi"


"jangan maju bang" Randi melarang Faiz untuk mendekat karena pisau tajam itu sudah pasti akan mengiris lehernya


"keparat. lepaskan dia bangsat" Mahendra begitu emosi


"berani maju, akan gue bunuh dia di depan mata kalian semua" ancamnya


"tetap di tempat bang jangan mendekat. gue nggak apa-apa" Randi mengingatkan

__ADS_1


"lepaskan dia, atau saya tidak akan segan menembakmu" Mahesa terus maju saat pembunuh itu terus saja mundur


"tetap ditempat mu polisi sialan atau gue akan benar-benar mengiris lehernya"


dia semakin mendekat ke arah mobilnya dan memaksa Randi untuk masuk ke dalam. saat itu juga Mahesa menarik pelatuk pistolnya dan menembak si pembunuh hingga mengenai pahanya.


"aaaggghh brengsek"


sreeet


dia langsung mengiris leher Randi dan saat itu juga Randi langsung jatuh tergelatak di tanah. pembunuh itu melarikan diri dengan mobilnya. Damar langsung mengejar si pembunuh begitu juga Mahesa dan Zulfikar. sementara Cakra dan yang lain histeris melihat Randi sudah bersimpah darah di tanah.


"bang Randi"


"Randi"


Rahim segera mengangkat kepala adiknya itu. darah terus keluar dari lehernya.


"AMBILKAN KAIN CEPAT" Rahim bergetar melihat darah Randi yang begitu banyak keluar


dia menahan darah itu dengan kedua tangannya namun meskipun begitu tidak akan semudah itu untuk menutupi luka yang menganga lebar di leher Randi.


sraaaak


"pakai baju gue bang" Faiz merobek bajunya dan memberikan kain itu kepada Rahim


"bertahanlah Randi" dengan air mata yang mengalir deras, Rahim mengikat leher Randi dengan baju yang telah dirobek oleh Faiz


"bang Randi, bertahan bang" Danil terisak


"b-bang" Randi memegang tangan Rahim


"jangan banyak bicara dulu Ran, kita akan membawamu ke rumah sakit"


"m-maafkan g-gue b-bang...m-maaf" mulut Randi pun telah mengeluarkan darah


"bawa di mobil saya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Cakra


Rahim menggendong Randi membawa ke mobil Cakra. semuanya masuk ke dalam mobil. Cakra langsung tancap gas meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.


"jangan tutup matamu Ran, jangan tutup mata" Rahim terus mengajak Randi untuk bicara


untung saja pembunuh itu menggorok leher Randi hanya mengenai di bagian samping. karena saat pembunuh itu akan mengiris lehernya, Randi memalingkan wajah ke arah kiri dan memberontak sehingga pisau tajam itu berpindah tempat ke bagian bawah leher.


"g-gue akan susul b-bang D-Damar"


"nggak Randi, elu akan selamat. bertahanlah sebentar lagi, jangan tinggalkan kami" Mahendra sama terisaknya seperti yang lain


"cepatan pak" Rahim berteriak


mobil milik polisi itu melambung siapa saja yang berada di depannya. hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. segera Mahendra turun dan membuka pintu dengan lebar. Rahim turun menggendong Randi dan berlari ke dalam.


"suster... dokter... tolong adik saya... tolong adik saya" teriakan Rahim mengagetkan semua orang


"ada apa mas...?" seorang perawat datang menghampiri mereka


"tolong adik saya suster, cepat suster" Rahim mendesak


melihat keadaan Randi, suster tersebut berlari mengambil brankar dan membaringkan Randi di sana. mereka segera membawa Randi ke ruang ICU. dokter yang menangani Randi berlari cepat saat mendengar laporan dari salah satu suster yang mengatakan ada pasien yang membutuhkan pertolongan cepat.


"dokter, tolong selamatkan adik saya dok, tolong" Rahim memohon dengan mata yang sembab


"berdoa ya pak, saya akan berusaha semampu saya" dokter itu masuk ke ruang ICU


"hiks...hiks...bang Randi bertahan bang" Alan terduduk di lantai


"ya Allah, tolong jangan ambil Randi, jangan ambil adikku" Rahim tersungkur di depan pintu ICU


"bang" Mahendra datang memeluk Rahim


bayangan Damar terlintas di kepala mereka. kehilangan Damar sudah sangat menyakitkan hati mereka. mereka tidak akan sanggup jika sekarang harus kehilangan lagi teman yang sudah dianggap seperti saudara.


masih terdengar Isak tangis, sudah berjam-jam namun sampai sekarang pintu ruangan itu belum juga terbuka.


baju Rahim sudah dipenuhi dengan noda darah, dirinya tidak peduli begitu juga dengan Faiz yang kini hanya menggunakan baju sebelah karena pakaiannya itu telah dirobeknya untuk membalut luka leher Randi.


sedangkan Cakra mencoba menghubungi rekannya namun tidak ada jawaban. mungkin sekarang ketiga polisi itu sedang mengejar si pembunuh yang melarikan diri setelah melukai Randi.

__ADS_1


__ADS_2