
"tumben lu mau main ke sini lagi, biasanya selalu minta ketemu di luar" Mahendra datang dari arah dapur dan meletakkan dua cangkir kopi di atas meja
"tumben apanya, gue sering juga datang di sini malah dibilang tumben" Robi mengangkat cangkir minumannya dan meneguk isinya
"udah lama kali elu nggak pernah main ke sini" ucap Mahendra
"cih, siapa coba yang nggak bisa diajak nongkrong di sini kalau bukan elu. waktumu hanya untuk Maureen seorang...dasar bucin" Robi mencebik dengan wajah ditekuk
"hehehe, makanya jangan jomblo terus biar nggak jadi jomblo ngenes"
"gue masih nyaman sendiri seperti ini. berurusan sama cewek ribet bro, banyak maunya. mau inilah mau itulah, apakah kalau lagi ngambek...beuuuh.... bikin pusing kepala" Robi menggeleng kepalanya
"ada-ada saja lu. oh iya, lu bilang ada urusan sama gue. ada apaan emangnya...?"
"emmm di sini masih ada kamar kosong kan...?"
"kenapa emang, elu mau pindah kos...?"
"rencana sih gitu. elu tau kan gimana keadaan di kos gue. apalagi kalau datang teman-teman dari senior-senior di tempat itu. minum-minum sampai mabok parah. teriak-teriak tengah malam yang buat kita terganggu banget. belum lagi aroma minuman yang nyengat banget di hidung. gue udah nggak betah" Robi menjelaskan kegelisahan dirinya, alasan dirinya untuk pindah mencari kos baru
"kalau gitu di sini aja, masih ada dua kamar kosong, tapi....."
"tapi kenapa Hen...?" Robi bertanya dengan begitu penasaran
"emmm...gimana cara ngomongnya ya" Mahendra menggaruk hidungnya
"ya elah tinggal ngomong doang susah banget sih. ada apa sih...?"
"oke...jadi begini" Mahendra mengambil posisi duduk yang nyaman
"di sini memang masih ada kamar kosong, di lantai atas. kamar almarhum Kevin dan kamar Damar yang seorang polisi yang melakukan waktu itu. hanya saja di kos ini sedang nggak aman"
"nggak aman gimana maksudnya...?"
Mahendra mulai menceritakan apa yang sedang mereka alami. dari teror yang dialami Alan, seekor kucing yang dibunuh dan sebuah tulisan ancaman untuk mereka. hingga kemudian teror itu berlanjut tadi subuh saat mereka pulang dari masjid. beberapa tikus yang sudah dimutilasi di simpan di dalam kamar Mahendra dan Danil yang melihatnya. teror itu menggemparkan penghuni kost.
"dan sampai sekarang kami belum tau siapa pelakunya" ucap Mahendra
"berarti kalian dalam bahaya sekarang" timpal Robi
"justru karena itu gue ragu elu tinggal di sini. bukan gue nggak senang hanya saja gue nggak mau terjadi sesuatu sama elu. gue nggak mau elu kenapa-kenapa".
"ya ampun Hen, belum juga gue tinggal, elu udah mikir negatif aja"
"pikiran negatif sudah bersarang di otak gue sejak satu tahun yang lalu Rob. saat dimana gue kehilangan Damar dan juga Kevin serta Wili yang ternyata psikopat sebenarnya"
"elu khawatir sama gue...?"
"kalau nggak khawatir, ngapain gue ragu elu tinggal di sini. elu sahabat gue yang berarti buat gue Rob"
"baru sadar lu kalau gue berarti...?"
"sejak dulu memang seperti itu"
"kalau gue berarti buat elu maka begitupun juga sebaliknya. elu sahabat gue yang paling berarti. nggak mungkin gue hanya melihat saja elu dalam bahaya tanpa membantu elu. keputusan gue sudah bulat, gue akan tinggal di sini"
"Robi, jangan main-main"
"siapa yang main-main sih"
"pikirkan lagi, di sini nggak aman"
"Hen selagi kita bersama dan saling menjaga, semua akan aman-aman saja. elu terlalu takut sampai-sampai memikirkan hal-hal yang buruk yang belum tentu terjadi. yang terjadi kepada Damar dan Kevin itu menjadi pelajaran buat kita untuk saling menjaga satu sama lain"
"masalahnya nggak semudah yang elu pikir Rob, gue takut...."
"Mahendra, jika elu selalu takut seperti ini. bagaimana bisa elu bisa melawan peneror itu. pokoknya gue nggak mau menerima penolakan, gue akan tetap tinggal di sini. sekarang tunjukkan dimana kamar yang kosong, gue pengen liat"
"kunci kamarnya ada sama bang Rahim. dia yang bertanggung jawab sama kos ini, termasuk penghuni baru yang berminat untuk tinggal di sini"
"kalau begitu hubungi saja bang Rahim, sebentar sore elu bantu gue untuk mengurus pindahan gue"
saat itu Riki baru saja turun dari lantai dua. dia melempar senyum kepada Robi saat mereka saling tatap. penghuni baru itu masuk ke dalam kamarnya kemudian beberapa menit keluar lagi menghampiri Mahendra dan Robi.
"penghuni baru ya...?" tanya Robi, karena ia baru kali itu melihat Riki. Mahen sedang berbicara dengan Rahim lewat panggilan telepon
__ADS_1
"iya bang, baru kemarin gue pindah ke sini. kenalin gue Riki" Riki menjulurkan tangannya
"Robi" menyambut tangan Riki dan mereka berjabat tangan
"udah gue hubungi bang Rahim, dia bilang kalau elu mau tinggal di sini, nanti sore kamar yang elu pilih akan dibersihkan. bang Rahim pulang jam 5 sore, masih ada urusan di kampus" Mahendra menyimpan ponselnya di atas meja
"bang Robi mau tinggal di sini juga...?" tanya Riki
"iya, entar sore gue mau pindahin semua barang gue ke sini" jawab Robi
"tambah rame kalau gitu. Riki bantu pindah boleh nggak, ya sekalian cari pekerjaan juga daripada duduk toh di kos"
"boleh boleh, entar sore kita berangkat ke kosan gue" Robi mengangguk setuju
disisi lain mobil Mahesa telah tiba di jalan Anyer. mereka kini tengah mencari rumah yang bernomor 7, itu adalah alamat rumah yang dikirimkan seseorang di ponsel Mahesa melalui nomor Damar.
"mana sih rumahnya, ini kan sudah jalan Anyer" ucap Angga melihat sebelah kanan sementara Zulfikar yang duduk di kabin tengah fokus di sebelah kiri
"Hes, sepertinya itu rumahnya" Zulfikar menunjuk rumah yang bercat abu-abu
Mahesa menepikan mobilnya di depan rumah itu. mereka bertiga keluar dari mobil memasuki halaman rumah dan kini telah berada di depan pintu rumah yang berwarna putih tersebut.
tok...tok...tok
"assalamualaikum" salam Mahesa
"wa alaikumsalam" suara jawaban salam terdengar dari dalam
cek lek
saat pintu dibuka, terlihat seorang remaja laki-laki yang membukakan pintu. Zakyas menatap satu persatu laki-laki gagah dan tampan yang ada didepannya yang menggunakan seragam polisi lengkap.
(gue kan menghubungi teman bang Damar, kenapa yang datang malah para polisi) batin Zakyas menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"emm cari siapa ya pak...?" tanya Zakyas
"kami mencari Damar. apa benar Damar ada di dalam. tadi saya menerima pesan dari seseorang yang menggunakan nomor Damar kalau dirinya sedang terluka dan orang itu mengirimkan alamat rumah ini. saya juga sudah berbicara dengannya lewat telpon" Mahesa menjelang Keda mereka
(yang datang polisi, apa iya bang Damar itu...)
"eh maaf pak. iya betul bang Damar ada di dalam dan yang menghubungi bapak tadi adalah saya. silahkan masuk pak" Zakyas membuka lebar-lebar pintu rumahnya
"mari saya antar ke kamar Damar" Zakyas berjalan terlebih dahulu sementara ketiga polisi itu mengikutinya
"kak Damar ada di dalam, bapak masuk saja. saya tinggal sebentar untuk memanggil orang tua saya" Zakyas meninggalkan mereka
Mahesa membuka pintu kamar berwarna putih itu. saat terbuka, terlihat di dalam kamar seorang wanita sedang menyuapi Damar makan sementara Damar bersandar di kepala ranjang.
mendengar pintu di buka, keduanya menoleh untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.
"kalian datang" senyuman Damar mengembang melihat siapa yang datang
ketiganya menghampiri Damar. Ariska yang sedang menyuapi Damar langsung berdiri dan mempersilahkan Mahesa untuk duduk di kursinya. sementara Angga dan Zulfikar duduk di samping kanan Damar.
Ariska yang tadinya berada di rumah sakit tempat kerjanya langsung pulang ke rumah saat tidak ada lagi pasien yang ia tangani. dirinya ingin melihat keadaan Damar, saat tiba Damar sedang bersama Zakyas.
"saya tinggal dulu, mohon meminumkan obat ini kepadanya" Ariska berkata sopan dan menunjuk obat tabel di atas nakas
"kamu seorang dokter...?" tanya Mahesa
"iya" jawab Ariska
"terimakasih sudah merawat teman saya" Mahesa menatap Ariska
"sama-sama pak, kalau begitu saya permisi" Ariska segera keluar dari kamar itu. ia pun sebenarnya terkejut kalau yang akan datang melihat Damar adalah para polisi
"kenapa bisa elu jadi seperti ini Dam, siapa yang melakukan ini padamu...?" Zulfikar sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya
"gue di serang seseorang" jawab Damar
"diserang...? elu dibegal...?" tanya Angga
"entahlah. yang jelas di perjalanan pulang gue diserang oleh seseorang yang sama sekali gue nggak tau dan nggak kenal dia siapa, tapi anehnya dia kenal sama gue" jawab Damar
"kok elu nggak tau dia siapa, emang elu nggak lihat wajahnya gitu...?" tanya Mahesa
__ADS_1
"bagaimana bisa gue mau lihat wajahnya. dia berpakaian serba hitam, wajahnya tertutup masker dan topi" jawab Damar
"berpakaian serba hitam...?" gumam Mahesa
"kok aneh, biasanya kan kalau begal nggak pernah berpakaian seperti itu" timpal Zulfikar
"berpakaian serba hitam. apa pakaiannya seperti ini...?" Mahesa menunjukkan sebuah rekaman video yang mereka ambil di salah satu jalan yang terekam cctv saat Mahendra kecelakaan
Damar memperhatikan sosok yang ditunjukkan oleh Mahesa.
"iya benar, pakaiannya seperti itu. tapi....itu bukannya seseorang yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan gadis yang bernama Aretha Delano ya...?" ucap Damar
"elu yakin pakaiannya seperti ini...?" tanya Mahesa memastikan
"sangat yakin Hes, gue berhadapan langsung dengannya" jawab Damar
"dia laki-laki atau perempuan...?" tanya Zulfikar
"laki-laki, jelas semalam itu dia laki-laki" jawab Damar
"kalau mereka orang sama dan dia adalah laki-laki terus gelang yang gue temukan ini gelang milik siapa...?" tanya Mahesa
"kalau menurut gue gelang itu tetap milik si pembunuh, hanya saja untuk ia berikan kepada seseorang. itu gelang wanita, jelas dia akan memberikan gelang itu kepada SEI wanita. entah itu pacarnya, gebetan atau adiknya" Zulfikar berasumsi
"benar juga, gue sependapat dengan Zulfikar" ucap Damar
"tapi tunggu. yang menjadi pertanyaan besar di kepala gue, kenapa bisa yang membunuh Aretha Delano bisa kenal dengan Damar" ucap Angga menatap ketiga rekannya
"iya juga, kenapa bisa dia mengenal Damar" timpal Zulfikar
"satu jawabannya, kalau dia mengenal Damar berarti dia juga mengenal kita dan itu berarti pelakunya adalah orang disekitarnya kita, yang saling bersosialisasi dengan lingkungan kita" Mahesa menyimpulkan
"maksud elu, pelakunya ada disekitar kita begitu...?" tanya Damar
"belum dapat dipastikan tapi gue punya firasat seperti itu" jawab Mahesa
"kalau yang gue lihat, cara berpakaiannya seperti.... Wili Alfiansyam saat akan mencari mangsa" Zulfikar memperhatikan sosok itu di ponsel Mahesa
"maksud elu sekarang ini kita sedang menghadapi psikopat lagi...?" tanya Angga
"belum pasti, tapi coba kalian perhatikan. bukannya Wili juga berpakaian seperti itu. serba hitam dengan masker dan topi"
"tapi nggak mungkin Wili kan, dia dihukum mati satu tahun yang lalu" ucap Damar
"psikopat di dunia ini bukan hanya ada satu orang Dam, banyak bahkan ada dimana-mana" timpal Zulfikar
"bagaimana kalau ternyata ada Wili yang lain" lanjut Zulfikar
"maksud elu...?" tanya Mahesa
"bagaimana kalau ternyata psikopat tahun lalu bukan hanya Wili seorang tapi mereka...."
"mereka dua orang, begitu maksud lu...?" timpal Mahesa dan Zulfikar mengangguk
"nggak mungkin, kita sudah menginterogasi Wili dan dia hanya seorang diri nggak ada psikopat yang lain" ucap Damar
"waktu di TKP Kematian Aretha Delano, gue mencium wangi parfum dan saat diselidiki itu bukan parfum Aretha Delano. berarti kesimpulannya itu adalah wangi parfum si pembunuh. sekarang gue tanya sama elu, apa semalam elu mencium harum parfum dari orang itu...?" Mahesa bertanya kepada Damar
"mana sempat gue fokus sama harum parfumnya. untuk membuat diri gue agar tetap sadar saja, itu sudah sangat susah. kepala gue dipukul dengan benda tumpul. kalau seandainya dari awal gue nggak terluka, mungkin gue bisa meringkusnya. sayangnya karena kepala gue yang cedera, gue nggak bisa melawan selain menyela diri" jawab Damar
"oke begini saja. psikopat Wili Alfiansyam punya ciri khas saat akan menghabisi nyawa korbannya. dia akan mengatakan hal semacam ini. hai Damar, mau bermain denganku...?" Zulfikar mengucapkan itu dengan sorot mata tajam dan senyuman menyeringai
"bermain denganku...?" gumam Damar mencoba mengingat-ingat sesuatu
"*siapa kamu...?"
"tidak perlu tau siapa aku untuk bisa bermain"
"Damar Wiguna, mau bermain denganku*...?"
deg....
"itu...itu yang dia katakan semalam. persis seperti yang dikatakan oleh Zulfikar. dia mengajak gue bermain" Damar mengangguk cepat
Mahesa, Angga dan Zulfikar saling pandang. kini dikepala mereka terlintas pemikiran yang sama.
__ADS_1
"psikopat" ucap ketiganya