
berada di dalam rumah kosong, di wilayah S yang terdapat di sebuah gang. seorang laki-laki sedang berusaha membebaskan dirinya dari tali yang melilit tubuhnya dan mengikat kedua tangan dan kakinya.
dia adalah Zohir. sejak tadi dirinya terus berusaha untuk melepas tangannya namun apa ia lakukan hanya sia-sia semata. semakin dirinya berusaha keras maka pergelangan tangannya semakin sakit dan memerah.
usahanya yang sia-sia membuat dirinya merasa lelah namun tidak patah semangat untuk tetap membuka ikatan tangannya.
ia melihat ada sebuah gunting di atas meja. sepertinya pembunuh itu lupa mengamankan benda itu. senyum kelegaan terpancar di wajah Zohir. dengan susah payah ia menggeser kursi yang sedang ia duduki dengan tubuh terikat agar lebih dekat dengan meja tersebut.
"elu bisa Zohir, elu bisa" ia menyemangati diri sendiri
sementara itu psikopat berdarah dingin itu mengirimkan sebuah pesan kepada semua anggota squad 010.
08xxxx : satu jam lagi waktu yang tersisa. kalian semua akan menjadi pembunuh
semua squad 010 yang membaca pesan itu begitu kesal dan geram. ingin sekali mereka menemukan sosok itu dan menghajarnya habis-habisan.
"kita nggak punya banyak waktu lagi namun di sini kita nggak menemukan rumah seperti yang dikatakan oleh Almeera" ucap Riki
saat ini dirinya dan Alan telah memasuki beberapa gang dan tidak ada apapun yang mereka temui. rumah warga tampak berhimpitan tanpa ada sebuah rumah yang jauh dari rumah yang lainnya
"berarti tempatnya bukan di sini. kita kembali saja di kelompok yang tadi" timpal Alan
"ya sudah, ayo balik. kita cari mereka" ucap Riki
sementara Faiz dan Randi pun sama seperti Riki dan Alan. mereka tidak menemukan hal yang mencurigakan.
berbeda halnya dengan Mahendra dan Danil, kedua kakak beradik itu kini tengah tiba disebuah rumah yang jauh dari rumah yang lainnya. bahkan di tempat itu di kelilingi bambu dan beberapa pohon rambutan.
"apa ini rumahnya...?" ucap Danil
"kita masuk" ucap Mahendra
"bang" Danil menahan Mahendra
"kenapa...?"
"Danil takut, bagaimana kalau pembunuh itu ada di dalam"
"kalau begitu kamu di sini saja, bersembunyi di balik bambu-bambu itu" Mahendra menunjuk tempat untuk persembunyian Danil
Danil nampak berpikir sedang menimbang-nimbang saran dari kakaknya itu kemudian ia menggeleng pelan.
"kenapa, kamu takut...?"
"Danil ikut masuk bersama abang"
"kamu serius ingin masuk...?"
"serius bang, Danil nggak mungkin biarin abang sendirian di dalam sana menghadapi psikopat itu"
"kalau begitu tetap di belakangku"
"iya" Danil mengangguk patuh
meskipun menjelang subuh tapi penampakan di luar rumah begitu menyeramkan dilihat. keadaan yang gelap dan juga pohon-pohon bambu yang berdiri kokoh menambah kengerian dari luar. di halaman depan tidak ada lampu penerang, berbeda halnya dengan di dalam. mereka dapat melihat ada cahaya lampu di dalam rumah.
perlahan-lahan Mahendra mendekat pintu rumah itu dan membukanya dengan pelan. ternyata tidak dikunci. itu memudahkan keduanya untuk masuk ke dalam.
ngiiiiiiik
"pelan-pelan bang" ucap Danil
entah karena rumah yang sudah tidak berpenghuni sehingga tidak terawat mengakibatkan pintu yang bercat abu-abu itu berkarat dan mengeluarkan bunyi saat di buka.
dengan sangat pelan dan menahan nafas, Mahendra kembali mendorong pintu itu. meskipun sudah berusaha sepelan mungkin namun tetap saja pintu berkarat itu tetap mengeluarkan bunyi.
setelah berhasil masuk, keduanya melangkah pelan melewati ruang tamu. rumah itu cukup luas untuk ukuran rumah berlantai satu.
tepat di ruang tengah ada dua tiga kamar tidur. mereka memeriksa kamar pertama, di dalamnya tidak ada siapapun. kemudian langkah kaki mereka menuju ke kamar kedua yang bersebelahan dengan kamar pertama mereka masuki. di dalam juga tidak ada siapa-siapa.
kini mereka melangkah ke kamar ketiga, baru hendak membuka pintu suara pintu di dobrak terdengar dari arah dapur.
"KELUARIN GUE DARI SINI BRENGSEK, KELUARIN GUE"
"di dapur bang" ucap Danil
mereka melesat cepat ke arah dapur. ada satu buah kamar yang dekat dengan dapur, dari kamar itu teriakan seseorang terdengar bahkan dobrakan pintu semakin menjadi.
Mahendra mencoba membuka pintu namun ternyata dikunci dari luar.
braaaakkk
braaaakkk
seseorang dari dalam berusaha untuk membuka pintu itu dengan cara mendobraknya.
"bang Zohir, apa itu elu...?" teriak Mahendra
"hmmmmm"
"bang, elu di dalam kan...?"
"hmmmmm hmmmm"
"nggak ada suara"
"ada bang, Danil dengar. ada seseorang di dalam"
__ADS_1
"bang gue Mahendra temannya Robi"
"hmmmm...hmmmm"
"nah abang dengarkan sekarang"
"iya abang dengar"
"menjauh dari pintu dari bang, gue akan berusaha membukanya dengan mendobraknya" ucap Mahendra
dengan susah payah Zohir menjauh dari pintu. keadaannya yang terikat di sebuah kursi membuat dirinya susah untuk bergerak bahkan kini ia terbanting tergeletak di lantai.
"Dan, hubungi yang lain juga pak Mahesa"
"baik"
sementara Mahendra berusaha membuka pintu kamar dengan mendobraknya cukup kuat, Danil kini sedang menghubungi squad 010 yang lain untuk memberitahu mereka. setelahnya ia menghubungi Mahesa.
Danil
pak, kami menemukan tempatnya
Mahesa
tunggu kami di situ. berhati-hatilah
Danil
baik pak
"kenapa Hes...?" tanya Zulfikar
"Mahendra dan Danil menemukan rumah itu. kita ke sana sekarang. segera hubungi semua rekan kita untuk menuju ke arah Utara" Mahesa menjawab sambil tergesa-gesa melangkah sedangkan Zulfikar menghubungi semua polisi yang membantu tugas keduanya untuk segera ke arah utara
braaaakkk
braaaakkk
braaaakkk
pintu berhasil dibuka paksa. Mahendra dan Danil segera masuk ke dalam. mereka melihat Zohir sudah terbaring di lantai dengan tubuh terikat.
"bang"
"hmmm hmmm"
keduanya membuka ikatan tali itu dan membantu Zohir untuk berdiri.
"abang baik-baik saja...?" tanya Mahendra. dapat ia lihat wajah Zohir yang sudah penuh lebam kebiruan akibat dari pukulan seseorang
"kita pergi cepat dari sini. rumah ini akan dibakar" ucap Zohir
"ayo keluar"
Mahendra lebih dulu keluar disusul oleh Danil. namun Zohir saat melangkah, dirinya langsung terjatuh dan itu membuat keduanya menoleh.
"abang kenapa...?" tanya Mahendra
"kaki gue di hantam okeh benda tumpul, gue nggak bisa jalan" Zohir memegang kedua kakinya
"kalau begitu ayo, gue gendong" ucap Mahendra
"gue berat, elu nggak akan kuat"
"gue sanggup bang, ayo"
Mahendra duduk di depan Zohir, namun laki-laki itu enggan untuk naik dipunggung Mahendra.
"kenapa bang...?" tanya Mahendra berbalik
"g-gue malu...gue pernah berbuat jahat sama elu dan kalian semua" Zohir menunduk
"bang, bukan saatnya untuk merasa bersalah. sekarang kita harus segera keluar dari rumah ini. gue harus mencari Robi dan teman-teman kami yang lain yang diculik oleh laki-laki misterius itu"
"Robi diculik...?" Zohir tercengang
"iya bang, sekarang ayo naik di punggung gue" Mahendra kembali berbalik
Zohir mengikuti ucapan Mahendra. ia naik dipunggung laki-laki itu dan mereka keluar dari kamar. namun begitu keluar betapa terkejutnya mereka, sijago merah telah merayap sampai ke atas dan melahap rumah tersebut.
"bang api bang" Danil panik seketika
"lewat pintu belakang" perintah Mahendra
mereka bergegas ke pintu belakang dan rupanya di belakang pun sudah dipenuhi api. kini mereka bertiga terjebak di dalam rumah itu.
"bang bagaimana ini, kita bisa mati di sini bang"
Mahendra menurunkan kembali Zohir dan bergegas ke kamar mandi. kran air masih menyala, dengan cepat Mahendra membasahi jaketnya kemudian ke pintu belakang untuk memastikan api yang sudah semakin besar.
"bantuin aku Dan" teriak Mahendra
Danil mencoba mencari sesuatu untuk menampung air. ia masuk di setiap kamar dan dirinya mendapati di kamar mandi dapur ada sebuah ember hitam. Danil menggunakan itu untuk menampung air kemudian membawanya ke pintu belakang dan menyiramnya dengan air yang ia bawah.
sedangkan di luar, seseorang sedang tersenyum licik melihat rumah itu kini tengah dilahap oleh api.
"selamat menikmati datangnya kematian" ucapnya dengan seringai iblis
__ADS_1
uhuk....uhuk
"Danil nggak kuat, asapnya makin tebal" Danil menutup hidung karena sesak
squad 010 yang melihat api membumbung tinggi langsung berlari ke arah tempat tersebut. mereka bertemu dengan Mahesa dan Zulfikar serta polisi yang lainnya.
"astaga, Mahendra sama Danil di dalam" pekik Faiz saat itu juga
"bagaimana ini, apinya kian membesar. apa yang harus kita lakukan" Alan panik begitu juga yang lain
"pergi minta tolong kepada penduduk yang lain, cepat" perintah Mahesa
Riki dan Randi segera berlari ke tengah-tengah rumah warga dan berteriak meminta tolong dengan mengatakan bahwa ada kebakaran. semua orang yang ada di gang tersebut keluar dari rumah mereka masing-masing.
"ada apa den...?"
"kebakaran pak, kebarakan. teman-teman kami ada di dalam rumah. tolong pak" ucap Randi
"astaghfirullah, benar itu kebarakan" salah satunya menunjuk api yang semakin tinggi
warga sekitar mulai berteriak kebarakan. karena rumah itu yang jauh dari rumah yang lainnya, para warga menggunakan selang di beberapa rumah dan membawa ke tempat kebarakan. semua warga membawa ember untuk mematikan api yang kian melahap rumah besar itu.
"Mahendra sama Danil di dalam, mereka di dalam. bantu mereka keluar pak, bantu mereka keluar" Randi panik dan mendesak Mahesa serta Zulfikar untuk masuk ke dalam
"nggak bisa masuk Ran, apinya semakin membesar" ucap Riki
"terus kita hanya melihat mereka terbakar di dalam begitu. kalau kalian nggak mau masuk biar gue sendirian yang masuk" Randi akan masuk ke dalam rumah namun segera ditahan oleh Mahesa
"kalian tetap di sini, biar saya yang masuk"
"Hes, bahaya. elu bisa mati di dalam" Zulfikar tidak setuju
"pinjam jaketmu" Mahesa mengambil jaket Zulfikar dan membasahinya dengan air kemudian melilitkan ditubuhnya dan melesat ke pintu belakang
sementara itu di dalam rumah, Danil sudah sesak nafas. ia tidak lagi punya tenaga untuk membantu Mahendra. remaja yang berusia 19 tahun itu, tersungkur di dekat Zohir.
"hei... bangun" Zohir menepuk wajah Danil dengan pelan
"astaga, apakah dia sudah mati. gue harus berbuat sesuatu" Zohir berusaha untuk berdiri namun kemudian ia terjatuh kembali karena kakinya yang sama sekali tidak bisa ia gerakkan
"Mahendra.... Mahendra" Zohir memanggil Mahendra yang sedang berusaha membuka pintu belakang
"kenapa bang. astaga, Danil" Mahendra mendekat adiknya itu dan memangkunya
"Dan bangun, hey...bangun dek"
"dia sesak nafas, uhuk...uhuk..." Zohir pun mulai lemah
sementara dalam keadaan kalut, mereka mendengar suara pintu belakang yang didobrak paksa hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar.
"MAHENDRA... DANIL" teriak Mahesa mencoba untuk masuk menerobos api
"MAHENDRA..... DANIL"
"KAMI DISINI BANG" Mahendra ikut berteriak agar Mahesa dapat mendengar suaranya
setelah mendengar jawaban dari Mahendra, polisi itu bergegas ke ruang tengah. di sana ia menemukan orang-orang yang ia cari.
"apa yang terjadi dengan Danil...?" tanya Mahesa
"pingsan bang" jawab Mahendra
"dia pasti terlalu lama menghirup asap. ayo kita keluar dari sini"
"bang, tolong gendong bang Zohir. dia nggak bisa jalan, kakinya dibuat lumpuh sama psikopat itu" Mahendra memberitahu
"ya sudah, naiklah cepat" Mahesa jongkok di depan Zohir agar laki-laki itu bisa naik di atas punggungnya"
tanpa pikir panjang Zohir segera naik ke punggung Mahesa sementara Mahendra menggendong Danil. mereka semua berusaha melewati kobaran api yang kian melahap rumah tersebut.
di luar para warga masih terus berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. squad 010 membantu dengan mengangkat air dan menyiram memadamkan api.
keempat manusia yang masih berada di dalam rumah dapat keluar dengan selamat meski Mahesa harus terluka akibat di lahap si jago merah.
"itu mereka" Alan menunjuk keempat orang itu
bergegas mereka menghampiri keempatnya dan membantu mencari tempat yang aman. Mahesa menurunkan Zohir dibantu oleh Faiz sedang Mahendra menurunkan Danil dibantu oleh Randi.
"Danil kenapa bang...?" tanya Randi
"terlalu lama berada di dalam, dia pingsan karena sesak nafas" jawab Mahendra
"Hes, elu nggak apa-apa...?" Zulfikar baru saja datang
"nggak apa-apa hanya luka bakar kecil saja. sebaiknya bawa Danil dan Zohir ke rumah sakit. di sini biar gue yang tangani"
"kami saja yang membawa mereka ke rumah sakit pak, pak Mahesa dan pak Zulfikar tetap di sini" timpal Faiz
"ya sudah, kalian pergilah. pakai mobilku saja agar lebih aman, jangan pakai motor"
"terimakasih bang" ucap Mahendra
"siapa yang tau menyetir mobil...?"
"saya bang, saya tau menyetir mobil. kebetulan saya juga punya SIM" Riki mengangkat tangan
"ini kunci mobilnya, cepat segera pergi. mereka harus ditangani dokter secepatnya" Mahesa memberikan kunci mobilnya kepada Riki
__ADS_1
squad 010 segera meninggalkan tempat itu untuk ke rumah sakit. setelahnya Mahesa dan Zulfikar kembali membantu para warga untuk memadamkan api. mobil pemadam kebakaran tidak dapat masuk ke dalam karena jalan yang begitu sempit untuk dilewati. alhasil malam itu semua warga beserta para polisi berusaha untuk memadamkan si jago merah.