
Maureen baru saja sadar dari pingsannya. gadis itu begitu kaget tatkala mengetahui dirinya berada di sebuah ruangan yang sangat mengerikan.
di bilik itu hanya ada lampu warna kuning yang menerangi di dalam. saat melihat ke arah samping, dia dapat melihat seseorang yang masih terkulai di lantai, dia adalah Kevin.
"astaga dimana aku...?"
dia mulai mengingat-ingat kejadian yang dialaminya. saat dirinya mendapatkan telpon dari Mahendra untuk bertemu dengannya dan saat itu juga dia keluar rumah. hingga mobil berwarna merah berhenti di dekatnya dan membius dirinya.
"Allah, ada dimana aku" Maureen begitu takut
bayangan para korban yang meninggal terlintas diingatannya. dia takut dirinya akan berakhir seperti mereka.
kini kedua tangannya di ikat begitu juga dengan Kevin yang belum sadarkan diri. hingga beberapa lama kemudian Kevin mulai sadar dan membuka matanya.
"astaga, dimana ini...?" Kevin langsung bangun seketika
"kamu sudah sadar...?" Maureen bertanya
"kita dimana dan kamu siapa...?" Kevin melihat ke arah Maureen
"aku Maureen, aku juga nggak tau kita dimana sekarang"
"bangsat, pasti dia yang membawa kita ke sini" Kevin begitu emosi
"kamu tau siapa orangnya...?"
"dia....pembunuh itu"
"pembunuh...? maksud kamu psikopat yang menjadi incaran polisi...?" Maureen begitu kaget mendengarnya
"iya, dan sepertinya dia akan membunuh kita berdua juga"
"ya Allah, kita harus pergi dari tempat ini. aku belum mau mati. apa salah ku sampai dia ingin membunuhku" Maureen mulai ketakutan dan menangis
"hey tenangkan dirimu. menangis pun percuma, sebaiknya tenangkan pikiranmu dan kita susun rencana"
"bagaimana aku bisa tenang kalau aku sekarang berada di sarang pembunuh. kita akan mati, kita akan di bunuh dan kamu bilang aku harus tenang" Maureen mulai histeris
"ssssttt...pelankan suaramu. kita tidak tau dia ada di sini atau nggak" Kevin memperingati Maureen
di dalam bilik itu, beberapa benda tajam tersusun rapi di atas meja. bukan hanya itu, tali, gergaji, palu, cambuk bahkan Kampak serta kayu balok berjejer di tempatnya masing-masing.
"apa yang harus kita lakukan, aku belum ingin mati" ucap Maureen dengan air mata yang mengalir
(Tuhan, andai waktuku sudah dekat aku ikhlas tapi tolong saat aku mati maka semuanya harus terungkap, pembunuhnya harus di tangkap) batin Kevin menutup mata
bayangan saat menemukan mayat Damar terlintas di kepalanya. betapa menderitanya temannya itu menahan siksaan yang amat sakit. tidak menutup kemungkinan dirinya akan bernasib sama seperti Damar.
(tunjukkan kuasamu ya Allah, jika dengan kematianku semuanya akan terungkap, aku rela. tolong jaga semua teman-temanku)
Cakra masih terus menyusuri jalan raya, sudah sejauh dua kilometer dirinya membelah jalan raya namun nampak tidak ada tempat yang mencurigakan yang ia lihat.
dia kemudian berhenti di pinggir jalan dan melihat sekitar, sangat teduh pemandangan sekitar. dia berhenti sejenak untuk melepas lelah. sudah beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak karena di terus dihantui dengan tugas yang mereka harus selesaikan.
sementara Zulfikar pun sama dengan Cakra, yang dia lewati hanyalah rumah-rumah warga yang saling berhimpitan. meskipun menemukan hutan namun setelahnya itu dia menemukan lagi perkampungan.
"tidak mungkin dia lewat di sini. tidak ada apapun yang mencurigakan di sini" gumam Zulfikar
sementara Mahesa, dirinya terus melaju membelah jalan raya. beda dengan kedua rekannya, dia kini malah memasuki hutan yang sudah jauh dari perkampungan warga.
"ini gue salah jalan atau gimana" gumamnya
kanan dan kiri tidak lepas dari penglihatannya. hingga kemudian dia mendapatkan sebuah jalan yang berbelok ke kiri, bukan mengikuti jalan raya. karena penasaran Mahesa pun mengikuti jalan itu dsn ternyata tibalah dia di sebuah rumah yang ada ditempat itu. jauh dari keramaian, satu-satunya rumah yang ada di tempat itu.
"siapa yang membangun rumah ditempat seperti ini"
Mahesa belum turun dari mobilnya. dia masih melihat sekitar di dalam mobil. hingga kemudian dirinya mengambil pistol dan keluar dari mobil.
dengan tetap dalam keadaan waspada, dirinya melangkah pelan menaiki tangga dan tiba di pintu rumah.
dirinya melihat ke dalam dari balik kaca, tidak ada siapapun di dalam. Mahesa memegang gagang pintu untuk membuka namun sayangnya terkunci.
"sial, bagaimana caranya gue bisa masuk"
Mahesa berusaha membuka jendela namun sama sekali tidak terbuka. dia kemudian mencari celah di setiap sisi rumah untuk bisa masuk.
"dapat" gumamnya
pintu belakang bisa dia buka tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra. Mahesa masuk ke dalam dan kini posisinya sedang berada di bagian dapur.
dapat dilihat beberapa piring kotor di tempat cuci piring. bungkusan mie instan serta cemilan lainnya yang belum di bersihkan.
"sepertinya rumah ini berpenghuni"
Mahesa melangkah menuju ke ruang tengah, tampak seperti biasa keadaannya. sama seperti rumah pada umumnya. ada dua kamar di rumah itu. satu ruang tamu, ruang tengah dapur dan kamar mandi.
dia memasuki kamar pertama, hanya ada satu lemari pakaian, meja dan kursi serta beberapa gambar anime yang ada di dinding kamar.
nampak seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan. kemudian dia memeriksa kamar mandi, bersih dan lantainya kering. itu berarti kamar mandi itu tidak digunakan atau belum digunakan.
Mahesa keluar dan menuju kamar berikutnya. di dalam tidak ada apapun, kamar itu seperti layaknya kamar tamu yang dipersiapkan oleh pemiliknya.
dia menuju kembali ke ruang tengah. diperiksanya setiap sudut ruangan itu. saat dirasa tidak ada yang didapatkannya, dia kemudian keluar dari dan menuju mobilnya. ponselnya berdering, Cakra menghubunginya.
__ADS_1
📞 Cakra
halo Hes. bagaimana, apakah elu menemukan sesuatu...?
📞 Mahesa
tidak, gue nggak menemukan apapun. hanya rumah di ujung kota yang sama seperti rumah pada umumnya
📞 Cakra
kami juga nggak menemukan apapun. sekarang kami sudah di persimpangan, kami tunggu elu di sini
📞 Mahesa
oke, gue balik sekarang
panggilan dimatikan. Mahesa masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah tersebut.
saat ketiganya meninggalkan wilayah itu, sebuah mobil merah baru saja memasuki wilayah itu dan melaju ke arah tujuannya. rumah dimana Mahesa di dapat tadi.
sesampainya di tempat, segera dia masuk ke dalam dan kemudian ke ruang bawah tanah. pintu masuknya berada di balik lemari yang ada di kamar yang telah Mahesa periksa.
begitu gelap dan pengap, dia menggunakan senter dan melangkah tanpa rasa takut. hingga dia tiba di satu bilik tempat penyekapan korbannya.
Maureen yang lelah menangis akhirnya tertidur. begitu juga dengan Kevin. si pembunuh membuka air botol mineral dan menyiramkan ke tubuh keduanya.
byuuur
byuuur
"haaaah"
Maureen dan Kevin terbangun seketika, baju mereka telah basah begitu juga wajah keduanya.
"nyenyak ya tidurnya...?" ucapnya memperhatikannya mereka
"lepasin gue brengsek" Kevin menatap nyalang ke arahnya
"nggak ada yang bisa lepas setelah masuk di sarang gue Kevin, termasuk kalian berdua" ucapnya
"elu bukan lagi seperti orang yang gue kenal, elu benar-benar iblis"
buaaaak
satu tendangan mendarat di perut Kevin. dia tersungkur di dinding dengan nafas tercekat. Maureen teriak saat pembunuh itu menyiksa Kevin.
"daripada banyak bacot lebih baik elu duduk manis dan menunggu hari kematian mu. sebelum gue bunuh kalian berdua, gue ingin kita bermain-main dulu" dia mengambil kursi dan duduk di depan mereka
"kamu cantik, sayangnya kamu sendiri yang memilih jalan seperti ini" dia menatap Maureen
"ya kita memang tidak saling kenal. tapi karena kamu ingin mengungkap jati diriku maka tentu aku tidak akan tinggal diam"
"oh ya aku bawa makanan, makanlah. sebelum bermain kalian harus punya tenaga untuk kita bersenang-senang" dia melemparkan bungkusan makanan ke arah Kevin dan Maureen
"aku baikkan, tidak ada seorang pembunuh yang memberikan makan kepada korbannya kecuali aku"
Maureen dan Kevin tidak bergeming. bahkan mereka tidak menyentuh makanan itu. sedangkan dia melangkah ke arah benda-benda koleksinya yang digunakannya untuk menyiksa korbannya.
"menurut kalian, mana benda yang cocok untuk kita bermain nanti...?" tanyanya dengan memegang satu pisau tajam yang mengkilap
Maureen meneguk ludahnya. seketika tubuhnya bergetar saat pembunuh itu mulai memilih benda koleksinya untuk dirinya gunakan.
sedang Kevin menatap tajam teman satu kostnya itu. sama sekali tidak ada perasaan takut, andai tangannya tidak terikat mungkin saat ini mereka sudah terlibat dalam perkelahian.
wuushh
jleb
"aaaa"
tanpa mereka duga, dia melempar pisau itu ke arah Kevin. untung saja Kevin dapat menghindar sehingga pisau itu hanya tertancap di kursi yang ada di belakang Kevin.
"hahaha"
"bagus, gerakan yang bagus" pujinya tersenyum
dia kemudian mengambil cambuk yang ada di dekatnya. cambuk itu dia sabetkan ke arah dinding. tentu saja jika terkena manusia akan sangat terasa amat sakit.
"hay Vin, saatnya kita bermain" dia tersenyum menyeringai ke arah Kevin
sementara Mahendra terus menghubungi Maureen namun bahkan sudah menjelang sore, nomor Maureen tidak pernah aktif.
hingga Robi memberitahu dirinya bahwa sejak tadi pagi Maureen sudah tidak terlihat di rumahnya. orang tua Maureen telah menghubungi Robi dan Selda menanyakan apakah anak mereka bersama kedua sahabatnya itu namun mereka berdua menjawab tidak.
mama Maureen ingin menghubungi Mahendra namun Robi pun memberitahu bahwa Maureen juga tidak sedang bersama Mahendra sekarang.
"apa dia diculik...?" tanya Selda
"nggak mungkin Sel, siapa yang nyulik dia" jawab Robi
"semalam gue masih berbalas pesan dengan dia, sampai akhirnya kami janjian hari ini mau bertemu" ucap Mahendra
"kalau sampai 1x24 jam Maureen nggak ketemu, orang tuanya akan melapor kepada polisi tentang anak mereka yang hilang" timpal Robi
__ADS_1
Mahendra segera menghubungi Mahesa, mereka akan bertemu di tempat biasa di cafe kopi nikmat.
"gays gue cabut dulu ya" ucap Mahendra
"cepat banget" jawab Selda
"ada urusan, gue pergi ya" Mahendra meninggalkan mereka
setelah tiba di cafe kopi nikmat, Mahendra segera masuk ke dalam. matanya menangkap dua orang yang sedang menunggunya.
"pak" sapa Mahendra
"ada apa Hen...?" tanya Mahesa saat Mahendra duduk
"teman saya Maureen sudah mencari tau angka yang saya maksud kemarin. saya sempat berbalas pesan dengannya tadi malam dan mengajaknya bertemu. namun pagi tadi bahkan sampai sore ini dia menghilang begitu saja. orang tuanya bahkan menanyakan keberadaannya kepada saya dan juga dua teman saya. dia hilang pak" Mahendra menjelaskan
"mungkin dia ke suatu tempat dan tidak memberitahu kamu dan orang tuanya" ucap Mahesa
"tadi malam dia berada di rumah pak, kalau pun dia keluar. biasanya dia akan memberitahu orang tuanya"
"dimana alamatnya...?" tanya Zulfikar
kali ini hanya Mahesa hanya berdua dengan Zulfikar karena Cakra sedang ada urusan lain.
"jln Pelita nomor 2" jawab Mahendra
"jln Pelita...?" tanya Mahesa lagi
"iya"
"itu kan tempat dimana titik terakhir Kevin sebelum akhirnya kita kehilangan jejaknya" ucap Zulfikar
"jadi Kevin hilang di jalan itu...?" tanya Mahendra
"iya, dia membuntuti sebuah mobil. kami memeriksa di setiap cctv yang berada di jalan raya. namun saat di jalan itu, dirinya tidak terekam lagi dan bahkan kami kehilangan dia pada malam itu" jawab Mahesa
"jangan-jangan mereka berdua diculik sama pembunuh itu. ya Allah, bagaimana ini pak. apa yang harus kita lakukan" Mahendra mulai gelisah
"apa yang kamu temukan dari Iyan...?" tanya Mahesa.
"di kamarnya tidak ada barang apapun yang mencurigakan" jawab Mahendra
"malam ini kami akan mengawasi lagi di sekitar kost. kami sudah meminta Damar untuk memasang cctv di belakang kost. bisa jadi pembunuh itu tidak lewat depan melainkan dia lewat belakang kost" ucap Mahesa
"untuk sementara sebaiknya kalian semua tidur di ruang utama. itu lebih aman daripada tidur di kamar masing-masing. pembunuh itu tidak akan berani melukai kalian kalau kalian tidur bersama" Zulfikar memberikan ide
"sebenarnya psikopat akan membunuh seseorang hanya dengan alasan klasik. dia tidak suka saat di usik, saat kalian terlibat percekcokan dengannya maka tentu kalian akan menjadi target incarannya"
"namun sejauh ini kami tidak pernah cekcok satu sama lain pak. hanya waktu itu gue sama Kevin yang terlibat baku hantam dan juga Randi yang memukul Kevin karena penemuannya di kamar Kevin" jawab Mahendra
"berarti bisa jadi Kevin sudah tau siapa pembunuhnya makanya pembunuh itu sekarang menyekap Kevin dan begitu juga dengan Maureen" timpal Zulfikar
"sebenarnya kalau kita seperti ini terus langkah kita sangat lelet dan bisa jadi Kevin serta Maureen akan menjadi korban lagi" lanjut Zulfikar
"saya punya cara untuk menangkapnya dan semoga kali ini berhasil" timpal Mahesa
"apa rencana mu...?" tanya Zulfikar
"kita pancing dia. tidur di ruang utama dibatalkan. untuk menjalankan rencana ini kalian harus tidur di kamar masing-masing" ucap Mahesa
"caranya...?" tanya Mahendra
siang berganti dengan malam. kini keadaan Kevin sudah sangat babak belur. beberapa bekas cambukan sangat terlihat jelas di tubuhnya yang putih. mulut dan hidungnya telah mengeluarkan darah. kini dirinya tidak lagi memakai baju. keadaan Kevin sekarang sangatlah mengenaskan.
Maureen menangis melihat Kevin yang tergeletak di lantai dengan wajah yang sudah berdarah-darah. pembunuh itu melepaskan ikatan kedua tangan Maureen.
"berhenti menangis, atau kamu akan aku buat lebih parah dari dia" ucapnya dingin
"rawat dia, karena aku belum ingin dia mati. aku belum puas bermain-main dengannya"
dia kemudian pergi meninggalkan Maureen dan Kevin yang sudah tidak berdaya. Maureen mendekati Kevin dan memeluknya. dia menangis terisak melihat penderitaan yang dialami laki-laki itu.
"bangunlah, kamu bilang kita harus menyusun rencana untuk keluar dari tempat ini. aku tidak bisa melawannya kalau tidak dengan bantuan mu" Maureen melap darah di wajah Kevin dengan dengan tangannya
"bangun, tolong bangunlah. aku takut sendirian di sini. aku hanya punya kamu" Maureen memeluk erat tubuh Kevin
"uhuk...uhuk"
Kevin terbatuk-batuk, Maureen segera mengambil botol air minum yang diberikan oleh pembunuh tadi dan memberikan minum kepada Kevin.
Kevin yang sangat kelelahan langsung meneguk air itu. dahaganya terasa segar saat air itu masuk melewati kerongkongannya.
"syukurlah kamu sadar" Maureen memeluk kepala Kevin
"kamu menangisiku...?" tanya Kevin lirih
"bagaimana aku tidak akan menangis melihat keadaan kamu seperti ini. hanya kamu yang aku punya di sini. tentu aku akan menangis kalau sampai kamu pergi begitu saja, aku takut sendirian" air mata Maureen mengalir deras
"baru kali ini ada seorang gadis yang menangis mengkhawatirkan ku" Kevin tersenyum dan membelai lembut pipi Maureen
"kamu harus kuat, kita harus keluar dari sini" Maureen memegang tangan Kevin yang ada di pipinya
dengan pelan Maureen membaringkan Kevin di atas pahanya. tidak ada tempat yang nyaman selain di situ, karena di lantai Kevin akan kedinginan apalagi kini dia tidak lagi mengenakan baju. baju Kevin telah di robek oleh pembunuh itu. dia menyiksa Kevin dengan mencambuk tubuhnya berkali-kali.
__ADS_1
Kevin adalah seseorang yang di sebut oleh ketiga polisi itu yang mengalami emosional tinggi. dia bahkan beberapa kali ke ahli psikolog untuk melakukan terapi. andai dari pertama tadi tangannya tidak diikat mungkin dia bisa melawan. namun karena kedua tangannya diikat Kevin tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima serangan dari si pembunuh.