
Maureen menatap punggung Mahendra yang meninggalkan rumahnya. pasti terjadi sesuatu sehingga Mahendra dengan bergegas cepat meninggalkan rumahnya. ia berharap semoga bukan hal yang buruk meski kenyataan yang tidak ia tau bahwa memang telah terjadi sesuatu yang buruk.
di kost 010 tampak gempar dengan keadaan sekarang dimana seseorang dari mereka menemukan tubuh Damar yang terkulai kaku di halaman kost dengan lumuran darah dan tubuh yang babak belur.
Rahim telah menghubungi penghuni kost yang masih berada di luar, Olan, Mahendra dan Wili
braaaakkk
pintu ruang utama didobrak dengan kerasnya, Mahendra datang terlebih dahulu bersama Wili sedang Olan masih dalam perjalanan.
"bang Damar bangun bang, huhuhuhu....bangun bang" Alan memeluk tubuh Damar dengan eratnya
semua penghuni kost 010 menangis histeris melihat keadaan teman mereka yang sudah tidak bernyawa. tubuh tegap dan bersih itu kini semakin pucat dan dingin. tidak ada lagi senyuman yang terukir di wajah tampannya, yang ada hanya beberapa luka dan wajah yang kaku.
Mahendra jatuh tersungkur di dekat Damar. tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana perasaannya sekarang. teman seperjuangan semasa sekolah dan bahkan sampai sekarang harus pergi tanpa pesan sepatah katapun.
"hiks...hiks...Dam" Mahendra mengambil alih tubuh Damar dari pelukan Alan dan memeluknya dengan erat
"kenapa elu bisa jadi begini Dam, siapa yang tega ngelakuin ini sama lu"
Mahendra tidak menyangka temannya itu akan pergi dengan keadaan tragis seperti itu. bahkan tadi sore mereka masih bertukar kabar berjanji untuk bertemu hingga malam hari Mahendra hilang kontak dengan Damar, dan sekarang saat bertemu malah temannya itu sudah menjadi mayat.
"mana Damar...?" Olan yang baru saja datang dengan nafas ngos-ngosan membanting pintu dan mencari keberadaan Damar
Kevin tidak menjawab namun telunjuknya menunjuk Mahendra yang sedang memeluk Damar. tangis Olan pecah ketika melihat teman mereka itu.
"aaaahaaaaaa.....kenapa bisa jadi seperti Dam, kenapa elu kayak gini" Olan meraung menangisi Damar
Randi langsung memeluk Olan, tidak ada yang baik-baik saja malam itu, semuanya terpukul dan tidak percaya dengan takdir yang ada di depan mata.
"hiks...hiks...Dam, buka mata lu Dam...jangan pergi" Mahendra masih memeluk erat tubuh Damar
Danil mendekat ke arah Mahendra dan memeluknya. ia tau betul bagaimana dekatnya abangnya itu dengan Damar. saat sekolah dulu, dimana ada Mahendra maka di situ juga ada Damar. mereka seperti perangko yang tidak bisa jauh satu sama lain.
sayangnya takdir Damar di dunia hanya sebatas hari ini, dan setelahnya mereka hanya dapat mengenang namanya tanpa bisa memeluknya lagi.
ibu Nani pemilik kost telah dihubungi, pihak berwajib pun telah dihubungi dan kini mereka tengah menantikan kedatangan kepolisian.
ibu Nani histeris melihat anak kostnya terbaring dengan wajah pucat dan di tutupkan kain. tidak menyangka Damar, laki-laki yang tampan itu akan pergi meninggalkan mereka selamanya.
di kantor polisi Mahesa segera bergegas ke kost 010. kini ia tidak seorang diri, ada rekan sesama polisi yang akan membantunya untuk menggantikan Angga yang sampai sekarang belum juga sadarkan diri. sedangkan Cakra dalam masa pemulihan sebelum akhirnya ia akan ikut bergabung kembali.
"pakai mobil gue Zul" ucap Mahesa. Zulfikar namanya, polisi yang bertugas membantu kasus yang ditangani oleh Mahesa
kedua polisi itu dalam perjalanan dan hanya butuh waktu beberapa menit tibalah mereka di tempat tujuan.
di depan kost sudah banyak mahasiswa dari kost lain yang berdatangan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. mereka mendengar suara teriakan dan tangisan sehingga ingin memastikan apa yang terjadi di kost 010.
saat melihat kedatangan polisi, mereka semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan penghuni kost 010, pikiran mereka pasti terjadi sesuatu yang buruk.
"selamat malam" ucap Mahesa
"malam pak" Rahim menjawab dengan suara serak
penghuni kost 010 kini terlihat kacau, mata bengkak dan suara parau. masih dalam menangisi kepergian Damar bahkan Mahendra tidak pernah jauh dari tubuh Damar.
Mahesa memeriksa tubuh Damar. ia buka kain penutupnya dan dapat dilihat luka tusukan di bagian perut serta terdapat memar di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya.
ini kasus pembunuhan ketujuh, bedanya adalah kali ini yang menjadi korbannya adalah laki-laki bukan perempuan.
mayat Damar akhirnya di bawah ke rumah sakit. setelah mengetahui ada penghuni kost 010 yang dibunuh, semua warga disekitar tampak heboh dan bahkan mereka langsung kembali ke kost karena takut pembunuh itu akan membunuh mereka.
orang tua Damar telah diberitahu, dengan suara tercekat dan dada yang sesak seakan dihimpit batu yang besar, Mahendra memberitahukan kenyataannya yang terjadi kepada orang tua sahabatnya itu.
mengetahui anaknya telah tiada, sang ibu meraung histeris dan bahkan beberapa kali pingsan. ayah Damar tidak bisa menjemput anaknya karena istrinya yang keadaannya drop dan hampir hilang kendali.
pada akhirnya penghuni kost 010 yang akan mengantar Damar ke kota kelahirannya, mereka ingin melihat Damar untuk yang terakhir kalinya sebelum teman mereka itu dimasukkan ke dalam rumah terakhirnya.
setelah pemeriksaan di rumah sakit selesai, mereka kemudian akan membawa Damar ke kota asalnya, kota yang sama dengan Mahendra dan Danil.
sepanjang jalan tidak ada yang bersuara, mereka larut dalam pikiran masing-masing. hingga beberapa jam perjalanan akhirnya mereka tiba dikediaman Damar.
melihat tubuh anaknya di turunkan dari mobil membuat ibu Damar semakin histeris. isak tangis sanak saudara dan bahkan para tetangga terdengar pilu.
di ruang tengah, tubuh Damar dibaringkan dengan ditutupi kain putih. ayah dan ibu Damar serta adiknya yang perempuan menangisi kepergian putra mereka itu.
"anakku Damar, kenapa tega meninggalkan ibu nak....kenapa" ibu Damar memeluk wajah putranya
"siapa yang tega membunuh anakku ya Allah....siapa...."
"ikhlas Bu, ikhlas" ayah Damar menenangkan istrinya walau hatinya sangat hancur berkeping-keping
suasana rumah duka dihiasi dengan tangisan. penghuni kost 010 kini semakin terisak. salah satu dari mereka adalah pelakunya namun dirinya berakting layaknya seorang teman yang sangat kehilangan padahal terukir senyuman iblis di bibirnya. air mata palsunya begitu mengalir menandakan bahwa dirinya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Damar.
(andai elu tutup mulut Dam, mungkin nggak akan seperti ini nasib lu. kasian banget hidup lu) batin sang pembunuh
__ADS_1
kini tiba saatnya tubuh Damar akan dimakamkan. squad 010 mengangkat keranda mayat dan berjalan menuju tempat pemakaman.
Mahendra ikut serta masuk ke dalam liang lahat. ia ingin untuk terakhir kalinya dapat menyentuh tubuh Damar karena setelah itu wajah nan teduh itu tidak akan ia lihat lagi untuk selamanya.
setelah dikuburkan, semua orang mulai pamit untuk pulang dan kini tinggal penghuni kost 010 yang masih tetap berada di tempat.
"elu yang tenang di sana ya Dam, kami akan selalu mengenang elu" Randi mengusap papan yang bertuliskan nama Damar tersebut
"bang Damar harus bahagia di sana ya, Alan akan selalu mendoakan bang Damar. hiks.... hiks...masih nggak percaya kalau Abang udah nggak ada" Alan kembali terisak
Wili langsung memeluk Alan, adik bungsu mereka itu semakin terisak dikala mengingat Damar tidak akan bersama mereka lagi.
"nggak akan ada lagi yang temani gue nonton film horor sampai larut malam" Randi berucap dengan menggigit bibirnya agar tidak terbawa suasana meskipun begitu air matanya luluh lantah jatuh tak tertahankan
"kita pulang yuk, Damar sudah tenang di sana" Rahim mengajak semua adik-adiknya
"bentar lagi bang, gue masih mau di sini" Olan yang juga dekat dengan Damar belum ingin beranjak dari tempat itu
"kita harus pulang, lihat langit sudah mendung sebentar lagi hujan. kita akan datang lagi sebelum kita pulang kembali ke Y"
dengan terpaksa mereka meninggalkan kuburan Damar. meski sudah melangkah jauh namun sesekali mereka berbalik untuk melihat tempat peristirahatan sahabat mereka.
tiga hari mereka berada di kota S tempat Damar dan Mahendra, kini tiba saatnya mereka untuk kembali ke kota Y.
sebelum kembali, mereka mengunjungi kuburan Damar karena mungkin akan lama lagi mereka mendatangkan rumah sahabat mereka itu.
"kami pamit ya Dam" Iyan mengelus papan nisan Damar
"kami akan sangat merindukan elu Dam" Wili menaburkan bunga ke atas kuburan sahabat sekaligus saudara meski tidak sedarah
"siapapun yang melakukan ini padamu, dia akan mendapatkan ganjaran nanti" ucap Kevin
"yang tenang ya di sana Dam, gue akan datang lagi menjenguk elu" Mahendra mencium nisan sahabatnya itu
setelah dirasa cukup untuk berpamitan kepada sahabat mereka, kini mereka semua bergegas meninggalkan tempat pemakaman dan akan kembali ke kota Y.
menempuh waktu beberapa jam, mereka kini sampai di kost 010. tidak ada keceriaan di wajah mereka, semuanya redup setelah kepergiannya Sahabat mereka.
saat memasuki kost itu, teringat kenangan yang pernah mereka lalui bersama dengan Damar.
"*hahaha....****** lu Ran, sini nggak lu"
"bang Olan, pulang kerja beli martabak ya"
"Al, ikut Abang jalan-jalan yuk"
"woi Wil, tungguin kampret"
"bang Rahim, gue lapar. masakin ya ya ya"
"lagi naksir cewek ya, cieee Kevin jatuh cinta"
"udah sana buruan kejar Viona, digaet orang baru nyaho lu*"
suara Damar bahkan masih membekas diingatan mereka. kini kamar nomor 3 itu tertutup rapat tanpa penghuni. tidak akan ada lagi laki-laki yang sering lupa waktu jadwal kuliahnya dan membuat seisi kost ikutan heboh. tidak akan ada lagi senyuman hangat dari laki-laki yang berlesung pipi itu. dia sudah terkubur dalam tanah namun kenangan manis tentangnya masih membekas di hati mereka semua.
malam ini tidak sehangat biasanya, semua penghuni kost 010 berada di dalam kamar masing-masing. belum ada yang keluar untuk saling menyapa sejak tadi siang.
kini kost 010 tinggal tersisa dua kamar. kamar nomor 10 dan nomor 3, tempat Damar.
setelah sholat magrib belum juga ada yang keluar dari kamar hingga sebuah ucapan salam membuat kamar penghuni di lantai bawah memunculkan diri.
"siapa bang...?" tanya Randi saat melihat Olan keluar dari kamarnya
"nggak tau, gue periksa dulu" dengan malas Olan berjalan ke arah pintu utama
Randi memutuskan untuk duduk kursi ruang utama, setelahnya Wili dan Rahim keluar bergabung bersama Randi.
Iyan baru saja turun dari kamarnya langsung ke dapur mengambil minuman dingin di kulkas kemudian ikut bergabung di ruang utama. tidak lama Alan, Mahendra dan Danil pun ikut bergabung bersama mereka.
"siapa yang ucapin salam Ran...?" tanya Rahim
"nggak tau bang, bang Olan lagi pergi periksa" jawab Randi
setelah beberapa menit menunggu, Olan datang dengan seseorang. entah itu siapa mereka juga tidak tau, sehingga Olan menjelaskan maksud kedatangan laki-laki itu.
"dia lagi nyari kost bang" ucap Olan kepada Rahim
"oh iya, kebetulan masih ada dua kamar yang tersisa. di lantai bawah dan di lantai atas" Rahim memberitahu
"Vin, tunjukkin gih kamarnya" Rahim menyuruh Kevin
meskipun sebenarnya Kevin enggan untuk bergerak namun ia tetap melakukan perintah Abang tertua mereka.
"ayo, ajak Kevin ramah"
__ADS_1
pertama Kevin memperlihatkan kamar nomor 3, kamar yang ditinggalkan oleh almarhum Damar.
"ini kamar nomor 3" ucap Kevin
"barang-barangnya masih ada ya" ucap laki-laki tersebut
"iya, kami belum sempat memindahkannya, penghuninya baru saja meninggal tiga hari yang lalu" timpal Kevin
"meninggal...?" kening laki-laki mengkerut
"iya, bagaimana suka atau nggak. kalau nggak kita ke kamar selanjutnya, ada di atas" ucap Kevin
"boleh gue lihat kamar satunya, nanti setelah itu gue putuskan"
"boleh, ayo"
mereka keluar dari kamar Damar dan menuju di kamar lantai atas, kamar nomor 10 yang bersebelahan dengan kamar Mahendra.
cek lek...
"ini kamarnya" ucap Kevin
laki-laki itu masuk untuk melihat, kamar yang kosong dan tersisa hanya lemari, meja belajar dan kasur. selebihnya akan terisi dengan barang-barang yang ingin menghuninya
"sepertinya gue pilih kamar yang ini" ucapnya saat keluar dari kamar mandi
"elu takut ya di kamar nomor 3 karena orangnya baru saja meninggal...?" Kevin menyelidik
laki-laki itu tertawa kecil dan menggeleng "gue suka bersantai di balkon seperti itu" ia menunjuk balkon di sebelah kanan mereka
"waktu di kost sebelumnya, gue juga tinggal di lantai atas" jawabnya
"okelah, elu tinggal komunikasi sama bang Rahim. oh ya kenalin nama gue Kevin" Kevin mengulurkan tangannya
"gue Damar" ia menyambut uluran tangan Kevin
"Damar...?" Kevin mengulang ucapan laki-laki itu
"iya, kenapa ya...?"
"nama elu sama dengan sahabat kami yang meninggal itu, penghuni kamar nomor 3" jawab Kevin
"oh ya, sayangnya dia udah pergi ya kalau nggak akan ada dua Damar di tempat ini" ucapnya
"iya, dia udah tenang di sana" Kevin menutup matanya. perih rasanya dikala mengingat sahabat mereka itu
"ayo kita turun" ajak Kevin
keduanya turun ke bawah, mereka kembali bergabung dengan penghuni kost lainnya.
"bagaimana, kamar mana yang mau ditempati...?" tanya Rahim
"kamar 10 bang" jawabnya
"kalau gitu besok nanti elu datang lagi, gue akan membersihkannya terlebih dahulu" ucap Rahim
"nggak usah bang, gue mau bersihkan malam ini karena rencananya malam ini gue akan mulai menempatinya"
"elu serius...?"
"serius bang, di luar sudah ada barang-barang gue"
"ya sudah kalau gitu, bawa masuk barang-barang mu, kami akan membantu mu membersihkan kamar" ucap Rahim
"biar gue yang ambil barang-barang lu Damar" ucap Kevin
"Damar...?" semuanya mengerutkan kening dan menatap Kevin kemudian beralih menatap laki-laki yang ada di depan mereka
"iya, perkenalkan nama gue Damar" ucapnya dengan ramah
"huwaaaaa bang Damarnya Alan kembali" refleks Alan langsung menghambur memeluk Damar dan menangis di pelukannya
meski sedikit terkejut namun Damar membalas pelukan Alan. ia menenangkan Alan dengan mengusap lembut punggung adik bungsu mereka itu. meskipun sekarang posisi Alan sudah digeserkan oleh Danil namun tetap saja mereka menganggap Alan sebagai adik kecil mereka karena tingkahnya yang manja dengan semua abang-abangnya.
"selamat datang Damar, kami senang elu kembali meskipun dalam wujud yang berbeda" Mahendra mulai berkaca-kaca saat mengingat sahabat mereka itu
"gue nggak tau apa yang sebenarnya kalian alami dan apa yang terjadi dengan Damar sebelumnya, tapi semoga dengan kedatangan gue bisa membuat kalian kembali bersemangat lagi" Damar tersenyum hangat
"pasti, yang pergi biarlah pergi dan kita harus tetap menjalani hidup" ucap Wili
"kalau gitu ayo kita bantu bang Damar beres-beres, Danil mau ambil sapu dulu ya" Danil melangkah ke arah dapur
"ayo bang" Alan mengajak Damar ke lantai atas
kini suasana yang tadinya sunyi kembali seperti biasanya. mereka memang tidak boleh larut dalam kesedihan. yang pergi biarlah pergi dan kehidupan mereka yang masih berada di dunia harus tetap berjalan.
__ADS_1