
tiba di rumah sakit, Danil dan Zohir langsung ditangani oleh dokter. keduanya di bawa ke tempat pemeriksaan yang berbeda.
"Danil akan baik-baik saja bang" Alan duduk di samping Mahendra dan mengelus pundaknya
"syukurlah kita bisa menyelamatkan bang Zohir dan nggak ada yang menjadi mayat kali ini" Faiz merasa lega
"tapi sepertinya kekacauan ini nggak akan berhenti sampai di sini saja. karena kita berhasil menyelamatkan bang Zohir, pasti psikopat itu akan melakukan cara lain untuk kembali memburu nyawa seseorang" timpal Randi
"apakah sejak dulu hidup kalian sebelum gue ada, di teror seperti ini juga...?" Riki bertanya
"bahkan dulu kami tinggal satu atap dengan pembunuh Rik, kami semua saling mencurigai satu sama lain" jawab Randi
"lalu Wili kan sudah dihukum mati. yang menjadi pertanyaan siapa lagi pelakunya kali ini" ucap Faiz
"kalau bukan orang lain, berarti salah satu dari kita penghuni kost 010" timpal Mahendra
"tapi siapa...?" tanya Randi
dokter keluar setelah memeriksa keadaan Danil. ia memberitahu bahwa paru-paru Danil terlalu banyak menghirup asap sehingga dirinya sesak nafas. dokter menyarankan agar Danil dirawat dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Danil segera dipindahkan ke ruang perawatan. Mahendra, Alan dan Randi mengikuti beberapa suster yang memindahkan Danil sementara Faiz dan Riki menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Zohir.
sekitar satu jam di dalam, dokter yang memeriksa keadaan Zohir keluar dan mendekat keduanya.
"bagaimana keadaannya dok...?" tanya Faiz
"cedera di kakinya cukup serius hal itu membuat dirinya tidak akan bisa berjalan"
"maksud dokter, bang Zohir lumpuh...?" tanya Riki
"untungnya saja tidak, hanya saja kedua kakinya patah dan butuh waktu untuk bisa berjalan normal. namun jika melakukan pengobatan dia akan bisa berjalan lagi seperti dulu meskipun memakan waktu yang lumayan lama"
"kami akan memindahkannya ke ruang rawat"
"terima dokter" ucap Faiz
dua orang suster keluar dari ruangan itu membawa zohir menggunakan kursi roda ke kamar rawat. setelah Zohir di pindahkan, suster dan dokter meninggalkan mereka. jika sudah waktunya jam kontrol, maka dokter tersebut akan datang lagi untuk melihat keadaan pasiennya.
"yang sabar bang" Riki melapangkan hati Zohir dengan keadaannya yang sekarang
"bagaimana dengan adik Mahendra...?" tanya Zohir
"Danil di rawat juga, kamarnya ada di sebelah kamar abang ini" jawab Faiz
"bang, apakah abang melihat wajah pelakunya...?" Riki bertanya
"nggak, karena dia memakai masker jadi gue nggak tau wajahnya seperti apa" jawab Zohir
Faiz dan Riki mengehela nafas panjang, mereka berdua benar-benar penasaran siapa sebenarnya yang menjadi pelaku dari semua itu.
"kalau begitu berikan nomor telepon keluarga abang, biar gue yang hubungi mereka dan memberitahukan kalau abang di rumah sakit" ucap Faiz
"jangan, nggak perlu. gue sendiri saja di sini. kalau kalian mau pergi maka pergilah, nggak apa-apa"
"nggak mungkin kami meninggalkan abang dalam keadaan kondisi abang seperti ini" ucap Riki
"gue bisa meminta bantuan suster atau dokter jika gue ingin melakukan sesuatu. nggak perlu cemas, gue hanya nggak bisa jalan bukannya buta"
"tetap saja kami nggak bisa meninggalkan abang begitu saja. kenapa abang nggak mau menghubungi keluarga abang...?" tanya Faiz
Zohir menghela nafas kemudian memberikan nomor yang akan dihubungi untuk memberitahukan keadaannya.
saat panggilan tersambung, Faiz mendengar suara perempuan. Faiz pun memberitahu orang yang ia hubungi bahwa Zohir dirawat di rumah sakit. orang disebrang sana kaget dan itu Faiz tau dari nada bicaranya. orang itupun meminta nomor kamar rawat Zohir dan segera akan ke rumah sakit.
"sudah bang, dia akan ke sini sekarang" Faiz memberitahu setelah mematung panggilan
"terimakasih banyak dan gue minta maaf untuk kejadian kemarin"
"kami sudah melupakan itu bang. kalau begitu nggak apa-apa kan kalau kami tinggal, kami ingin melihat keadaan Danil" ucap Riki
"nggak apa-apa, sekali lagi terimakasih"
__ADS_1
Faiz dan Riki meninggalkan Zohir sendirian di dalam. mereka hanya berpindah tempat ke ruangan sebelahnya dimana di dalam ada Mahendra dan Alan.
"bagaimana keadaan bang Zohir...?" tanya Mahendra
"kedua kakinya patah, mungkin butuh waktu beberapa bulan untuk bisa jalan lagi. Danil bagaimana...?" Faiz menjawab dan mendekat ke ranjang yang ditempati Danil
"tadi sudah sadar tapi sekarang dia sedang tidur" jawab Mahendra
"eh, pak Angga kan ada di rumah sakit juga. pak Cakra yang membawanya, kira-kira keadaannya bagaimana sekarang ya" ucap Randi
"operasinya berjalan lancar, bang Mahesa tadi memberitahu gue. sekarang dia dan pak Zulfikar ada di kamar rawat pak Angga" Mahendra menjawab
"Alan ngantuk banget, bisa nggak Alan tidur sebentar saja" Alan sesekali menguap
"di sofa aja Al" Mahendra memberitahu agar Alan tidur di sofa di ruangan itu
Alan pun merenggangkan otot-ototnya dan berjalan ke arah sofa kemudian membaringkan tubuhnya di sana. hanya selang beberapa menit dirinya sudah tidur nyenyak.
"bang Mahesa mencurigai salah satu dari kita" Mahendra kembali membuka pembicaraan
"kali ini siapa yang di curigai...?" tanya Faiz
"kalau menurut kalian siapa diantara kita yang patut dicurigai...?" Randi bertanya dan melihat mereka satu persatu
"entahlah, gue nggak punya dasar untuk mencurigai siapapun. sama halnya seperti satu tahun yang lalu" Mahendra menjawab
"zaman sekarang ini penjahat udah bertopeng seperti malaikat, kita tertipu oleh sikap dan karakternya yang ternyata adalah iblis" ucap Randi
sementara kini Mahesa dan Zulfikar sedang berada di ruangan Angga. setelah dioperasi, kondisi Angga belum juga sadarkan diri. polisi itu sudah dua kali mengalami musibah akibat perbuatan dari seorang psikopat. pertama saat kasus yang pertama dimana dirinya kecelakaan mobil dan kedua adalah yang sekarang.
"kalau gue menemukan manusia biadab itu, akan gue hajar habis-habisan sebelum gue masukkan ke dalam penjara" Cakra berucap dengan menatap Angga yang dipenuhi alat medis di kepalanya dan perutnya
"gue telah mempunyai cara untuk membuktikan kalau yang gue curigai memang dia orangnya" ucap Mahesa
"elu udah punya bukti...?" tanya Zulfikar
"semalam saat mencari Almeera, gue mencium parfum yang sama persis dengan yang ada di tubuh Jasmine Halley dan para korban lainnya. wangi parfum itu ada di salah satu penghuni kost 010" jawab Mahesa
"elu tau kan kalau parfum itu adalah parfum yang sangat mahal...?" Mahesa melihat Zulfikar
"iya, memang parfum itu mahal. kita saja akan berpikir dua kali lipat untuk membeli parfum itu" ucap Zulfikar
"semua data penghuni kost itu sudah kita cari tau darimana asal usul mereka dan dia.....berasal dari keluarga yang berada. ayahnya adalah pengusaha sukses di kota ini, bukan hal yang sulit untuk dirinya membeli barang-barang seperti itu"
"oke, sekarang beritahu siapa orang yang elu curigai itu" ucap Cakra
Mahesa pun memberitahukan mereka berdua siapa yang ia curigai sebagai tersangka dari kasus pembunuhan berantai kali ini. Zulfikar dan Cakra saling pandang setelah mendengar nama yang disebutkan oleh Mahesa.
"elu yakin dia orangnya...?" tanya Cakra yang mempunyai keraguan kepada orang tersebut
"tinggal menunggu hasil dari dokter Anwar, maka semuanya akan jelas" Mahesa tersenyum simpul
"memangnya apa yang akan dokter Anwar lakukan...?" tanya Zulfikar
Mahesa memberitahukan lagi apa yang ia lakukan bersama dokter Anwar. keduanya manggut-manggut tanda mengerti dengan penjelasan Mahesa.
"semoga saja hasilnya cepat keluar" ucap Cakra
"kali ini pelakunya benar-benar brutal sampai polisi saja dia ingin bunuh. untung saja Tuhan masih melindungi Angga dan Damar" ucap Zulfikar
Mahesa dan Zulfikar setelah membantu para warga memadamkan api yang melahap seluruh rumah yang digunakan oleh pembunuh berantai untuk mengeksekusi mangsanya, mereka berdua bergegas langsung ke rumah sakit.
saat itu Mahesa yang sudah mengantongi satu nama yang ia curigai, dirinya langsung menghubungi dokter Anwar untuk melakukan sesuatu.
pada mayat Jasmine Halley, dokter Anwar menemukan kulit manusia di kuku wanita itu. Mahesa teringat dengan hal itu dan ia segera melakukan tindakan. kulit itu masih disimpan oleh dokter Anwar dan kini mereka akan melakukan tes laboratorium untuk melakukan pencocokan DNA.
di kamar rawat Danil, Alan masih dalam keadaan tidur namun kini ia tidak sendirian, Randi ikut terlelap di sofa yang masih kosong. sementara Riki keluar untuk mencari makan, Faiz kembali ke kost untuk mengambil pakaian ganti mereka semua.
setibanya di kost, Faiz masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. ia masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan air kran.
selesai membersihkan diri, Faiz keluar dari kamar mandi namun dirinya langsung terkejut tatkala seseorang sudah duduk di meja belajar dalam keadaan membelakangi dirinya.
__ADS_1
"siapa kamu...?" Faiz mencari sesuatu untuk ia jadikan senjata. di atas kasurnya ada sebuah pisau lipat. jika orang itu menyerangnya maka Faiz akan siap siaga dan mengambil pisau itu
sosok itu membalikkan badannya ke arah Faiz. tentu saja Faiz kaget melihat orang itu yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam kamarnya padahal seingatnya ia sudah kunci. sosok itu sedang tersenyum ke arahnya.
"b-bang Olan...?" ucap Faiz yang terperangah
"kenapa pada sepi sih ini, yang lain mana...?" tanya Olan
"bagaimana bisa bang Olan bisa masuk ke kamar gue...emm maksud gue bagaimana bisa abang berada di sini" Faiz masih tetap berdiri di tempatnya
"jangan bertanya dulu Iz, antar gue ke rumah sakit. lihat gue terluka parah saat mencoba melarikan diri" Olan memperlihatkan kepalanya yang bocor dimana darah sudah mulai mengering dan juga beberapa luka yang ada di perutnya
"astaghfirullah. ya sudah gue pakaian dulu. yang lain juga sedang berada di rumah sakit, Danil di rawat di sana" Faiz menjelaskan dengan gerakan mengambil pakaiannya. ia sudah tidak memikirkan bagaimana Olan bisa masuk ke dalam kamarnya
"pantas saja kost sepi seperti ini. cepatan Iz, kepala gue sakit banget" Olan memegang kepalanya dan meringis sakit
"udah bang, ayo kita berangkat. tapi abang tunggu di depan saja ya, gue mau ngambil pakaian anak-anak lain" Faiz siap dengan tasnya untuk menyimpan pakaian teman-temannya
keduanya keluar dari kamar, Olan langsung turun ke bawah sedangkan Faiz masuk ke dalam kamar Alan untuk mengambil pakaian.
setelah mengambil semua pakaian yang dibutuhkan, Faiz dan Olan segera meninggalkan kost 010 menuju ke rumah sakit. tiba di rumah sakit, Olan langsung ditangani oleh dokter dengan membawanya ke tempat pemeriksaan.
Faiz langsung ke ruangan Danil. saat masuk Alan dan Randi sedang menikmati makanan mereka sementara Mahendra dan Riki sedang berbicara dengan Danil yang sudah sadarkan diri.
"makan dulu bang" ucap Randi setelah Faiz menyimpan tasnya di atas meja
"kalian semua harus tau, kalau bang Olan telah kembali" bukannya ikut makan Faiz malah segera memberitahu semuanya
"bang Olan kembali...?" tanya mereka serempak
"iya, dan sekarang dia sedang di rumah sakit ini. kepalanya bocor, perutnya penuh luka. sepertinya dia disiksa. bang Olan bilang dirinya berhasil kabur" ucap Faiz
"kalau begitu kita lihat keadaannya sekarang" timpal Riki
"tapi......"
"tapi kenapa bang...?" tanya Alan kepada Faiz
"caranya kembali itu yang bikin gue bertanya-tanya" jawab Faiz
"maksud abang gimana...?" tanya Danil
"sewaktu gue sampai di kost, gue langsung mandi dan pas keluar dari kamar bang Olan udah di dalam kamar gue. gue heran aja bagaimana bisa dia masuk sementara pintu kamar gue kunci, kan kunci serep semua kamar ada sama bang Rahim" terang Faiz yang masih penasaran
"mungkin elu lupa kunci pintunya, dimana seingat kita udah menguncinya namun ternyata belum" Mahendra berasumsi
"apa iya ya, tapi seingat gue...." Faiz menggaruk kepala mencoba mengingat
"nanti aja pikirkan pintu yang dikunci. sekarang kita lihat keadaan bang Olan saja dulu" Riki mulai beranjak dari tempat duduknya
"abang tinggal bentar ya dek" Mahendra menatap Danil
"iya bang" jawab Danil
mereka semua meninggalkan kamar Danil untuk pergi melihat Olan. sesampainya di sana, Olan tengah dalam keadaan tidur karena obat bius yang diberikan oleh dokter.
"bagaimana keadaan abang saya dok...?" tanya Mahendra
"saya sudah menjahit kepalanya dan juga beberapa luka di punggungnya. sepertinya dia mengalami kekerasan. apa yang sebenarnya terjadi padanya...?" dokter wanita itu bertanya
"kami juga tidak tau dokter, dia semalaman menghilang dan baru kembali sekarang" jawab Mahendra
"banyak lebam di seluruh tubuhnya, saya sengaja memberikan obat penenang agar dia beristirahat sejenak. kalau ada apa-apa tekan saja tombol yang ada di samping ranjang pasien"
"baik dokter, terimakasih"
dokter yang menangani Olan pun pergi, sementara mereka yang masih berada di tempat itu langsung mendekati ranjang Olan.
"bagaimana dengan nasib ketiga teman kita yang lain, apa mereka akan sama seperti bang Olan...?" Alan begitu prihatin dengan keadaan Olan sekarang
"semoga mereka baik-baik saja" ucap Mahendra yang begitu miris melihat keadaan Olan
__ADS_1