
di kos 010 wanita yang datang mencari Rahim kini berada di ruang utama, di temani oleh Alan sementara Riki berada di dapur menyiapkan makanan untuk mereka semua.
"diminum kak tehnya, dari tadi kakak nggak menyentuh minuman itu" ucap Alan
"apa kamu benar-benar tidak tau kemana Rahim pergi...?" wanita itu bertanya
"emmm...bang Rahim sebenarnya...."
"kamu tau kan dimana Rahim. katakan padaku dia dimana" wanita itu mendesak Alan
Alan bingung harus menjawab apa, ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
(bang Mahendra sama yang lainnya kok lama banget sih) Alan membatin
"kenapa kamu tidak tidak jawab, kamu tau kan dimana Rahim"
"Al" seseorang memanggil Alan, saat menoleh Alan dapat melihat seorang laki-laki datang bersama seorang wanita
"bang Olan, loh kok abang udah pulang. bukannya abang sakit" Alan langsung berdiri
ya, orang itu adalah Olan. ia datang bersama dengan Hana, mulut wanita itu terkatup rapat tanpa bicara sepatah katapun namun matanya terus melihat ke arah Alan.
"kita harus bergegas Al" ucap Olan
"kemana bang...?"
"gue udah tau dimana tempat Robi, Rahim sama Iyan disekap"
"tunggu.... tunggu, Rahim disekap...?" wanita yang mencari Rahim itu bertanya
"kamu siapa...?" Olan memperhatikan wanita itu
"aku Maharani, pacarnya Rahim. jelaskan padaku kenapa Rahim bisa disekap"
"aku tidak punya banyak waktunya untuk bercerita. lebih baik sekarang kita ke tempat itu untuk menyelamatkan mereka. ayo Al" ajak Olan
"tunggu bang, Alan panggil bang Riki dulu" ucap Alan yang langsung pergi ke dapur untuk memberitahu Riki
setelah itu Riki dan Alan kembali ke ruang utama.
"abang benar udah tau dimana mereka...?" tanya Riki memastikan
"iya, buruan cepat... sebelum pembunuh itu melakukan hal yang tidak kita inginkan"
"terus yang lain bagaimana...?" tanya Riki
"gue udah memberitahu mereka, nanti mereka nyusul. ayo"
"aku ikut, aku ingin melihat Rahim" Maharani meminta
Olan mengangguk dan dalam hati tersenyum licik. Riki dan Alan kembali ke kamar mereka untuk mengambil ponsel setelah itu mereka keluar dari kos.
Hana ingin memberitahu Riki dan Alan namun ia benar-benar tidak tau bagaimana cara memberitahu mereka tanpa harus diketahui oleh Olan.
mereka masuk ke dalam mobil. Hana duduk di samping kemudi sementara, Riki dan Alan di kabin tengah dan Maharani di kabin belakang.
"apa kalian lapar, aku punya makanan yang ada di kabin belakang" ucap Olan
"sebenarnya kami memang lapar bang, kami belum makan sejak tadi. kak tolong makanannya" Alan menoleh ke belakang, meminta tolong kepada Maharani untuk mengambil makanan itu
Maharani mengambil kresek hitam di sampingnya kemudian memberikan kepada Riki dan Olan. keduanya makan dengan lahap. Maharani ditawari makan namun wanita itu menolak.
setelah selesai dengan urusan perut mereka, Riki menghidupkan ponselnya yang tadi sempat ia cas. rencananya ia akan menghubungi Faiz namun saat itu juga dirinya membaca pesan yang dikirimkan oleh Randi.
Randi : bang Olan adalah pelaku sebenarnya bang Riki, kalian berhati-hatilah di situ. kami akan segera pulang
deg
deg
deg
seketika jantung Riki langsung berdetak kencang, ia berulang kali membaca pesan itu dan kemudian melihat Olan yang sedang menyetir.
"kenapa Rik...?" Olan bertanya saat ia melihat Riki di spion gantung memasang wajah tegang
"nggak apa-apa bang" Riki berusaha bersikap tenang
Olan kembali fokus menyetir. sesekali ia melihat Alan dan Riki yang duduk diam tanpa suara. saat Olan tidak lagi memperhatikan keduanya, Riki menyikut lengan Alan. Alan menoleh dan Riki memberitahu Alan menggunakan matanya, mengkode agar Alan membuka ponselnya.
"kenapa bang...?" Alan bertanya, ia belum mengerti dengan kode yang diberikan oleh Riki
Olan kembali melihat mereka berdua di spion gantung.
"gue ngantuk, pinjam bahu lu sebentar ya" Riki segera bersandar di bahu Alan dan memejamkan matanya
"apakah tempatnya jauh. harusnya kita melapor kepada polisi tadi" ucap Maharani yang duduk di kabin belakang
"kelamaan kalau lapor polisi, mereka butuh pertolongan cepat" jawab Olan
Olan menyeringai, sudut bibirnya terangkat. ia melirik Hana yang diam sejak tadi. wanita itu dalam hati mengutuk laki-laki yang kini sedang duduk disampingnya.
mobil yang dikendarai Mahesa bersama Cakra dan Zulfikar berhenti tepat di depan kos 010 sementara penghuni kos yang membawa motor langsung masuk ke halaman rumah.
__ADS_1
Mahendra serta yang lainnya masuk ke dalam kos. di meja ruang utama, ada tiga gelas yang berisi minuman dan juga satu piring cemilan.
"Riki... Alan" Faiz memanggil namun tidak ada sahutan
Danil ke lantai dua memeriksa abang-abangnya itu dan hasilnya kosong, tidak ada siapapun di lantai dua. ia kembali lagi ke bawah.
"gimana Dan...?" tanya Randi
"nggak ada" jawab Danil
"mereka nggak ada di kos, bagaimana ini. jangan-jangan bang Olan sudah datang ke sini" Mahendra frustasi
"lacak nomor mereka Zul" perintah Mahesa
"gue butuh laptop" ucap Zulfikar
"pakai laptop gue" Faiz masuk ke dalam kamar mengambil laptopnya kemudian keluar lagi dan menyerahkannya kepada Zulfikar
Zulfikar mengambil laptop itu dan duduk di kursi. ia menyimpan laptop di atas pahanya dan mulai melakukan keahliannya.
sekian menit berkutat dengan laptop tersebut dimana sepuluh jarinya terus memencet tombol yang ada, akhirnya Zulfikar dapat menemukan dimana posisi Alan dan Riki.
"dapat" ucap Zulfikar setelah menakan tombol enter
"mereka ke ujung kota, sudah jelas ini adalah tempat ruangan bawah tanah itu" Cakra memperhatikan titik merah yang terus bergerak di layar laptop
"kita berangkat sekarang" ucap Mahesa
Riki masih mencari cara agar dapat memberitahu Alan bahwa yang membawa mereka sekaligus ini adalah seorang psikopat dan mereka dalam keadaan bahaya.
karena Alan duduk di samping kanan dalam artian ia berada dibelakang kursi Olan, hal itu mempermudah Riki untuk memperlihatkan pesan yang dikirim Randi di ponselnya.
"hoaaaam, bang kalau udah sampai beritahu ya. gue ngantuk banget" Riki pura-pura menguap
"tenang saja" ucap Olan
"abang benaran mau tidur...?" tanya Alan melirik Riki yang menyandarkan kepalanya di bahunya
"humm" jawab Riki. ia pura-pura tidur namun tangannya memberikan ponselnya kepada Alan agar adiknya itu dapat membaca pesan di dalamnya
Randi : bang Olan adalah pelaku sebenarnya bang Riki, kalian berhati-hatilah di situ. kami akan segera pulang
mata Alan membulat sempurna bahkan ia membuat pergerakan yang menarik perhatian Olan.
Maharani yang berada di belakang kedua laki-laki itu, memajukan kepalanya dan membaca pesan yang ada di ponsel Riki. wanita itu meneguk ludah dan saling tatap antara dirinya dan Alan.
"apakah dia pelakunya...?" Maharani berbisik di telinga Alan dan Alan pun mengangguk
Riki bangun dan mengambil posisi duduk seperti semula.
"sabar sebentar" Olan menjawab dingin
"gue tau kalian pasti sudah tau yang sebenarnya, terlihat dari wajah tegang kalian semu" ucap Olan tersenyum tipis
"maksud abang...?" Riki pura-pura tidak tahu
"hahaha, Riki.... Riki, elu pikir gue sebego itu. ingatlah saat ini nyawa kalian semua berada di tanganku"
ciiiiiit.....
Olan menginjak rem seketika. mobil itu berhenti dan ia menyuruh Riki dan Alan untuk keluar. Maharani dan Hana ia ikat di dalam mobil
"apa yang bang Olan mau...?" tanya Riki. mereka telah keluar dari mobil
"jalan" Olan mengarahkan pistol ke arah mereka
"gue bilang jalan" Olan meninggikan suaranya
Alan dan Riki patuh. mereka berdua dengan kedua tangan diangkat ke atas, mereka melangkah masuk ke dalam hutan sesuai perintah Olan. semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan sampai Olan memberikan perintah untuk berhenti.
"di hutan ini ada banyak binatang buas, mereka sangat menyukai daging manusia seperti kalian berdua" Olan memegang pistol dan mengarahkan kepada Riki dan Alan
"elu benar-benar brengsek bang" Alan tidak menyangka dalang dari semuanya adalah laki-laki yang bijaksana seperti Olan
"hahaha, harusnya saat ini kalian memohon kepadaku adik-adikku yang malang, bukan malah memakiku" Olan mengeluarkan tali yang dibawanya
Alan hendak menyerang namun seketika kepalanya mulai pusing dan berkunang-kunang. Riki pun mengalami hal yang sama. hingga kemudian akhirnya mereka berdua lemas dan pingsan.
"dasar bodoh, mau saja di tipu" Olan mengikat keduanya
kantung celana keduanya diperiksa olehnya untuk mengambil ponsel milik mereka berdua. yang ia temukan hanya ponsel milik Alan sementara ponsel Riki tidak ia temukan.
"biarkan sajalah, lagi pula mereka akan mati secepatnya dimakan hewan buas di sini"
ia meninggalkan kedua laki-laki itu di dalam hutan, kembali ke mobil.
"sekarang giliran kalian berdua" ucap Olan menatap Maharani dan Hana
sementara kini Mahesa dan yang lainnya terus mengikuti titik merah dimana itu adalah posisi Alan dan Riki.
"titiknya berhenti di sini" Zulfikar memperlihatkan laptop itu kepada Mahesa
"itu kan hutan" ucap Cakra
__ADS_1
"sial, cepatan Hes. di sana banyak binatang buas. buruan Hes" Zulfikar mulai panik
dengan kecepatan tinggi Mahesa mengemudikan mobilnya. yang lain mengikuti mobil itu dari belakang.
kini tibalah semuanya di hutan. mereka keluar dari mobil dan berjalan kaki untuk mencari Alan dan Riki.
"bang bangun bang" Alan mencoba membangunkan Riki yang masih belum sadar
"bang bangun"
"aw....kepala gue sakit banget"
sssss
"suara apa itu...?" Riki langsung tersadar saat mendengar suara aneh
"apa jangan-jangan itu binatang buas"
"jangan bercanda Al"
"Alan nggak mungkin bercanda dalam keadaan mau mati begini bang"
sssss
"Al....itu seperti suara....." mereka berdua saling tatap
"ULAR"
sssss
"aaaaa"
ular besar yang hitam sudah berada dekat dengan mereka. karena mereka diikat dengan satu lilitan tali dan kaki mereka tidak diikat oleh Olan, keduanya segera bangun dan berlari.
sayangnya bukan berlari normal seperti biasa. melainkan kini Riki yang berusaha sekuat tenaga berlari kencang sementara Alan berada di punggungnya dengan posisinya menghadap ke arah ular tersebut.
"buruan bang" Alan histeris karena ular itu merayap cepat mengejar mereka
"ini gue udah cepat Al" Riki ngos-ngosan
"KIRI BANG KIRI"
hap
dugh
hampir saja mereka diterkam ular itu namun karena perintah yang Alan berikan, ular itu hanya menerkam batang pohon.
"gantian Al, gue capek"
Riki berhenti berlari dan kini giliran Alan yang berlari sementara Riki ia gendong di atas punggungnya.
"Al cepatan, dia datang lagi" teriakan Riki begitu keras di dalam hutan itu
"Hes, gue mendengar suara yang berteriak" ucap Cakra
mereka semua menajamkan pendengaran. benar saja, dua suara teriakan mereka dengar begitu jelas.
"itu pasti Alan sama Riki, ayo buruan kita cari mereka" ucap Mahendra
baru beberapa meter mereka berlari, dua orang itu sudah dapat mereka lihat dari jauh dimana Alan sedang berlari sedang Riki ia gendong sementara hewan Lata yang mengejar mereka sesekali mengeluarkan lidahnya.
"ASTAGA, ITU ULAR" Randi teriak histeris
Mahesa, Cakra dan Zulfikar berlari ke depan. setelah Alan dan Riki melewati mereka bertiga, ketiganya menembak ular besar itu beberapa kali hingga akhirnya ia tumbang dan mati.
buuuuuk
Alan langsung jatuh ke tanah, dan Riki tentu saja menindihnya karena ia berada di atasnya.
"kalian nggak apa-apa...?" Faiz membuka tali yang mengikat mereka dengan pisau lipat miliknya
"haaah.... haaah... haaah".
"Alhamdulillah, kami nggak jadi mati" Alan terbaring di atas tanah dengan keringat yang membasahi tubuhnya
"sepertinya malaikat maut sibuk mencabut nyawa para korban bang Olan makanya kami masih selamat" Riki ikut terbaring di tanah dengan nafas yang hampir lepas dari tenggorokan
"buruan pergi dari tempat ini, nanti ada lagi hewan buas yang lainnya" Danil mengajak
"hiiii.... kayaknya di hutan ini banyak ularnya" Randi bergidik ngeri
kini mereka telah meninggalkan hutan itu. Alan dan Riki berada di mobil Mahesa karena mereka tidak membawa kendaraan. saat ini tujuan mereka adalah ujung kota dimana markas psikopat itu berada.
Olan menyeret Rahim membawanya ke suatu tempat. di dalam sebuah gudang yang cukup luas. di sana Iyan dan Robi digantung terbalik sementara Hana dan Maharani di ikat di sebuah kursi.
"Rahim" Maharani menangis melihat kekasihnya yang sudah dipenuhi luka dan bermandikan darah
Rahim membuka matanya pelan, saat ia melihat Maharani, dirinya memberontak namun Olan memukul perutnya sehingga Rahim tidak bisa melawan.
"dia akan baik-baik saja bang, tenang saja" Olan mengikat kedua tangan Rahim dalam keadaan berdiri
"lihat bang siapa yang aku bawa, kakak ipar gue" Olan mendekat Maharani dan membelai wajahnya
__ADS_1
"jauhi dia BRENGSEK" Rahim begitu marah Olan mencengkram wajah Maharani dengan keras hingga wanita itu meringis
"hari ini kita akan berpesta besar sebelum kalian gue kirim ke alam baka" Olan tersenyum menyeringai