Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 52


__ADS_3

pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Wili Alfiansyam satu tahun yang lalu telah diusut oleh polisi-polisi itu. Wili mengakui semua perbuatannya dan laki-laki yang dikenal ramah dan baik hati itu dijatuhi hukuman mati.


setelah kematian Wili, tidak ada lagi kasus pembunuhan. meskipun ada, itu adalah kasus biasa yang tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan seorang psikopat.


namun hari ini, kembali para polisi itu akan menghadapi seorang psikopat yang belum mereka tau siapa identitasnya.


"ini bahaya untuk kita semua" ucap Mahesa


"bahaya kenapa Hes...?" tanya Angga


"seperti yang gue katakan. kalau dia kenal Damar berarti dia juga mengenal kita. dia berniat menghabisi Damar, itu artinya dia pasti berniat untuk menghabisi kita juga" jawab Mahesa


"kalau dia mengenal kita, itu artinya memang benar dia ada disekitar kita. apa mungkin dia kerabat dari Wili. bisa adik, kakak atau hubungan yang dekat dengan Wili" timpal Zulfikar


"itu masuk akal. kita yang menangkap Wili, bisa jadi ada yang ingin membalas dendam atas kematian Wili" ucap Mahesa


"untuk mengetahui dia mempunyai hubungan dengan Wili, kita harus mencari informasi tentang Wili. kita datangi ibunya" ucap Damar


"gue akan memeriksa berkas yang pernah kita selidiki tahun lalu" ucap Zulfikar


"sebaiknya elu dirawat di rumah sakit saja Dam, disana lebih intensif" saran Mahesa


"di rumah sakit nggak aman buat gue Hes. psikopat itu bisa datang kapan saja untuk mencelakai gue. kalau di rumah, nyokap bokap gue di luar kota" jawab Damar


"kalau begitu elu di rawat di rumah om gue saja. kebetulan sepupu gue juga seorang dokter" ucap Zulfikar


"om Ali maksud lu...?" tanya Damar


"iya, di sana elu akan aman. gue akan menghubungi om Ali"


"nggak perlu Zul, gue di rumah om gue saja. di sana juga aman dari psikopat itu" Damar menolak


"ya sudah kalau begitu. kami akan menjengukmu tiap hari" Zulfikar tidak bisa memaksa


cek lek


pintu kamar di buka, ibu Masni dan pak Nandar masuk ke dalam.


"kalian kerabat laki-laki ini...?" tanya pak Nandar


"benar pak, kami rekan kerjanya. perkenalkan saya Mahesa" Mahesa mengulurkan tangan bersalaman dengan pak Nandar dan istrinya


"Zulfikar"


"Angga pak"


"lalu, kamu sendiri siapa namamu...?" pak Nandar bertanya kepada Damar


"Damar. terimakasih sudah menolong saya" Damar tersenyum tulus


"kalau begitu mari kita bicara di luar. biarkan nak Damar istrahat untuk lebih cepat pulih" ibu Masni mengarahkan


mereka mengangguk dan meninggalkan Damar di dalam kamar. semuanya beralih ke ruang tamu. ibu Masni membuat minuman untuk para tamu mereka. di sana sudah ada Arika dan Zakyas yang ikut bergabung.


"jadi Damar itu adalah polisi...?" tanya pak Nandar


"benar pak" jawab Mahesa


"siapa ya orang itu yang dengan beraninya menganiaya seorang polisi" ucap pak Nandar


"bapak melihat pelakunya...?" tanya Angga


"iya, malam itu tepat setelah Damar kami masukkan ke dalam rumah bersama istri saya, orang itu datang menelisik sekitar. sepertinya dia sedang mencari Damar. bahkan dia mendatangi rumah ini dan memeriksa dari jendela. untungnya kami bersembunyi di balik sofa" pak Nandar menjelaskan


"bapak melihat wajahnya...?" Mahesa penasaran


"tidak, saya tidak melihat wajahnya karena dia memakai masker"


(berarti memang benar, orang yang telah membunuh Aretha Delano adalah orang yang mengincar Damar. mereka adalah orang yang sama) batin Mahesa


"saya ucapkan terimakasih banyak kepada keluarga bapak telah menyematkan Damar" ucap Mahesa


"untungnya ada anak saya Arika yang berprofesi sebagai dokter. dia melakukan pertolongan pertama pada Damar" ibu Masni datang membawa nampan berisi minuman


Mahesa mengarahkan matanya ke arah wanita itu. melihat Arika tersenyum, Mahesa pun membalas senyuman itu.


"cieee... pipinya merona tuh disenyumin sama abang polisi" Zakyas menggoda kakaknya dengan berbisik


"apaan sih, nggak jelas banget" Arika menjawab jutek, namun matanya sesekali melirik ke arah Mahesa yang sedang berbincang dengan orang tuanya


"kami akan membawa Damar pulang" ucap Mahesa


"tapi kondisinya masih lemah. untuk bangun saja dirinya tidak bisa. sebaiknya Damar di sini dulu sampai keadaannya membaik. kalau dipaksakan, dia akan drop kembali apalagi dia tidak ingin dibawa ke rumah sakit" Arika menjelaskan


"kami tidak mungkin membiarkan Damar berada di sini dan merepotkan kalian dokter" Mahesa menolak


"tidak apa-apa nak Mahesa. benar apa yang dikatakan Arika. biarkan nak Damar di sini sampai keadaannya membaik. lagipula ada Arika yang akan terus mengawasi kesehatannya. kalian bisa menjenguknya kapan saja" ibu Masni memberikan usul

__ADS_1


"apa tidak merepotkan bu...?" tanya Angga


"membantu sesama jelas tidak merepotkan. jangan khawatir, Arika akan mengobatinya sampai sembuh jika nak Damar tidak ingin ke rumah sakit" jawab ibu Masni


"memangnya kenapa sih bang Damar tidak dibawa ke rumah sakit. di sana kan pengobatannya lebih intensif daripada di rumah" Zakyas bertanya karena membutuhkan penjelasan


"dia paling takut dengan yang namanya rumah sakit" Zulfikar berbohong karena untuk saat ini mereka tidak ingin membicarakan hal yang sedang mereka hadapi


"wah...polisi kok takut rumah sakit. aneh sekali" gumam Zakyas menggaruk kepala


setelah berbincang-bincang, Mahesa dan kedua rekannya pamit untuk pulang. polisi tampan itu berpesan kepada keluarga pak Nandar, siapapun yang datang mencari Damar jika bukan mereka bertiga maka dilarang untuk menemui Damar. dan juga Mahesa berpesan agar pak Nandar dan keluarga tidak memberitahu kepada siapapun mengenai keberadaan Damar di rumah mereka.


diwaktu sore hari pukul 4 sore, Mahendra, Riki dan Robi menuju ke kosan Robi. sore itu Robi akan pindah ke kos 010. mereka membawa kendaraan masing-masing.


"jadi ini kosan bang Robi...?" tanya Riki setelah mereka sampai di tujuan


kost lantai dua dengan cat warna biru. dihalaman kost, di penuhi dengan kendaraan milik penghuni kost di tempat itu.


"iya, ini kosan gue. ayo masuk" ajak Robi.


mereka memasuki ruang utama. beberapa penghuni kost sedang bercanda di ruang utama. ada yang menonton dan ada yang bermain kartu.


"baru pulang Rob...?" sapa salah satu dari mereka


"iya bang. bang Julian udah balik dari luar kota...?" Robi berhenti di depan mereka bersama Mahendra dan Riki


"udah, tadi siang" jawab Julian


"woi Hen, tumben lagi elu main ke sini" Jojo yang mengenal Mahendra menyapa


"iya bang, gue datang mau bantu Robi buat pindahan" jawab Mahendra


"elu mau pindah Rob...?" Danu bertanya


"iya, rencananya sore ini. ini gue balik mau beres-beres" jawab Robi


"tega amat sih Robi, masa pindah nggak bilang-bilang. sungguh terlalu" Dante yang bertubuh gembul bicara dengan mulutnya yang penuh makanan


"mau bilang sih, dan mumpung hari ini gue ketemu kalian jadi gue bilang sekarang aja"


"telat, kita udah tau duluan" timpal Rafa dan Robi hanya cengengesan menggaruk kepala


"kenapa pindah sih Rob...?" tanya Danu "eh, silahkan duduk Mahendra dan...."


"Riki bang" Riki menyambung ucapan Danu


"ya...kalian tau lah kenapa gue pindah" ucap Robi yang tidak menjelaskannya secara detail


"karena bang Zohir...?" tanya Rafa dan Robi mengangguk


"gue sih sebenarnya udah nggak betah juga disini. bang Zohir suka seenaknya kumpul sama teman-temannya terus minum-minum, karaokean nggak jelas. tiap malam nggak enak gue tidur" timpal Jojo


"nah itu dia. elu aja yang kamarnya di lantai atas bisa terganggu, lebih-lebih gue yang bersebelahan" ucap Robi


"gue udah lapor sama pak Ujang mengenai kelakuan Zohir. sayangnya pak Ujang masih di kampung mengurus pernikahan keponakannya" ucap Julian. pak Ujang adalah pemilik kost tersebut


"semoga pak Ujang bisa mengambil tindakan. kalau gitu gue ke kamar dulu ya, mau packing"


"perlu dibantu...?" tanya Danu


"nggak perlu, ada dia asisten gue yang membantu" Robi melihat Mahendra dan Riki


ketiganya beranjak dan melangkah ke kamar Robi yang ada di lantai satu.


"maaf ya kalau berantakan" Robi membuka pintu kamar


beberapa buku berserakan di lantai. piring bekas makanan masih berada di dalam kamar. Robi belum sempat beres-beres saat menemui Mahendra tadi pagi.


"langsung packing aja, mana koper lu" ucap Mahendra


"tuh di atas lemari" Robi menunjuk sebuah koper besar dengan matanya


Mahendra mengambil koper itu dan menyimpan di lantai. satu persatu pakaian milik Robi dikeluarkannya dari lemari dan dimasukkan ke dalam koper.


Riki membereskan beberapa buku dan menyimpannya di dalam tas. pakaian yang tergantung di balik pintu dibereskan oleh Mahendra. sedang Robi, ia membawa piring bekas makannya ke dapur.


"ini kita mau pindah kost apa pindah rumah. barang-barang bang Robi banyak sekali" Riki menggaruk kepala


"biasalah Rik. Sultan mah bebas bos" timpal Mahendra yang sedang membereskan sepatu-sepatu Robi


Robi kembali dan membantu mereka, dalam keadaan beres-beres, dua orang datang menghampiri mereka.


"ngapain lu Rob...?" keduanya masuk ke dalam kamar


"gue mau pindah bang" jawab Robi melihat kedatangan kedua laki-laki itu


"elu pindah kenapa nggak izin sama gue...?"

__ADS_1


"maaf bang Zohir, gue juga pindahnya dadakan" Robi terus menata barang-barangnya


"Zohir, ngapain elu di situ. ayo buruan" salah satu temannya yang lain datang memanggil


"bentar, kalian masuk aja ke dalam kamar" Zohir berbalik menjawab


"Robi, gue pinjam duit elu 500 dong" pinta Zohir tanpa tau malu


"Hir, pinjam duit mulu elu ini" laki-laki yang datang bersamanya menegur


"diam lu Beni, mending elu ke kamar sana" Zohir mengusir Beni


"maaf bang, gue nggak ada uang sekarang" ucap Robi


"masa nggak ada sih, elu kan anak orang kaya. nggak mungkin nggak punya duit" sela Zohir


"tapi gue benar nggak punya sekarang bang. lagipula abang pinjam uang mulu, utang abang yang udah dua bulan belum abang bayar-bayar sampai sekarang"


"nanti gue bayar, gampang itu lah. hanya tiga juta juga. sekarang gue mau tambah 500 rb, mana duitnya" Zohir mengadahkan tangannya ke arah Robi


"nggak ada bang, maaf kali ini gue nggak bisa kasi"


"mulai perhitungan sekarang lu ya"


"bukan perhitungan bang, tapi emang nggak ada"


"bohong, sini dompet lu. gue mau liat" Zohir mengambil paksa dompet Robi dan saat itu juga Mahendra beraksi. Mahendra menahan tangan Zohir dengan cepat dan menepisnya secara kasar


"punya etika nggak bang. kalau orang bilang nggak punya ya berarti nggak punya. jangan maksa, itu namanya sudah pembajakan" Mahendra menatap tajam Zohir


"heh, elu nggak usah ikut campur urusan gue"


"dia sahabat gue, jelas gue akan ikut campur. mending abang keluar sana. kalau mau duit ya kerja atau kalau nggak sanggup kerja, ngamen sana di jalanan"


"brengsek, apa lu bilang" Zohir menarik baju Mahendra


"bang" Riki takut Mahendra akan dipukul


"Zohir udah, kita keluar" Beni berusaha melepaskan tangan Zohir dari baju Mahendra


Robi keluar untuk meminta bantuan. ia memanggil penghuni kost yang lain untuk melerai perdebatan Mahendra dengan Zohir. mereka yang tadi berada di ruang tamu langsung melesat ke kamar Robi.


"Zohir, lepasin" Julian datang dan menjauhkan Zohir dari Mahendra. namun bukannya mendengar, Zohir malah mendorong tubuh Julian hingga laki-laki itu menabrak tubuh Rafa


"ZOHIR"


buaaaak


satu bogem mentah mendarat di wajah Zohir. ia meringis dan memegang bibirnya yang berdarah.


"gue udah sabar selama ini ya. mending sekarang elu dan semua teman-teman lu cabut dari kost ini atau gue lapor polisi karena kalian mengonsumsi sabu-sabu" Julian menatap Zohir dengan begitu benci


"brengsek lu Jul" Zohir hendak menyerang Julian namun laki-laki itu segera diringkus oleh yang lainnya dan membawanya keluar


"bang Jul nggak apa-apa...? tanya Robi


"nggak, santai aja. kalian lanjutin packing barang-barangnya, gue mau urus si Zohir dulu" Julian keluar dari kamar Robi


"huufffttt.... hampir jantungan gue" Riki bernafas lega dan mengelus dada


pukul 17.30, Robi pamit kepada semua penghuni kost. masing-masing dari mereka saling berpelukan. barang-barang Robi diangkut di mobil pickup yang mereka sewa.


di kost 010, semua penghuni sudah berkumpul kecuali Olan yang masih bekerja dan biasanya laki-laki itu selalu pulang malam.


seperti biasa mereka berkumpul di ruang utama menunggu kedatangan Mahendra, Robi dan Riki. Mahendra telah menghubungi Rahim bahwa sekarang mereka dalam perjalanan ke kost 010.


klakson mobil berbunyi, penghuni kost segera keluar untuk melihat. mobil pickup terparkir di halaman kost dengan segala macam perabotan yang dibutuhkan mahasiswa.


"gila, si Robi mau pindah kost atau pindah rumah sih ini" Faiz menganga melihat barang-barang Robi


"halo epribadeee...." Robi muncul menghampiri mereka


"bang Robi mau lelang barang...?" tanya Alan


"nggak lah, bantuin dong, masa pada liatin aja" Robi naik ke atas mobil untuk menurunkan semua barang-barangnya dibantu yang lainnya


selesai sholat isya, mereka berkumpul di ruang utama. pembersihan kamar Robi akan dilakukan esok hari. malam ini Robi akan tidur di kamar Mahendra dan Danil.


pukul 1 malam, di tempat lain seorang wanita baru saja pulang dari ulang tahun sahabatnya. ia menggunakan taxi untuk mengantarnya. namun karena gang tempat tinggalnya tidak bisa dimasuki kendaraan roda empat, wanita itu berhenti di depan gang. selanjutnya ia berjalan kaki untuk sampai di rumahnya.


udara malam terasa dingin, ia memperbaiki jaket miliknya dan menutup kepalanya dengan topi jaketnya. wanita itu terus melangkah menyusuri gang itu, hingga langkahnya terhenti karena seseorang berdiri di depan sana yang jaraknya hanya beberapa meter.


melihat sosok itu memegang palu di tangannya, wanita itu mulai takut dan meneguk ludah. perlahan ia mundur untuk menjauh namun sosok itu perlahan juga semakin maju ke depan.


"s-siapa kamu...?" wanita itu bertanya dengan bibir yang bergetar


"halo Jasmine, mau bermain denganku...?" ia tersenyum iblis di balik maskernya

__ADS_1


__ADS_2