
sore hari penghuni kost 010 keluar dari kamar masing-masing. tampak Alan turun ke bawah dengan tangan yang diperban, Danil turun ikut bersama dirinya.
sore itu langit mulai mendung, sepertinya hujan akan turun menyapa bumi. hingga kemudian rintik-rintik hujan mulai terdengar di atap kost kemudian disambut dengan hujan yang mulai deras.
di ruang utama, mereka berkumpul seperti biasa. tapi tidak dengan Kevin, Iyan dan Mahendra serta Damar. mereka berempat duduk di balkon dengan memperhatikan air hujan yang terus mengguyur bumi.
"gimana tangan lu...?" Mahendra bertanya kepada Kevin
"nggak lebih sakit dari hati gue" jawab Kevin
"elu marah sama bang Rahim...?" tanya Iyan
"apa salah kalau gue marah sama bang Rahim...?" Kevin menatap Iyan
"nggak salah Vin, siapa sih yang akan terima kalau di tampar keras seperti tadi. tapi balik lagi ke alasan kenapa bang Rahim ngelakuin itu. kalau nggak seperti itu, elu pasti sudah berada di penjara sekarang Vin. bang Rahim hanya menyadarkan elu agar elu sadar kalau yang elu lakuin itu salah" Iyan menjelaskan
"tapi dia hampir menusuk bang Iyan, terus juga dia melukai gue. harusnya gue berikan luka yang setimpal tadi pada laki-laki brengsek itu" Kevin tidak dapat menahan emosi
"dan luka itu pada akhirnya Alan yang kena. apa elu nggak lihat, bagaimana Alan rela menahan pisau itu demi hanya menyelamatkan elu, bukan menyelamatkan laki-laki itu. Alan menyela elu agar elu jangan sampai menjadi pembunuh" Damar menimpali
"kehilangan itu sakit banget Vin. kita udah kehilangan Damar, dia nggak bisa lagi kita gapai bahkan kita peluk. bang Rahim dan kami semua nggak mau kehilangan elu ataupun siapapun lagi" Mahendra menepuk bahu Kevin
"daripada menaruh amarah hanya karena kelakuan pacar sepupu Faiz tadi, lebih baik tetap waspada pada kita semua penghuni kost. ingat, salah satu dari kita itu pembunuh Damar" ucap Iyan
"gue ingin sekali tau siapa pelakunya. gue ingin tau apa alasannya sehingga dia tega membunuh teman sendiri yang bahkan sudah seperti saudara" ucap Mahendra. mengingat Damar, hati Mahendra kembali perih. masih tidak menyangka kalau sahabatnya itu sudah pergi meninggalkan mereka dan tidak akan pernah kembali lagi
"menurut bang Iyan, Damar dan lu Hen...siapa yang kalian curigai diantara kita semua...?" tanya Kevin
"gue nggak tau, karena dia mata gue sekian normal seperti biasa. sikap dan perilaku kita semua tidak ada mencurigakan" jawab Iyan
"gue belum tau pasti dan juga mencurigai tanpa ada sebab itu nggak masuk akal. kita semua belum melakukan hal yang mencurigakan, jadi gue belum mencurigai siapapun" jawab Mahendra
"tapi gue masih berharap kalau bukan salah satu dari kita pelakunya. meskipun sebenarnya Pernyataan pak Zulfikar sangat masuk akal, tapi ingin sekali gue menolak kenyataannya itu" lanjut Mahendra
"gue belum lama berada di sini, jadi kalau hal mencurigai, gue nggak mencurigai siapapun namun gue harus tetap waspada karena sekarang kita berada di sarang pembunuh yang tidak di tau wujud aslinya" ucap Damar
Kevin hanya mendengarkan saja apa yang dibicarakan ketiga temannya. dia bersandar di dinding dan memejamkan mata. perasaan marah dalam dirinya sangat sulit untuk ia menguasai emosi.
"turun yuk, kayaknya dibawah mereka lagi ngopi. hujan-hujan gini enaknya memang ngopi" ajak Iyan
"iya, sebaiknya kita turun" ucap Mahendra
mereka berempat pun meninggalkan balkon dan turun ke lantai bawah bergabung bersama yang lain.
saat tiba di bawah, benar kata Iyan, mereka sedang menikmati secangkir kopi. mereka bergabung dan kemudian Danil beranjak untuk membuatkan mereka kopi.
"bagaimana tanganmu...?" tanya Kevin kepada Alan
"lukanya tidak terlalu dalam. bang Kevin nggak perlu khawatir" jawab Alan
"elu sendiri bagaimana tanganmu...?" tanya Rahim
"lumayan sakit" jawab Kevin yang tidak menatap Rahim
"elu masih marah sama gue...?" tanya Rahim
"nggak" Kevin menjawab singkat
Rahim menghela nafas, dia tau kalau adiknya itu sedang marah padanya akibat tamparan yang ia layangkan tadi. sedang Kevin, sama sekali tidak menatap Rahim, dia hanya diam membisu tanpa ingin berbicara lagi.
malam harinya hujan mulai reda sejak menjelang magrib tadi. Rahim bersama Faiz sedang menyiapkan makan malam untuk mereka semua. makanan yang dibawa pulang dari rumah ibu Nani itulah yang akan jadi santapannya makan malam mereka. diruang utama seperti biasa mereka berkumpul bersama.
"Kevin, Olan sama Wili kemana...?" tanya Rahim saat semuanya telah berkumpul dan tinggal tiga orang yang belum datang
"di kamar masing-masing mungkin" jawab Randi
"Danil saja yang panggil bang Kevin" ucap Danil
baru saja dia beranjak, Kevin sudah turun dengan pakaian yang rapi. sepertinya dia akan keluar. kemudian tidak lama Olan pun muncul, sama seperti Kevin, Olan juga berpakaiannya yang rapi.
"bang Kevin dan bang Olan mau kemana...?" tanya Alan
"gue mau ketemu gebetan, biasalah pdkt" jawab Olan tersenyum
"bisa jatuh cinta juga lu bang, gue kirain elu menyimpang, habisnya jomblo terus tiap tahun" Iyan meledek
"udah deh nggak usah ngeledek, sekarang gue nggak akan jomblo lagi" timpal Olan
"semangat bang Olan, pulang nanti bawa martabak ya" lagi-lagi Randi mereques makanan
"makan mulu lu yang elu pikirin, dari tadi itu mulut ngunyah terus loh" Faiz memukul pelan lengan Randi
"yaaa mau gimana lagi bang, makanannya enak sih" jawab Randi cengengesan
"dasar" Damar melemparkan kulit kacang
"terus kalau bang Kevin mau kemana...?" kali ini Alan yang bertanya
"ke rumah teman" jawab Kevin singkat
"kalian nggak mau makan dulu...?" tanya Mahendra
"nggak usah deh, gue mau makan di luar saja. gue pergi ya" Olan berpamitan
__ADS_1
"bang Olan, jangan lupa martabaknya" teriak Randi
"ck, iya iya" cebik Olan di balik pintu
"gue juga pergi dulu" ucap Kevin
"makan dulu Vin" ucap Rahim
"gue nggak lapar" Kevin berlalu begitu saja
"sabar bang, nanti juga Kevin marahnya akan redah" Mahendra menebak Rahim
sekian menit Olan dan Kevin keluar, Wili pun keluar dari kamarnya. dia terlihat sangat terburu-buru dengan tas yang ada di punggungnya.
"mau kemana lu...?" tanya Damar
"ke rumah dosen. ini antara hidup dan mati gue" Wili memakan kue yang ada di atas meja dengan terburu-buru
"ngapain ke rumah dosen malam-malam, kayak nggak ada hari esok aja" ucap Faiz
"resiko jadi mahasiswa bang. kalau gitu gue pamit ya" Wili kemudian meninggalkan mereka dan menghilang di balik pintu
Faiz beranjak dari duduknya dan spontan Randi bertanya kemana dirinya akan pergi.
"mau kemana bang, keluar juga...?" tanya Randi
"ngambil air minum, elu mau makan tanpa minum" Faiz melenggang pergi
"lah....malah ngegas" Randi menggaruk kepala
mereka makan malam tanpa tiga orang personil squad 010. setelah makan, karena lelah mereka masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat. tidak ada lagi acara berkumpul malam hari.
Alan dan Randi mengerjakan tugas kampus yang akan di kumpul besok, di kamar Randi. Danil ikut bergabung bersama keduanya, dia ingin melihat bagaimana mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen.
sementara Damar, keluar dari kamarnya dan akan keluar. tidak ada satupun orang di ruang utama sehingga kepergiannya tidak di ketahui oleh penghuni kost yang lain. namun ternyata di pintu keluar, dia melihat Faiz yang sedang bersiap dengan motornya.
"Iz, lu mau kemana...?" tanya Damar
"ada urusan, elu sendiri mau kemana...?" Faiz bertanya karena melihat Damar yang tampak bersiap juga untuk keluar
"keluar bertemu teman" jawab Damar
"oh, ya sudah...gue duluan ya"
"oke, hati-hati"
"sip, elu juga.
Faiz meninggalkan Damar, sementara Damar langsung menaiki motornya dan pergi meninggalkan kost
"ponselnya nggak ada, apa hilang ya" gumam Mahendra
"atau diambil polisi"
"menurut penyelidikan kami, Damar dibunuh di jalan cendrawasih dan kemudian mayatnya di bawak ke kost ini" Mahendra mengingat perkataan Zulfikar
"kalau pembunuhnya tinggal di kost ini, gue yakin ponsel itu pasti ada di salah satu kamar di sini"
"tapi....gue harus pastikan dulu. mungkin ponsel itu diambil oleh pak Mahesa dan Zulfikar"
Mahendra kemudian menghubungi Mahesa. semua penghuni kost telah menyimpan nomo hp polisi tersebut agar jika terjadi sesuatu mereka langsung melaporkan kepada polisi itu.
panggilan terhubung
📞 Mahesa
halo, ada apa Hen...?
📞 Mahendra
maaf mengganggu malam-malam pak. saya hanya ingin menanyakan sesuatu
📞 Mahesa
mau bertanya soal apa...?
📞 Mahendra
apakah waktu penyelidikan kasus kematian Damar yang lalu, bapak mengambil ponsel Damar...?
📞 Mahesa
ponsel....?
📞 Mahendra
iya ponsel. apakah bapak mengambil ponsel Damar. karena saya mencari-cari di dalam tasnya, ponselnya tidak ada
📞 Mahesa
kami tidak menemukan ponsel di saku celana Damar bahkan di tasnya pun kami tidak menemukan ponsel. ada apa kamu menanyakan ponsel Damar...?
(apa gue beritahu pak Mahesa saja ya soal tulisan Damar) batin Mahendra
__ADS_1
📞 Mahesa
Hen...halo Hen, kamu masih di situ kan...?"
📞 Mahendra
ah iya pak. eemmm bisa kita bertemu pak, ada yang ingin saya katakan dan ini sangat penting
📞 Mahesa
baiklah, besok pagi kita bertemu
📞 Mahendra
terimakasih pak, bapak tinggal hubungi saya saja kapan waktunya
📞 Mahesa
baiklah. kalau begitu saya tutup
📞 Mahendra
iya pak
Mahesa memutuskan panggilan. sementara Mahendra, dia bertekad akan memberitahu polisi tentang tulisan yang ia dapatkan di tas Damar. mungkin bekerjasama dengan polisi dapat mempermudah pencariannya.
setelah menerima panggilan dari Mahendra, Mahesa mendapat pesan dari seseorang.
rekan : gue sedang mengikutinya. dua orang temannya juga keluar. sedang yang kalian maksud di foto ada di tempat tanpa pergerakan
Mahesa : intai terus dan jangan sampai kehilangan jejak. gue akan ke sana mengintai dia dari jauh
"Zul, kita bagi tugas. gue mau ke kost 010 untuk mengawasi mereka di luar. elu awasi salah satunya yang juga keluar. dia sedang mengikuti target yang kita curigai
"berapa orang...?"
"dua orang, elu ikuti saja salah satunya"
"terus satu orangnya siapa yang akan mengawasinya" tanya Zulfikar
Mahesa nampak berpikir. benar juga, siapa yang akan mengawasi satu orangnya kalau dia pergi ke kost 010.
dalam kebingungannya ponsel Mahesa berdering. Cakra menghubunginya dan dengan cepat dia mengangkatnya.
📞 Cakra
Hes, elu dimana...?
📞 Mahesa
di kantor, ada apa...?
📞 Cakra
gue mau ke situ. kaki gue Alhamdulillah udah sembuh, tadi gue dari rumah sakit memeriksa kaki gue dan Alhamdulillah dokter bilang gue bisa beraktivitas seperti biasanya
📞 Mahesa
kebetulan sekali, gue memang sedang membutuhkan bantuan Cak
📞 Cakra
oke gue ke situ sekarang
📞 Mahesa
nggak usah, dengarkan gue saja sekarang.
Mahesa mulai memberitahu apa yang aka mereka lakukan, Cakra mengangguk mengerti kemudian panggilan dimatikan.
"kenapa Hes...?" tanya Zulfikar
"Alhamdulillah Cakra sudah kembali bergabung bersama kita" jawab Mahesa
"syukurlah, terus sekarang bagaimana...?"
"sesuai rencana kita tadi, Cakra akan mengintai yang satunya lagi. sekarang kita pergi ke tempat tujuan"
"baiklah"
pukul 11 malam, kost tampak sepi dan sunyi. semua penghuni sudah tertidur lelap namun belum dengan mereka yang keluar. sampai sekarang kelima penghuni kost itu belum juga pulang.
ternyata Randi masih terjaga, dia masih berkutat dengan laptop yang ada di depannya. Alan dan Danil sudah berlayar ke alam mimpi, kedua adiknya itu tidur di kamarnya.
saat itu dia merasa haus, ia pun pergi ke dapur untuk mengambil minuman. dia kembali ke kamarnya dan laptopnya mulai lobet. padahal dirinya masih harus mengerjakan tugas yang lain. cas laptopnya dipinjam oleh Kevin dan temannya itu sedang keluar.
Randi kemudian menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Mahendra karena cas laptop mereka sama. saat tiba di depan kamar Mahendra, Randi melihat salah satu kamar yang pintunya tidak ditutup rapat. dia kemudian mendekati kamar itu untuk memastikan dan benar saja kamar itu pintunya tidak tertutup rapat. penghuninya lupa mengunci pintu kamarnya.
"ceroboh sekali" ucap Randi
ia pun masuk ke dalam untuk mencari sesuatu yang dibutuhkannya. satu persatu lemari dibukanya namun ia tidak menemukan apa yang dicarinya. saat membuka satu laci kecil yang melekat pada meja belajar, mata Randi membulat sempurna melihat isi di dalam laci tersebut.
mulutnya bahkan menganga lebar, tangannya bergetar mengambil benda tersebut. pisau tajam yang berlumuran darah itu tersimpan rapi di dalam laci. tidak hanya pisau yang ada di laci itu. sebuah jam tangan yang juga dilumuri darah yang telah mengering ada di dalam laci. Randi tau persis jam tangan siapa itu, dia pernah bahkan sering melihat seorang penghuni kost yang selalu memakai jam tangan itu.
__ADS_1
"ya Tuhan, ini......jam tangan....
D-Damar" Randi berucap dengan bibir bergetar