
"tangkap dia Hen, tangkap"
"tangkap siapa, siapa yang kalian maksud...?
"dia...dia pembunuh...dia pembunuh"
"tangkap Hen, tangkap dia"
"Allahuakbar Allahuakbar"
adzan membangunkan Mahendra dari mimpinya. dia bangun dan duduk kemudian mengusap wajahnya, sangat tidak dimengerti olehnya tentang mimpinya semalam. Danil masih meringkuk di bawah selimut, Mahendra pun masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.
kini kost 010 mempunyai tiga kamar kosong. yang di tempati oleh Damar seorang polisi yang menyamar kemudian Kevin dan Wili. ketiga kamar itu dikunci dan tidak pernah di buka.
Rahim membuat papan pemberitahuan yang bertuliskan ada kamar kosong di tempel di pagar. dia melakukan itu agar orang-orang yang mencari kost dapat melihat bahwa ada kamar kosong di kost 010.
"hari ini kamu kuliah jam berapa...?" Mahendra bertanya kepada Danil, saat ini mereka berdua di dalam kamar
"jam 10 nanti bang, sampai sore" jawab Danil yang sedang menyetrika bajunya
"kalau gitu abang jalan duluan, soalnya abang masuk jam 8" Mahendra sedang memakai bajunya
"iya nggak apa-apa, Danil nanti bisa naik ojek"
"nih, buat pegangan kamu" Mahendra memberikan lima lembar uang merah kepada Danil
"kebanyakan ini bang, uang kemarin aja belum habis masih ada di tas"
"ambil aja, siapa tau kamu punya keperluan mendadak. abang duluan"
"iya bang"
Mahendra keluar dari kamar menuju lantai bawah, di ruang utama ada Randi dan Rahim yang sedang menikmati kopi dan juga pisang goreng.
"ngampus Hen...?" tanya Rahim
"iya bang. gue cabut dulu ya"
"oke"
drrrttt.... drrrttt
ponsel Mahendra terus bergetar, namun karena dirinya buru-buru ia pun tidak sempat mengangkat panggilan telpon entah dari siapa. Mahendra tancap gas meninggalkan kost 010.
"bang Rahim nggak ngajar...?" tanya Randi
"nggak, hari ini gue free" jawab Rahim
"sekarang satu tahun terakhir ini, kost jadi sepi ya bang"
"semoga nanti kamar-kamar yang kosong ada yang menempati supaya nggak sepi lagi"
"gue jadi kangen mereka" Randi menatap kamar Damar dan Wili
"kalau elu kangen, doakan mereka supaya mereka tenang di sana"
"bang Rahim, boleh print tugas nggak...?" Danil turun dengan laptop di tangannya
"boleh Dan, masuk aja dikamar" Rahim mempersilahkan
"makasih bang" Danil menuju ke kamar Rahim
Mahendra memarkirkan motornya dan segera menuju ke kelasnya, perkuliahan akan dimulai 10 menit lagi.
"Hen" Robi memanggil saat Mahendra masuk ke dalam kelas
Mahendra menghampiri ketiga sahabatnya dan duduk di samping Maureen.
"telpon aku kok nggak diangkat" ucap Maureen
"kapan kamu nelpon...?" tanya Mahendra memeriksa ponselnya
"oh maaf, tadi aku lagi di jalan"
"besok malam ultah gue loh, kalian hadir ya" ucap Selda
"tentu hadir dong" ucap Robi
"jangan cuma bawa diri doang, bawa juga kadonya" ucap Selda
__ADS_1
"tenang aja, gue udah siapin kado teristimewa buat lu" Robi senyum penuh arti
Selda memicingkan matanya ke arah Robi dan kemudian dia menggeplak lengan sahabatnya itu.
"jangan bawa kado yang aneh-aneh lagi seperti yang lalu ya, gue sleding betul lu nanti" ucap Selda dengan kesal
"hehehe, tenang aja sayang...aman kok aman" Robi cengengesan
Mahendra dan Maureen pun ikut tertawa pelan saat mengingat kejadian tahun lalu disaat Selda mengunboxing kado dari Robi.
"pulang nanti temanin beli kado ya" Maureen berbisik di telinga Mahendra karena dosen yang mereka tunggu telah berada di dalam ruangan
"siap sayang" jawab Mahendra pelan
setelah melihat kesungguhan Maureen yang benar-benar menyukainya, Mahendra pada akhirnya belajar membuka hati untuk gadis itu dan sekarang hubungan keduanya telah berjalan selama satu tahun.
Robi dan Selda mendukung hubungan mereka, mereka berharap kedua sahabat mereka itu dapat mempertahankan hubungan mereka sampai jenjang yang lebih serius lagi.
selesai dengan semua perkuliahan, pukul 4 sore Mahendra menemani Maureen untuk membeli kado di salah satu mall di kota itu.
"kamu mau beli kado apa...?" tanya Mahendra
"aku juga bingung mau kasih Selda kado apa" jawab Maureen
"kita ke sana yuk" Maureen menunjuk toko sepatu
keduanya masuk ke toko sepatu itu. sepatu-sepatu yang cantik dan bagus terpajang rapi di tempatnya masing-masing.
"sayang, ini bagus nggak...?" Maureen memperlihatkan sepatu yang dipegangnya
"bagus, pasti cocok di kaki Selda apalagi dia putih kan" Mahendra mengeluarkan pendapatnya
"ya udah aku ambil yang ini aja deh, malas juga kalau mau keliling lagi"
Maureen membawa sepatu itu ke kasir kemudian mereka keluar. saat itu juga Maureen melihat toko baju, dia pun menggandeng tangan Mahendra dan masuk ke toko itu.
"suka yang ini nggak...?" Maureen memperlihatkan salah satu jaket kulit kepada Mahendra
"bagus, emang buat siapa...?"
"buat kamu"
"nggak usah yank, jaket aku di kost ada"
"yank" Mahendra mengambil tangan Maureen
"aku nggak butuh barang-barang mewah seperti ini, bagi aku cukup kamu selalu ada itu udah bikin aku nyaman. kamu nggak perlu beliin aku segala macam" Mahendra sangat tidak enak hati karena Maureen selalu membelikan apa saja yang menurutnya cocok untuk Mahendra pakai
"kamu nggak suka ya aku perhatiin dengan membelikan segala macam...?"
"bukan nggak suka yank, tapi lebih ke aku nggak enak hati aja. mending uangnya kamu tabung untuk keperluan yang lain. masalah pakaian, aku bisa beli sendiri. nanti kalau kita udah nikah, baru deh kamu beliin aku apapun itu semau kamu"
mendengar kata menikah, wajah Maureen bersemu merah. dia pun menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"kok nunduk, nggak mau ya nikah sama aku...?" Mahendra pura-pura kecewa
"eh siapa bilang, aku mau kok. mau pake banget" jawab Maureen malu-malu
Mahendra tersenyum kemudian mencubit pelan hidung Maureen. akhirnya mereka pun pulang tanpa harus membeli apapun selain sepatu yang akan menjadi kado untuk Selda nantinya.
Mahendra membeli sebuah parfum untuk sahabatnya itu. parfum yang lumayan mahal namun tidak membuat Mahendra menyesal untuk membelinya, karena saat dirinya pun ulang tahun, kado dari para sahabatnya bukan barang-barang yang murah.
"masuk gih, udah malam" ucap Mahendra setelah mencium kening Maureen
"kamu hati-hati ya" senyuman Maureen membuat Mahendra selalu ingin bersama gadis itu
"iya, aku pulang ya" Mahendra memakai helmnya dan naik ke atas motornya
"iya sayang"
setelah Mahendra pergi, Maureen masuk ke dalam rumah. sebelum pulang Mahendra akan membeli makanan untuk anak-anak kost, sudah seperti itu mereka. saat dari luar pasti akan membeli sesuatu untuk mereka makan bersama-sama di kost nanti.
motor Mahendra melaju dengan kencang hingga kemudian dia membanting motornya ke kanan karena seseorang yang tiba-tiba saja menyebrang begitu saja tanpa memperhatikan ada kendaraan yang sedang melaju cepat.
braaaakkk
Mahendra menabrak trotoar, untung saja dirinya menggunakan helm sehingga kepalanya yang terbentur tidak terluka.
orang-orang yang melihat Mahendra terjatuh, mulai membantunya untuk bangun. motornya ringsek di bagian depan namun tidak begitu parah dan untungnya juga dirinya pun sendiri tidak terluka.
__ADS_1
"kamu tidak apa-apa...?"
"nggak apa-apa pak, terimakasih sudah menolong saya" ucap Mahendra
Mahendra mendekati motornya yang sudah dibangunkan oleh orang-orang tadi. merasa Mahendra baik-baik saja, mereka pun meninggalkan dirinya.
"siapa sih itu orang, nggak punya mata apa ya" Mahendra begitu kesal
"tapi.... tunggu, kok pakaiannya rada aneh gitu ya" Mahendra mengingat pakaian yang dipakai orang yang hampir ia tabrak tadi
"tau ah, malah sakit banget ini badan" Mahendra kembali naik ke atas motornya dan meninggalkan tempat itu
saat tiba di kost, tempat itu dalam keadaan gelap. Mahendra turun dari motornya dan menyalakan senter ponselnya.
"kok gelap bang...?" tanya Mahendra kepada Rahim
"kehabisan pulsa, gue mau pergi beli pulsa dulu di depan" Rahim keluar
"bawa apaan bang...?" tiba-tiba saja Randi sudah berdiri di depan Mahendra membuat Mahendra hampir saja terjungkal ke belakang
"kampret lu, bikin kaget orang aja" Mahendra mengelus dadanya
"lah, gue cuman nanya kok bisa abang jantungan" Randi ikut duduk
"elu datang tiba-tiba kayak setan tau nggak" cebik Mahendra
"seperti ini ya, hihihihihi" Randi tersenyum menyeringai dan mempertajam bola matanya
pluuukk
bersamaan dengan Mahendra yang memukul Randi, saat itu juga lampu menyala kembali.
"jahat banget sih sama adik sendiri" Randi mengelus lengannya
"lebai. nih, ambil terus bawa ke dapur. gue mau mandi dulu, gerah soalnya"
setelah sholat magrib, semua penghuni kost berkumpul di ruang utama. mereka kini sedang menikmati makan malam bersama. hanya Olan dan Iyan yang belum pulang, kalau sudah seperti itu biasanya mereka akan pulang saat selesai sholat isya.
selesai sholat isya Olan dan Iyan baru saja pulang. seperti biasa mereka akan berkumpul di ruang utama sampai menjelang larut kemudian mereka pindah ke kamar masing-masing.
pagi harinya, kembali masyarakat dihebohkan dengan penemuan mayat seorang wanita. siapapun tidak ada yang berani mendekati mayat itu, mereka hanya menutupi tubuhnya dengan koran-koran bekas yang sudah tidak terpakai.
hal tersebut mengejutkan penghuni kost 010. psikopat pembunuhan berantai telah ditangkap bahkan dihukum mati, lalu siapa lagi kini yang menjadi pelakunya.
"gue kira setelah Wili nggak ada, nggak akan ada lagi pembunuhan seperti ini" ucap Rahim
"belum tentu juga itu psikopat bang, mungkin saja seseorang yang punya pertikaian dengan korban. kan nggak semua juga pembunuhan karena ulah psikopat" Iyan menimpali
"jalan merpati...?" gumam Mahendra mendengar dengan seksama berita yang ada di layar televisi
"itu kan jalan tempat gue jatuh semalam" ucap Mahendra
"bang Arga jatuh dari motor...?" tanya Danil
"semalam itu gue hampir menabrak seseorang yang....."
"yang apa Hen...?" tanya Olan
"yang pakaiannya sama seperti yang dipakai oleh Wili sebelumnya. pakaian serba hitam, jaket, topi dan juga masker, iya gue ingat banget dia berpakaian seperti itu" ucap Mahendra
"psikopat...?" mereka semua kaget mendengarnya penuturan Mahendra
"Wili kan udah nggak ada, itu mungkin hanya seseorang yang menyamar agar dirinya tidak ketahuan. belum tentu dia psikopat" ucap Iyan lagi
"Alan setuju dengan bang Iyan, sepertinya itu bukan psikopat seperti bang Wili" ucap Alan
"iya, semoga seperti itu" ucap Rahim
sementara itu Mahesa dan Angga segera ke TKP untuk melihat mayat wanita itu. tiba di sana sudah banyak yang mengerumuni mayat itu.
"masih muda banget"
"iya, kasian sekali jadi korban pembunuhan"
Mahesa membuka koran yang menutupi mayat itu. jari-jarinya dipatahkan dan satu bola matanya hilang. wanita itu dibunuh karena pukulan benda tumpul dikepalanya yang berulang kali. terlihat di kepalanya terdapat luka yang menganga dengan besarnya. setelah memeriksa, mayat itu akan dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi.
"sadis banget sampai bola matanya dijungkil" ucap Angga
"kita periksa cctv yang ada" ucap Mahesa
__ADS_1
kembali para polisi itu akan mengusut kasus pembunuhan selanjutnya. entah psikopat atau orang biasa, masih belum jelas dan diketahui siapa pelakunya.
sementara itu, Mahendra yang melihat berita di televisi langsung teringat akan mimpinya semalam, ketiga sahabatnya datang menemuinya dan memberitahu dirinya untuk menangkap seseorang yang entah siapa. mereka mengatakan kalau dia adalah seorang pembunuh.