Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 24


__ADS_3

setelah bermain kartu cukup lama, mereka mulai mengantuk. wajah masing-masing sudah penuh dengan kehitaman. mereka memutuskan untuk berhenti bermain dan masuk ke kamar masing-masing.


Alan yang memilih tidur di kamar Wili karena dirinya yang sudah sangat mengantuk dan malas untuk naik ke atas. tiba di kamar abangnya, Alan langsung tepar di atas tempat tidur.


"Al, cuci mu....ka, ya Allah ni anak, udah ngorok aja" Wili yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya geleng kepala melihat adiknya yang sudah ngorok di atas kasur


karena kasihan, Wili terpaksa tidak membangunkannya. ia memperbaiki posisi tidur Alan kemudian menyelimutinya. setelah itu dirinya ikut berbaring dan menyusul Alan ke alam mimpi.


"cuci muka dek" Mahendra menyuruh Danil


"besok aja bang, Danil ngantuk" Danil yang hendak berbaring langsung di tahan oleh Mahendra


"cuci muka dulu baru tidur. udah sana, anak bujang malas bener" Mahendra mendorongnya pelan tubuh Danil menuju kamar mandi


"bang Arga mah, Danil ngantuk bang" rengeknya, remaja itu memang sangat manja kepada abangnya


"ck...sini" Mahendra menarik tangan Danil


"duduk" perintah Mahendra


Danil duduk sesuai perintah abangnya. dengan menutup mata karena mengantuk, Mahendra membasahi wajah Danil dan memberinya sabun kemudian menggosok perlahan agar noda hitam di wajah adiknya hilang. setelah itu Mahendra membilasnya dengan air.


"ayo bangun, ke tempat tidur sana" ucap Mahendra


sayangnya bukannya berdiri Danil ternyata sudah tertidur sejak tadi dirinya membersihkan wajah adiknya itu. Mahendra menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala.


"ya Allah dek.... kebiasaan. nggak tau tempat kalau udah ngantuk langsung ngorok aja. bahaya kamu ini kalau ditempat lain terus mengantuk"


Mahendra terpaksa menggendong adiknya. dengan pelan ia berdiri dan berpegangan di pintu. untung saja kamar mandi kost mereka lumayan luas sehingga dirinya tidak kesulitan menggendong adiknya.


buuuk....


Mahendra menghempaskan tubuh Danil di kasur. adiknya itu bahkan tidak merespon saking nyenyak tidurnya.


"huufffttt....untung adik sendiri" gumam Mahendra. ia memperbaiki posisi tidur Danil dan kemudian ikut berbaring


mereka sudah terlelap dalam mimpi namun satu orang yang berada di dalam kamarnya sedang bersiap-siap untuk keluar. ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang biasa ia kenakan untuk memburu mangsanya. ruang utama yang sudah sepi mempermudah langkahnya untuk keluar dari kost tersebut. setelah keluar pagar, dirinya menghilang di kegelapan malam.


di sebuah tempat yang jauh dari jangkauan orang, seorang gadis terikat kaki dan tangannya dan juga mulutnya di lakban agar tidak bersuara.


tap...tap...tap


langkah kaki si pembunuh berdarah dingin menggema di tempat itu. setelah dekat ia membuka lakban yang menempel di mulut gadis itu.


"halo...." sapanya dengan senyuman manis


"lepaskan aku" bentak gadis itu dengan tatapan tajam


"ssssttt.... pelan-pelan sayang. kamu bisa membuatku tuli" ucapnya


"apa maumu...?"


"good, aku suka pertanyaan kamu" dia membelai kepada gadis itu dan gadis itu menjauhkan kepalanya


"aku ingin....bermain denganmu" senyuman iblisnya mulai nampak di bibirnya. gadis itu merinding melihat wajah tampan laki-laki yang ada di depannya tersenyum menyeringai ke arahnya


"aku tidak bermain denganmu, aku bilang lepaskan aku" gadis itu berteriak di depan wajah laki-laki itu


laki-laki itu mengangguk dan hendak berdiri namun kemudian ia duduk kembali dan


plaaaak


tamparan kerasa mendarat di wajah mulus gadis itu.


"berani sekali kamu membentakku ******" dia menjambak rambut gadis itu


"sama seperti Damar dan gadis lainnya, kamu akan menyusul mereka tidak lama lagi" ucapan laki-laki itu membuat gadis itu memberontak ingin melepaskan diri namun tetap saja dia tidak bisa terlepas dari jerat tali yang mengikat tubuhnya


"kenapa takut Emma sayang....mana keberanianmu saat kamu mengancamku untuk melapor kepada polisi" dia mengambil kursi dan duduk di depan gadis itu


rupanya gadis itu bernama Emma. dia adalah saksi atas pembunuhan yang terjadi kepada Damar. malam itu dirinya yang lewat di jalan Damar kecelakaan melihat Damar disiksa oleh laki-laki yang ada di hadapannya.


tanpa pikir panjang ia merekam aksi si pembunuh. dia tidak bisa membantu Damar karena takut dan tidak bisa melawan. jalan satu-satunya adalah merekam semuanya, ia melihat dengan sendirinya bagaimana Damar meregang nyawa.


setelah Damar meninggal, si pembunuh membungkusnya dengan kantung besar berwarna hitam kemudian memasukkan ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Emma mengikuti kemana mobil itu pergi. setelah sekian menit, mobil itu berhenti dan si pembunuh mengeluarkan mayat Damar dari bagasi mobilnya kemudian berjalan beberapa meter ke arah depan. dia membuka pintu pagar dan meletakkan Damar di tanah. setelah itu ia kembali ke mobilnya dan meninggalkan kost 010.


Emma masih terus mengikuti si pembunuh. dia mempunyai rencana. Emma melajukan motornya untuk melambung mobil si pembunuh dan kemudian dia pura-pura terjatuh di depan mobil itu.


pemilik mobil keluar dan menghampiri Emma. Emma meringis sakit, meskipun ia pura-pura menjatuhkan dirinya namun yang namanya terjatuh dari motor jelas akan terasa sakit.


"kamu tidak apa-apa...?" tanya seorang laki-laki itu


Emma dapat melihat wajah tampan si pembunuh. sempat terpesona beberapa saat namun kemudian ia sadar kalau yang ada di depannya adalah seorang pembunuh.


"kakiku sakit sekali" ringis Emma


"biar aku bantu berdiri"


dengan pelan dia membantu Emma untuk berdiri namun gadis itu berpura-pura tidak dapat berdiri terlalu lama hingga ia terjatuh kembali.

__ADS_1


laki-laki itu pun mengantar Emma pulang dan motor gadis akan diambil oleh pekerja bengkel yang telah dihubungi.


untuk mengucapkan terimakasih, Emma meminta nomor laki-laki itu. alih-alih ingin mentraktir dan berterimakasih rupanya Emma melakukan kesalahan yang besar. gadis itu malah meneror si pembunuh dan mengancam untuk melaporkannya ke polisi karena pembunuhan yang dia lakukan.


sungguh gadis yang malang. akibat kecerobohannya, kini gadis itu sekarang berakhir di tempat yang tidak dia pernah datangi sebelumnya.


"maafkan aku, aku janji tidak akan melaporkan mu ke polisi. tolong lepaskan aku" Emma mulai menangis


"terlambat sayang, aku paling benci dengan orang yang mengusik kehidupan ku" ia mencengkram wajah Emma dan menghempasnya dengan kasar


"akan aku lakukan apapun keinginan mu, tolong jangan bunuh aku, aku mohon jangan bunuh aku" Emma semakin menangis


"DIAM" dia membentak Emma membuat gadis itu terhentak kaget dan diam seketika


"padahal aku suka padamu, sayangnya kamu membuat kesalahan besar telah mengusik hidupku" dia membelai wajah Emma dan


sreeet....


pisau tajam melukai wajah gadis itu. Emma berteriak kesakitan. darah segar mulai mengucur dan tanpa jijik laki-laki itu menjilat darah yang keluar dari wajah Emma.


"darahmu nikmat" ucapnya dengan seringai iblisnya


"sakit" Emma menangis kesakitan


"diam" ucapnya dengan dingin namun Emma yang kesakitan tidak berhenti untuk menangis


"AKU BILANG DIAM"


sreeet


"aaaggghh"


sreeet


sreeet


sreeet


"t... tolong...l-lepaskan aku"


bughhh...


"ckckck, gadis malang. kalau kamu tidak berbuat nekat mungkin aku akan menjadikanmu ratu, sayangnya kamu lebih memilih neraka"


pagi yang cerah menyambut setiap penghuni bumi. manusia mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. ada yang sekolah, pergi bekerja, kuliah dan melakukan aktivitas lainnya.


seorang pemulung sedang mencari barang bekas untuk ditimbangnya nanti. namun ditempat itu bukannya mendapat barang bekas, dia malah menemukan mayat seorang wanita yang tergeletak di pembuangan sampah tempat dia mencari rezeki.


"ada apa pak...?"


"ada mayat"


"mayat...?"


mereka memeriksa dan benar saja ada mayat ditempat pembuangan sampah. segera mereka menghubungi polisi. mayat wanita itu wajahnya telah hancur dan tidak dikenali lagi.


dikantor polisi Mahesa sedang bersiap untuk ke tempat pembunuhan.


"perlu gue ikut...? tanya Zulfikar saat Mahesa akan keluar


"tidak perlu. elu selidiki saja setiap data dari mereka. biar gue yang kesana. kita harus cepat menemukan pembunuhnya kalau tidak akan semakin banyak korban yang akan ia bunuh" jawab Mahesa


"gue sudah membaca setiap data mereka dan salah satu dari mereka gue menemukan penemuan baru" jawab Zulfikar


"dan juga gue menemukan hal baru dari korban atas nama Clara dan Sisil serta Elexandria Robin


"elu masih mencari tau tentang mereka...?" tanya Mahesa


"hal yang masih menjadi tanda tanya harus kita dapatkan jawabannya. mungkin belum 100% tapi setidaknya ada titik terang untuk mempermudah kita melangkah lebih maju ke depan" jawab Zulfikar


"dan satu lagi" ucap Zulfikar


"apa itu...?"


"di kecelakaan yang dialami Angga dan Cakra, gue telah menemukan cctv yang menjangkau area kecelakaan itu" lanjut Zulfikar


"elu serius...?" Mahesa begitu gembira mendengar kabar dari rekan kerjanya itu


"tidak ada kata main-main dalam menyelidiki kasus Hes" jawab Zulfikar


"bagaimana elu menemukannya sedangkan gue waktu itu telah mencari tau namun tidak ada cctv di tempat itu. memang ada tapi cctv tersebut rusak dan tidak bisa digunakan" ucap Mahesa


"tidak jauh dari tempat kecelakaan di situ ada sebuah taman. di taman itu terpasang beberapa cctv dan salah satunya menghadap ke arah jalan tempat kecelakaan Angga dan Cakra"


"taman...?" Mahesa sedang memikirkan sesuatu. dia merasa terlupakan dengan taman di tempat itu


"kenapa gue nggak ingat ya kalau di situ ada taman" ucap Mahesa


"mungkin elu waktu itu nggak terlalu memperhatikan karena tujuan elu kan bukan memeriksa taman tapi memeriksa cctv. lalai itu hal biasa, kita kan manusia" timpal Zulfikar


" mereka sengaja memasang cctv di taman itu di tempat tersembunyi karena banyak anak remaja yang melakukan hal tidak senonoh di taman itu pada malam hari" lanjut Zulfikar

__ADS_1


"good job. itu sangat bagus, kita akan bicarakan itu nanti. gue pergi dulu ya"


"oke, hati-hati"


Mahesa meninggalkan kantor polisi. dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, masih terlalu pagi dan jalanan belum terkena macet. sedang Zulfikar kembali berkutat dengan pekerjaannya. meski berdua namun tidak menurunkan semangat keduanya. andai Cakra dan Angga telah sembuh dan kembali bertugas, sudah pasti mereka akan membantu untuk berpikir dan bertindak.


setelah sampai di tujuan, Mahesa melihat mayat wanita itu, sangat memprihatikan. wajah hancur dan juga kepala bagian belakang retak. sudah pasti benda tumpul menghantam kepala wanita itu. segera mayat itu dievaluasi dan tempat itu diberi garis polisi'.


di kost 010, semuanya menikmati secangkir kopi panas dan juga pisang goreng yang dibuat oleh Rahim.


"hari ini keponakan ibu Nani akan datang ke sini" Rahim memulai percakapan


"ngapain...?" tanya Olan


"dia mau tinggal bareng kita" jawab Rahim


"ada penghuni baru lagi dong" timpal Alan


"huummm, dia anaknya baik kok. gue sudah sering bertemu dengannya" ucap Rahim


"namanya siapa bang...?" tanya Randi


"Faiz" jawab Rahim


"kamar almarhum Damar udah dibersihkan kan...?" tanya Rahim


"udah bang, udah rapi kok" jawab Kevin


"dia datang siang atau kapan bang...?" tanya Wili


"gue juga nggak tau tapi yang pasti ibu Nani bilang hari ini keponakannya datang. emang siapa yang masih ada di kost saat siang nanti...?" tanya Rahim


"gue bang, kebetulan hari ini gue free nggak kemana-mana" ucap Mahendra


"gue juga nggak ada jadwal kuliah hari ini, jadi kalau dia datang nanti gue sama Mahendra yang sambut" timpal Damar


"ya udah, gue percayakan sama kalian berdua" ucap Rahim


"siap bang" jawab Mahendra dan Damar


"Dan, elu belum mau pilih kampus yang mana yang mau elu ambil...?" tanya Iyan


"udah ada sih bang. Danil mau masuk di kampus yang sama seperti bang Arga. tinggal mau pergi liat-liat aja dan sekalian mendaftar" jawab Danil yang menggigit pisang gorengnya


"wah satu kampus dong kita. kalau gitu ikut gue aja bentar, nanti gue temani keliling dan mendaftar" Randi menawarkan diri


"boleh boleh, tapi apa Danil nggak merepotkan bang Randi...?" tanya Danil


"ya nggak lah, sama adik sendiri masa mau direpotkan" Randi tersenyum hangat


begitulah mereka, untuk membuat ikatan semakin erat maka harus saling membantu sesama dan saling menganggap semua penghuni kost adalah keluarga mereka.


"bang, Danil ikut bang Randi ya" Danil meminta izin kepada Mahendra


"iya, Abang izinin" jawab Mahendra tersenyum


setelah menikmati sarapan pagi dengan pisang goreng dan secangkir kopi. mereka bersiap untuk mulai beraktivitas.


Rahim, Olan dan Iyan berangkat lebih dulu untuk bekerja. setelahnya, Wili dan Kevin serta Alan menyusul kemudian Randi dan Danil.


kini di kost tersisa Mahendra dan Damar. Mahendra mengambil pakaian kotor dan mencucinya sedang Damar mencuci piring dan setelahnya membersihkan halaman kost.


pukul 13.00 seseorang datang dan mengetuk pintu. Damar yang sedang menonton televisi segera membuka pintu dan nampaklah seorang laki-laki yang berdiri sedang tersenyum ke arahnya.


"cari siapa...?" tanya Damar


"bang Rahim ada...? gue Faiz yang mau kost di sini" ucapnya


"oooh...kalau begitu ayo silahkan masuk" Damar mempersilahkan


"bang Rahim sudah memberitahu tadi pagi, sekarang dia lagi di kampus. mari gue antar elu ke kamar yang sudah disiapkan"


mereka berdua melewati ruang utama dan kemudian sampailah di kamar nomor 3 yang akan di tempat Faiz.


"ini kamarnya" ucap Damar saat membuka pintu dengan lebar


"wah sudah bersih ya" ucap Faiz


"iya, kami sudah membersihkannya. elu istrahat saja dulu"


"baiklah terimakasih....."


Damar, panggil saja Damar"


"ah iya, terimakasih Damar"


"iya sama-sama. gue tinggal ya"


Damar menutup pintu dan kembali ke ruang utama. sedangkan Faiz menghempaskan tubuhnya di kasur. namun karena merasa ingin membuang air kecil, ia pun ke kamar mandi.


saat keluar kamar mandi, dia melihat sebuah tas yang tergantung di belakang pintu. bukan soal tasnya yang membuat Faiz bingung melainkan noda merah yang ada di tas itu. saat Faiz mendekat dan memegang noda itu kemudian menciumnya, ia kaget dan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"ini kan bau....darah"


__ADS_2