Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 48


__ADS_3

"kenapa sih, ada apa...?" tanya Rahim saat Alan melepas pelukannya dan ia serta Alan mendekat kepada yang lain kemudian duduk di kursi


"bawa apa bang...?" bukan jawaban yang Rahim dapatkan melainkan pertanyaan Randi yang kini sedang memeriksakan kantung kresek yang dibawa oleh Rahim


"waaah bang Rahim memang the best" Randi tersenyum sumringah saat melihat martabak manis di dalam kantung


"iya, karena memang gue tau elu pasti mau nagih lagi sama gue kalau nggak bawa apa-apa" cebik Rahim


"hehehe, sayang adik lah itu namanya bang. sering-seringlah begini ya" Randi membuka kotak martabak


"makan Rik jangan malu-malu" ucap Randi yang sudah mengambil sepotong martabak


"ini....?" Rahim melihat Riki


"gue Riki bang yang telpon abang kemarin untuk melihat kamar yang kosong dan sekarang gue sudah tinggali" ucap Riki memberitahu Rahim


"semoga betah ya di sini, jangan sungkan untuk minta tolong kepada kami semua kalau elu memerlukan pertolongan. kami pasti akan bantu" ucap Rahim dengan ramah


"makasih bang" Riki menjawab


"bang, Alan mau ngomong sesuatu" Alan menatap serius ke arah Rahim


"mau ngomong apa...?" tanya Rahim


"tadi siang Alan diteror bang" Faiz memberitahu


"diteror...?" Rahim bertanya untuk memastikan


"iya bang, Alan di teror dengan kucing yang sudah dibunuh dan digantung di jendela dapur" ucap Alan yang membenarkan ucapan Randi


Alan menceritakan kronologis kejadiannya, bagaimana dirinya melihat ceceran darah di lantai sampai shock dan pingsan saat melihat kucing yang sudah di bunuh dengan isi perutnya yang keluar.


"ada juga tulisan ancaman di sebuah kertas. Alan takut banget bang, sepertinya kita sekarang sedang di intai" ucap Alan dengan raut wajah khawatir


"kamu nggak lihat ada orang yang masuk ke dalam kost...?" tanya Rahim


"nggak bang, hanya sekelas bayangan yang lewat saja sampai akhirnya Alan pingsan" jawab Alan


"emang siang tadi ada siapa di kost...?"


"hanya ada Alan dan bang Olan. tapi bang Olan bilang katanya dia keluar membeli kopi dan makanan di warung. untungnya ada bang Mahendra sama bang Danil yang pulang cepat. karena saat itu Alan sedang berbicara dengan bang Danil lewat telpon" jawab Alan


"kalau itu hanya orang iseng, kayaknya nggak mungkin bang. dari tulisan ancaman itu gue udah punya firasat kalau ada yang mengincar kita. bukannya suudzon tapi memang begitu kan arti dari tulisan itu" Faiz menimpali


"atau mungkin tulisan itu ditujukan hanya untuk Alan" ucap Riki


"tapi selama ini Alan nggak pernah punya masalah sama siapapun bang. kalau ada yang incar Alan lalu alasannya apa dan dia siapa" ucap Alan


"intinya sekarang kita harus waspada mulai malam ini dan seterusnya. kalau melihat ada seseorang yang mencurigakan, langsung beritahu yang lain" ucap Randi


"benar apa yang dikatakan Randi, kita harus waspada. kejadian yang kemarin-kemarin jangan sampai terulang lagi. cukuplah Kevin dan Damar jangan ada lagi yang menyusul mereka" timpal Rahim


"tapi sekarang Alan nggak berani tidur di kamar bang, gimana nanti kalau orang itu datang lagi dan memasuki kita di kamar. membayangkannya saja Alan udah ngeri" ucap Alan


"kalau begitu elu tidur di kamar gue aja, gimana" ucap Riki


"atau kita tidur di sini saja, di ruang utama. lebih aman karena kita semua berkumpul, kalau ada yang macam-macam tinggal teriak langsung kita bangun" Randi mengusulkan


"kita di kamar saja, kalau Alan bisa tidur di kamar siapa saja untuk lebih aman. jangan lupa kunci pintu kamar sebelum tidur. jika ada yang mengetuk pintu kamar kalian, jangan langsung membukanya. tanyakan dulu siapa dia jangan sampai itu bukan salah satu dari kita. ancaman itu tidak boleh kita pandang remeh" ucap Rahim


"ya sudah gue mau mandi dulu, gerah banget" Rahim berdiri menuju kamarnya


Mahendra dan Danil baru saja sampai di cafe kopi nikmat. ia melihat mobil yang dikenalinya sudah terparkir di depan cafe tersebut. segera mereka berdua masuk dan ke dalam.


"Hen" Damar mengangkat tangan memanggil Mahendra


"maaf gue telat" ucap Mahendra yang langsung duduk bergabung bersama ketiga polisi itu termasuk Danil. hanya ada Angga, Damar dan Mahesa sedangkan Zulfikar sudah lebih dulu pulang


"santai aja, lagipula kami juga belum lama datang" ucap Mahesa


"hai Dan apa kabar, gimana kuliahnya lancar nggak...?" Damar menyapa Danil


"banyak lelahnya bang, tugas menumpuk" jawab Danil. sampai sekarang baik Danil maupun yang lain, memanggil Damar dengan panggilan abang jika umur mereka dibawah polisi itu


"semangat dong, demi cita-cita" Damar menepuk pelan bahu Danil


"pesan minum dulu Hen" ucap Angga


"biar Danil yang pesan" Danil memanggil barista yang ada di cafe itu


"mau pesan minuman apa...?" tanya seorang laki-laki yang berprofesi sebagai barista


"sama seperti mereka bang" ucap Danil menunjuk minuman ketiga polisi itu

__ADS_1


"kalau bang Arga mau pesan apa...?" tanya Danil


"samakan saja" jawab Mahendra kemudian barista itu meninggalkan meja mereka


"jadi, ada apa mengajak saya bertemu pak...?" tanya Mahendra


Mahesa memberikan ponselnya kepada Mahendra untuk melihat sebuah video yang ada di layar ponsel itu. Mahendra memperhatikan setiap menitnya hingga kemudian ia mengembalikan ponsel Mahesa.


"itu kamu kan...?" tanya Mahesa


"iya, itu memang saya. saat itu saya baru saja pulang dari rumah pacar saya. di perjalanan hampir saja saya menabrak seseorang, untungnya motor saya bisa saya kendalikan dan membanting ke arah kanan" Mahendra menjelaskan


"lalu apakah kamu melihat wajah seseorang yang hampir kamu tabrak itu...?" tanya Angga


"tidak, dia berdiri di tempat yang tidak terlalu terang. lagipula wajahnya tertutup masker dan topi, dan juga topi jaketnya. saya tidak melihatnya" jawab Mahendra


"kamu tau, keesokan harinya di jalan itu didapatkan penemuan mayat seorang wanita" ucap Mahesa


"saya tau pak, dan apa mungkin pelakunya adalah orang yang hampir saya tabrak itu. karena memang pada saat itu dia keluar dari arah bawah jembatan itu" ucap Mahendra


"kalau menurut saya sih, sudah dia pelakunya. mayat wanita itu di temukan di bawah jembatan kan" ucap Damar


"saya mengajak kamu bertemu untuk menanyakan apakah kamu melihat wajah orang itu. tapi coba kalian lihat lagi" Mahesa kembali memutar video itu dan mempausenya untuk berhenti


"kira-kira menurut kalian dia laki-laki atau perempuan...?" tanya Mahesa setelah memperbesar gambar orang tersebut


"malah gelap begini, nggak terlalu jelas dia laki-laki atau perempuan" Damar memperhatikan gambar sosok itu


"memangnya kenapa elu tanya begitu...?" ucap Angga


"karena gue menemukan ini di tempat itu" Mahesa mengeluarkan gelang yang ia dapatkan di TKP


"ini gelang untuk perempuan" ucap Danil setelah sejak tadi hanya menyimak saja


"maka dari itu gue menanyakan apakah menurut kalian dia laki-laki atau perempuan" ucap Mahesa


"kalau yang Danil lihat....dari postur tubuhnya sepertinya dia laki-laki" ucap Danil yang sedang mengamati gambar itu


"lihat saja bahunya yang lebar, postur tubuhnya yang tinggi dan juga gaya jalannya. kalau perempuan, bahunya tidak akan selebar itu, terus dia akan berjalan tergesa-gesa dengan langkah kaki yang tidak terlalu panjang. tapi kalau dia....dia berjalan dengan langkah kakinya yang panjang dan tidak begitu tergesa-gesa namun dapat dilihat kalau dia sedang melarikan diri dari tempat itu" ucap Danil


"benar juga apa yang Danil katakan, dia terlihat seperti laki-laki bukan perempuan" Damar membenarkan penglihatan Danil


"terus kalau dia laki-laki lalu gelang ini milik siapa. mayat wanita itu telah saya periksa dan tidak ada tanda-tanda dia menggunakan gelang. dan juga nama korban adalah Aretha Delano, bukan huruf H yang menjadi Haretha" ucap Mahesa yang sedang memperhatikan gelang di atas meja


"bagaimana kalau itu memang milik pelaku untuk ia berikan kepada seseorang. yaaa semacam kekasihnya begitu" ucap Angga


"kok Danil merasa akan ada lagi pembunuhan berikutnya" tiba-tiba saja Danil berbicara


"kenapa kamu berbicara seperti itu...?" tanya Damar


"entahlah, Danil hanya merasa ini akan menjadi kasus seperti bang Wili" jawab Danil


"apa sekarang kita sedang menghadapi psikopat lagi...?" ucap Angga


"belum tentu, dan semoga saja bukan" jawab Mahesa bersandar di kursinya


"ngomong-ngomong tadi siang di kost, Alan mendapatkan teror" Mahendra akhirnya memberitahu apa yang mereka alami


"teror...?" tanya ketiganya


"iya, Alan diteror. seekor kucing dibunuh dan digantung di jendela dapur. dan juga Alan mengatakan kalau ada tulisan sebuah ancaman" jawab Mahendra


"kenapa bisa seperti itu, apa Alan punya musuh...?" tanya Mahesa


"bang Alan tidak punya musuh, Danil tau bang Alan orangnya seperti apa" jawab Danil


"memangnya kalau siang pintu ruang utama tidak dikunci...?" tanya Angga


"nggak, kalau siang nggak dikunci. kecuali malam" Damar menjawab, ia tau hal itu karena dirinya pernah tinggal di kost itu


"ancamannya seperti apa...?" tanya Mahesa


"selamat menantikan detik-detik Kematian" jawab Mahendra


"kenapa perasaanku mulai tidak enak mendengar itu" ucap Damar meneguk kopinya


"selain Alan, ada siapa di dalam kost..?" tanya Mahesa


"bang Olan, tapi waktu itu bang Olan keluar membeli kopi dan makanan" jawab Danil


"sepertinya kalian harus berhati-hati, ancaman itu jelas-jelas mengandung kebencian. siapa coba orang yang akan melakukan itu kalau bukan seseorang yang membenci kalian atau salah satu dari kalian" ucap Angga


setelah berbincang lama, pukul 11 malam mereka memutuskan untuk pulang. Mahesa membayar minuman mereka semua kemudian keluar.

__ADS_1


"kalian berdua hati-hati" ucap Mahesa


"siap pak, kami duluan" ucap Mahendra


"oke sip" Mahesa mengangkat jempol kanannya


ketiga polisi itu masuk ke dalam kendaraan mereka. Angga bersama Mahesa sedangkan Damar dirinya mengendarai mobilnya sendiri.


awalnya mereka satu jalur, mobil Mahesa dan Damar saling beriringan. hingga kemudian kedua mobil itu mengambil jalur masing-masing.


mobil Mahesa mengambil jalur kanan sedangkan Damar terus saja lurus ke depan. Damar sesekali menguap karena rasa kantuk mulai melandanya. meskipun telah meminum kopi namun nyatanya kini ia sudah merasakan kantuk dan terus menguap.


di perempatan lampu merah, Damar mengambil jalur kiri. mobilnya terus melaju dengan kecepatan sedang hingga kemudian di tempat yang sepi di tengah jalan, Damar melihat seseorang yang tergeletak tidak sadarkan diri.


"kenapa dia...?" gumam Damar yang langsung menghentikan mobilnya


Damar keluar dari mobil, melihat sekitarnya yang sama sekali tidak ada orang. ia melangkah mendekati orang tersebut. sebuah motor tergelatak di samping orang itu.


"hey...apa kamu baik-baik saja...?" Damar memeriksa dan tidak ada pergerakan dari orang itu


"astaga, dia pingsan. sepertinya dia korban kecelakaan" ucap Damar pelan


Damar berdiri dan mengambil ponselnya untuk menghubungi ambulan. saat sedang melihat ke arah lain, sebuah pukulan keras mendarat di kepalanya.


buuugh


"aaaggghh"


Damar terhuyung dan seketika langsung oleng. dirinya langsung jatuh ke aspal dengan darah mulai mengucur dari kepalanya. penglihatannya mulai kabur, ia melihat seseorang yang tergeletak tadi sedang berdiri di depannya memegang sebuah kayu balok.


ngiiiiiing


telinga Damar berdengung, kepalanya nyut-nyutan dan bahkan dari hidungnya pun mengeluarkan darah.


bughhh


bughhh


bughhh


Damar ditendang beberapa kali dan bahkan kayu balok itu akan mendarat kembali di kepalanya. untungnya Damar menghindar dengan berguling ke arah kiri sehingga sasaran kayu itu hanya mengenai aspal jalan.


"kuat juga elu ternyata" ucap orang tersebut di balik maskernya


dengan nafas ngos-ngosan dan sakit kepala yang dialaminya, Damar berusaha bangun dan kini keduanya saling berhadapan. darah dari kepala Damar sudah membasahi matanya.


uhuk...uhuk


"sial" umpat Damar yang terbatuk dan mengeluarkan darah segar


"harus gue akui kalau ternyata elu mempunyai tubuh yang kebal" ucap sosok itu


"siapa kamu...?" tanya Damar dengan tatapan tajam


"coba tebak siapa gue Damar Wiguna" ucapnya


"apa maumu, aku tidak mengenal kamu"


"hahahaha" dia tertawa terbahak-bahak


"tidak perlu saling kenal untuk melakukan hal yang menyenangkan"


"Damar Wiguna, mau bermain denganku...?" ucapannya penuh penekanan, terasa tajam seperti ingin dengan cepat mencabik-cabik lawannya. senyuman iblisnya terhalang masker yang ia gunakan


"cih, kamu pikir aku takut padamu" Damar menjawab dan bersiap untuk melawan


"nyali mu ternyata besar juga ya. seorang polisi memang harus mempunyai nyali yang besar. baiklah, mari kita bermain, gue sangat suka bermain dengan lawan yang penuh semangat seperti elu"


"nggak usah banyak bacot, majulah kalau kamu ingin bermain"


"baiklah, mari kita bermain"


Damar mengepalkan tangannya membentuk sebuah tinju. sosok itu mulai menyerang Damar dengan kayu balok yang ada di tangannya.


menjadi seorang polisi tentunya harus mempunyai bakat bela diri, dan Damar mempunyai bekal itu. tentu saja selain melawan, itu juga berguna untuk menjaga diri.


buaaaak


buaaaak


satu pukulan dan satu tendangan mendarat di perut sosok itu. Damar berhasil membuat sosok itu merasakan sakit yang dirinya rasakan.


"bagaimana bermain denganku, sepertinya tendangan ku membuat mu menikmati sakitnya" Damar mengejek

__ADS_1


sosok itu tertawa kecil dan memegang wajahnya yang terkena pukulan.


"MATI KAMU DAMAR WIGUNA" teriaknya yang kembali menyerang


__ADS_2