
dengan wajah tegang masing-masing dan rasa penasaran yang amat besar, Rahim perlahan-lahan akan membuka paket itu. ia mengiris tengah-tengah paket itu dengan pisau cutter yang ia pegang. setelah lakbannya di iris, Rahim belum membukanya. ia menatap satu persatu penghuni kost 010 memberitahu bahwa ia akan membuka paket itu. mereka semua menganggukkan kepala.
"kalian siap...?" tanya Rahim
"siap bang" semuanya menjawab dan mengangguk
"bismillah"
Rahim mulai membuka dengan pelan gardus yang ada di depannya. ada yang sebagian menutup mata dan juga yang tetap fokus melihat apa yang dilakukan oleh Rahim.
"astaghfirullah"
saat terbuka dengan lebar, Rahim sontak kaget dan terkejut bahkan ia sempat menepis gardus itu agar menjauh darinya.
"kenapa bang...?" Olan penasan
mereka yang penasaran dengan isinya mendekat untuk melihat isi di dalamnya. saat itu juga mereka kaget dan mundur.
"gila, siapa yang berani melakukan hal keji seperti ini" Iyan emosi menggebu-gebu
isi paket yang mereka buka itu adalah sebuah kepala yang sudah berdarah-darah. tentu saja mereka kaget bahkan hampir jantungan melihat kepala manusia tersebut.
"ini bukan kepala manusia benaran, ini hanya replika saja" Mahendra memegang kepala yang sama persis seperti kepala manusia jika tidak dilihat dengan teliti
"bangsat, gue benar-benar akan menghabisi orang yang beraninya mempermainkan kita ini" Randi begitu geram
"tapi ini...benar bau darah loh" Faiz mencium noda merah yang kental di gardus itu
"iya, ini memang darah" ucap Olan
"ada kertasnya" ucap Mahendra
Mahendra mengambil kertas putih yang penuh dengan darah itu. ia membukanya dan membaca isi tulisannya.
"mari kita bermain, dimulai dari sekarang. jika kalian gagal maka kalian akan melihat setiap mayat yang akan jadi korban permainanku. kehidupan seseorang di luar sana tergantung kalian yang memecahkan teka-tekinya. permainan pertama, dia yang tergila-gila dengan minuman yang memabukkan"
Mahendra membaca isi tulisan kertas itu dan ia menatap semua orang yang ada di tempat itu.
"apaan tuh, nggak jelas banget" Robi mengambil kertas yang ada di tangan Mahendra untuk melihatnya dengan jelas
"ini maksudnya apa ya, kehidupan seseorang berada di tangan kita itu apa maksudnya coba" Alan sama sekali tidak paham
"kita kan bukan Tuhan yang menentukan nasib hidup seseorang" timpal Danil
"sepertinya orang itu akan mencelakai seseorang dan dia sengaja memberitahu kita" Riki mengambil kesimpulan
"aneh juga, mau membunuh orang tapi dia ngasih tau sama orang lain. lucu nih orang" Faiz geleng-geleng kepala
"gue setuju dengan Riki. maksud dari tulisan ini adalah akan ada seseorang yang akan celaka, dia sengaja memberitahu kita dengan memberikan clue agar kita mengikuti permainannya" ucap Mahendra
"ngapain kita harus mengikuti permainan yang nggak jelas seperti ini bang" timpal Randi
"karena seperti yang dituliskan di kertas itu, kehidupan seseorang ada ditangan kita. dia memberikan clue agar kita dapat mencari orang yang akan menjadi targetnya dan menyelamatkannya. jika berhasil maka orang itu selamat dan jika tidak maka...."
"orang itu akan mati" Rahim menyimpulkan
"benar" ucap Mahendra
"astaga, bagaimana kita akan mencari dan tau siapa yang akan menjadi targetnya. gila, ini benar-benar gila" Robi tidak habis pikir siapa yang membuat hal konyol seperti itu
"yang masih jadi pertanyaan dikepala gue, ini sebenarnya yang ngirim teror seperti ini siapa sih. apa hubungannya coba dengan kita" Mahendra duduk kembali di tempatnya
"sekarang bukan saatnya mencari tau siapa yang mengirim paket ini. yang harus kita lakukan sekarang, berpikir apa arti dari tulisan itu. siapa yang harus kita tolong" ucap Rahim
"dia yang tergila-gila dengan minuman yang memabukkan" Robi membaca kembali tulisan itu
"minuman yang memabukkan itu bukannya miras ya...?" Danil berpendapat
"iya benar, itu pasti miras. tapi.... diantara kita siapa yang suka dengan minuman itu" ucap Faiz
"kalau bukan kita berarti orang lain yang ada hubungannya dengan kita" timpal Randi
"oke, sekarang berpikir siapa diantara teman-teman kalian yang suka dengan minuman keras" Rahim mengarahkan mereka untuk mengingat satu persatu orang-orang terdekat mereka
"gue mah nggak ada. Bimo dan Andra nggak pernah suka yang namanya minuman keras. bir aja mereka ogah buat minum" Iyan memberitahu bahwa kedua teman kerjanya bukan seseorang yang suka minuman memabukkan
__ADS_1
"kalau Alan hanya punya Gerry teman dekat di kampus. dia juga nggak suka minuman seperti itu" ucap Alan
"kalau gue.....di kantor sih ada sebagian teman yang kadang ke club tapi ya hanya satu atau dua kali saja dalam sebulan. nggak sampai tergila-gila sampai mabuk tiap hari" Olan pun memberitahu
"yang lain...?" Rahim melihat mereka yang belum berpendapat
"nggak ada bang" ucap Mahendra
"Danil juga nggak punya teman seperti itu" ucap Danil
"gue juga nggak ada" ucap Rahim
"jadi kita semua nggak ada yang mempunyai teman suka minuman keras...?" Rahim bertanya lagi dan mereka menggeleng
"astaga, terus siapa orangnya" Rahim memijit pelipisnya lantaran pusing
mereka semua larut dalam pikiran masing-masing. masih memikirkan siapa kira-kira seseorang yang harus mereka tolong agar selamat dari malaikat maut yang antarkan oleh si peneror misterius.
malam itu mereka lewati dengan pikiran yang kacau. karena merasa lelah seharian berkeliling terlebih lagi mengeluarkan tenaga karena harus menghadapi Zohir dan orang-orangnya, penghuni kost 010 tidur dalam waktu yang masih tempo. satu persatu masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.
sementara itu di bandara, Mahesa terus mencari adiknya. ia mencoba untuk menghubungi Almeera namun ponsel gadis itu tidak aktif. Mahesa semakin gelisah dan khawatir.
"ya Allah Meera, kamu dimana" Mahesa begitu frustasi
"kita berpencar" Cakra memberikan ide
luasnya bandara memang berpencar adalah solusi yang tepat. dengan begitu mungkin salah satu diantara mereka dapat menemukan Almeera.
"baiklah. gue ke arah sana, kalian berdua ke sana dan ke sana" Mahesa memerintah
ketiganya berpencar di tempat itu, masing-masing fokus mencari keberadaan Almeera.
sudah satu jam mereka mencari namun Almeera tidak juga di temukan. hal itu membuat Mahesa benar-benar frustasi. terlebih lagi dirinya mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal, Mahesa khawatir adiknya akan dicelakai oleh orang. ia takut psikopat itu mengincar adiknya.
"kita temui pihak kendali cctv" Angga memberikan solusi terakhir yang akan mereka lakukan
Mahesa setuju, memang hal itu tadi yang akan dilakukannya. mereka bertiga langsung menemui pihak pengendali cctv di bandara. tentu saja ketiganya akan dibantu karena itu adalah menyangkut pencarian seseorang.
"itu....itu Almeera" Cakra menunjuk layar komputer yang menampilkan hasil rekaman cctv jam 6 tadi
terlihat gadis itu memakai jaket jeans dan celana jeans dengan sepatu cats warna putih. ia menggunakan tas ransel kecil warna hitam dan mendorong koper yang berisi pakaiannya. gadis itu menuju ke tempat duduk ruang tunggu dan sesekali melirik ke arah jam tangannya.
dari rekaman itu, Almeera sedang berbalas pesan dengan seseorang kemudian ia beranjak dari tempat duduknya keluar dari bandara. ia menaiki taksi dan meninggalkan bandara.
"cari nomor taksi tersebut, lacak dimana keberadaannya sekarang" perintah Mahesa dengan tegas
"baik" Angga dan Cakra menjawab patuh
sudah pukul 11 malam, Angga dan Cakra berhasil melacak keberadaan taksi yang dinaiki Almeera saat dibandara tadi. kini ketiga polisi itu sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan. di sana, sebuah taksi terparkir sedang mengambil penumpang. buru-buru Mahesa langsung masuk ke dalam taksi tersebut sehingga seseorang yang akan menaiki taksi itu menggerutu dan mengomel.
"oi mas, itu taksi saya" seorang wanita terlihat mengetuk kaca jendela taksi
"cari yang lain saja mba, saya butuh taksi ini" Mahesa menurunkan kaca jendela taksi itu dan melihat wanita yang sedang berdiri di depannya
"loh, pak Mahesa" wanita itu memanggil nama Mahesa
Mahesa memicingkan matanya karena tidak mengenal wanita itu lantaran ia menggunakan masker sehingga wajahnya tidak terlihat. paham bahwa polisi itu tidak mengenalnya, wanita itu membuka maskernya.
"dokter Akira" ucap Mahesa saat melihat wajah dibalik masker tadi
wanita itu adalah dokter Akira, yang merawat Damar. wanita itu tersenyum padahal tadi dirinya memarahi Mahesa.
"maafkan saya dok, tapi saya membutuhkan taksi ini. silahkan masuk, saya akan keluar setelah menanyai supir taksi ini" Mahesa membuka pintu agar Akira bisa masuk ke dalam
Akira masuk kedalam taksi, Mahesa menggeser badannya agar Akira dapat duduk.
"maaf mas, ada apa ya mau ketemu saya...?" supir taksi itu bertanya
"bapak kenal dengan gadis ini...?" Mahesa memperlihatkan foto Almeera di ponselnya
"tidak mas, memangnya kenapa...?"
"ingat baik-baik pak, gadis ini adalah gadis yang menumpangi taksi bapak saat dibandara tadi"
"oooh iya saya ingat, dia gadis yang katanya akan bertemu dengan kakaknya di sebuah taman" sopir taksi memberitahu
__ADS_1
"taman...?"
Akira yang tidak mengerti apa yang sedang dicari tau oleh Mahesa hanya mendengarkan saja. ia sempat melirik foto SEO gadis yang ada di ponsel Mahesa.
(cantik, apa itu pacarnya...?) batin Akira
"iya pak, taman. dia bercerita kalau sebenarnya dia sedang menunggu kakaknya untuk menjemputnya dibandara namun ternyata dia mendapatkan pesan kalau kakaknya menyuruhnya untuk pulang sendiri menaiki taksi dan menemuinya di taman. saya sempat akan mengantarnya namun diperjalanan ban mobil saya bocor, jadinya dia turun dan mencari taksi lain. entah dapat atau tidak karena ditempat itu amat sepi"
"Allah Almeera" Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar
"taman dijalan mana pak"
"jalan Manggarai mas"
"terimakasih pak"
tanpa berpamitan kepada Akira, Mahesa membuka pintu dan keluar dengan tergesa-gesa. ia menghampiri mobil yang terparkir tidak jauh dengan taksi tersebut.
"astaga" Mahesa menepuk keningnya
"kenapa Hes...?" tanya Cakra
Mahesa berbalik kembali dan melangkah cepat untuk kembali ke taksi tersebut. ia masuk ke dalam taksi membuat Akira dan sopir taksi kaget.
"ada perlu lagi mas...?" tanya sopir taksi
"tidak pak, saya hanya ada perlu dengan mba ini" Mahesa melihat Akira
"ada apa pak...?" tanya Akira
"maafkan saya telah mengganggu kepulangan mu. hati-hati di jalan" Mahesa tersenyum dan itu membuat Akira terpaku sejenak
"ah, i-iya...tidak apa-apa pak" Akira tersadar
"pak, ini uang untuk bayaran mba ini ya. sekalian tip buat bapak" Mahesa memberikan beberapa lembar uang merah kepada sopir taksi
"tidak usah pak, saya bisa bayar sendiri" Akira sama sekali tidak enak hati
Mahesa tidak menjawab, ia hanya melempar senyum kepada dokter itu.
"pak, antar mba ini sampai di rumahnya ya. jikalau ban mobil bapak mengalami kebocoran, harap carikan mba ini taksi lain. jangan meninggalkan dirinya seorang diri" ucap Mahesa
"baik mas. tapi ini bayarannya banyak sekali mas"
"tidak apa-apa, anggap saja itu rezeki buat keluarga bapak. dokter Akira, saya pergi dulu. sampaikan salamku kepada Damar"
"seperti sepasang kekasih saja, atau jangan-jangan kalian berdua pasangan kekasih ya...?" sopir taksi itu melihat keduanya dari spion gantung
"mana mau pak dokter cantik ini bersama laki-laki seperti saya. kalau begitu saya pergi dulu" Mahesa tertawa pelan dan segera keluar dari taksi kemudian berlari ke arah mobilnya
Akira hanya melihat saja laki-laki itu meninggal dirinya.
"kenapa tidak mau saja mba, sepertinya dia laki-laki yang baik" sopir taksi berucap dan meninggalkan tempat itu
Akira hanya tersenyum menanggapi ucapan sopir taksi itu. ia melempar pandangan ke arah luar jendela mobil.
"bagaimana Hes...?" Cakra bertanya saat Mahesa sudah masuk ke dalam mobil
"ada yang mengirimkan pesan kepada Almeera yang mengaku sebagai saya. dia meminta bertemu di taman di jalan Manggarai" Mahesa memutar mobilnya untuk ke jalan yang di tuju
"bahaya ini Hes, cepat ke taman itu sekarang" ucap Angga
Mahesa tancap gas, mobilnya melaju melambung mobil yang lain. tiba di taman, hanya ada beberapa orang yang berada di taman itu. ketiganya mencari keberadaan Almeera namun mereka tidak menemukan gadis itu.
"aaaggghh brengsek" Mahesa meninju batang pohon yang ada di taman itu hingga tangannya berdarah
"Almeera" Mahesa jatuh tersungkur di tanah
"kita akan menemukannya Hes, tenangkan dirimu" Cakra mengelus pundak Mahesa
"dia keluarga gue satu-satunya Cak, dia hidup gue. gue nggak sanggup membayangkan kalau psikopat itu...."
"Hes tenanglah, kalau elu seperti ini yang ada pembunuh itu akan merasa senang melihat elu menderita. kuat demi Almeera, dia pasti sedang menunggu elu untuk menyelamatkannya" Angga memotong ucapan Mahesa
"bagaimana kalau dia langsung membunuh Almeera, gue nggak sanggup Ngga, gue nggak sanggup" pundak Mahesa naik turun, ia menangis pilu
__ADS_1
Cakra dan Angga tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Cakra hanya bisa memeluk Mahesa untuk menenangkannya meskipun sebenarnya perasaan Mahesa sama sekali tidak tenang untuk saat ini. adiknya dalam bahaya, siapapun tidak akan merasa tenang jika seseorang yang kita sayangi sedang terancam nyawanya.
sedang di tempat lain, dua orang sedang terkapar di lantai dan tidak sadarkan diri. satu laki-laki dan satu perempuan. kedua tangan dan kaki terikat agar keduanya tidak dapat melarikan diri.