Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 63


__ADS_3

"SIALAN"


braaaakkk


braaaakkk


praaaaaang


"harusnya mereka mati di dalam sana. Mahesa brengsek"


semua barang-barang yang ada di tempat itu berserakan di lantai. dirinya begitu kesal karena kali ini percobaan pembunuhan yang ia lakukan gagal.


"hahaha"


sedetik yang tadinya kesal, dirinya berubah menjadi tawa yang menggelegar. bahkan sampai terkekeh kekeh dan bertepuk tangan.


"ini bukan akhir dari permainan kita manusia-manusia bodoh. masih ada permainan yang lebih seru dari ini. lihat saja nanti" dirinya berbicara seakan ada seseorang yang mendengarnya


ia kemudian meninggalkan rumah itu dan bergegas ke mobil miliknya. dirinya akan mengunjungi beberapa orang di suatu tempat.


mobil merah itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri setiap jalan yang belum banyak orang pengendara. sudah pukul 5 pagi dan tidak lama lagi akan beralih ke pukul 6 pagi.


ia memasuki kawasan ujung kota dan masuk ke dalam hutan. beberapa meter ke depan, terlihat jalan setapak sebelah kiri, dirinya mengikuti jalan itu yang masih bisa di tempuh dengan mobil. hingga kemudian mobil itu berhenti di sebuah rumah yang ada di tengah hutan itu.


ia keluar dari mobil dan melangkah ke arah pintu. membuka pintu rumah dengan kunci yang ia punya dan masuk ke dalam.


ia masuk ke dalam kamar dan di dalam itu, sebuah lemari ia dorong ke arah kanan hingga nampaklah sebuah jalan yang berada di bawah sana. satu persatu ia turuni anak tangga itu. kemudian melangkah masuk ke dalam lorong yang gelap dan pengap. bahkan tanpa cahaya pun, dirinya masih bisa menyusuri lorong yang penuh kegelapan itu.


banyak bilik di ruang bawah tanah itu. bahkan jalannya pun berbelok-belok. jika yang pertama kali masuk jelas akan tersesat di dalamnya dan tidak menemukan jalan keluar.


kini tibalah dirinya disebuah bilik yang ia tuju. ia mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.


"selamat pagi semuanya"


di dalam bilik yang lumayan besar itu, beberapa orang sedang terikat kedua tangannya. mereka semua dalam keadaan posisi berdiri.


"lepaskan kami" ucap salah satunya


"tenang saja, kalian nanti akan gue lepaskan tapi tidak sekarang. saat ini gue ingin bermain dengan kalian semua"


"elu benar-benar nggak waras. jangan jadi pecundang. lepaskan tanganku dan hadapi aku bajingan" andai tangan Robi tidak terikat mungkin sudah sejak tadi ia melayangkan pukulan ke arah sosok itu


"hahaha"


prok...prok...prok


"punya nyali juga ya elu ternyata"


"jadi elu dalang dari semua ini...?" Rahim menatap tajam orang tersebut


"kenapa bang, kalian kaget...?" dia memutari mereka semua


"rupanya elu sama gilanya dengan Wili"


"Wili...?" sudut bibirnya terangkat


"gue senang bisa memanfaatkan orang seperti dia. karena dirinya tempramental, dengan mudahnya dapat gue hasut"


"apa maksudmu brengsek...?"


"maksudku...? elu pasti tau apa maksud dari ucapan gue" dirinya tersenyum menyeringai


"apa jangan-jangan selama ini pelaku utamanya itu adalah elu dan Wili hanya menjadi boneka yang elu gunakan untuk melakukan semua rencana keji yang elu lakukan"


prok...prok...prok


"bravo bang.... bravo. gue suka cara berpikir elu"


ia begitu senang karena semua yang ia lakukan dapat ditebak oleh Rahim.


"sayang sekali Wili cepat mati, kalau nggak gue nggak akan repot seperti ini mengurus kalian"


"jadi yang membunuh Damar dan Kevin itu adalah elu...?"


"Damar itu sangatlah bodoh. harusnya berbicara terus terang tanpa ingin bertemu dengan Mahendra. belum mengatakan semuanya ajalnya sudah menjemput"


"BRENGSEK, LEPASIN GUE BIADAB"


"no no no, tidak semudah itu melepaskan kalian. tenanglah dan rileks. kalian semua akan bebas namun tentu saja setelah menjadi.......mayat"


di meja panjang yang ada di belakangnya, berjejer rapi benda-benda tajam. mulai dari yang kecil sampai yang besar. pisau pisau tajam, palu, gergaji, pedang dan masih banyak lagi benda lainnya.


"kira-kira diantara banyaknya senjata gue ini, mana ya yang cocok untuk kulit kalian" tangannya memegang satu persatu benda-benda itu


kemudian ia memegang sebuah cambuk yang tergulung di atas meja itu. senyuman licik terukir di bibirnya. ia ambil cambuk itu dan mendekati mereka semua.


"cambuk ini pernah digunakan untuk menyiksa Kevin dan kali ini gue akan gunakan untuk menyiksa kalian semua"


"salah kami apa sama lu. kami nggak menyinggung ataupun punya masalah sama elu"


"elu tanya salah kalian apa...? gue hanya nggak suka melihat kalian semua hidup bahagia"


"apa yang salah jika kami hidup bahagia. kalau elu nggak suka, ya elu nggak usah hidup"


blitzz


"aaaggghh"


dirinya mencambuk salah satu dari mereka. cambuk itu langsung membekas di tubuh salah satunya.

__ADS_1


"bukan gue yang nggak akan hidup lagi tapi kalian semua"


blitzz


blitzz


satu persatu dari mereka ia cambuki. teriakan dari bilik itu menggema di ruang bawah tanah tersebut. bukan hanya mencambuk mereka semua, ia juga menggunakan pisau kecil yang tajam dan yang mengiris di setiap kulit mereka yang halus.


"anggap saja ini adalah tato yang indah, hahaha"


buaaaak


buaaaak


buaaaak


tidak puas dengan itu, dirinya juga menendang, meninju dan memukul wajah serta perut mereka. kini semuanya telah babak belur dan berdarah-darah.


"gue benci melihat seseorang tersenyum hidup bahagia, gue sangat benci itu" ucapnya, ia mengambil kursi dan duduk di depan mereka semua


"hhh...elu ternyata sangat menyedihkan" salah satunya mencibir psikopat itu


"sepertinya elu punya kisah menyedihkan di masa lalu. apa elu di siksa oleh orang tuamu sewaktu kecil, ataukah dirimu dibuang di jalanan karena elu anak yang nggak berguna"


"DIAM LU"


"ckckck, hidupmu pasti sama dengan cerita hidup Wili. elu juga tempramental, dan mungkin sekarang ini elu dalam keadaan gila"


"GUE BILANG DIAM"


buaaaak


buaaaak


buaaaak


"hahaha"


bukannya kesakitan, salah satu squad 010 itu hanya terkekeh, padahal darah segar terus keluar dari hidung dan mulutnya. hal itu membuat psikopat itu semakin marah.


psikopat itu membuka ikatan salah satu dari mereka yang mencibirnya tadi. ia kemudian membawanya di sebuah ember yang berisi air dan menenggelamkan kepalanya di ember itu.


bluuk


bluuk


bluuk


"mati elu...mati"


"lepaskan dia bajingan"


hanya mengangkat sekian detik kepalanya kemudian ia ceburkan lagi ke dalam ember. begitu seterusnya sampai akhirnya dirinya yang tadi memberontak kini tidak lagi melakukan pergerakan.


ia menarik kelapa Robi dan menyeret dengan kasar di lantai. kemudian membiarkan tubuh itu tergeletak entah sudah tidak bernyawa ataukah hanya pingsan.


setelahnya satu persatu dari mereka ia pindahkan ke tempat yang berbeda. kini squad 010 tidak lagi bersama dalam satu bilik melainkan mereka kini seorang diri di tempat yang pengap dan hanya ada lampu warna kuning sebagai penerangan.


saat ini psikopat itu sedang berada di bilik yang ditempati oleh Rahim. ditangannya sedang memegang satu batang rokok yang telah ia bakar.


"selama bertahun-tahun gue mencari elu bang, elu tau kenapa...?" ia menarik rambut Rahim hingga wajah Rahim mendongak ke atas


wajah Rahim sudah dipenuhi darah, matanya bahkan sudah membengkak karena siksaan yang ia alami.


"karena gue ingin membuat hidup elu menderita" ia berbisik di telinga Rahim dan menghentakkan tubuh Rahim dengan kasar


"hhh, jadi elu puas sekarang...?" Rahim tersenyum simpul


"belum, gue sama sekali belum puas menyiksa elu. penderitaan yang gue alami sejak awal itu semuanya gara-gara elu bang"


"apa maksud lu...?"


"lihat gue baik-baik, apa elu nggak mengenali wajah ini" tatapan matanya tajam


"gue tau elu siapa"


perkataan Rahim membuat psikopat itu tersentak kaget.


"elu hanya pecundang yang menyedihkan" Rahim tersenyum mengejek


buaaaak


bughhh


uhuk...uhuk


tendangan melayang mengenai kepala Rahim hingga membentur dinding.


"gue adalah mimpi buruk elu untuk saat ini bang. penderitaan yang gue alami selama ini harus elu rasakan juga"


dirinya mengambil tali tambang dan mengikat kedua tangan Rahim di belakang pinggangnya kemudian ia juga mengikat kedua kaki Rahim.


"masih ingat dengan seorang anak yang sering disiksa oleh ayahnya tirinya karena dianggap tidak berguna seperti anak kandungnya...?"


"dia yang sering tidak diberi makan, dikunci di kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup, dihukum berdiri dan mengangkat kedua tangan ke depan sampai pagi menjelang"


"anak kecil yang berusia 10 tahun, yang sering dipukul saat nilai rapor tidak tinggi seperti nilai yang elu dapatkan. ditinggalkan di daerah yang nggak dia tau sampai berhari-hari harus menahan lapar untuk sampai di rumah"


"dan.....anak kecil yang melihat ibunya disiksa oleh ayah tirinya sampai menjadi gila. apa elu nggak ingat dengan itu...?"

__ADS_1


Rahim menatap penuh lekat wajah pembunuh itu. namun meskipun telah diberitahu, dirinya sama sekali tidak mengingat siapa anak kecil yang ia maksud.


"ini gue bang..... Arkan Arsyad adik tiri elu. apa elu ingat gue sekarang...?" ia berbisik di telinga Rahim


"A-Arkan...?"


"kenapa, abang kaget, humm...?


"apa elu pikir gue sudah mati tenggelam di sungai itu...?


"kalau nggak ada ayah baik yang udah anggap gue anak sekarang dan menolong gue mungkin sekarang gue udah mati, tapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepada gue untuk hidup agar bisa membalas semua perbuatan ayah bangsat lu itu"


"ayah bangsat" Rahim mengulang ucapan psikopat itu, dan dirinya tersenyum tipis


"anak kurang ajar, tidak tau diuntung"


plaaaak


plaaaak


"beraninya kamu melawan ayah"


plaaaak


"ayah sudah yah sudah, kasian anak kita yah"


"lepaskan aku wanita murahan"


praaaaaang


bugh


"IBU"


"hahaha... hahaha"


Rahim tertawa terbahak membuat psikopat itu menjadi heran dengan kakaknya itu. namun sedetik kemudian Rahim menangis, ia menangis seperti anak kecil. sesegukan dan di bibirnya terus menyebut kata "ibu".


"hhh sepertinya elu akan gila sekarang bang. baguslah, dengan begitu elu bisa sama dengan ibu gue yang menderita di rumah sakit jiwa"


"kalau elu memang Arkan, gue senang elu ternyata masih hidup"


"cuih, munafik lu"


"apa kabar adik gue yang manja, elu sepertinya sedang nggak baik-baik saja sekarang. ternyata elu tumbuh menjadi laki-laki yang tampan tapi....nggak punya otak" Rahim mengejek dan terkekeh pelan


plaaaak


plaaaak


dua kali tamparan mendarat di wajah Rahim. bukannya meringis sakit Rahim malah terkekeh dan kemudian tertawa.


"penyamaran mu mengganti nama, gue akui elu pintar"


"elu mau balas dendam...? silahkan, bunuh gue sekarang juga. gue memang dari dulu ingin mati menyusul ibu gue yang telah lebih dulu pergi ke surga"


"apa maksud lu...?"


"nggak perlu bertanya apa maksud dari ucapan gue. sekarang bunuh gue, ambil pisau itu tancapkan tepat di jantung gue dengan begitu elu akan merasa senang telah menyingkirkan anak pembawa sial ini karena kelakuan ayahnya yang bejat"


"ayo bunuh gue, tunggu apalagi"


"nggak, kematian terlalu mudah buat elu bang. gue akan menyiksa elu secara perlahan sampai elu tidak sanggup dan memilih mati"


"hhh" Rahim tersenyum simpul


"elu tau apa yang paling gue inginkan sejak masih kecil...?" Rahim menatap lekat mata psikopat itu


"membunuh ayah kita yang elu katakan bangsat itu" Rahim tersenyum menyeringai seakan kini bukan Rahim yang terlihat baik seperti malaikat


"kalau elu pikir, elu begitu menderita dan gue hidup bahagia. elu salah besar Arkan Arsyad"


"nggak usah mengarang cerita bang"


"bagaimana bisa elu melihat gue hidup bahagia sedangkan kita tidak tinggal seatap. bagaimana bisa elu pikir gue begitu beruntung sedangkan kita tidak pernah bertemu kalau bukan di sekolah"


"elu sama sekali nggak tau apa-apa tentang kehidupan gue"


"DIAM LU" ia menendang tubuh Rahim hingga Rahim menabrak dinding


"meskipun gue nggak tinggal seatap bersama kalian tapi gue pernah melihat bagaimana ayahmu itu begitu memanjakan dan menyayangimu. sedangkan gue....gue terus-terusan disiksa olehnya"


"dan kali ini, gue akan balas itu semua"


"aaaggghh"


Rahim berteriak tatkala satu puntung rokok yang masih menyala di tancapkan di dadanya. bukan hanya sekali namun berkali-kali. hal itu jelas meninggalkan bekas luka bakar di dadanya.


"permainan kita baru saja dimulai bang" bisiknya, kemudian ia pergi meninggalkan Rahim seorang diri di bilik itu


sementara Rahim, ia kembali menangis mengingat wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"aaaaagghhh"


teriakan penyesalan menggema di ruangan tersebut. andai waktu dapat diputar kembali, Rahim ingin menyelamatkan nyawa seorang wanita yang ia panggil ibu, sayangnya semua itu tidak dapat ia lakukan karena bagaimanapun waktu terus berjalan meninggalkan kisah entah kelam atau bahagia di masa lalu.


sementara psikopat itu berhenti sejenak setelah mendengar teriakan Rahim.


"kalau elu pikir, elu begitu menderita dan gue hidup bahagia. elu salah besar Arkan Arsyad"

__ADS_1


perkataan Rahim tadi terngiang di kepalanya. namun ia menepis semua itu dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan bawah tanah tersebut.


__ADS_2