Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 59


__ADS_3

(kenapa....kenapa harum parfumnya seperti psikopat itu) batin Mahesa


"pak" ia mengangkat tangan di depan wajah Mahesa


"pak Mahesa" ucapnya lagi


"ah iya, ada apa...?" Mahesa tersadar dari lamunannya


"bapak baik-baik saja, saya perhatikan bapak melamun" ucapnya


"emm itu...iya, saya baik-baik saja" Mahesa menjauh dan kembali ke arah Cakra dan Angga


"sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan sampai matahari terbit nanti" wajah Robi begitu lesu, dirinya sudah pasrah


"sebaiknya kalian semua pulang, berada di sini pun itu percuma karena tidak ada yang bisa kalian lakukan" ucap Mahesa


"lalu bagaimana dengan bang Zohir...?" tanya Alan


"kita nggak tau dia dimana Al" Faiz menjawab


"berarti....bang Zohir akan....akan" Danil tidak sanggup melanjutkan ucapannya


"semoga saja bukan dia" Mahendra mengelus bahu Danil


Mahesa menyuruh squad 010 untuk pulang saja karena berada di taman itu pun akan percuma, tidak ada yang bisa mereka lakukan. jejak Almeera pun tidak di temukan begitu pula dengan keberadaan Zohir. squad 010 melangkah ke motor mereka sedang ketiga polisi itu hendak menuju ke mobil namun langkah Mahesa terhenti karena satu pesan masuk di ponselnya.


ting


ponsel Mahesa berbunyi, dengan cepat ia membuka pesan itu. sebuah foto masuk di ponsel miliknya. Almeera sedang duduk lesu di lantai dengan tangan dan kakinya terikat. mulutnya dilakban dan dari pelipisnya darah mengucur sampai ke wajah cantik gadis itu.


ting


pesan berikutnya masuk lagi, kali ini adalah sebuah pesan kalimat.


08xxxx : waktumu satu jam dari sekarang untuk menyelamatkannya pak polisi, lewat dari itu maka kamu tau apa yang akan terjadi


"BERNGSEK" teriakan Mahesa menghentikan squad 010 yang hendak akan menaiki motor mereka


"kenapa Hes...?" Cakra bertanya


"Almeera dalam bahaya, waktu gue hanya satu jam untuk menyelamatkannya" Mahesa memperlihatkan pesan itu kepada dua rekannya


"Angga, lacak nomor ini" perintah Cakra


"baik"


Angga mulai mengambil laptop yang ada di dalam mobil Mahesa dan mulai melakukan tugasnya, sementara Mahesa menghubungi nomor itu namun tidak aktif.


"kenapa bang...?" Mahendra bertanya, mereka yang mendengar suara teriakan Mahesa kembali menghampiri ketiganya


"psikopat itu mengirim pesan, selama satu jam saya tidak bisa menemukan Almeera, maka dia...."


"dapat Hes, lokasi terakhir nomor itu sebelum dinonaktifkan ada di......"


"dimana...?" Mahesa mendekatinya Angga begitu juga dengan Cakra


"di jalan ini" jawab Angga


"jalan ini...? Mahesa dan Cakra bertanya


"iya. lihat titik merah ini, itu adalah titik dimana dia berada sebelum ponselnya dimatikan" Angga menjelaskan


"berarti dia ada di sekitar ini dan sedang mengawasi kita" Rahim melihat sekeliling mereka


"Cakra, Angga, telusuri jalan ini" perintah Mahesa


"baik" jawab keduanya


ketiga polisi itu pun mulai berpencar sementara squad 010 tidak tinggal diam. mereka pun ikut melakukan pencarian.


"jika titik merahnya ada disini, itu berarti dia memang ada disekitar ini. tapi jalan ini sangat sepi, tidak ada seorangpun yang berkeliaran di sini" Mahesa menelisik setiap sudut


"bang, mungkin saja dia bersembunyi atau telah meninggal tempat ini" ucap Mahendra


Mahendra, Danil dan Faiz mengikuti Mahesa. sedang yang lain mengikuti Cakra dan Angga.


"kalaupun dia pergi, masih belum terlalu jauh. aku harus menemukan bajingan itu" tangan Mahesa terkepal kuat


Cakra bersama Randi, Alan dan Riki tidak menemukan apapun, bahkan mereka telah berjalan jauh dan tembus di jalan lain.


"sepertinya dia sudah pergi pak" ucap Riki


"bajingan" Cakra begitu emosi


"kita kembali, lewat jalan ini saja. kita akan tembus di dalan Manggarai tadi" ucap Cakra


mereka berempat meninggalkan tempat itu, pencarian yang tidak ada hasil pada akhirnya membuat mereka memutuskan untuk kembali.


"memangnya bapak benar yakin kalau psikopat itu ada di sekitar sini...?" tanya Olan


"dari pencarian saya, itu yang saya temukan" Angga menjawab


"apa mungkin bapak salah, buktinya kita tidak menemukan siapapun di sekitar sini" ucap Olan lagi


"dia pasti sudah bersembunyi. nggak mungkin seorang pembunuh membiarkan dirinya dengan mudahnya akan ditangkap" timpal Iyan


"saya setuju sama bang Iyan, dia sudah pasti melarikan diri atau bersembunyi di suatu tempat yang nggak kita ketahui" ucap Robi


"siapa sebenarnya psikopat ini. kita seperti boneka yang dikendalikan dan permainkan olehnya" ucap Rahim

__ADS_1


karena tidak menemukan siapapun, Mahesa dan ketiga squad 010 berhenti di pinggir jalan. Danil duduk berselonjor karena kakinya yang mulai lelah, sementara yang lain masih tetap berdiri.


(*tidak ada siapapun di sini, hanya ada kami saja.....apa iya Angga kali ini salah) batin Mahesa


""dapat Hes, lokasi terakhir nomor itu sebelum dinonaktifkan ada di......"


"dimana...?"


"di jalan ini"


"jalan ini...?


"iya. lihat titik merah ini, itu adalah titik dimana dia berada sebelum ponselnya dimatikan"


"apakah ponselmu mati...?"


"hah...?"


"semua teman-teman mu mendapatkan pesan dan memeriksa ponsel mereka namun saya melihat kamu tidak memeriksa ponselmu"


"oh itu...ponsel saya mati pak, baterainya habis dan saya lupa mencasnya*"


(ponselnya mati karena kehabisan baterai, itu alasan yang logis tapi.... parfumnya sama persis seperti parfum psikopat itu)


"tidak ada siapapun di tempat ini, hanya ada kita dan yang lainnya. bagaimana mungkin dia berada di sini sedangkan kita tidak menemukan orang lain di sini" ucap Faiz


"dia pasti sudah bersembunyi" timpal Danil yang kembali berdiri


"tunggu-tunggu" Mahesa berpikir sejenak


"sejak tadi memang tidak ada siapapun selain kita semua di tempat ini. sebelum kalian datang hanya ada kami bertiga dan setelah kalian datang maka jumlah kita bertambah" lanjut Mahesa


"tidak ada seorangpun di sini selain kita tapi...." Mahesa menatap Mahendra


"bang Angga menemukan titik terakhir dia berada di jalan ini" Mahendra membalas tatapan Mahendra


"astaga, kenapa kita tidak berpikir di situ" Mahesa dan Mahendra berucap bersamaan


"kenapa bang...?" tanya Danil


tanpa menjawab pertanyaan Danil, Mahesa dan Mahendra berlari meninggalkan Danil dan Faiz.


"mereka berdua kenapa...?" tanya Danil


"kita ikuti saja"


Danil dan Faiz ikut berlari menyusul Mahesa dan Mahendra. hingga keempatnya sampai ditempat dimana Cakra dan timnya baru saja tiba di jalan itu.


"kami nggak menemukan siapapun Hes, bahkan kami sudah sampai di jalan merpati namun hasilnya nihil" Cakra memberitahu


"Angga mana...?" tanya Mahesa


"pak Angga sama yang lain ke arah sana tadi saat kita berpencar" Randi menjawab


"kenapa Hes...?" Cakra bertanya


"nomornya nggak aktif" Mahesa mulai risau


"masa sih, perasaan tadi ponselnya aktif terus" Cakra menghubungi Angga dan seperti yang dikatakan Mahesa, nomor polisi muda itu tidak aktif


"benaran nggak aktif" ucap Cakra


"biar saya hubungi bang Rahim, dia bersama pak Angga, bang Olan, bang Iyan dan bang Robi" ucap Randi


Randi merogoh ponselnya di kantung celana dan mulai menghubungi Rahim. saat menghubungi abang tertua mereka itu, nomor Rahim pun tidak bisa dihubungi.


"nomor bang Rahim juga nggak aktif" ucap Randi


"kenapa bisa nggak aktif seperti ini. coba hubungi bang Olan, Robi atau bang Iyan" ucap Mahendra


"nggak bis dihubungi juga bang, bagaimana ini. kenapa perasaan gue nggak enak seperti ini" Randi terlihat gusar


"kita ke tempat mereka saja" ucap Mahesa


tanpa berpikir panjang mereka semua berlari ke arah tujuan tempat Angga dan yang lainnya berada. saat tiba hal pertama yang mereka lihat adalah Angga yang sudah terbaring di tengah jalan dalam keadaan bersimbah darah sedang lainnya tidak berada di tempat itu.


"Angga" Cakra dan Mahesa berlari ke arah rekan mereka itu


"Ngga sadar Ngga, sadar" Cakra memeluk Angga yang sudah tidak sadarkan diri


"HUBUNGI AMBULAN CEPAT" Cakra meneriaki mereka semua


Faiz segera menghubungi ambulan dan memberitahukan lokasi tempat mereka berada. seketika suasana di tempat itu menjadi panik, tegang dan was-was.


"rupanya benar apa yang pak Angga katakan, psikopat itu ada di tempat ini, di jalan ini" ucap Alan


"dan dia bersama kita, berada di kelompok kita. dia bersama kita sejak tadi tanpa kita sadari" ucap Mahesa


"maksud bapak...?"Danil bertanya


"coba kalian pikirkan, sejak tadi tidak ada orang lain di tempat ini selain kita. jelas nomor yang dilacak oleh Angga pemiliknya adalah salah satu dari kita karena titik terakhir sebelum ponsel dimatikan ada di jalan ini" Mahesa menjelaskan


"dan kini dia mencelakai bang Angga dan entah bagaimana kabar bang Rahim, bang Olan, bang Iyan dan Robi" timpal Mahesa


"pelakunya pasti salah satu dari mereka. entah itu bang Rahim, bang Olan, bang Iyan atau Robi....tapi psikopat itu pasti salah satu dari mereka. siapa coba yang akan melakukan ini kalau bukan dia, psikopat itu" ucap Faiz


"Ngga plis buka mata lu, jangan pergi seperti ini. bangun Ngga" Cakra menangis


yang lainnya pun merasa miris, polisi muda itu begitu terluka parah di bagian kepalanya. ambulan yang dihubungi pada akhirnya datang juga. segera Angga dibawa masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Cakra menemani Angga ke rumah sakit sedang Mahesa masih tetap di tempat itu bersama squad 010 yang masih tersisa.


"kabari gue, gue harus mencari jejak pembunuh itu" Mahesa berbicara kepada Cakra


"iya, gue akan mencoba menghubungi Zulfikar"


mobil ambulan meninggalkan jalan Manggarai. kini tempat itu kembali sepi setelah sejenak tadi ramai karena suara sirine ambulan.


"bang, ini ponsel bang Rahim" Danil mendapatkan sesuatu


mereka mencari apapun yang dapat di temukan, saat itu Danil menemukan sebuah ponsel.


"ada darah juga disini" Faiz menemukan darah segar yang ada di aspal


"sepertinya Angga dipukul dengan benda ini" sebuah besi panjang ditemukan. Randi ingin memegangnya namun di tahan oleh Mahesa


"jangan menyentuh apapun, kita butuh sidik jari dari benda ini semua" Mahesa mengingatkan


Randi langsung mengangkat tangan dan tidak menyentuh besi itu. Mahesa mengamankan besi itu dan juga ponsel milik Rahim serta darah yang mereka temukan juga diambil.


(saya berharap jejaknya ada di sini. sampai saya tau siapa orangnya, akan saya kejar sampai ke jurang sekalipun) batin Mahesa


"bang, ada pisau di sini" Mahendra memanggil


segera Mahesa mendekati Mahendra dan mengambil pisau itu dengan tangannya yang sudah terbungkus dengan sarung tangan. pisau tajam itu di masukkan ke dalam plastik putih.


"kita kembali ke tempat kita pertama" ucap Mahesa


mereka meninggalkan tempat itu menuju ke tempat dimana mobil Mahesa terparkir. Mahesa membuka pintu kabin tengah dan menyimpan barang-barang itu di dalam mobilnya. kemudian ia menutup mobilnya kembali.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Alan takut bang Rahim, bang Iyan dan dan bang Robi dan bang Olan kenapa-kenapa" ucap Alan


baru saja hendak menjawab pertanyaan Alan, ponsel Mahesa bergetar. di layar ponselnya tertera nomor tidak dikenal sedang menghubunginya.


"kenapa nggak diangkat bang...?" tanya Mahendra


"ini nomor nggak dikenal" jawab Mahesa


"angkat pak dan loud speaker" ucap Faiz


Mahesa menggeser tombol hijau dan panggilan mulai terhubung. suara pertama yang mereka dengar adalah suara seorang perempuan.


nomor tidak dikenal


Abang. teriak seseorang di sebrang sana


Mahesa


Almeera.


Mahesa kaget ternyata yang menghubunginya adalah adiknya sendiri


nomor tidak dikenal


bang tolong Meera, Meera takut bang, hiks hiks, Meera takut


Mahesa


kamu dimana sekarang, beritahu abang


nomor tidak dikenal


Meera... Meera nggak tau ada dimana, di sini sepi. bang tolong bang, dia mau membunuh Meera


Mahesa


dek tenang, tenangkan dirimu. sekarang coba periksa sekitarmu kamu melihat apa saja di tempat itu. beritahu abang


nomor tidak dikenal


Meera di.... didekat Pertamina, bundaran, ada gedung sekolah SMA xxx


Mahesa


oke, abang tau kamu dimana sekarang. bersembunyi di tempat sepi dan jangan keluar. Abang akan menghubungi kamu lagi jika abang sudah sampai


nomor tidak dikenal


cepat bang, Meera takut...dia...dia sangat kejam, Meera takut


Mahesa


iya dek, tunggu abang ditempat yang aman


"saya harus ke jalan Rajawali" ucap Mahesa


"kami ikut bang" ucap Mahesa


Mahesa mengangguk setuju. ia masuk ke dalam mobilnya sementara squad 010 berlari ke arah motor mereka.


di jalan Rajawali, Almeera yang baru saja selesai menghubungi Mahesa mencari tempat persembunyian. gadis itu bersembunyi di balik tong sampah yang ada di depan gedung sekolah SMA xxx. ia memegang erat ponsel yang diambilnya dari tempat penyekapan sebelum dirinya melarikan diri.


wajahnya yang cantik kini terdapat luka goresan pisau, bahkan bibirnya memar dan berdarah. saat ini ia begitu takut jika dirinya harus tertangkap lagi oleh psikopat itu.


sebelum Mahesa datang, ia tidak akan keluar dari tempat persembunyiannya. hingga suara mesin mobil terdengar parkir di tidak jauh dari tempatnya.


"abang" Almeera merasa lega akhirnya Mahesa datang juga


ia keluar dan berlari ke arah mobil itu. seseorang keluar dari mobil dan saat melihat siapa yang ada di depan sana, Almeera menghentikan larinya dan berdiri tegang di tengah jalan.

__ADS_1


"k....k-kamu" Almeera gemetar ketakutan


"halo gadis kecil, kita bertemu lagi" seringai iblis terukir di balik masker yang ia pakai


__ADS_2