
dengan terburu-buru Randi keluar dari kamar itu. dia membawa dua benda tersebut, pisau dan juga jam tangan dan membawanya ke kamar.
pikirannya kacau saat ini, setelah tiba di kamarnya dia semakin bingung apa yang harus dilakukannya. tidak mungkin membangunkan semua penghuni kost yang sudah terlelap tidur. dia memutuskan untuk memberitahu mereka esok pagi.
sepanjang malam Randi tidak bisa tidur. dirinya hanya terus mengubah posisi kanan dan kiri tanpa bisa memejamkan mata. menunggu pagi seperti menunggu satu tahun lamanya, waktu seakan lambat untuk berjalan. jarum jam seakan untuk berpindah ke angka berikutnya.
Cakra sedang mengawasi seseorang. dia berada di dalam mobil dan sedikitpun tidak pernah melepaskan matanya dari pintu kost warna coklat itu. seseorang yang dia awasi masuk ke dalam kost itu dan sampai sekarang belum juga keluar. untuk menghilangkan rasa bosannya, Cakra melihat Video di YouTube namun matanya terus mengawasi di depan sana.
Zulfikar masuk ke dalam cafe, orang yang dia ikuti sedang duduk berdua bersama seorang wanita namun Zulfikar tidak dapat melihat wajah wanita itu karena terhalang sebuah vas bunga. dia duduk berjarak dua meja dari keduanya, dengan masker dan topi yang ia pakai agar orang yang dia awasi tidak melihatnya.
sementara di tempat lain, Kevin sedang duduk di bar dengan gelas minuman bersoda di tangannya. ke rumah teman adalah salah satu alasannya kepada yang lain, karena dia tidak ingin diceramahi apalagi oleh Rahim. kejadian tadi siang membuatnya enggan untuk berbicara dengan abang tertua mereka itu.
di sudut sana seseorang memperhatikan Kevin, dia memakai topi agar Kevin tidak dapat mengenalnya.
Mahesa berada di dalam mobilnya dimana terparkir tidak jauh dari kost 010. saat ini mereka mulai akan mengawasi penghuni kost itu tanpa diketahui oleh mereka semua. dengan segelas cup kopi di tangannya, untuk menemaninya agar dirinya tidak mengantuk.
pukul 1 dinihari, Zulfikar masih terus mengikuti Olan bahkan kini laki-laki itu tengah mengantar wanita yang diajaknya berkencan.
"aku pulang ya" ucap Olan mengelus wajah wanita itu
"kamu hati-hati, kalau sudah sampai telepon aku" ucap wanita itu
"iya. masuklah" Olan mencium kening wanita itu
wanita itu tersenyum kemudian masuk ke dalam rumahnya sedangkan Olan kembali menyalakan motornya dan meninggalkan rumah kekasihnya.
Zulfikar kembali mengikuti Olan dan bahkan laki-laki itu kini sudah berada di halaman kost. dia turun dari motor untuk membuka pagar kemudian naik lagi ke atas motornya dan masuk ke dalam. setelah memarkirkan motornya dengan baik, Olan kembali mengunci pagar namun tiba-tiba seseorang menghentikannya.
"bang tunggu" Wili baru saja pulang
"baru pulang dari rumah dosen lu...?" Olan membuka pagar dan membiarkan Wili lewat dengan sepeda motornya kemudian Olan kembali menguncinya
"udah lama dari rumah dosen, cuman gue singgah di kost teman. Abang sendiri baru pulang, darimana...?" tanya Wili membuka helmnya
"dari kencan, biasa melepas masa jomblo" jawab Olan
"cieeeee jadi udah laku nih sekarang...?" goda Wili
"laku....laku, lu pikir gue jualan. udah ayo masuk" Olan mendorong pelan bahu Wili untuk masuk ke dalam.
Wili membuka pintu utama dengan kunci yang dia pegang kemudian keduanya masuk ke dalam dan ke kamar masingmasing.
tok...tok
kaca mobil Mahesa di ketuk, mereka adalah Cakra dan Zulfikar. setelah menurunkan kaca mobilnya dan melihat kedua rekannya, Mahesa menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobil.
"nggak ada pergerakan yang mencurigakan bahkan setelah mereka sampai di kost" Cakra mengawali percakapan
"gue malah jadi pengintai orang yang lagi kasmaran" jawab Zulfikar
"pengen kencan juga ya...?" goda Cakra
"boleh, sama adek lu aja gimana. kayaknya dia cocok tuh sama gue" jawab Zulfikar
"kalau suka ya dekatilah, ngapain ngomong sama gue" Cakra mengambil kopi yang ada di tangan Mahesa dan meminumnya
"elu setuju...?" tanya Zulfikar
"nggak" jawab cepat Cakra
"cih, tadi suruh dekatin" cebik Zulfikar
"gitu aja udah nyerah duluan, payah lu" ejek Cakra dan Zulfikar hanya mendengus kesal
"gimana Hes, nggak ada siapapun yang keluar...?" tanya Zulfikar
"belum ada, entah dia nggak beraksi malam ini mungkin" jawab Mahesa
"kita tunggu saja sampai pagi. eh, dia kayaknya masih ngikutin Kevin, coba telepon" ucap Cakra
"jangan nanti konsentrasinya hilang. kita tunggu saja kabar darinya" Mahesa melarang
seseorang yang terus mengawasi Kevin, di datangi seorang wanita cantik yang berpakaian minim dan seksi. wanita itu duduk di depannya sehingga Kevin terhalang oleh tubuh wanita itu.
"sendirian aja ganteng" ucapnya dengan menggoda
"ada yang salah kalau aku sendirian...?" tanyanya. kini pengawasannya teralihkan karena wanita itu
"aku temani ya, supaya nggak kesepian" wanita itu duduk merapatkan badannya ke arah laki-laki itu sehingga dua bongkahan daging yang kenyal menempel di lengan laki-laki itu
(ujian apalagi sih ini, ****) dia mengumpat dalam hati
"aku tidak perlu teman" jawabnya, memiringkan kepalanya untuk melihat Kevin yang masih ada di tempatnya
"duduk sendirian nggak asik loh, mending sama aku" tangan wanita itu mulai berani memegang paha laki-laki itu dan bahkan perlahan-lahan naik ke atas
segera laki-laki itu menahan tangan wanita itu yang mulai memegang daerah yang tidak seharusnya dia pegang.
"aku bilang aku tidak butuh teman" dia menjauhkan tangan wanita itu dari pahanya
"kamu yakin mau nolak aku...?" wanita itu mendorong pelan tubuh laki-laki itu sehingga bersandar di kursi dan dengan segera wanita itu naik ke pangkuannya
tanpa basa basi wanita itu mencium leher laki-laki itu, bahkan meninggalkan jejak di sana. refleks laki-laki mendorong tubuh wanita itu sehingga wanita itu terjatuh ke lantai.
"kasar banget sih jadi cowok" wanita itu marah dan sangat kesal
laki-laki itu langsung berdiri saat melihat Kevin sudah tidak ada di tempatnya tadi. ingin sekali rasanya dia memaki wanita yang ada di lantai itu namun percuma saja. tanpa mendengarkan ocehan dan makian dari wanita itu, dia bergegas keluar untuk mencari Kevin.
"sial, kehilangan jejak gue"
tanpa pikir panjang dia naik ke atas motornya untuk mencari Kevin. sayangnya Kevin sudah tidak ditemukannya meskipun sudah menyusuri sepanjang jalan.
di gelapnya malam, seseorang berjalan menuju suatu tempat. gema sepatu yang dipakainya terdengar di tempa sunyi dan sepi itu.
__ADS_1
kreeeek
pintu gudang dibukanya, di dalam sudah ada beberapa orang yang tubuh mereka terikat dengan tali. mereka semua adalah laki-laki dan juga satu orang wanita yang juga terikat dan mulutnya di lakban.
klak
klak
lampu dinyalakan sehingga tempat itu yang tadinya gelap menjadi lebih terang.
"halo" ucapnya dengan senyuman tipis dibibirnya
"brengsek, elu ngapain ikat kami bajingan" saat melihat wajah orang yang menyekap mereka, salah satu dari mereka langsung naik pitam
"tanyakan pada dirimu kenapa aku berniat seperti ini" jawabnya melangkah ke arah wanita yang sedang menatapnya tajam
"lepasin bangsat, gue benar-benar akan membunuhmu" teriaknya
"ck ck ck, Ardian.... Ardian, dalam keadaan seperti ini masih bisa juga elu menggonggong" dia tersenyum mengejek
yang dia sekap adalah Ardian dan juga teman-temannya. seorang wanita yang bersama mereka adalah kekasih dari Ardian, bukan Melan sepupu Faiz melainkan adalah wanita lain.
"halo cantik" dia membelai wajah wanita itu
"mmmm...mmmm" wanita itu menatap benci ke arah laki-laki yang berada di depannya itu
"kenapa sayang, kaget ya melihat aku...?" dia tersenyum licik
"tadinya aku ingin bermain-main dengan kamu di tempat yang romantis, tapi ternyata kamu malah memilih tempat yang seperti ini" dia memperbaiki rambut wanita itu dan mengendus lehernya
"wangi sekali tubuhmu, aku yakin darahmu juga pasti lebih wangi" ucapnya dengan senyuman menakutkan.
wanita itu menggeleng kepala, dia memberontak namun sayang ikatan itu sangat kuat sehingga sebesar apapun usahanya, itu hanya akan sia-sia saja.
"jauhi dia brengsek" Ardian berteriak marah
"ck, pacarmu ribut sekali" dia berdiri dan mendekati Ardian dengan balok yang ada di tangannya
"sebelum gue bermain-main dengan pacarmu, sepertinya bermain dengan kalian terlebih dahulu adalah hal yang menyenangkan"
"mau pilih yang mana, kaki kanan yang patah duluan atau kaki kiri...?"
"tolong jangan apa-apakan kami. kami minta maaf" teman-teman Ardian sudah merengek ketakutan
"harusnya sebelum menyerang orang, cari tau dulu bagaimana dia aslinya. bisa saja kan salah satu dari mereka adalah seorang..... psikopat" dia tersenyum menyeringai
"harusnya gue bunuh elu waktu itu" Ardian sungguh sangat geram
"DIAM KAMU"
bughhh
"aaaggghh"
balok kayu itu menghantam tubuh Ardian. yang lain gemetaran dan sangat ketakutan. beberapa kali Ardian dipukul dengan kayu besar itu, kini kepalanya sudah mengeluarkan darah segar.
"siapa lagi yang ingin seperti dia...?"
"jangan, tolong kami mohon ampuni kami. kami minta maaf"
"maaf...?" cuih. dimana keberanian kalian saat dengan sombongnya kalian datang menyerang kami"
"lihat, karena ulah kalian wajahku jadi memar seperti ini dan kalian harus membayarnya dengan lebih. kalau perlu dengan nyawa kalian saja"
"t-tidak... tolong jangan bunuh kami"
"terlambat brother"
bughhh
bughhh
aaaggghh
buaaaak
buaaaak
dia menghajar satu persatu dari mereka semua. kepala, wajah sudah penuh dengan darah dan bahkan kini kaki kiri Ardian telah patah karena dihantam benda keras itu.
"yang cocok menjadi sampah itu adalah elu" dia menarik rambut Ardian. mata Ardian sudah tidak terlihat karena sudah berlumuran dengan darah
"malam ini, Malaikat maut akan menjemput kalian semua" ucapnya dengan senyuman puas telah menyiksa mereka
dia mengambil tali kemudian mengikat ke leher Ardian dan juga teman-temannya. wanita tadi terus memberontak dan menggeleng kepala. tidak ada yang bisa dia lakukan selain hanya menonton saja.
setelah mengikat tali dileher mereka, satu persatu tubuh itu dia tarik ke atas. dengan kaki yang terus memberontak dan leher yang luar biasa sakit karena tarikan tali yang membuat mereka seketika sesak nafas hingga akhirnya Ardian dan semua teman-temannya tidak bernafas lagi.
dia kemudian melangkah mendekati wanita tadi yang menangis melihat Ardian sudah tidak bernyawa lagi. lakban wanita itu dibukanya, sumpah serapah keluar dari mulut wanita itu.
"kamu memang brengsek, bajingan" teriaknya dengan nafas memburu
"sudahlah, sebentar lagi kamu akan menyusul mereka Viona sayang"
wanita itu adalah Viona, mantan kekasih Mahendra yang sebenarnya dekat dengan si pembunuh.
"ternyata kamu ini wanita murahan. pantas saja Mahendra tidak ingin kembali lagi padamu" ucapnya
"bukannya kamu bilang suka padaku kan, maka lepaskan aku. aku akan melayanimu sepuasnya, kamu ingin bermain denganku bukan" Viona membujuk
"siapa yang bilang aku suka padamu. bukankah kamu yang mengejar-ngejar aku bahkan menjelek-jelekan Mahendra di depanku...?"
"kamu ingin dilepaskan...?"
__ADS_1
"iya, aku mohon lepaskan aku. aku akan melayanimu dengan baik dan memuaskan dirimu"
"baiklah, maka kita akan bermain" terbentuk seringai kecil di bibirnya
dia kemudian mengendus leher Viona dan bahkan menjilatnya. Viona mengeluarkan suara ******* membuat laki-laki itu tersenyum tipis.
dia bermain-main di leher Viona, bahkan kini posisinya berpindah tempat ke belakang wanita itu. Viona menikmati permainan laki-laki itu, tubuhnya menegang tatkala tangan laki-laki itu sudah meraba bagian dadanya.
"kamu suka sayang...?" bisiknya di telinga Viona
"iya" nafas Viona kian memburu
"kita ke permainan inti" ucapnya
Viona mengikuti setiap permainan hingga kemudian nafasnya tercekat dan lehernya terasa sakit karena tertarik dengan tali yang di lilitkan di lehernya.
"ugh....gghhhh" Viona ingin berteriak namun sama sekali tidak bisa
"kenapa wajahmu seperti itu, bukannya tadi kamu menyukai permainan ku hemm" dia semakin kuat menarik tali yang melilit leher Viona
"aku tidak suka diusik. aku paling benci ada wanita yang tanpa malu mengejar ingin dijadikan kekasih olehku. kesalahanmu hanya karena kamu membuat hidupku terganggu Viona, andai kamu bersikap manis mungkin ajal masih akan lama menjemputmu"
"aku paling tidak suka pengganggu"
saat itu juga tubuh Viona berhenti bergerak, lidah wanita itu keluar bahkan matanya melotot tanpa tertutup.
setelah semua korbannya mati, dia pergi meninggalkan tempat itu dengan beberapa mayat yang ada di dalam gudang.
seseorang yang mengikuti Kevin tadi kembali ke kost 010. dia melihat masih ada mobil Mahesa di sana. segera dia mendekati mobil itu dan mengetuk kacanya.
Mahesa membuka kaca mobilnya dan saat melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya, dia segera menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"bagaimana...?" tanya Mahesa
Mahesa dan Cakra masih terjaga sedangkan Zulfikar sudah tidur di bagian tengah.
"gue kehilangan jejak, semua gara-gara wanita di bar tadi" ucapnya dengan kesal
"jadi elu nggak bisa menemukannya...?" tanya Cakra
"nggak, karena capek akhirnya gue memutuskan untuk pulang siapa tau kan dia sudah pulang. apa kalian tidak melihatnya dia pulang...?" tanyanya
"sejak kami di sini, setelah kepulangan Olan dan Wili, belum ada juga yang masuk ke dalam kost ataupun yang keluar" jawab Mahesa
"lalu kemana dia...?" gumamnya
"apa saat elu mengikutinya, dia hanya pergi ke bar...?" tanya Mahesa
"iya, dia sedang dalam suasana hati tidak baik. tadi dia izin keluar untuk bertemu teman namun ternyata dia malah ke bar. dan sekarang gue nggak tau dimana dia" dia sangat kesal karena kehilanganmu jejak Kevin
"kalian tau, tadi siang dia hampir membunuh seseorang yang melukai tangannya. untungnya Alan menahan sehingga tangan Alan yang terluka"
"kita harus terus mengawasinya" jawab Cakra
"lalu bagaimana dengan yang ada di foto itu, apakah dia tidak keluar...?" tanyanya
"sejak tadi kami di sini, tidak ada yang keluar dari kost" jawab Mahesa
"baiklah kalau begitu gue masuk dulu" dia kemudian keluar dari mobil Mahesa dan menuju kost 010
bahkan saat adzan subuh berkumandang, ketiga polisi itu masih tetap berada di tempat itu. mereka tidur bergantian dan saat yang lain tidur maka satu orang akan berjaga. sayangnya sampai adzan subuh tidak ada satupun seseorang yang keluar dari kost 010.
pagi menjelang, ketiga polisi itu memutuskan untuk pulang. namun belum juga sampai di rumah mereka, mereka mendapatkan laporan dari kantor polisi bahwa ada penemuan mayat di salah satu gudang yang letaknya berada di tempat yang sepi.
Mahesa tancap gas langsung ke tempat kejadian, mereka bahkan sudah berjaga di depan kost namun masih saja ada penemuan mayat. dengan tubuh yang lelah karena kurang tidur, ketiganya harus fokus dalam mengerjakan kewajiban.
penemuan mayat itu kini menghebohkan dunia maya dan juga menjadi berita di televisi. kini masyarakat sangat heboh, takut untuk keluar rumah jangan sampai pembunuh berdarah dingin itu bertemu dengan mereka.
beberapa masyarakat mencap polisi yang lelet dalam mengurus kasus pembunuhan itu. bahkan sampai sekarang pelakunya belum juga tertangkap.
sementara di kost 010, mereka tidak kalah heboh dengan masyarakat lain. Mahendra sampai menjatuhkan gelas minumannya saat melihat siapa korban wanita yang tewas itu.
dirinya sangat kaget dan bahkan tubuhnya hampir ambruk ke lantai. untungnya Danil menahannya dan membawanya duduk di kursi.
"itu kan Ardian dan teman-temannya yang menyerang kita kemarin" ucap Rahim
"astaga, mereka semua mati" Alan begitu terkejut
"Viona" Mahendra sangat terpukul
"elu kenal wanita itu Hen...?" tanya Damar
"dia...mantan kekasih gue" jawab Mahendra lesu
"sabar bang" Danil mengelus punggung Mahendra
"siapa yang tega membunuh mereka, ya Allah sadis banget" ucap Faiz. Melan pasti akan sangat terpukul melihat berita itu, pikir Faiz.
"assalamualaikum"
lamunan mereka dibuyarkan dengan kedatangan Kevin. laki-laki itu baru saja pulang sejak semalam dia keluar.
"baru pulang lu Vin...?" tanya Damar
"iya" jawab Kevin duduk di kursi
"semalam elu tidur dimana...?" tanya Damar
"di rumah teman. wajah kalian kenapa tegang seperti itu...?" tanya Kevin menatap mereka semua
melihat Kevin, Randi jadi mengingat apa yang ditemukannya di kamar temannya itu. seketika tangannya terkepal kuat dan tatapan penuh kebencian terpancar di wajah Randi.
"bangsat lu Vin"
__ADS_1
buaaaak
tanpa aba-aba Randi langsung melayang pukulan ke wajah Kevin hingga Kevin terjungkal ke belakang dan jatuh dari kursinya.