Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 55


__ADS_3

"gimana...? Angga bertanya saat Mahesa masih nampak sibuk menghubungi adiknya


"nggak aktif, nanti lagi aja gue hubungi. sekarang kita ke TKP"


"selesai dari TKP kita jenguk Damar ya, gue pengen liat keadaan dia" ucap Cakra


"boleh" jawab Mahesa


mereka bertiga meninggalkan kantor polisi menuju ke TKP. mereka menggunakan mobil Mahesa agar tetap bersama ke tempat tujuan.


"Mahendra bilang dia dan Randi bertemu gadis itu dengan si pelaku di jalan lain. hingga akhirnya pelaku itu membawa Jasmine di jalan ini dan membunuhnya di sini" Mahesa menjelaskan


"menurut yang mengenal Jasmine, wanita itu semalam baru saja pulang dari ulang tahun sahabatnya. sepertinya si pelaku menghadangnya di jalan hingga Jasmine melarikan diri dan bertemu Mahendra dan Randi" timpal Angga


"dimana tempat dia tinggal...?" tanya Mahesa


"di jalan Anggrek, masuk gang" jawab Cakra


mereka telah mencari setiap data mengenai Jasmine. tempat tinggal, keluarga dan juga teman-teman terdekat wanita itu.


"bisa jadi pelaku menghadang korban di jalan menuju ke rumahnya"


"berarti Jasmi di hadang di gang tempat tinggalnya"


"kita ke sana sekarang, kita akan memeriksa cctv"


ketiganya meninggalkan TKP menuju ke jalan Anggrek daerah tempat tinggal Jasmine.


"kenapa Zulfikar sampai sekarang belum bisa dihubungi juga. kemana sih ini anak" Angga sedang mencoba menghubungi Zulfikar


"biarkan saja, mungkin dia punya urusan yang mendadak" Mahesa melihat Angga di spion gantung


"tapi sejak semalam dia nggak bisa dihubungi Hes, jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya lagi" ucap Angga


"bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya seperti yang dialami Damar" ucap Angga lagi


"pembunuhnya kan semalam mencari korban Ngga, dan akhirnya Jasmine yang jadi mayat hari ini. jangan berpikir aneh-aneh dulu. mungkin benar apa yang dikatakan Mahesa, Zulfikar punya kesibukan" Cakra menimpali, ia duduk di samping kemudi


mereka sampai di jalan Anggrek, ketiganya langsung memeriksa apakah ada cctv di tempat itu. di jalan raya memang ada namun saat masuk gang jelas sudah tidak ada.


Cakra bertugas mencari rekaman cctv sementara Mahesa dan Angga menunggunya di mobil.


"bagaimana dapat...?" tanya Angga


"dapat, sekarang kita cari di tempat lain. jalan ini dengan jalan Anggrek menempuh perjalanan lumayan jauh. bisa jadi Jasmine dan pelaku terekam cctv di jalan yang mereka lalui" Cakra menjawab


"baiklah, kita telusuri lagi jalan yang mereka lalui" ucap Mahesa, mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan jalan Anggrek


hari ini penghuni kost 010 sedang membersihkan massal di kost. setiap masing-masing orang bertugas untuk membersihkan tempat tinggal mereka itu.


sebenarnya mereka hanya akan membersihkan kamar yang akan di tempati oleh Robi. namun melihat keadaan kost yang perlu di rapikan, mereka semua sepakat untuk bersih-bersih.


mulai dari mengepel, menyapu di dalam, di halaman depan dan halaman belakang, menata ulang dapur, mengumpulkan semua sampah-sampah yang tidak perlu bahkan membasmi sarang laba-laba yang mulai banyak di langit-langit setiap kamar.


Rahim bertugas mencuci piring dan memasakkan untuk adik-adiknya. hari ini mereka lengkap, tanpa ada yang harus ke kampus atau pergi bekerja.


"ada korek nggak bang...?" Alan menanyakan korek api kepada Olan


"nggak ada, gue kan nggak merokok Al. minta sama bang Rahim sana, di dapur" Olan menjawab


"ya sudah, Alan ke dalam dulu ya"


Alan, Iyan dan Olan, mereka berdua mendapat tugas membersihkan halaman belakang kost. di halaman depan adalah Mahendra, Danil dan Randi. di dalam di lantai bawah ada Faiz, dan Riki, d lantai atas, Robi sendiri di lantai atas.


"kenapa Al...?" Randi bertanya saat melihat Alan kembali


"mau ngambil korek gas" jawab Alan yang berlalu masuk


mereka semua bahu-membahu membersihkan kost 010. Robi yang berada di lantai atas setelah menyapu, ia lanjutkan dengan mengepel. di balkon pun ia bersihkan. langit-langit kost ia bersihkan menggunakan sapu ijuk yang dipegangnya.


pekerjaannya pun telah selesai, saat hendak turun dirinya tidak sengaja menendangnya sesuatu.


"lah, apa ini...?" Robi mengambil benda itu, gardus yang dibuat seperti paket


"paket siapa yang di simpan di sini" gumamnya


merasa itu adalah pemilik salah satu dari mereka, Robi turun ke bawah dengan membawa gardus itu. di lantai bawah Faiz dan Riki sedang duduk istirahat di kursi di ruang utama, Robi menghampiri mereka.


"apa itu Rob...?" tanya Faiz ketika melihat Robi datang dengan sebuah gardus di tangannya


"nggak tau, gue nemu di balkon. ini kayaknya paket, tapi siapa yang punya dan malah nyimpan di balkon" Robi menyimpan benda itu di atas meja


"punya penghuni atas mungkin itu, kalau bukan punya elu ya diantara bang Mahendra, Danil, Alan sama bang Iyan" Riki menimpali


"kalian sudah selesai...?" Rahim menghampiri mereka


"sudah bang" jawab Robi


"panggil yang lain kalau begitu, kita sarapan dulu" perintah Rahim


"biar gue yang panggil" Riki beranjak dari tempat duduknya

__ADS_1


"paket siapa ini...?" tanya Rahim saat melihat gardus itu di atas meja


"nggak tau bang, gue nemuin ini di balkon" Robi menjawab


"mungkin punya yang lain" ucap Rahim


setelah dipanggil oleh Riki, mereka kini akhirnya berkumpul di dapur di meja makan. karena memang telah lapar, satu persatu mengambil makanan dan juga lauk lalu memakannya dengan lahap.


"masakan bang Riki emang nggak pernah nggak bikin klepek-klepek" Randi mengangkat kedua jempolnya


"elu mah, di kasi apa aja pasti doyan" Iyan mencibir


"hehehe" Randi cengengesan


"oh iya, gue tadi lihat paket di atas meja. itu paket siapa...?" tanya Mahendra


"itu gue yang nemuin di balkon. emang bukan punya salah satu dari kalian semua ya...?" Robi menatap teman-temannya dan mereka kompak menggeleng


"lah terus kalau bukan punya kalian lalu punya siapa dong...?" tanya Robi


mereka semua saling pandang, pikiran negatif mulai menjalar di otak masing-masing.


"jangan-jangan itu...."


"sudah-sudah, makanlah dulu nggak memikirkan yang nggak-nggak. nanti paketnya kita buka, sekarang kenyangkan perut kalian dulu" Rahim memotong ucapan Danil


setelah makan, mereka kembali ke ruang utama dimana paket yang ditemukan oleh Robi masih tersimpan rapi di atas meja.


"kira-kira isinya apa ya...?" ucap Randi


"jangan-jangan tikus kayak itu hari ini yang dibuka sama Danil" ucap Alan


"penasaran nih gue, kita buka ya" Iyan mengambil paket itu


"tunggu bang" Mahendra menghentikan Iyan


"kenapa...?" tanya Iyan


"kita tunggu bang Rahim saja dulu" Mahendra menjawab, Rahim masih di dalam kamarnya


"kelamaan, buka sekarang aja kenapa" ucap Robi


"biar bang Rahim yang buka" Olan sepakat dengan Mahendra untuk menunggu abang tertua mereka itu


setelah beberapa menit menunggu, Rahim datang juga dengan wajah yang segar karena sepertinya laki-laki itu baru saja membersihkan dirinya.


"hari ini kalian nggak ada jadwal kampus...?" Rahim bertanya setelah duduk di kursi


"sebenarnya sih gue ada, tapi nggak masuk karena dosennya ada urusan lain" timpal Mahendra


"kalau Danil diganti sama hari lain, jadi hari ini free" ucap Danil


"elu Yan, Lan, kalian nggak kerja...?" Rahim mengalihkan pandangan ke arah Iyan dan Olan


"gue sih izin bang, nanti besok baru masuk" Olan menjawab


"kalau gue sengaja nggak masuk, mau istrahat dulu sehari" jawab Iyan


"kalau gitu kita jalan-jalan keluar, sekalian beli bahan-bahan dapur yang sudah habis dan isi kulkas"


"kalau belanja seperti itu berarti kita patungan kan bang...?" tanya Robi


"iya, 100 rb perorang" jawab Rahim


"kalau gitu kita mandi dulu lah, masa iya keluar mau keringat begini bisa lari para gadis-gadis cantik" Faiz berkata sambil mencium bau tubuhnya


"terus paket ini gimana...?" tanya Riki


"nanti saja, simpan saja di sini" jawab Rahim


selain Rahim, mereka semua ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. sambil menunggu adik-adiknya selesai mandi, Rahim memutar televisi untuk melihat siaran berita.


"kali ini masyarakat dihebohkan lagi dengan penemuan mayat di jalan mawar. mayat seorang wanita yang identitasnya bernama Jasmine Halley. saat ditemukan, kondisi mayat itu sangat mengerikan, tempurung kepalanya pecah dan otaknya berceceran dimana-mana. sampai sekarang polisi masih mengusut kasus pembunuhan ini. banyak masyarakat yang berasumsi bahwa itu adalah perbuatan seorang psikopat namun ada juga sebagian yang menganggap itu adalah pembunuhan biasa"


"psikopat Wili Alfiansyam telah ditangkap dan dihukum satu tahun yang lalu. jika memang pembunuhan itu adalah perbuatan seorang psikopat, lalu siapa kali ini yang menjadi pelakunya...? sampai sekarang polisi masih terus mencari bukti yang kuat dan petunjuk untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok misterius yang bersembunyi di balik maskernya"


Rahim fokus melihat berita yang ditayangkan di televisi.


"kalau benar-benar psikopat, lalu siapa lagi pelakunya" gumam Rahim


"bang"


"astaghfirullah" Rahim kaget saat Olan memanggilnya


"maaf bang" Olan meminta maaf telah membuat Rahim kaget


"nggak apa-apa, gue saja yang terlalu fokus melihat berita" jawab Rahim


Olan mengalihkan pandangan ke arah televisi yang masih menampilkan berita pembunuhan.


"psikopat..?" ucap Olan

__ADS_1


"banyak yang berasumsi seperti itu" Rahim mematikan televisi


"kalau ternyata memang pelakunya adalah psikopat, bagaimana tanggapan abang...?" Olan menatap lekat Rahim


"gue nggak akan bertanggapan apapun" Rahim mengarahkan pandangan ke arah adik-adiknya yang lain dimana mereka semua datang menghampiri dirinya dan Olan


"sudah siap semua kan...?" tanya Rahim


"sudah bang. tapi ya bang kalau cuman pergi belanja kebutuhan dapur, kenapa kita perginya jam segini, baru juga jam 10 pagi" Randi melihat jam tangan miliknya


"nggak apa-apa, paling nggak kerasa waktu juga sudah akan sore. ayo berangkat" Rahim mendahului mereka


sebelum ketempat tujuan, mereka semua mengunjungi makam Kevin dan Wili. di TPU yang jauh dari kost, kini mereka telah tiba di tempat itu dengan dua kantung bunga untuk kedua sahabat mereka.


"assalamualaikum sahabat, kami datang lagi menjenguk kalian" ucap Rahim


mereka mengelilingi dua kuburan itu, tertulis di batu nisan Kevin Aprilio dan Wili Alfiansyam.


mereka mencabut rumput-rumput yang mulai menjalar di tempat terakhir kedua sahabat mereka.


"bang Wili, Alan kangen. abang kangen juga nggak sama kami di sana...?" mata Alan sudah berembun


"abang bagaimana kabarnya...? semoga bang Wili dan bang Kevin bahagia di sana ya" lanjut Alan dengan lirih


"ini kuburan siapa...?" tanya Riki yang memang belum tau


"sahabat kami, Wili dan Kevin" jawab Mahendra


"andai kuburan Damar ada di sini juga, sayangnya dia jauh di kota lain" lanjut Mahendra memegang nisan Kevin


"Vin, gue masih sering nonton sampai larut malam. filmnya bagus-bagus, sesuai selera elu. bahagia disana ya, gue selalu mendoakan elu di sini" Randi memeluk nisan Kevin


"mereka berdua pasti orang-orang baik sampai kalian semua begitu merindukan mereka" Riki dapat melihat kerinduan dimata semua orang di tempat itu


"sangat, mereka sangat baik" Iyan menjawab cepat dan menaburkan bunga di atas kedua kuburan sahabat mereka


setelah menabur bunga, mereka mengirimkan doa untuk Kevin dan Wili. meskipun sebenarnya masih ingin berlama-lama di tempat itu, namun waktu terus berjalan. mereka harus ke tempat selanjutnya.


"sampai jumpa lagi sahabat, kami akan datang lagi lain waktu" Mahendra menatap sendu kedua nisan sahabatnya


selesai mengunjungi Kevin dan Wili, kini mereka akan traveling mencicipi setiap makanan khas di kota itu. Randi bersorak riang karena memang dirinya yang hobi makan, mendengar akan makan enak, diapun langsung bersemangat 45.


meninggalkan TPU dengan kendaraan yang mereka bawa, kini squad 010 telah berada di sebuah rumah makan yang banyak dikunjungi banyak orang. makanan yang banyak tersedia di atas meja. padahal saat berangkat mereka baru saja selesai makan, namun rupanya melihat makanan yang begitu menggoda untuk disantap, mereka langsung melahap satu persatu.


selesai makan, kini mereka mencari sebuah kafe yang hits di kota itu. jarak yang akan ditempuh dari rumah makan lumayan jauh sekitar 30 menit. dengan motor, mereka membelah jalan raya.


saat tiba di cafe memang benar banyak orang-orang yang tertarik dengan tempat santai itu. squad 010 memesan minuman dan bersantai sejenak di cafe tersebut.


cukup lama mereka bersantai hingga akhirnya mereka memutuskan untuk belanja ke mall sekaligus belanja keperluan kost. masing-masing dari mereka mengumpulkan uang kepada Rahim sebanyak 100 rb perorang.


saat keluar dari cafe tidak sengaja mereka bertemu dengan beberapa orang yang mengenal Robi.


"hey Robi.... ketemu lagi brengsek" Zohir bersidekap di depan Robi, Mahendra maju dan membentengi Robi


"haish....elu lagi" Zohir tersenyum mengejek


"gawat ini" ucap Riki


"gawat kenapa Rik, elu kenal sama mereka...?" Olan bertanya


"yang pakai jaket hitam itu namanya bang Zohir teman kost bang Robi dulu. kemarin saat membantu bang Robi pindah, mereka bersitegang, jangan sampai bang Zohir dendam sama bang Robi dan bang Mahendra" Riki menjawab


"kami nggak punya urusan sama elu bang, sebaiknya jangan halangi jalan kami" Mahendra menatap Zohir dengan tatapan dingin


"heh, elu sebaiknya minggir....gue punya urusan sama dia bukan sama elu" Zohir mendorong Mahendra


"oi men, jangan main kasar dong" Iyan maju dan mendorong Zohir untuk menjauh dari Mahendra dan Robi


"woaaaah... punya pasukan sekarang lu ya Rob" Zohir bertepuk tangan


"Zohir, jangan cari masalah. ini tempat umum" salah satu temannya mengingatkan


"diam lu" Zohir membentak temannya itu


"cari gara-gara lu ya" Zohir menggulung bajunya


"bang Iyan, hati-hati" Danil takut Iyan dilukai


Zohir yang baru saja akan menyerang langsung mendapatkan tendangan bebas dari Rahim. laki-laki itu tersungkur ke tanah dengan memegang perutnya yang sakit.


"bawa teman kalian atau gue buat dia babak belur" Rahim memerintahkan teman-teman Zohir


"brengsek, gue akan buat perhitungan sama kalian semua" Zohir begitu tidak terima dipermalukan di tempat banyak orang


"makasih bang" ucap Robi


"kita pergi" Rahim mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu


rupanya pemikiran mereka tentang Zohir dan teman-temannya yang meninggalkan tempat itu salah besar. mereka mengikuti squad 010 dan menghadang mereka di jalan.


"ini seperti Dejavu" gumam Mahendra saat Zohir sudah siap dengan kayu balok di tangan mereka

__ADS_1


__ADS_2