Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 37


__ADS_3

pertemuan Mahendra dengan kedua polisi itu berakhir setelah mereka sepakat dengan apa yang telah direncanakan. Zulfikar dan Mahesa telah pulang lebih dulu sementara Mahendra masih di tempatnya dan mengirim pesan kepada grup squad 010.


Mahendra : gue punya kabar berita buat kalian semua


setelah mengirim pesan, Mahendra melangkah keluar dari cafe. minuman mereka telah dibayar oleh Mahesa sebelum mereka pulang tadi.


Mahendra memilih singgah di masjid untuk sholat magrib karena memang sudah waktunya. setelah sholat dia tidak langsung pulang melainkan masih bertahan di tempat itu.


bukan hanya dia yang berada di masjid melainkan ada beberapa bapak-bapak yang sedang berbincang-bincang dan juga anak-anak yang sedang belajar mengaji dengan seorang ustad.


Mahendra memilih duduk sedikit menjauh dan mulai memeriksa ponselnya. mungkin saja ada balasan dari teman-teman kostnya dan memang benar kalau pesan itu mereka balas.


Randi : kabar apa bang...?


Rahim : kabar tentang apa Hen...?


Alan : tentang bang Kevin yang bang Hen...?


Iyan : ada apaan sih...?


Olan : ada apa Hen...?


Faiz : heboh banget


Damar : tentang...?


Mahendra belum menjawab, masih ada satu nama yang belum membalas pesannya. hingga beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi.


Wili : baik apa buruk...?


Mahendra : kalian semua dimana sekarang...?


1 detik


2 detik


3 detik


ting


ponsel Mahendra kembali berbunyi, segera dia membaca pesan yang masuk.


Olan : masih di kantor


Iyan : masih di cafe, ganti teman yang nggak masuk


Alan : di kost bang


Rahim : gue, Alan, Danil, Faiz ada di kost. yang lain masih di luar


Damar : gue ada misi. bentar baru pulang


Wili : masih di luar


Mahendra : gue udah menemukan petunjuk siapa salah satu dari kita yang menjadi dalang dari kasus pembunuhan itu


Faiz : seriusan lu...?


Danil : siapa bang...?


Iyan : yang benar lu Hen, siapa orangnya biar gue hajar sekalian. beraninya menghilangkan nyawa teman kita. pengen gue bunuh sekalian biar dia nyusul Damar yang sudah di surga. tapi untuk pembunuh seperti dia, cocoknya di neraka jahanam


Mahendra dapat membaca pesan Iyan yang begitu berapi-api. sepertinya abangnya itu sangat geram dan ingin sekali menghajar si pembunuh. namun bisa saja itu semua adalah drama yang dia lakukan padahal sebenarnya dia pelakunya meskipun Mahendra belum tau pasti siapa pelaku sebenarnya.


Rahim : elu dimana sekarang. sebaiknya pulang dan beritahu kami


Olan : jadi...?


Damar : gue penasaran. seperti apa wajah iblis yang selama ini berlindung dibalik wajah malaikatnya


Alan : pulang bang, Alan ingin dengar langsung


Wili : oh ya...? hebat juga lu ya


Randi : katakan bang Hen, akan gue balas apa yang telah dilakukannya sebelum dia dijebloskan ke dalam penjara


Mahendra : gue masih di luar. tunggu gue pulang jam 1 nanti, gue akan beritahu kalian siapa dia sebenarnya


Danil : jangan pulang larut bang, Danil takut di kamar sendirian


Mahendra : di kamar bang Rahim aja dulu dek, jangan keluar kemana-kemana


hanya menunggu 1 jam lamanya, waktu isya pun tiba. lantunan adzan terdengar merdu di telinga Mahendra. dia menutup mata dan memohon kepada Tuhan agar apa yang direncanakan kali ini berjalan lancar dan dia serta teman-temannya dilindungi dari marabahaya.


setelah sholat isya Mahendra mendapatkan dua pesan dari teman kostnya.


Damar : temui gue di cafe tadi


Mahendra : ok


setelah membalas pesan Damar, dia kemudian Mahendra membaca pesan berikutnya.


Wili : dimana Hen...?

__ADS_1


Mahendra : di jalan kemaraya. kenapa Wil...?


Wili : nggak gue tanya aja. elu pulang jam 1 malam ngapain di jalan itu...?


Mahendra : nongkrong aja sama teman


Wili : gue mau tanya, elu tau darimana identitas asli si pembunuh...?


Mahendra : gue selidiki sendiri dan buktinya sekarang ada di tangan gue


Wili : jadi elu benar-benar tau sekarang siapa pembunuhnya...?


Mahendra : tentu, dan gue nggak akan melepasnya begitu saja.


tidak ada lagi balasan dari Wili. Mahendra kemudian bergegas menemui Damar yang sedang menunggunya di tempat dia bertemu dengan Zulfikar dan Mahesa.


sedangkan si pelaku setelah membaca pesan Mahendra, dia begitu kesal dan mengumpat. tangannya mengepal erat, sorot matanya tajam dan dia menggertakkan gigi-giginya.


"cari mati rupanya lu ya" ucapnya dengan dingin


praaang


dia membanting apa saja yang ada di depannya. dia masih berada di markas tempat persembunyian. setelah menyiksa Kevin, dia berencana untuk pergi namun saat membaca pesan Mahendra, seketika amarahnya membuncah. emosinya sudah di ubun-ubun dan dengan cepat dia kembali ke tempat penyekapan kedua korbannya.


Kevin masih terbaring lemah di pangkuan Maureen. dirinya tertidur pulas bahkan Maureen pun ikut terlelap. hingga keduanya dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar, pembunuh itu menendang pintu dengan kerasnya.


"bangun lu berdua" dia meneriaki Kevin dan Maureen


Kevin yang masih sangat lemah di bantu oleh Maureen untuk bangun dan duduk bersandar.


"gimana Vin, nikmat nggak permainan gue...?" dia duduk di hadapan Kevin dan tersenyum dingin


"cih" Kevin berdecak dan tersenyum sinis


"hanya pecundang yang menghajar lawannya dalam keadaan terikat" Kevin tersenyum mengejek


"pecundang...?" dia memperlihatkan wajah marahnya dan kemudian


"hahahaha" dirinya tertawa terbahak-bahak bahkan bertepuk tangan mendengar ucapan Kevin


"akan gue perlihatkan bagaimana pecundang ini menghabisi kalian berdua" dia menatap dingin ke arah Kevin dan Maureen


Maureen mulai menangis, dirinya menggeleng kepala. dia masih ingin hidup, bahkan kini tubuhnya bergetar saat melihat pembunuh itu memegang salah satu pisau kecil yang tajam dan menatap dingin ke arah keduanya.


"pasti menyenangkan kalau pisau ini perlahan menusuk ke jantung kalian" dia mendekati keduanya


"jadi, siapa yang lebih dulu gue iris telinganya...?"


"hai cantik, sepertinya bermain denganmu pasti menyenangkan" dia tersenyum menyeringai ke arah Maureen


"oh ayolah, permainanku pasti membuat merintih kesakitan dan menjerit meminta tolong. apa kamu tau aku paling suka wanita yang...." dia mendekat ke telinga Maureen dan membisikkan sesuatu


"memohon untuk aku lepaskan, apalagi kalau wajahnya sangat ketakutan seperti kamu" bisiknya dengan tertawa pelan


"jangan, aku mohon jangan" Maureen sudah terisak dan ketakutan


"jauhi dia bangsat, kalau elu mau bermain maka bermain dengan gue" Kevin menepis tangan si pembunuh dengan kasar dan dia membawa Maureen di belakang tubuhnya


"ck" dia menggeleng pelan dan


bughhh


satu pukulan mendarat di wajah Kevin. Maureen menjerit kaget dan menjauh. tidak sampai di situ, dia menendang tubuh Kevin beberapa kali dan bahkan menginjak kepala Kevin.


Kevin tidak sanggup melawan, tubuhnya sudah sangat lemah. namun dia sengaja memancing si pembunuh agar dia tidak menyentuh Maureen.


"lu tau Vin, hal yang paling gue benci adalah seorang pengusik dan perusuh seperti elu" dia menginjak kepala Kevin dengan kerasnya


"dan gue sangat puas melihat pengecut seperti elu yang ternyata kehidupannya lebih hancur daripada gue" Kevin masih bisa membalas meski keadaannya sudah tampak memprihatinkan


buaaaak


buaaaak


"aaaggghh....mati lu"


dia mengangkat Kevin dan membantingnya ke dinding. sungguh keadaan Kevin sekarang sangat mengenaskan.


"hentikan... tolong hentikan" Maureen berlari memeluk Kevin yang sudah babak belur bahkan sudah memuntahkan darah


"minggir kamu wanita ******" rambut Maureen ditariknya dan wanita itu di dorongnya sampai menjauh dari Kevin


"bangun lu, hadapi gue yang elu anggap pecundang ini" dia kembali mengambil cambuk dan mencambuk tubuh Kevin


teriakan Kevin menggema di lorong itu. sungguh penyiksaan yang sangat menyedihkan bagi Kevin.


Maureen yang hanya menangis langsung berdiri dan melihat di sekitarnya beberapa benda tajam serta alat-alat berat. dia melangkah mengambil kayu balok dan berjalan mendekat ke arah si pembunuh.


"berhenti kau psikopat iblis" Maureen berteriak dengan lantangnya


si pembunuh menghentikan aksinya mencambuk Kevin dan berbalik ke arah Maureen namun pada saat itu juga Maureen menghantam kepala pembunuh itu dengan kayu balok yang dipegangnya.


"aaaaa mati kamu"

__ADS_1


Maureen terus memukul dan sekarang pembunuh itu sudah tidak sadarkan diri. kepalanya mengeluarkan darah yang mengalir di lantai bilik itu.


Maureen menjatuhkan kayunya. tangannya dingin bahkan dia gemetaran. dia kemudian mendekati Kevin dan memeluk laki-laki itu.


"hey... bangun, kamu tidak apa-apa...?" Maureen menepuk-nepuk pipi Kevin


"hiks....hiks... bangun, tolonglah bangun. dia sudah aku habisi. sekarang kita bisa keluar dari sini" Maureen mulai menangis karena Kevin tidak meresponnya


"air...air" tampak Maureen melepas tubuh Kevin dan mengambil air yang berada di dekat si pembunuh


kemudian dia mendekat Kevin kembali dan menyiramkan air itu ke wajah Kevin.


"uhuk...uhuk"


"haaah syukurlah kamu sadar, kamu sadar. terimakasih Tuhan" Maureen kembali memeluk Kevin


"kamu baik-baik saja...?" tanya Kevin dengan sangat lirih


"jangan banyak bicara dulu. sekarang kita akan keluar dari tempat ini. kamu masih bisa berdiri kan...?"


"sebaiknya kamu saja yang pergi, aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan"


"nggak... nggak, aku nggak akan ninggalin kamu di sini. kita harus keluar berdua" Maureen menggeleng


"siapa namamu...?" Kevin menatap sendu Maureen


"Maureen, aku Maureen" Maureen menjawab dengan linangan air mata


"nama yang cantik sama seperti orangnya" Kevin tersenyum dan membelai wajah Maureen. dia menghapus air mata gadis itu


"jangan menangis"


"aku mohon kuatlah, aku nggak mau pergi tanpa kamu. aku nggak mungkin ninggalin kamu di sini sendirian" Maureen menunduk


"hey, lihat aku" Kevin mengangkat kepala gadis itu


"kalau kamu keluar, dan selamat. kamu bisa meminta tolong kepada siapapun yang kamu temui untuk datang menyelamatkan ku disini. aku akan bertahan sampai kamu kembali membawa bantuan"


"tapi..."


"ssssttt" Kevin menyimpan telunjuknya di bibir Maureen


"pergilah ke kost 010, di sana semua teman-teman ku. beritahu mereka bahwa aku di sini dan beritahu juga siapa pembunuhnya. dia adalah salah satu teman kost aku di asrama 010"


"itu kan kost tempat Mahendra"


"kamu kenal Mahendra...?"


"iya, dia teman kuliahku"


"bagus, maka beritahu dia dan semuanya. sekarang cepat pergi"


"nama kamu siapa...?"


"Kevin" dia tersenyum teduh ke arah Maureen


"Kevin, aku akan membawa bantuan ke sini. aku mohon bertahan sampai aku dan bantuan datang" Maureen memeluk Kevin


"iya, aku janji" Kevin membalas pelukan Maureen walau tubuhnya sangat sudah lemah


"aaaggghh" si pembunuh mengerang sakit memegang kepalanya


"pergi cepat, biar dia aku yang atasi" Kevin mendorong tubuh Maureen


"wanita sialan. akan aku bunuh kamu ******" dengan susah payah dia bangun


Maureen segera meninggalkan tempat itu. sebelum pergi dia mengambil ponsel si pembunuh untuk menerangi jalannya dan juga pisau kecil yang digunakan si pembunuh untuk menyakitinya tadi. dalam keadaan yang sangat gelap membuat dirinya begitu takut namun dirinya harus kuat karena ada Kevin yang sedang menunggunya untuk kembali.


bahkan dirinya kini tidak tau dia harus mengambil jalan yang mana karena tempat itu sangat berliku-liku. untuk mengetahui letak bilik tempat mereka di sekap tadi Maureen membuat tanda panah di setiap bilik yang dia lewati. dengan adanya tanda panah itu dia berharap saat kembali menyelamatkan Kevin mereka dapat menggunakan tanda panah itu sebagai petunjuk jalan.


"sialan" si pembunuh memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan


Kevin hanya memperhatikan temannya itu dengan tatapan dingin tanpa bersuara sedikit pun.


"dimana wanita itu...?" tanya dia kepada Kevin


"mana gue tau" jawab Kevin bersandar di dinding


"dimana gadis tadi brengsek" dia mencekik leher Kevin


Kevin sudah kesulitan bernafas, matanya sudah tampak memerah dan berair. cekikan si pembunuh membuatnya kesulitan untuk bernafas.


bughhh


dia membanting Kevin di dinding dan mengambil pisau tajam kemudian seketika mengiris pergelangan tangan Kevin.


"aaaggghh" Kevin teriak kesakitan


bukan hanya satu namun kedua pergelangan tangan Kevin diirisnya sehingga darah mengucur deras dari kedua pergelangan tangan Kevin.


"perlahan elu akan kehilangan darah dan mati mengenaskan. ckckck, Kasian sekali hidup lu Vin"


"selamat menyambut malaikat maut" dia berdiri hendak meninggalkan Kevin

__ADS_1


"elu pikir dengan membunuh gue bisa membuat elu bebas begitu saja" Kevin masih bisa tersenyum mengejek


"dengar baik-baik Wili Alfiansyam, hidupmu tinggal menghitung jam untuk menyusul semua korbanmu. sebelum terlambat gue mau ngucapin, selamat menanti malaikat maut" Kevin tersenyum sinis dalam keadaan kritisnya


__ADS_2