Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 23


__ADS_3

di dalam kost yang berlantai dua itu, semua penghuninya sedang sibuk dengan tugas masing-masing.


Rahim sedang memasak di dapur untuk dirinya dan juga adik-adiknya. dia dibantu oleh Mahendra. Alan, Danil dan Damar yang baru saja datang sebagai penghuni baru, sedang membersihkan kamar 10 yang nantinya akan jadi tempat peristirahatannya.


Wili, Randi dan Kevin sedang mengemas barang-barang milik Damar di kamar nomor 3. masih tercium harum parfum sahabat mereka itu. kini kenangan demi kenangan terlintas di pikiran ketiganya. ada rasa rindu yang tidak bisa digapai oleh mereka. sungguh rindu yang paling menyesakkan adalah rindu kepada seseorang yang telah tiada


rencananya semua barang itu akan mereka kirim di kota S, orang tua almarhum Damar. mereka memasukkan pakaian ke dalam koper dan beberapa buku serta barang lainnya di kemas di dalam dos.


untuk Olan dan Iyan, mereka keluar berbelanja. sudah lama mereka tidak belanja bulanan. semua penghuni kost mengumpulkan uang 100 rb perorang untuk membeli semua kebutuhan mereka selama sebulan. dari mulai sabun, beras dan makanan lainnya serta isi di dalam kulkas.


"bang Damar asli orang mana...?" tanya Alan


"gue berasal dari kota B" jawab Damar yang sedang mengganti lampu di kamar tersebut.


"Abang kok milih cari ilmu di sini, di kota B kan banyak universitas terkenal" timpal Danil yang sedang memegang kursi yang dinaiki oleh Damar


"pengen merantau di kota orang aja" jawab Damar turun


"thanks ya Dan" ucap Damar


"sama-sama bang"


"udah bersih deh, Abang harus betah yah tinggal di sini. Alan jadi teringat Abang Damar yang sudah pergi kalau ingat nama Abang" Alan kembali murung


"Al, elu bisa kok anggap gue sebagai pengganti almarhum Damar. meskipun gue nggak akan bisa seperti dia tapi gue akan melengkapi kalian dengan kedatangan gue" Damar mengelus punggung Alan


"makasih ya bang" Alan mulai berkaca-kaca


"bang, boleh peluk nggak...?" Danil sudah berlinang air mata saat mengingat sahabat abangnya itu


"tentu" Damar merentangkan tangannya


Alan dan Danil langsung memeluk Damar. mereka berdua kembali terisak saat mengingat kebaikan dan kenangan yang mereka lalui bersama almarhum Damar.


setelah merasa tenang, keduanya melepaskan pelukan dan menghapus air mata.


di dapur, Rahim dan Mahendra sedang sibuk memasak. Rahim membuat sambal sedangkan Mahendra menggoreng tempe.


"bang, nggak apa-apa ya kalau gue satu kamar dengan Danil...?" tanya Mahendra. hal ini baru saja ia tanyakan karena sejak kemarin-kemarin dirinya terus kelupaan


"nggak apa-apa. memang disini porsinya satu kamar dua orang, kecuali lebih dari dua orang udah nggak bisa" jawab Rahim


"syukurlah, gue kira nggak bisa. kalau nggak bisa rencananya Danil bakalan tinggal di kamar Damar saja karena kamar 10 sudah ada penghuninya"


"iya, dan penghuninya juga bernama Damar"


"nama dia jadi mengingatkan gue sama almarhum Damar"


"dia sudah bahagia di sana"


saat sedang sibuk memasak, pintu ruang utama di ketuk. Rahim dan Mahendra saling tatap. kalau misalkan Olan dan Iyan tidak mungkin mereka akan mengetuk pintu, paling mereka langsung masuk. berarti bukan kedua lelaki itu.


"siapa ya" ucap Rahim


"biar gue yang liat bang" Mahendra mematikan api kompornya


namun saat dirinya melangkah untuk melihat siapa yang bertamu malam hari, Randi sudah terlebih dahulu mendahuluinya sehingga Mahendra kembali lagi.


"siapa Hen...?" tanya Rahim


"nggak tau bang, Randi yang bukain pintu" jawab Mahendra


Randi membuka pintu dan di depannya berdiri dua orang laki-laki dewasa yang menatapnya dengan senyuman. Randi mengenal salah satunya namun laki-laki yang satunya tidak ia kenal dan baru melihatnya pertama kali.


"pak Mahesa, masuk pak" Randi mempersilahkan keduanya untuk masuk


Randi mempersilahkan duduk kemudian ia ke dapur memanggil Rahim dan Mahendra.


"bang Rahim, ada pak Mahesa di depan" ucap Randi


"pak Mahesa polisi itu...?" tanya Rahim


"iya bang, dengan temannya tapi gue nggak tau dia siapa. bukan pak Cakra dan pak Angga" jawab Rahim


"kenapa datangnya malam begini ya" Rahim yang sudah menyelesaikan pekerjaannya menuju ke ruang utama. Mahendra dan Randi mengikutinya


"selamat malam mas Rahim" sapa Mahesa dengan ramah


"malam pak. mohon maaf, ada apa ya...?" tanya Rahim


"boleh kumpulkan semua penghuni kost, saya ingin menyelidiki kasus kematian Damar" jawab Mahesa


"Ran, panggil yang lain di atas" perintah Rahim


"baik bang"


Randi berlalu untuk naik ke lantai atas, memanggil Alan, Danil dan Damar. setelah itu mereka turun ke bawah, sudah ada Wili dan Kevin. tinggal tersisa Olan dan Iyan yang belum juga pulang dari belanja.


"Olan dan Iyan kemana...?" tanya Rahim


"masih di luar pak" jawab Mahendra


"assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar


"nah itu mereka, panjang umur" ucap Kevin


"loh...kok rame, ada apaan ini...?" tanya Olan dengan beberapa kantung plastik belanjaan

__ADS_1


"simpan di dapur semua belanjaan kalian kemudian datang bergabung di sini" ucap Rahim


"baik bang" jawab keduanya


setelah menaruh kantung belanja, mereka berdua kembali ke ruang utama bergabung dengan yang lainnya.


"mohon maaf jikalau kedatangan kami berdua mengganggu kalian. saya hanya ingin tau kejadian saat ditemukannya mayat Damar pada malam Kamis kemarin" ucap Mahesa


sebelum melanjutkan ucapannya, Mahesa melihat ke arah Damar dan tatapan mata mereka bertemu. Damar tersenyum sedang Mahesa mengangguk.


"dia siapa...?" Mahesa menunjuk Damar


"dia Damar pak, penghuni baru di kost ini" jawab Rahim.


"nama yang sama dengan almarhum" ucap Mahesa


"iya pak, dengan adanya dia kami merasa tidak kehilangan meskipun sebenarnya dia bukan Damar yang dulu" Olan menimpali


"semoga betah di sini Damar, dan mudah beradaptasi" ucap Zulfikar


"tentu pak" jawab Damar


"baiklah kita mulai. siapa yang pertama kali menemukan mayat Damar...?" tanya Mahesa


"saya pak" Kevin unjuk tangan


"bisa jelaskan kronologisnya seperti apa...?" tanya Mahesa


"malam itu sudah pukul 23.00, kami masih berkumpul di ruangan ini"


"siapa saja yang berada di kost pada malam itu...?"


"gue, bang Rahim, bang Iyan, Danil, dan Alan. kalau Mahendra, bang Olan dan Wili mereka berada di luar"


"sebenarnya bang Iyan sih juga dari luar saat itu namun dia datang lebih awal sebelum penemuan mayat Damar"


"malam itu gue hendak keluar memasukkan motor yang belum di parkir di garasi. saat itu gue melihat seseorang yang terkapar di depan kost, tidak jauh dengan tempat gue berdiri. posisi mayat Damar saat itu dekat dengan pagar"


"terus...?"


"gue penasaran siapa yang malam-malam terbaring di tanah seperti itu. pas gue dekati ternyata itu....itu Damar, dia....sudah tidak bernyawa" Kevin merasa sedih saat kembali mengingat hal itu


"gue panik, panik banget. gue berlari ke dalam untuk memberitahu yang lain kalau ada mayat di depan"


"dan saat itu gue langsung menghubungi Mahendra, Olan dan Wili untuk segera pulang" kini Rahim yang berbicara


"apa sebelum meninggalnya Damar, ada yang sempat berkomunikasi dengannya...? tanya Zulfikar


"mas ini polisi juga ya...?" Wili bertanya


"jadi siapa yang berkomunikasi dengan Damar sebelum dia meninggal...?" Zulfikar bertanya kembali


"saya pak"


"saya pak"


dua orang angkat tangan, yaitu Mahendra dan Wili.


"dimulai dari kamu" Zulfikar menunjuk Mahendra


"saya berkomunikasi dengan Damar sejak siang hari Rabu kemarin. waktu Damar ingin mengatakan sesuatu kepada saya namun harus secara langsung karena hal yang ia ingin katakan sangat penting menurutnya"


"saya memaksa untuk mengatakannya saja lewat telepon tapi dia tidak mau. dia harus mengatakannya secara langsung dan dia bilang kami semua harus tau namun terlebih dahulu dia ingin memberitahu duluan kepada saya"


"karena saya mempunyai kegiatan pada malam hari di jalan cendrawasih, saya meminta untuk bertemu di sana jam 19.00 dan dia menyetujuinya"


"waktu itu saya menanyakan keberadaannya dimana dan dia menjawab sedang berada di sebuah kafe di depan kampus, menunggu malam untuk bertemu dengan saya"


"dia menunggu kamu di depan kampus sampai malam..?" Mahesa bertanya


"iya, saya memintanya untuk pulang namun dia enggan untuk pulang dan lebih memilih menunggu di kafe sampai malam" jawab Mahendra


"oke lanjut"


"sore hari kami masih berkomunikasi. saling berbalas pesan dan mengatakan saya akan segera berangkat ke jalan cendrawasih"


"dan dia juga mengatakan akan segera menyusul saya namun sampai larut malam dia tidak pernah datang sampai saya mendengar kabar kalau dia....telah meninggal"


"apa sebelum menghubungi kamu untuk bertemu, apakah kalian tidak sempat bertemu di kost ini...?" tanya Zulfikar


"kami bertemu pak. saat itu saya baru saja pulang dari kampus dan dia baru saja hendak pergi ke kampus" jawab Mahendra


"kamu tidak melihat sikap yang mencurigakan darinya...?"


"dia pada saat itu terlihat..... sangat terburu-buru bahkan hampir saja dia jatuh dari tangga, untungnya saat itu saya dapat menahan tubuhnya"


"dia terlihat sangat tidak nyaman dan matanya terus menampakkan kegelisahan. iya, saya dapat melihat itu dengan jelas"


"siapa yang berada di kost pada saat itu...?"


"hanya saya, Damar dan dia" Mahendra menunjuk salah satu penghuni yang lainnya


"kamu melihat tingkah laku yang aneh dari Damar...?" tanya Zulfikar kepada seseorang yang yang ditunjuk oleh Mahendra


"tidak pak, saya merasa dia sama seperti sebelumnya" jawabnya


"kamu bilang Damar baru saja dari lantai atas dan hampir jatuh dari tangga. apa kamar Damar berada di lantai atas...?" Mahesa bertanya kepada Mahendra

__ADS_1


"tidak pak, kamar Damar di lantai bawah. kama nomor 3"


"apakah waktu itu kamu pernah berada di lantai atas...?" Mahesa bertanya kepada seseorang yang ditunjuk oleh Mahendra tadi


"iya pak, saya sedang bersantai di balkon dan saat itu saya tidak melihat Damar dari lantai atas. saya bertemu dengannya dilantai bawah bersama dengan Mahendra" jawabnya


Zulfikar dan Mahesa saling pandang dan kemudian Zulfikar mencatat informasi yang mereka peroleh.


"sekarang saudara Wili. kamu bilang sempat berkomunikasi dengan Damar. pada siang hari atau malam hari...?" tanya Mahesa


"malam pak, kalau nggak salah setelah magrib. saya menanyakan flashdisk yang pernah dia pinjam"


"hanya itu saja percakapan kalian...?"


"saya juga menanyakan keberadaannya dan dia mengatakan sedang berada di depan kampus namun tidak mengatakan untuk bertemu dengan Mahendra" jawab Wili


"kalau berdasarkan dari cerita kalian, saya menyimpulkan kalau sepertinya Damar dihabisi di tempat lain kemudian mayatnya dibawah ke kost ini" ucap Zulfikar


"kok aneh ya, kalau Damar dibunuh di tempat lain terus kenapa mayatnya ada di sini" ucap Randi


"itu masih perkiraan, kami akan cari tau" jawab Zulfikar


"mengapa saya katakan demikian karena berdasarkan pernyataan saudara Mahendra, bahwa dia masih berbalas pesan dengan Damar bahwa dirinya juga sedang bergegas menuju ke jalan cendrawasih. saya rasa, dia dihabisi di perjalanan"


"kalau seandainya Damar dihabisi di kost ini, tentu kalian akan mendengar teriakan minta tolong"


"apa iya Damar korban begal...?" ucap Iyan


"kami belum memastikan itu, karena tidak ada sidik jari yang tertinggal di mayat Damar. semula bersih tanpa jejak" jawab Mahesa


"kalau Damar korban begal, darimana mereka tau kalau alamat Damar ada di kost ini" ucap Mahendra


"nah itu dia, nggak mungkin banget mereka tau" timpal Wili


"kenapa seperti pembunuhan yang terjadi dengan para korban wanita itu, bersih tanpa jejak" ucap Olan


"kami akan terus mencari tau. oh ya pagar kost ini jam berapa kalian kunci...?" tanya Mahesa


"kalau sudah jam 10 malam sih, pagar sudah kami kunci pak. palingan teman-teman yang dari luar membukanya dengan kunci yang mereka pegang sendiri" jawab Rahim


"maksudnya...?" Zulfikar mengangkat alisnya


"kunci pagar dan kunci ruang utama kami masing-masing memilikinya pak. jadi kalau salah satu dari kami larut malam baru pulang, kami tidak merepotkan penghuni lain untuk membukakan pagar dan pintu karena kami sudah mempunyai kunci masing-masing" jawab Rahim


"hummm begitukah" Zulfikar manggut-manggut, sudut bibirnya terangkat dan dia menatap Mahesa


"saya rasa cukup untuk hari ini. terimakasih atas waktu yang telah kalian berikan" Mahesa dan Zulfikar mulai beranjak


"udah mau pulang ya pak. makan dulu aja gimana pak, kebetulan kami baru saja telah selesai memasak saat kalian datang" Rahim menawarkan


"ah terimakasih banyak atas ajakannya tapi kami harus pulang. kami akan ke rumah sakit untuk menjenguk Angga" jawab Mahesa


"pak Angga belum sadar ya pak dari koma...?" tanya Alan


"belum, semoga saja dia cepat bangun"


semua mengaminkan harapan Mahesa namun disisi lain ada satu orang yang mendoakan kebalikan dari harapan itu.


"semoga cepat mati menyusul Damar" batinnya


Zulfikar memperhatikan setiap raut wajah penghuni kost 010. setiap gerak dan tatapan mata mereka sejak tadi terus ia perhatikan hingga tiba dirinya bertatapan langsung dengan si pelaku.


si pelaku tersenyum ke arah Zulfikar dan Zulfikar membalas senyuman itu. setelahnya kedua polisi itu berpamitan untuk pulang, meninggalkan kost 010.


"bang, Alan lapar" Alan mengusap perutnya


"ya sudah ayo kita makan" ajak Rahim


"ayo Dam, jangan malu-malu anggap saja bukan kost sendiri" ucap Randi


"ini memang bukan kost punya gue kali" jawab Damar


"hehehehe, siapa tau kan elu mau ngaku-ngaku" timpal Randi


"bang Damar nggak seperti bang Randi kali, sukanya ngaku-ngaku apalagi kalau sama cewek cantik. pasti langsung bilang dia pacar Abang" cibir Alan


"jangan bongkar aib napa Al" gerutu Randi


"kita udah tau kelles" ucap Mahendra


"ck...ck... ck, emang ada ya Ran, cewek yang suka sama cowok petakilan kayak elu" Iyan melihat Randi dari ujung kaki sampai ujung kepala


"Abang meremehkan gue, wah wah... sungguh terlalu" kesal Randi


"bukan meremehkan, hanya penasaran aja ada gitu cewek yang mau sala elu" timpal Iyan


"ada kok bang yang suka sama bang Randi, waria tapi. hahahaha" tawa Alan langsung pecah namun sedetik kemudian Alan terbatuk-batuk karena Randi memasukkan tempe ke dalam mulut Alan


"makan tuh tempe" kesal Randi


"hummm...maknyuuuus" Alan malah kembali mengejek dan Randi hanya cemberut


setelah makan malam mereka berkumpul di ruang utama. kali ini mereka bermain kartu. siapa yang kalah maka wajahnya akan dibalurkan dengan arang panci. mereka tidak mempunyai peralatan makeup sehingga menggunakan arang.


sepanjang permainan mereka terus tertawa dan wajah semuanya sudah di penuhi dengan warna hitam.


Kevin mengabadikan momen itu dengan memvideo mereka semua dan mereka juga mengambil beberapa gambar yang akan dijadikan sebagai kenang-kenangan.

__ADS_1


__ADS_2