Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 61


__ADS_3

mobil Mahesa melaju dengan kecepatan sedang. sambil menyetir, ia menghubungi beberapa rekan polisi untuk membantunya memblokir wilayah S agar dapat dengan mudah mencari keberadaan Zohir.


tanpa terasa mereka telah sampai di pelataran rumah yang lumayan besar untuk Mahesa tinggali seorang diri.


"kamu di rumah saja ya, abang harus pergi lagi" Mahesa mengusap lembut kepala Almeera


"iya bang. abang hati-hati" Almeera mencium tangan Mahesa kemudian keluar dari mobil


setelah Almeera masuk ke dalam rumah, Mahesa segera tancap gas untuk menuju ke wilayah S. di perjalanan ia menghubungi Cakra untuk menanyakan keberadaan Angga.


panggilan tersambung


Mahesa


assalamualaikum. Cak, gimana keadaan Angga


Cakra


wa alaikumsalam. kata dokter harus dioperasi, ada bagian belakang kepalanya yang retak, dan juga dia kehilangan banyak darah


Mahesa


innalilahi.


Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar, ia sangat menyesal atas kemalangan yang menimpa rekannya itu.


Mahesa


terus bagaimana, rumah sakit punya stok darah untuknya kan


Cakra


Alhamdulillah iya, sekarang gue sedang di luar menunggu Angga selesai di operasi. bagaimana dengan psikopat itu...?


Mahesa


menurut cerita adek gue, dia sekarang berada di wilayah S


Cakra


Almeera sudah di temukan...?


Mahesa


sudah, dan sekarang gue dalam perjalanan ke wilayah S


Cakra


hati-hati Hes, dia sangat berbahaya. sudah dua teman kita yang dia celakai


Mahesa


tenang saja, gue akan berhati-hati. kabari gue nanti kondisi Angga setelah operasi


Cakra


iya, elu nggak usah khawatir. oh iya, apakah Zulfikar sudah menghubungi elu


Mahesa


sampai sekarang anak itu belum ada kabar


Cakra


jangan-jangan psikopat itu....


Mahesa


jangan berpikiran buruk Cak. gue tutup ya, assalamualaikum


Cakra


wa alaikumsalam


setelah memutuskan panggilan, saat itu juga panggilan masuk dari Zulfikar. segera Mahesa mengangkat telepon polisi itu.


Mahesa


Zul, elu kemana aja sih. nggak ada kabar seharian. elu bikin kita semua cemas tau nggak


tanpa mengucapkan salam, Mahesa memberondong Zulfikar dengan pertanyaan sedikit keras


Zulfikar


oi Hes, gue belum tuli. santai aja Napa


Mahesa


elu dimana bambang, di telpon juga nomor lu nggak pernah aktif


Zulfikar


gue dari rumah sakit, Oma gue terkena stroke ringan. ponsel gue ketinggalan di rumah dan lagi nggak aktif. elu dimana...?


Mahesa


syukurlah, gue dan Cakra kira psikopat itu berbuat sesuatu padamu. gue sedang dalam perjalanan ke wilayah S untuk mencari keberadaan psikopat itu. Angga masuk rumah sakit karena diserang oleh psikopat gila itu


Zulfikar


Allah, terus bagaimana keadaannya. kenapa bisa seperti itu


Mahesa mulai menceritakan semua kejadian yang mereka alami malam itu. dimana adiknya di culik, squad 010 di teror dan kini beberapa dari mereka diculik oleh psikopat itu.

__ADS_1


Mahesa


gue butuh bantuan elu Zul


Zulfikar


tenang aja, gue akan menyusul ke sana. kita bertemu di sana, assalamualaikum


Mahesa


wa alaikumsalam


Zulfikar langsung bersiap-siap untuk menyusul Mahesa ke wilayah S. setelah mengambil kunci mobilnya, ia segera keluar dari rumah.


"mau kemana bang...?" Zain, adiknya bertanya


"mau pergi, ada tugas. kamu di rumah sendirian nggak apa-apa kan...?"


"aku udah besar bang, masa takut sendirian di rumah. tapi jam segini abang ada tugas apaan" Zain melihat jam dinding, pukul setengah 4 pagi


"kamu tau sendirilah tugas Abang apa. abang pergi dulu ya, kunci pintu dan jangan biarkan orang lain masuk selain yang kamu kenal. paham"


"paham bang" Zain mengangguk


"ya sudah, abang pergi"


Zulfikar menepuk pelan bahu adiknya kemudian berjalan ke luar rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.


squad 010 telah tiba di wilayah S. seperti yang dikatakan oleh Mahesa jika mereka tidak boleh bertindak sendiri dan harus menunggunya juga polisi lain yang akan membantu. mereka berhenti tepat di depan butik Maros yang dikatakan oleh Almeera.


"pantas saja pak Mahesa membutuhkan bantuan, wilayah ini memang sangat luas" ucap Faiz.


"kalau di tempat ini bang Zohir di sembunyikan, semoga saja kita bisa menemukan teman kita yang lain" timpal Mahendra


"semoga bang Rahim, bang Olan, bang Iyan sama bang Robi baik-baik saja. Alan takut banget mereka dicelakai" ucap Alan


(*yang aku takutkan akhirnya terjadi juga) batin Mahendra


"elu benaran mau pindah di sini*...?"


"benaran, nggak percaya banget".


"tapi di sini nggak aman Rob, elu mending pikir-pikir dulu"


"apalagi yang harus dipikirkan sih Hen, gue tetap akan pindah di sini titik, nggak ada bantahan"


(elu harus bertahan Rob, gue akan mencari kalian semua)


"apa sebaiknya kita langsung mencari saja, kalau menunggu polisi masih akan memakan waktu lama" Riki memberi ide


"kita nggak boleh gegabah Rik. yang kita hadapi ini seorang pembunuh yang jelas kemanapun pasti membawa barang tajam sedang kita nggak punya apa-apa. jangan sampai kejadian di taman tadi terulang lagi disini. gue nggak mau kita semua kenapa-kenapa hanya karena bertindak ceroboh" Randi menjawab


"benar kata bang Randi, lebih baik kita tunggu pak Mahesa dan yang lainnya datang dulu baru kita bergerak" Danil menimpali


drrrttt.... drrrttt


"siapa bang...?" Danil bertanya saat ponsel Mahendra bergetar


"bang Mahesa" jawab Mahendra


Mahendra


assalamualaikum bang


Mahesa


wa alaikumsalam, dimana Hen


Mahendra


di depan butik Maros. abang dimana sekarang


Mahesa


masih di jalan, sudah dekat wilayah S. tunggu saya di situ


Mahendra


iya bang


setengah jam mereka menunggu, mobil Mahesa berhenti tepat di depan mereka. kemudian menyusul mobil Zulfikar yang juga baru sampai. saat melihat mobil Mahesa, ia langsung mengikuti dari belakang.


"loh Zul, gue pikir elu masih akan lama" Mahesa kaget Zulfikar sudah sampai bersamaan dengan kedatangannya


"langsung balap gue" jawab Zulfikar


"bantuannya mana pak, kok cuma dua orang" tanya Randi saat ia hanya melihat Mahesa datang bersama Zulfikar


"tuh" Mahesa menunjuk tiga mobil polisi yang baru saja datang


"pak" salah seorang datang menghadap


"berapa banyak...?"


"20 orang pak, kalau kurang saya akan menghubungi untuk meminta bantuan lagi"


"sudah cukup"


"baiklah, dengarkan semuanya" Mahesa mulai memberikan arahan


"kita akan terbagi menjadi empat kelompok" lanjut Mahesa


Mahesa menyebutkan kelompok satu dan di dalamnya ada Riki dan juga Alan. kemudian kelompok kedua dimana ada Faiz dan juga Randi. kelompok ke tiga ada Mahendra dan juga Danil. kelompok keempat, Mahesa dan Zulfikar yang memimpin.

__ADS_1


"masuki setiap gang yang ada, periksa setiap rumah dan perhatikan jika ada salah satu rumah yang jauh dari rumah yang lainnya, masuk dan geledah di dalamnya"


"siap" jawab para polisi itu


"jika kalian telah menemukan orang yang kita cari, segera hubungi saya dan yang lain. jangan saling meninggalkan dan tetap bersama-sama"


"ingat harus berhati-hati dan tetap waspada. yang kita akan hadapi adalah pembunuh berantai yang pastinya mempunyai senjata tajam yang dia pegang. kalau kalian bertemu pembunuh itu, tembak saja jika dia menyerang. kalian paham"


"paham"


"baiklah, sekarang kelompok satu ke arah timur" perintah Mahesa


"siap laksanakan" mereka yang berjumlah tujuh orang termasuk sudah ada Riki dan Alan, langsung menuju ke arah timur


"kelompok kedua ke arah barat"


"laksanakan"


"kelompok ketiga ke arah Utara"


"laksanakan"


"sekarang tersisa kita saja, kita akan ke arah selatan. ayo, mulai bergerak"


"siap laksanakan"


masing-masing kelompok menuju ke wilayah tempat pencarian mereka.


di tempat lain seorang laki-laki yang sedang terikat dengan tali di sebuah kursi telah siuman dari pingsannya. dengan kepala yang sangat berat dan pusing ia berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuhnya.


akibat perlawanan yang ia lakukan, membuat dirinya babak belur karena dipukul. laki-laki itu adalah Zohir. benar saja tebakan dari squad 010 kalau ternyata dia menjadi target dari pembunuhan selanjutnya.


mulutnya di lakban sehingga ia tidak bisa teriak meminta tolong. tangan dan kakinya terikat membuat dirinya kesulitan untuk menggerakkan badannya.


tap...tap...tap


suara langkah kaki terdengar mendekat menuju ke arahnya. Zohir pura-pura pingsan kembali dengan menundukkan kepalanya dan menutup mata.


sekian menit pura-pura pingsan, Zohir dapat mencium bau bensin di sekitarnya. ia mencoba membuka mata untuk mengintip apa yang dilakukan orang itu. rupanya sosok misterius itu tengah menuangkan bensin ke segala arah tempat itu. jergen yang berisi lima liter itu tinggal tersisa setengah dari isinya.


jantung Zohir mulai berdetak kencang, pikirannya mulai kalut. jangan sampai tempat itu dibakar saat dirinya masih dalam keadaan terikat seperti itu.


sosok itu melihat ke arahnya, dengan cepat Zohir menutup mata agar tidak ketahuan kalau dirinya sejak tadi telah sadar.


setelah menyiram ruangan itu dengan bensin satu jergen lima liter, sosok itu mendekati Zohir dan berjongkok di depannya.


"harusnya kamu mati bersama gadis itu, sayangnya dia malah berhasil kabur. jadi malam ini, buruanku hanya kamu dulu" ucapnya yang ia pikir Zohir masih juga belum sadar


"dan sekarang para polisi dan mereka itu sedang mencari kamu, sayangnya yang mereka temukan nanti hanyalah mayat mu yang telah gosong"


(mereka. mereka siapa yang dia maksud) batin Zohir


"2 jam lagi waktu batas pencarian mereka, jika tidak menemukan mu maka tentu saja kamu akan menjadi santapan si jago merah"


ia kemudian melangkah meninggalkan Zohir. setelah kepergian orang itu, Zohir mulai membuka mata dan mencari cara untuk dapat melepaskan ikatan tali itu.


di kelompok satu yang berada di bagian timur wilayah S, mereka semua kini sedang berpencar untuk dapat dengan cepat melakukan pencarian. ternyata meskipun sudah ditetapkan arah mana yang harus mereka cari, rupanya wilayah bagian timur itu masih juga terlihat luas.


mereka membagi menjadi tiga kelompok. Riki dan Alan jalan berdua. sebelum berpisah dengan yang lain, mereka mencari benda yang dapat dijadikan senjata untuk melawan jika tiba-tiba saja mereka bertemu dengan si pembunuh.


Riki menemukan besi dan Alan menemukan sebuah palu yang ada di depan rumah salah satu warga.


"Al, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama"


"iya bang, Alan nggak akan ninggalin bang Riki"


"baiklah sekarang kita masuk di gang ini" ucap Riki dan Alan mengangguk


di kelompok kedua sama halnya dengan kelompok satu, mereka juga membagi menjadi tiga kelompok lagi. Faiz dan Randi menjadi satu kelompok. Faiz mempunyai pisau lipat yang ia pinjamkan kepada Almeera tadi sedangkan Randi mengambil kayu balok untuk senjata sebagai pelindung diri nanti.


mereka tentu saja tidak bisa mengambil pistol dari para polisi itu. selain terkena sanksi dan hukuman karena mereka bukan oknum polisi, mereka berdua juga tidak tau cara menggunakan benda itu.


"kita berpisah di sini, kalian semua hati-hati" salah satu polisi berpesan


"siap"


mereka pun mulai berpisah, Randi dan Faiz ke arah kanan. dengan perasaan was-was mereka berdua mulai berjalan jauh dari yang lain.


kelompok ketiga ada Mahendra dan Danil. Mahesa tau kalau Danil tidak ingin jauh dari Mahendra sehingga polisi itu membiarkan adik kakak itu berada dalam satu kelompok. memang benar kalau Danil lebih nyaman bersama Mahendra. ia merasa aman kalau ada di dekat abangnya itu.


"tempat ini terlalu luas untuk kita telusuri dalam satu kelompok begini. Bagaimana kalau kita membagi kelompok lagi agar lebih cepat dalam melaksanakan pencarian" Mahendra memberikan usul


"pesan pak Mahesa tadi, kita tidak boleh berpisah dan saling meninggalkan" salah satu polisi menjawab


"benar apa yang dikatakan anak muda ini. sebaiknya kita berpencar lagi, kalau bersama seperti ini kita akan lama untuk menyusuri area Utara wilayah ini. lihatlah, banyaknya tempat yang harus kita masuki satu persatu" polisi yang lain setuju dengan usul yang diberikan oleh Mahendra


mereka mulai berpikir dan membenarkan apa yang dikatakan polisi itu. bagian utara wilayah S memang masih begitu luas.


"baiklah, kita bagi menjadi tiga kelompok"


"saya akan bersama adik saya" ucap Mahendra


"kalau begitu saya yang akan menemani kalian. kalian kan tidak punya senjata untuk melindungi diri jika tiba-tiba ada sesuatu hal yang tidak diinginkan" polisi yang satu memberi usul


"baiklah, tidak masalah" Mahendra setuju begitu juga dengan Danil


kini mereka semua berpisah ke tempat dimana mereka akan telusuri.


"Hes, sepertinya bala bantuan yang elu minta masih sangat sedikit untuk menyusuri wilayah ini. bagian selatan ini saja harusnya kita terbagi menjadi beberapa kelompok lagi" ucap Zulfikar


"jadi apakah kita harus membagi kelompok lagi...?" tanya Mahesa


"gue pikir seperti itu lebih baik. jika tidak sampai pagi kita belum akan selesai untuk menyusuri tempat ini"

__ADS_1


"baiklah" Mahesa setuju dengan usul dari Zulfikar


__ADS_2