Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 26


__ADS_3

"masih ada yang harus elu lihat" ucap Zulfikar


"apalagi...?" tanya Mahesa


"rekaman saat Angga dan Cakra mengalami kecelakaan" jawab Zulfikar


"lihatlah" lanjut Zulfikar


Mahesa melihat dengan teliti rekaman video itu. tampak mobil Angga menabrak tiang listrik kemudian mengeluarkan asap. orang-orang disekitar mengerumuni mobil itu dan berusaha untuk membuka pintu mobil. setelah terbuka, Cakra yang pertamakali dikeluarkan dari mobil kemudian disusul oleh Angga yang sudah tidak sadarkan diri. darah segar mengalir di kepala kedua polisi itu.


saat kedua polisi dikeluarkan dari dalam mobil, tampak seseorang masuk ke dalam mobil kemudian keluar lagi dengan map berwarna coklat di tangannya. laki-laki itu memakai topi dan masker, dan juga jaket Hoodie warna merah.


"brengsek, berani sekali dia mencelakai polisi" Mahesa begitu geram


"kalau gue tafsir, pelaku ini kenal dan berada di dekat kita. kalau nggak, mana mungkin dia tau kalau kalian mempunyai bukti dari hasil lab rumah sakit" ucap Zulfikar


"gue tanya sama elu. kepada siapa kalian memberitahukan kalau kalian melakukan penyelidikan terhadap sampel darah yang ada di tempat kejadian kematian Alexandria Robin...?" tanya Zulfikar


"nggak ada yang tau. hanya kami bertiga dan anak-anak penghuni kost itu" jawab Mahesa


"tepat sekali" Zulfikar memukul meja


"ingat penyataan salah satu penghuni kost kalau ketika sudah jam 10 malam, maka pagar kost akan dikunci. masing-masing anak kost memegang kunci pagar dan kunci pintu utama. itu untuk mempermudah mereka masuk saat pulang larut malam tanpa harus membangunkan penghuni lain"


"saat itu Kevin yang pertama kali menemukan mayat Damar pada pukul 11 malam. mayat Damar ditemukan di depan halaman kost yang tidak jauh dari pagar. siapa lagi yang bisa memasukkan mayat Damar kalau bukan salah satu penghuni kost. orang lain nggak mungkin karena mereka tidak mempunyai kunci pagar"


"berati dugaan ku selama ini benar kalau salah satu dari mereka adalah pelakunya" ucap Mahesa


"namun yang menjadi pertanyaan di sini kenapa dia menghabisi Damar padahal mereka adalah teman. kalau yang gue lihat, mereka sangat kompak bahkan sudah seperti saudara" lanjut Mahesa


"mungkin Damar mempunyai kesalahpahaman dengan pelaku. orang yang biasanya sudah terbiasa melakukan pembunuhan akan dengan mudah membunuh siapa saja yang mengusiknya. seperti korban Alexandria Robin. sepertinya wanita itu memiliki masalah dengan si pelaku kemudian pelaku membunuhnya. elu lihat sendiri rekamannya tadi, wanita itu menyiramkan air ke wajah si pelaku. tidak terima dengan perlakuan kasar itu, maka pelaku membunuhnya" ucap Zulfikar


"tapi ada perkiraan ku yang lain" ucap Mahesa


"apa itu...?" tanya Zulfikar


"bukankah Mahendra mengatakan kalau ada sesuatu hal yang ingin Damar katakan padanya bahkan itu sangat penting. sebelum yang lain tau, Damar ingin memberitahukan Mahendra terlebih dahulu. bahkan Damar tidak ingin pulang ke kost padahal waktu itu dia berada di depan kampus menunggu sampai malam" jawab Mahesa


"padahal bisa saja, Damar pulang terlebih dahulu dan bertemu dengan Mahendra namun dia tidak ingin pulang. hari itu sikap Damar tidak seperti biasanya. Mahendra bilang, dia menampakkan kegelisahan dan tidak tenang"


"sesuatu hal yang sangat penting dan bahkan tidak ingin pulang ke kost. apakah dia....." Mahesa mengetuk-ngetuk meja dan menatap Zulfikar


"dia mengetahui siapa pembunuhnya. maka dari itu Damar ingin memberitahu Mahendra terlebih dahulu karena hanya dia yang sangat dekat dengannya" Zulfikar menebak


"bisa jadi. maka dari itu Damar tidak ingin pulang karena takut bertemu dengan si pembunuh" ucap Mahesa


"kalau memang benar berarti Damar dibunuh karena dia telah mengetahui siapa selama ini yang menjadi pembunuh berdarah dingin" ucap Zulfikar


"tapi kenapa mayat Damar dia bawa di kost itu. dia membunuh Damar ditempat lain dan membawa mayatnya di kost itu. untuk yang ini gue nggak tau apa alasannya" lanjut Zulfikar


"sepertinya dia ingin menakuti mereka dan secara tidak langsung memberikan peringatan bahwa nasib mereka akan menjadi seperti Damar jika mereka bertindak diluar batas. walaupun sebenarnya mereka tidak tau kalau itu adalah peringatan" jawab Mahesa


"sungguh sangat mengerikan tinggal bersama dengan seorang pembunuh yang bermuka dua" ucap Zulfikar


"kita harus memberitahu mereka" ucap Mahesa


"tapi kita belum mempunyai bukti" timpal Zulfikar


"dengan informasi yang kita dapat dari mereka, itu sudah bisa menjadi patokan bahwa pembunuhnya tinggal bersama dengan mereka" jawab Mahesa


"apakah itu nggak akan menggagalkan rencananya...?" tanya Zulfikar


"tentu saja tidak. mereka kan nggak tau dia" jawab Mahesa


"sekarang kita ke rumah sakit, gue menerima kabar kalau Angga sudah sadar" lanjut Mahesa


"syukurlah. kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap Zulfikar


mereka berdua meninggalkan kantor polisi dan menuju rumah sakit. sudah lama Angga mengalami koma, mendengar polisi muda itu sadar, membuat Mahesa merasa lega dan senang.


"Dan, gimana. udah mendaftarnya...?" tanya Randi


"udah, tinggal kumpul persyaratan fisiknya aja" jawab Danil


"kalau gitu kita ke kantin dulu yuk, lapar nih gue" ucap Randi


"okelah"


mereka berdua melangkah menuju kantin. banyak mahasiswa yang memilih makan ditempat itu. selain tempatnya terjangkau, makanannya pun sudah sama di warung makan biasa.


"mau pesan apa...?" tanya Randi


"gado-gado aja deh" jawab Danil

__ADS_1


"oke. minumannya...?"


"es teh manis. panas-panas gini enak minum yang segar-segar"


Randi meninggalkan Danil untuk memesan makanan dan minuman kemudian dia kembali lagi ke tempat duduknya.


"sepertinya jadi mahasiswa akan menguras waktu dan pikiran yang bang" ucap Danil


"kenapa bertanya seperti itu...?" tanya Randi


"lihat, dalam keadaan makan saja mereka harus masih berhadapan dengan laptop" Danil menunjuk beberapa orang yang dia maksud. mereka sambil makan sambil mengerjakan sesuatu di laptop mereka


Randi melihat ke arah yang ditunjuk oleh Danil, dia hanya tersenyum tipis.


"namanya juga mahasiswa, jelas akan banyak tugas. di sekolah saja tugas menumpuk tiap hari apalagi di bangku perkuliahan" ucap Randi


"kira-kira tugasnya susah nggak bang...?"


"susah kalau elu nggak mau mencari referensi. zaman sekarang mengerjakan tugas udah gampang loh Dan. tinggal cari di Mbah Google, udah beres"


""nanti kalau Danil kesulitan, Danil minta bantuan sama Abang ya"


"assiaaaap, tenang aja nanti kami semua abang-abang lu akan bantu. lagian kan ada Mahendra juga yang bakalan bantuin elu"


Danil tidak menjawab lagi karena makanan mereka telah datang. tanpa menunggu lagi, keduanya melahap makanan itu.


selesai makan keduanya berenang berkeliling kampus. Danil terus bertanya dan Randi menjawab dengan apa yang dia tau.


"bang perpustakaan dimana sih...?" tanya Danil


"elu mau ke perpus...?" Randi bertanya balik


"pengen liat aja, kalau bisa masuk ya sukur" ucap Danil


mendengar jawaban Danil, Randi terkekeh geli. anak itu seperti dari kampung yang baru saja menginjak-injak kakinya di kota.


"siapakah bisa masuk Dan, asala tertib dan tidak menggangu orang lain. ayo gue temani" ajak Randi


mereka berdua pergi ke perpustakaan. tiba di sana, keduanya langsung masuk dan mencari beberapa buku kemudian mencari tempat duduk untuk membaca atau sekedar cerita.


"luas banget ya bang, bertingkat lagi" kagum Danil


"namanya kampus terkenal, jelas perpustakaannya waoow" timpal Randi


di tempat lain, dua orang sejoli sedang bersiteru di cafe tempat kerja Iyan. hal itu jelas membuat pengunjung lain terganggu.


"permisi mas, mba. kalau mau bertengkar sebaiknya di tempat lain jangan di sini. kalian mengganggu pelanggan yang lain" Iyan datang memperingati


"nggak usah ikut campur lu, elu cuman barista, nggak usah sok berani" laki-laki itu membentak Iyan


"gue barista atau bukan itu bukan urusan elu. kalau mau ribut mending kalian cari tempat lain, jangan di sini" ucap Iyan


"cih, baru juga jadi pelayan cafe sudah sok sok-an. ikut gue" laki-laki itu menarik kasar tangan gadis yang bersamanya membuat gadis itu tersungkur dan kepalanya membentur ujung meja


"sakit Ar" gadis itu menangis, pelipisnya mengeluarkan darah


"kasar banget sih jadi cowok" Iyan membantu gadis itu berdiri namun laki-laki yang bernama Ardian itu menepis kasar tangan Iyan


"dia cewek gue, elu nggak usah ikut campur"


Ardian menarik kembali tangan gadis itu untuk berdiri namun gadis itu menepis dan bersembunyi di belakang Iyan.


"aku nggak mau ikut sama kamu" ucap gadis itu


berani kamu ya sama aku sekarang" Ardian mulai naik pitam


"sini kamu" Ardian ingin kembali menarik gadis itu namun Iyan menepis dan mendorong tubuh Ardian


pengunjung yang lain hanya melihat tanpa berniat membantu. mereka tidak ingin ikut campur namun bukan berarti mereka tidak waspada jika tidak akan terjadi perkelahiannya.


"hah" Ardian tersenyum kecut


segera ia melayangkan pukulan ke wajah Iyan membuat Iyan tersungkur dan mengenai meja.


pengunjung lain mulai panik, barista yang lain datang untuk membantu Iyan namun Ardian mengancam mereka untuk tidak ikut campur.


"bangun Lo" teriak Ardian


bughhh


Ardian kembali melayangkan pukulan, dan lagi-lagi Iyan terkena bogem mentah dari laki-laki itu. karena mulai emosi, Iyan berdiri dan melayangkan tendangan ke arah Ardian membuat dia menghantam meja dan bahkan merobohkan meja tersebut.


"Iyan udah yan, bisa dipecat kita yan" salah satu temannya menengahi

__ADS_1


"bangsat"


Ardian melempar kursi ke arah Iyan namun salah satu tangan menahannya.


"bang Olan" ucap Iyan


Olan datang bersama Kevin, Rahim dan Alan. Alan segera mendekati Iyan dan membawanya jauh dari Ardian. gadis tadi mengikuti mereka.


"siapa lu, lepasin" Ardian memberontak


bughhh


tanpa kata-kata, satu bogem mentah Olan layangkan ke wajah Ardian. mulut laki-laki itu mulai mengeluarkan darah.


"pergi atau gue bunuh lu di sini" Olan mengancam Ardian


"awas saja, kita belum selesai" Ardian pergi dengan dendam di hatinya


"bang Iyan nggak kenapa-kenapa...?" Alan bertanya


"nggak apa-apa, lecet dikit doang" jawab Iyan memegang bibirnya


"maaf ya, aku minta maaf atas kejadian tadi. tenang saja, aku akan ganti rugi atas semua kerusakan yang ada" gadis itu merasa bersalah


"nggak apa-apa, aku senang bisa bantu kamu. sebaiknya cowok kayak tadi jangan kamu temui lagi, laki-laki seperti itu nggak pantas dipertahankan" jawab Iyan


"Yan, elu nggak apa-apa...?" Rahim datang bersama Olan


"lecet dikit bang" jawab Iyan


"elu kok bisa sih berkelahi seperti tadi, ditempat kerja lagi" ucap Olan


Iyan tidak menjawab, dia hanya melirik gadis yang berdiri di sampingnya dan sedang menatapnya. gadis itu kemudian menyerahkan nomornya agar Iyan dapat menghubunginya untuk meminta pembayaran kerugian. setelah itu gadis itu pergi meninggalkan cafe tersebut


"kalian kok bisa ada di sini...?" tanya Iyan


"Alan ketemu sama bang Rahim di kampus, terus rencana mau ke sini. eh ternyata di depan cafe malah ketemu sama bang Olan" jawab Alan


"tumben banget bang Olan pulang cepat, biasanya pulang malam" ucap Iyan


"nggak enak badan gue, jadi ya gue pulang daripada nahan sakit di kantor. tapi karena gue pulang lewat sini ya sekalian gue mampir" jawab Olan


"yan, sebisa mungkin elu hindari yang namanya perkelahian deh. nggak baik punya musuh" Rahim mengingatkan


"iya bang, gue hanya kasihan saja sama gadis tadi yang dikasari sama laki-laki" jawab Iyan


"jadi hanya karena seorang gadis...?" tanya Olan dan Iyan mengangguk pelan


"ya ampun Iyan....Iyan" Olan geleng kepala


"abang-abang gantengnya Alan, ceramahnya nanti aja ya. sekarang Alan pengen minum kopi. bang Iyan, bikinin" ucap Alan


"pilih menunya dulu, mau kopi yang bagaimana...?" ucap Iyan


"kopinang aku dengan bismillah ada nggak...?" ucap Alan


"idih....Alan mulai nakal ya" Iyan menggoda


"enak aja, Alan anak baik ya" cebik Alan


"udah udah. buat saja yang paling enak, jangan lupa kuenya sekalian" Rahim mengakhiri tingkah keduanya


"siap bang" Iyan beranjak meninggalkan mereka


di dalam kamar, Mahendra berniat untuk mencuci tas almarhum sahabatnya. dia mengeluarkan semua isinya di atas kasur. laptop Damar, dia simpan di dalam lemari pakaian.


saat akan hendak berdiri untuk ke luar kamar, ke tempat cucian, langkahnya terhenti karena sebuah tulisan noda merah di tali tas tersebut. Mahendra tau kalau itu adalah darah, warna dan baunya dapat dia ketahui.


"apa ini ya" Mahendra memperhatikan tulisan itu


begitu acak-acakan sehingga Mahendra kesulitan untuk membacanya. dia kemudian mengambil pulpen dan kertas kemudian mengira-ngira huruf apa saja yang ada di tulisan itu kemudian ia menulisnya di kertas.


Mahendra berhasil menuliskan huruf-huruf itu dengan benar namun saat membaca tulisannya, mata Mahendra membulat ketika melihat kata yang tertulis di kertas miliknya.


"010 pembunuh...?" Mahendra membaca tulisannya sendiri


"00...." Mahendra tidak bisa membaca angka terakhir. karena tulisannya kurang jelas dan sangat sulit untuk diprediksi angka apa sebenarnya yang ada di urutan terakhir setelah angka 00


"apa Damar sedang memberitahu siapa yang membunuhnya" gumam Mahendra


"eh, tapi tunggu....010 kan adalah kost.... ini" ucap Mahendra kaget


"010 pembunuh...?" dia masih berpikir sehingga kemudian Mahendra terhenyak kaget

__ADS_1


"ya Tuhan" Mahendra kalut dengan pikirannya sendiri. sungguh dirinya sangat terkejut kalau seandainya pemikirannya benar-benar seperti apa yang Damar tulis


__ADS_2