
"bagaimana keadaan mu...?" tanya Mahesa, dirinya dan Zulfikar telah berada di rumah sakit di kamar rawat Angga
"sudah lebih baik. Cakra bagaimana, dia baik-baik saja kan...?" ucap Angga
"keadaannya tidak separah dirimu. kaki kanannya patah. sempat juga di rawat di rumah sakit dan sekarang dia sedang menjalani pengobatan dari rumah" ucap Mahesa
"syukurlah, gue lega kalau dia tidak terluka parah" Angga sangat bersyukur
"maaf ya Hes, elu pasti kewalahan menangani kasus sendirian" lanjut Angga
"sekarang gue nggak sendirian, ada Zulfikar yang kini membantu dalam penyelidikan" timpal Mahesa. Zulfikar tersenyum ke arah Angga
"baguslah kalau sudah ada yang membantu. gue mungkin belum bisa turun secara langsung. mungkin butuh beberapa minggu lagi untuk pulih seperti sediakala" ucap Angga
"jangan terbebani dengan tugas, pikirkan juga kesehatanmu. kasus ini biar gue dan Mahesa yang ambil tindakan" ucap Zulfikar
"terimakasih. semoga pelakunya cepat kalian tangkap. setelah pulih, gue akan kembali bergabung" ucap Angga
"kami tunggu elu dan Cakra akan masuk kembali" Mahesa menepuk pelan bahu Angga
hari mulai berganti senja. matahari perlahan mulai akan tenggelam. waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. masih di dalam cafe, Rahim, Olan, dan Alan sudah menghabiskan minuman mereka.
Iyan sedang bersiap untuk pulang. dirinya yang masuk pagi akan pulang jam 5 sore dan yang masuk jam siang akan pulang jam 10 malam.
"nggak sekalian aja kita beli makanan untuk makan malam...?" Olan memberikan usul
"boleh juga. gue sedang lagi nggak mood untuk memasak" Rahim mengangguk setuju
"sekalian beli dengan obat aja bang Olan. tadi kan abang mengeluh nggak enak badan dan sakit kepala" Alan menimpali
"iya. nanti kita singgah di apotek terdekat" ucap Alan
"ayo pulang" Iyan datang dan mengajak
"gais...gue duluan ya" Iyan berpamitan kepada rekannya
"oke" mereka mengangkat jempol
setelah keluar dari cafe, mereka akan mencari warung makan dan apotek. Rahim dan Iyan mencari warung makan sedang Olan dan Alan pergi ke apotek.
"bang Olan mungkin kecapean, pergi pagi pulang malam" ucap Alan saat keduanya keluar dari apotek
"mungkin saja, nanti elu pijitin gue ya" Olan memakai helmnya
"oke, tapi ada syaratnya"
"yaelah....mau mijit aja pakai syarat segala. emang apa syaratnya" tanya Olan
"beliin itu" Alan menunjuk pedagang somai
Olan terkekeh mendengar syarat yang diajukan adiknya itu. dia kira Alan akan meminta hal lain yang bukan makanan, nyatanya adiknya itu memang tidak pernah berubah. dia selalu meminta makanan setiap mempunyai keinginan.
"somai doang nggak ada yang lain...?" tanya Olan memastikan
"iya itu aja" jawab Alan langsung menarik tangan Olan menuju pedagang somai
"pak, somai satu kantung penuh ya, sambalnya yang pedis terus campur kecap" Alan memesan
"siap den" jawab pedagang
"banyak banget Al, elu bisa habiskan...?" Olan cukup kaget mendengar pesanan Alan
"kan kita banyak bang, yang lain harus makan juga. masa cuman Alan yang makan sendiri, pelit itu namanya" ujar Alan
"iya juga. ya udah terserah elu deh" Olan mengikut
karena banyak yang memesan, alhasil mereka mengantri dan menunggu. Rahim menghubungi Olan menanyakan keberadaan mereka, kemudian Olan memberitahukan dimana mereka sekarang. hingga beberapa menit keduanya datang menghampiri Olan dan Alan.
setelah pesanan Alan selesai dibungkus, Olan segera membayar dan mereka meninggalkan tempat itu pulang menuju kost. saat tiba di kost, Kevin baru juga sampai di halaman kost dengan beberapa kantung plastik di tangannya.
"elu baru pulang...?" tanya Iyan
"iya bang, abis dari rumah dosen gue" jawab Kevin
mereka masuk ke dalam, ruang utama terdapat Faiz dan Damar serta Randi. karena matahari sudah hampir tenggelam, bergegas mereka semua menuju kamar masing-masing untuk mandi kemudian melaksanakan sholat magrib. setelahnya mereka berkumpul di ruang utama untuk makan malam bersama.
"ini pasti penghuni baru ya, keponakannya ibu Nina...?" ucap Kevin melihat ke arah Faiz yang duduk di sebelah Damar
"iya, perkenalkan nama gue Faiz" jawab Faiz
"semoga betah ya, anggap saja kita seperti saudara" ucap Wili
"tentu, terimakasih" jawab Faiz tersenyum
"Mahendra mana Dan...?" tanya Rahim yang tidak melihat keberadaan Mahendra
"bang Arga tadi sore keluar, katanya sih ke rumah teman" jawab Danil
"bang, tolong ambilin minum" pinta Randi kepada Iyan. Iyan menuang air ke dalam gelas dan memberikan kepada Randi
"mumpung malam minggu, kita keluar yuk" ajak Wili
"keluar kemana...?" tanya Damar
"nonton aja gimana, kebetulan kayaknya ada film baru yang akan tayang" ucap Wili
"boleh juga tuh, jarang-jarang kan kita keluar bareng. hanya waktu itu, kita ke pasar dan terjadi insiden pembunuhan" Kevin setuju
"gimana bang...?" Iyan melihat ke arah Rahim
Rahim adalah yang paling dituakan karena umurnya yang lebih kakak dibandingkan yang lain. mereka selalu meminta pendapat Rahim saat mengambil keputusan.
"boleh, gue juga perlu refreshing sejenak sepertinya" Rahim mengangguk
"gue nggak ikut, pengen istrahat aja di kamar. tenaga gue terkuras untuk pekerjaan. badan gue nggak enak banget" Olan menolak untuk ikut
"kalau Olan nggak ikut berarti kita semua nggak akan keluar" ucap Rahim
"eh jangan, nggak apa-apa kalau kalian mau keluar. gue di kost aja. masa hanya karena gara-gara gue kalian nggak jadi nonton" Olan tidak setuju
__ADS_1
"kalau kami keluar terus kalau sakit elu tambah parah siapa yang bisa tolongin elu. udah pokoknya kita nggak jadi keluar. kita nonton saja di laptop Kevin, banyak tuh film barunya" ucap Rahim lagi
"iya, Alan juga mau di kost aja temani bang Olan" timpal Alan
"okelah, kita nggak jadi keluar, malam minggu di kost saja" ucap Wili
setelah makan, mereka sholat isya karena memang sudah waktunya. kemudian mereka kembali berkumpul di ruang utama.
Damar naik ke lantai atas untuk mengambil jaketnya yang ada di jemuran. malam ini terasa begitu dingin, perlu pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh. saat di balkon Damar segera mengambil jaketnya namun dia mendengar suara di balkon tempat mereka bersantai.
"udah nggak sabar ya...?"
"malam lain saja, aku malas keluar malam ini"
"oke, malam itu kita akan bersenang-senang"
"iya, tidurlah karena tiba waktunya kamu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak saat aku mulai bermain"
Damar dapat melihat teman kostnya itu sedang berbicara lewat sambungan telepon. setelahnya ia mematikan panggilannya dan menghisap sebatang rokok.
Damar mulai mendekati temannya itu. dia menepuk pundaknya membuat orang itu terlonjak kaget. dia kaget melihat Damar berada di tempat itu.
"kenapa lu, macam liat setan aja" Damar duduk di sampingnya
"iya, elu setannya. bikin jantungan aja lu" dia mengelus dada
"elu ngapain di sini sendirian, lagi galau...?" tanya Damar
"pengen menyendiri aja, elu sendiri ngapain di sini...?"
"ngambil jaket, dingin banget soalnya" Damar segera memakai jaketnya
"elu merokok...?" tanya Damar
"hanya sesekali, kalau lagi badmood" jawabnya
"elu punya masalah...? kalau ada masalah cerita sama kita, jangan dipendam sendiri"
"nggak ada masalah, lagi pusing sama kehidupan aja" jawabnya lagi. dia menghisap rokoknya dan mematikan apinya kemudian membuangnya
"kehidupan mah kalau dipikirkan nggak akan ada habisnya. jalani saja sampai kita mati nanti menghadap sang pencipta"
"udah yuk turun, di sini malah tambah dingin banget" Damar beranjak dan meninggalkan balkon
sementara orang tersebut menatap Damar dengan tatapan sulit diartikan. Damar berbalik lagi dan memanggilnya.
"iya iya, gue nyusul" ucapnya melangkah menyusul Damar
sementara Mahendra, saat ini sedang bersama dengan ketiga sahabatnya. mereka berada di sebuah cafe tempat biasa mereka berkumpul.
"gue mau tunjukkin kalian sesuatu" ucap Mahendra
"apaan...?" tanya Selda
Mahendra mengambil ponselnya dan mencari sesuatu kemudian menunjukkan sebuah foto.
"kalian tau nggak, angka terakhir itu angka apa...?" tanya Mahendra
"nggak tau gue. coba Rob, elu liat" Selda memberikan ponsel Mahendra kepada Robi
"00...." Robi mengernyitkan keningnya "wah nggak jelas itu angka apa" Robi pun tidak dapat memberi jawaban
"coba sini" Maureen mengambil ponsel Mahendra
sikap keduanya sedikit berbeda. setelah Maureen waktu itu mengungkapkan perasaannya, Mahendra belum menjawab dan bahkan keduanya jarang berkomunikasi seperti biasanya.
"ini sih ada dua kemungkinan" ucap Maureen saat melihat foto tersebut
"elu tau...?" Mahendra bertanya penasaran
"gue nggak yakin sih, tapi mungkin saja benar kan" Maureen menatap Mahendra
"jadi...angka apa yang dibelakang angka 00...?" tanya Mahendra
Maureen tampak berpikir keras, kemudian melihat ke arah Mahendra.
"nanti gue coba pikir di rumah deh, soalnya agak rumit juga" ucap Maureen
"jadi elu nggak tau..?"
"gue kan bilang tadi kalau gue nggak yakin tapi bisa saja kan angka itu yang tertulis di sini" jawab Maureen
"tapi nanti gue periksa lagi di rumah, siapa tau angka yang gue maksud salah. nanti kalau udah pasti baru gue kasi tau elu
"emang itu tulisan apaan sih, angka togel ya...?" timpal Robi
"mata lu angka togel" Mahendra mengambil ponselnya
"ya terus itu angka apaan, tulisannya juga kayak noda darah begitu merah pekat" ucap Robi
"bukan apa-apa" Mahendra meminum minumannya
matanya bertemu tatap dengan Maureen, segera gadis itu mengarahkan pandangan ke arah lain. dia merasa malu telah berani menyatakan suka kepada sahabatnya sendiri. sedangkan Mahendra, kembali mengobrol dengan Robi dan Selda.
pukul 10 malam, mereka bergegas pulang. Robi mengantar Selda dan Mahendra mengantar Maureen.
"mau mampir dulu Hen...?" tanya Maureen, mereka telah sampai di rumah gadis itu
"nggak usah, kapan-kapan saja. gue balik ya" Mahendra naik kembali ke atas motornya
"hati-hati" ucap Maureen
dia sebenarnya sedih Mahendra tidak ingin singgah di rumahnya. biasanya sahabatnya itu akan singgah sebentar dan mengobrol saat mengantarnya pulang, namun kali ini Mahendra menolak dan segera meninggalkan rumah Maureen.
sebenarnya bukannya Mahendra tidak ingin namun sekarang pikirannya kali ini sedang berkecamuk dengan tulisan yang di dapatkannya di tas Damar. hal itu sangat mengganggu dirinya. dia sangat yakin kalau itu adalah petunjuk siapa yang telah membunuh sahabatnya itu.
setelah sampai di kost, pagar telah dikunci. beruntung mereka semua memegang kunci masing-masing sehingga tidak merepotkan penghuni yang lain untuk hanya sekedar membuka pagar dan pintu utama.
saat masuk ke dalam, semua penghuni kost sedang menonton di laptop Kevin. saking seriusnya, mereka tidak sadar kalau Mahendra telah pulang.
__ADS_1
"woooiiii"
"aaaaa"
bughhh
"aduh anjir"
melihat keseriusan mereka, Mahendra dengan sengaja mengagetkan semuanya. saat itu juga Mahendra berteriak dan karena terkejut Faiz dengan refleks menendang orang yang ada di dekatnya membuatnya terjungkir dan membentur dinding.
"astaghfirullah" Faiz yang sadar dengan kesalahannya langsung melompat dan membantu salah satu penghuni kost yang ia tendang
Mahendra tertawa begitu juga yang lain. pasalnya, teman mereka itu menempel seperti cicak di dinding.
"elu nggak apa-apa...?" tanya Faiz tidak enak hati
"elu punya hubungan apa sama Ronaldo Wati, tendangan lu kuat banget. encok nih pinggang gue" Randi memegang pinggangnya yang di tendang oleh Faiz
"maaf, gue nggak sengaja. kalau mau nyalahin orang, marahi Mahendra saja" Faiz menunjuk Mahendra
"lah kok gue...?" Mahendra menunjuk dirinya
"ya gara-gara elu kan gue jadi tendang Randi. elu itu tersangka utamanya" Faiz menatap kesal ke arah Mahendra
"enak aja. gue kan hanya teriak, nggak melakukan tendangan Ronaldo Wati" Mahendra tidak ingin disalahkan
"pokoknya elu yang salah, titik"
"nggak ya, gue nggak salah.elu yang salah titik"
"elu yang salah"
"elu"
mereka saling menyalahkan. Rahim turun tangan dan menjewer kedua telinga adik-adiknya itu.
"aduh bang sakit bang" Faiz meringis
"bang kok gue dijewer sih bang" Mahendra memegang tangan Rahim yang sedang menjewer telinganya
"hahaha....tarik yang kuat bang Rahim" Alan malah kegirangan
"adik kampret" Faiz dan Mahendra mencebik ke arah Alan
"mau saling menyalahkan lagi...?" tanya Rahim penuh penekanan
"nggak bang" jawab keduanya
Rahim melepaskan jewerannya, Mahendra dan Faiz mengusap telinga mereka yang memerah.
"enak nggak...?" ejek Randi
"ck, diam lu" Faiz mencebik
Mahendra naik ke lantai atas untuk berganti pakaian. tiba di kamar, dia kembali memikirkan angka apa yang tertulis dibelakang angka 00 itu.
"010 pembunuh" gumamnya
"apa iya pembunuhnya salah satu dari penghuni kost 010 ini"
"gue harus cari tau, pembunuh Damar harus ditangkap" Mahendra mengepalkan tangannya
"tapi masa iya. mereka semua terlihat sangat baik dan juga tidak ada tampang seorang pembunuh" Mahendra masih tidak percaya dsn tidak yakin
"pembunuh siapa...?" seseorang datang tiba-tiba di kamarnya yang ternyata lupa Mahendra tutup
"ya ampun, ngagetin aja lu" Mahendra mengelus dada
"hehehe, sorry. gue kesini mau pinjam cas hp, cas hp gue rusak. ponsel kita kan sama" Damar berdiri diambang pintu
"tuh, masuk ambil" Mahendra menunjuk ke arah meja belajar
Damar masuk ke dalam dan bukannya mengambil cas itu, dia malah mencolokkan ujung cas itu ke ponselnya. kemudian Damar duduk di kursi belajar.
"Hen, gue mau liat laptop almarhum Damar dong. gue liat kemarin filmnya kayaknya banyak" ucap Damar
"tuh, di dalam lemari. gue mau mandi dulu" Mahendra mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi
Damar mengambil tas yang ada di lemari kemudian duduk di atas ranjang. tidak lupa dia menutup pintu kamar.
kemudian ponselnya berdering, seseorang menghubunginya. segera Damar mengangkat panggilan itu.
📞 Damar
gue sedang mengecek
📞 Damar
iya, nanti gue kirim
📞 Damar
kapan...?"
📞 Damar
sebaiknya jangan dulu. nanti kita bertemu untuk membahas masalah itu
📞 Damar
oke,
terdengar deritan pintu yang dibuka, Damar mengakhiri panggilannya dan kembali mengecas ponselnya.
"telpon siapa...?" tanya Mahendra yang berjalan ke arah lemari dan memakai bajunya
"pacar gue, emang elu yang nggak punya pacar" ejek Damar
"sialan lu" Mahendra melemparkan handuk ke arah Damar dan dengan sigap Damar menghindar
__ADS_1
karena malas turun bergabung di bawah, mereka berdua akhirnya menonton di kamar Mahendra. hingga tanpa sadar keduanya tertidur dalam posisi tengkurap dan laptop yang masuk menyala