
melihat penderitaan Rahim, Olan begitu bahagia. ia bahkan bertepuk tangan dan tertawa dengan puas. kemudian dirinya mendekati Rahim dan menarik rambutnya hingga wajah Rahim mendongak ke atas.
"bagaimana permainanku bang, abang menikmatinya kan, hemm"
Olan tersenyum puas sedang Rahim yang sudah babak belur tidak menanggapi ucapan adik tirinya itu.
"jawab bang, elu punya mulut kan"
"hhh, untuk apa gue berbicara dengan orang sakit jiwa seperti elu" Rahim tersenyum mengejek
senyuman Olan luntur seketika, ia mengepalkan tangannya dengan kuat dan memukul perut Rahim berkali-kali hingga Rahim terbatuk-batuk.
"Rahim" Maharani memanggil lirih kekasihnya itu
Hana sibuk melepaskan ikatan talinya. semakin ia berusaha makan tali itu akan semakin kencang mengikat tangannya. ia pun mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk memutus tali tersebut.
saat itu Hana melihat pecahan botol minuman di dekat Robi dan Iyan. sepertinya botol itu digunakan oleh Olan untuk memukul kepala dua orang itu. terlihat dari kepala keduanya yang berdarah mengalir membasahi mata mereka.
(bismillah, kamu bisa Hana, kamu bisa) Hana menyemangati dirinya sendiri dalam hati
perlahan tapi pasti Hana menyeret tubuhnya untuk mendekati pecahan botol itu. jaraknya cukup jauh, namun ia tidak ingin berdiam diri begitu saja. ia ingin membebaskan dirinya dan menyelamatkan yang lain.
"gue akan mengirim elu ke neraka untuk bertemu dengan bokap lu yang bajingan itu"
"elu juga akan bertemu dengan ibumu yang sudah membusuk di neraka pastinya"
"tutup mulutmu Arkan. jangan pernah bawa-bawa nama ibuku" Rahim menatap nyalang ke arah Olan
"kenapa bang. gara-gara elu dan ibumu, gue dan ibuku menderita. kasih sayang ayahmu hanya untuk kalian berdua sedangkan gue yang juga anaknya malah mendapatkan siksaan setiap hari"
"elu pikir gue juga tidak mendapatkan siksaan seperti yang elu rasakan"
"omong kosong" Olan menatap benci Rahim
"elu tertawa bahagia sementara gue menderita. bahkan ibu gue harus masuk di rumah sakit jiwa karena ulah ayahmu"
"dan ibu gue meninggal di depan mata kepala gue sendiri karena ulah ayahku juga Arkan. elu pikir hanya dirimu yang menderita. bahkan penderitaan yang gue alami lebih berat dari yang elu rasakan"
"BOHONG" Olan meneriaki Rahim
"elu pikir gue akan percaya begitu saja atas semua omong kosong mu itu bang. nggak, nggak sama sekali. hari ini gue akan menghabisi kalian semua"
setelah menyelamatkan Alan dan Riki, kini ketiga polisi dan sebagian squad 010 sedang dalam perjalanan menuju ke ujung kota.
"kalau sampai Olan nggak membawa mereka ke tempat itu gimana Cak" Zulfikar bertanya
"kemana lagi dia membawa mereka kalau bukan di markasnya sendiri" jawab Cakra yang begitu yakin jika Olan membawa Rahim, Iyan dan Robi di tempat persembunyiannya
"tapi kan elu udah tau tempat itu Cak, bahkan dulu elu sama Rahim dan Olan yang pergi menyelamatkan Kevin bukan. Olan pastinya nggak akan membawa mereka ke tempat dimana tempat itu sudah diketahui oleh orang lain" Mahesa menimpali, ia fokus menyetir mobil
"tempat itu luas Hes, bahkan mempunyai banyak bilik dan lorong-lorong yang lainnya. gue yakin sudah di satu tempat namun dia pasti memindahkan mereka ke bilik lainnya yang tidak kita ketahui" ucap Cakra
berkendara dua jam lebih, mereka akhirnya sampai juga di ujung kota. namun perjalanan mereka belum berakhir sampai di situ. mereka harus masuk ke dalam hutan lagi.
"loh, kok kita ke hutan lagi pak" ucap Alan saat mobil Mahesa berbelok mengambil jalan masuk ke dalam hutan
"memang di sini jalannya Al, di dalam hutan" Cakra menjawab
"nanti kalau ada ular lagi bagaimana...?" ucap Riki yang masih takut jika mereka benar-benar akan bertemu seekor ular piton raksasa seperti tadi
"berdoa saja semoga tidak" timpal Zulfikar
semakin masuk ke dalam hutan maka mereka semakin jauh dari keramaian. di depan sana, ada jalan setapak menuju ke arah kiri. Cakra memberitahu Mahesa untuk mengambil ke jalan itu.
"elu yakin Cak ini ditempatnya...?" Zulfikar bertanya
"yakin Zul, gue belum lupa walaupun sudah satu tahun lamanya" jawab Cakra dengan begitu yakin
"gue juga pernah datang ke sini waktu tahun lalu kita menyusuri area ujung kota untuk mencari jejak Wili yang menjadi psikopat. namun gue udah nggak terlalu ingat jalannya" Mahesa menimpali ucapan Cakra
"nah, itu dia rumahnya" Cakra menunjuk sebuah rumah yang ada di tengah hutan itu
mobil Mahesa berhenti begitu juga dengan kendaraan penghuni kost 010. mereka turun dari atas motor sementara para polisi, Alan dan Riki keluar dari mobil.
ketiga polisi itu menyiapkan pistol yang menjadi senjata mereka. Mahesa dengan pelan maju selangkah demi selangkah mendekati pintu rumah. ia mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci.
Zulfikar dan Cakra maju mendekat. Mahesa membuka pintu, ia mengkode kedua rekannya untuk masuk ke dalam dengan posisi pistol mereka arahkan ke depan.
saat ketiga polisi itu masuk, Mahendra dan yang lainnya pun ikut masuk ke dalam. ruangan demi ruangan mereka periksa jangan sampai Olan ada disekitar mereka namun sampai di dapur, tidak ada tanda-tanda keberadaan Olan.
"sepertinya dia tidak di sini, pasti di dalam ruangan bawah tanah" ucap Cakra
"kalau begitu kita masuk ke sana saja bang" ucap Mahendra
"di sana keadaannya sangat gelap, pengap dan banyak lorong. kalian siapa jika tersesat di dalam...?" Cakra menatap mereka satu persatu
"kami siap pak, apapun rintangannya kami akan lewati untuk menyelamatkan bang Rahim, bang Iyan dan bang Robi" Randi menjawab dengan yakin
"baiklah, sebelum masuk sebaiknya kalian mencari sesuatu di tempat ini untuk kalian jadikan senjata. jangan masuk dengan tangan kosong" Mahesa memerintah mereka
segera mereka ke dapur untuk mencari benda apa saja yang bisa digunakan sebagai perlindungan diri. ada yang mendapatkan pisau kecil dan juga besar, kayu balok dan tongkat besi.
"sudah bang" ucap Danil yang memegang tongkat besinya
"kita masuk. gunakan senter ponsel kalian sebagai penerangan di dalam sana" ucap Mahesa
mereka masuk ke salah satu kamar di sebelah kanan mereka. setelah berada di dalam kamar, Cakra menggeser satu lemari hingga nampaklah jalan yang menuju ke ruang bawah tanah.
"ayo" ajak Cakra
ketiga polisi masuk terlebih dahulu menuruni satu demi satu anak tangga. setelah itu penghuni kost pun ikut menyusul. keadaan yang di dalam begitu berbeda dengan keadaan di atas sana. mereka menyalakan senter ponsel untuk menerangi ruangan yang gelap itu.
"tempat ini menyeramkan banget" Faiz menerangi lorong yang mereka mulai lewati
"jangan-jangan di sini banyak setannya" ucap Randi
"kebiasaan nonton film horor nih elu" Riki menjawab
"tapi memang tempat seperti ini banyak setannya bang" ucap Randi
"nggak usah mikirin setan Ran. kalau elu takut, elu bisa kembali naik ke atas" ucap Faiz
"kita udah jauh, nggak berani gue" timpal Randi
"kita sampai di tempat ini. sekarang kita bagi menjadi tiga tim. masing-masing dari kami akan menemani kalian" mereka berhenti sejenak, Mahesa memberikan ide
mereka semua setuju, dengan begitu mereka bisa lebih muda menemukan Rahim, Iyan dan Robi.
tim pertama ada Mahesa, Mahendra dan Danil. kedua adalah Cakra, Faiz dan Randi dan Zulfikar bersama Alan serta Riki.
mereka mulai berpencar memasuki setiap lorong untuk melakukan pencarian.
Zulfikar bersama Alan dan Riki berjalan pelan membuka setiap bilik yang mereka lewati. tempat yang menyeramkan itu tidak membuat ketiganya takut sedikitpun karena mereka bertiga bukan seorang diri.
kini mereka tiba di salah satu bilik yang ukurannya lebih besar dari yang lain. Zulfikar maju dengan pelan dan membuka bilik itu. hal yang ia lihat pertama adalah hal yang membuatnya merinding.
"astaga, tempat macam ini" Zulfikar masuk kedalam, Alan dan Riki ikut masuk
di atas meja panjang, tertata rapi berbagai senjata tajam. mulai dari yang besar sampai yang kecil. golok, gergaji, pedang samurai, kayu balok, cambuk dan masih banyak lagi.
sebagian dari senjata itu sudah ada yang berlumuran darah. bahkan di lantai bilik itupun darah berceceran dimana-mana.
"sumpah, ini benar-benar mengerikan. bang Olan ternyata benar-benar orang yang sakit jiwa" ucap Riki bergidik ngeri
"mereka bertiga pasti pernah di bawa ke ruangan ini" ucap Zulfikar
"ayo, kita cari ke tempat lain" ajak Zulfikar
mereka kembali melanjutkan pencarian. Alan yang berada di belakang mendengar suara seperti pintu yang digedor-gedor.
"pak, dengar suara nggak...?" tanya Alan
"suara apa Al...?" Zulfikar dan Riki berhenti
dugh
dugh
__ADS_1
"nah, suara itu pak. suara itu berasal dari sana pak" Alan menunjuk salah satu bilik yang mereka lewati
"kita periksa" Zulfikar melangkah cepat
semakin dekat dengan bilik itu suara tersebut semakin jelas. Zulfikar membuat pintu namun ternyata pintunya digembok dari luar.
"ada siapa di dalam...?" teriak Zulfikar tapi tidak ada jawaban yang menyahut
"jangan-jangan itu bang Rahim, bang Iyan atau Robi" Riki menerka-nerka
"kalian mundur" ucap Zulfikar
Alan dan Riki menjauh, Zulfikar menembak gembok tersebut hingga rantainya berjatuhan di lantai.
braaaakkk
ia menendang pintu bilik tersebut. betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang berada di dalam.
"ya Tuhan. Al, Riki, bantu saya" teriak Zulfikar
keduanya masuk ke dalam. seseorang sedang tergantung di bilik itu dengan tali yang melilit lehernya kemudian kepalanya di tutupi dengan kain. Zulfikar memegang kaki orang tersebut agar tali itu tidak semakin mencekik lehernya.
Riki dengan cepat memotong tali tersebut sampai putus kemudian orang itu di turunkan ke lantai. kain penutup kepalanya di buka oleh Alan.
"bang Iyan" Alan langsung memeluk Iyan yang hampir saja mati digantung
"Al" Iyan bersuara dengan sangat lirih
"ya Allah bang" Alan menangis melihat keadaan Iyan yang sangat mengenaskan
"sebaiknya bang Iyan kita bawa ke atas pak" ucap Riki
"iya benar. ayo, tiba di atas saya akan menghubungi dokter Anwar untuk datang ke tempat ini" Zulfikar setuju
Riki menggendong Iyan di punggungnya, sementara Zulfikar dan Alan mengawasi di belakang jangan sampai mereka diserang mendadak.
"aaaggghh" suara teriakan itu mengagetkan Cakra, Faiz dan Randi
"kalian dengar...?" tanya Cakra menerangi setiap bilik
"dengar pak, suaranya berasal dari sana" Faiz menunjuk ke arah dimana suara itu berasal
ketiganya melangkah cepat. sayangnya teriakan itu tidak terdengar lagi sehingga mereka kebingungan untuk mencari dimana asal suara itu.
"hilang" ucap Randi
"tadi suaranya berasal dari sini" ucap Faiz begitu yakin dengan pendengarannya
"periksa setiap bilik di sini" ucap Cakra
mereka mulai memeriksa bilik yang banyak itu. semua pintunya tidak dikunci hingga ada satu bilik yang ditemukan Faiz terkunci dari luar.
"pak di sini" panggil Faiz
Cakra dan Randi mendekat, gembok besar berantai terpasang di pintu bilik itu.
dor
dor
dua tembakan berhasil menghancurkan gembok tersebut. Cakra membuka pintu, di dalam bilik itu Robi tergelatak bersimbah darah.
"bang Robi"
"Robi"
Randi bergerak cepat dan memangku kepala Robi. satu pisau tajam tergelatak di lantai dengan penuh darah. perut Robi mengeluarkan darah segar yang kental dan begitu banyaknya.
bukan hanya di perut, kepalanya pun berdarah, kedua matanya bengkak akibat siksaan yang ia alami.
"kita bawa ke atas" perintah Cakra
Faiz menggendong Robi dan mereka dengan cepat mencari jalan keluar untuk kembali ke atas.
"kedua teman kita sudah aku singkirkan bang dan sekarang gue yakin saat ini mereka sudah menjadi mayat" Olan begitu puas
"sekarang giliran mu bang. gue akan membawa dirimu ke tempat dimana hewan buas akan mencabik-cabik tubuhmu"
"tidak semudah itu. lihatlah di belakangmu" ucap Rahim
tepat saat Olan membalikkan tubuhnya, saat itu juga Hana memukul kepala laki-laki itu dengan botol minuman.
"aaaggghh, brengsek" Olan teriak kesakitan, kepalanya mengelus darah
Maharani berlari ke arah Rahim dan membuka ikata tangannya menggunakan pecahan botol. setelah kedua tangan Rahim terlepas, mereka berdua berpelukan.
"kamu baik-baik saja...?" Rahim menangkup wajah Maharani
"aku baik, anak kita juga baik"
"a-anak...?"
"iya, Rahim junior sekarang ada sini" Maharani mengambil tangan Rahim untuk memegang perutnya
"kejadian malam itu membuat aku mengandung anakmu sayang, anak kita" Maharani tersenyum bahagia
"maafkan aku sayang, maafkan aku. harusnya aku bisa menahan diri. aku akan bertanggung jawab" Rahim kembali memeluk Maharani
"dasar wanita kurang ajar, berani sekali kamu melawanku sialan" Olan bangun dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit
Maharani dan Hana berdiri di belakang Rahim. Rahim mengambil kain dan melilitkan dikedua tangannya. sorot matanya tajam bersiap melawan saudaranya tirinya itu.
tubuhnya yang babak belur tidak membuatnya lemah untuk membalas perbuatan Olan.
"hhh, elu sudah bebas rupanya. baiklah, mari kita bertarung sampai mati" Olan menatap tajam ke depan
"gue nggak menyakiti elu Arkan, tapi jika elu memaksa maka apa boleh buat. harusnya elu dengarkan penjelasan gue"
"persetan dengan penjelasan elu bang"
Olan menyerang Rahim, keduanya terlibat pertarungan yang sengit. Maharani dan Hana berlindung dipojok ruangan itu.
buaaaak
buaaaak
Rahim menendang Olan hingga laki-laki itu tersungkur ke lantai. Olan bangun dan kembali menyerang. tenaga Rahim yang sudah banyak terkuras membuat dirinya kewalahan dan kini Olan meringkusnya.
Olan berada di atas tubuh Rahim. ia memukul wajah Rahim berkali-kali dengan membabi buta.
ditariknya rambut Rahim dengan kasar dan membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali. hidungnya sudah mengeluarkan darah bahkan dirinya mulai pusing kesakitan luar biasa yang ia rasakan.
Rahim meraih satu botol yang ada di dekat mereka dan memukuli kepala Olan dengan botol tersebut.
buaaaak
bugh
Rahim menendang Olan hingga laki-laki itu menghantam kursi. pertarungan tetap berlanjut. rupanya Olan menyembunyikan pisau tajam di balik jaketnya. ia menusuk rahim dengan pisau itu.
jleb
ugh
"RAHIM" teriakan Hana terdengar begitu keras
"gue sudah bilang bang, gue akan mengirim elu ke neraka" ucap Olan yang semakin memperdalam tusukan pisau itu
"kalau begitu kita pergi bersama-sama" ucap Rahim dimana mulutnya telah mengeluarkan darah
jleb
jleb
Rahim mencabut pisau yang tertancap di perutnya dan menusukkan pisau itu ke perut Olan dua kali. mereka berdua kini sama-sama terluka.
keduanya sama-sama tersungkur ke lantai. Maharani berlari menghampiri Rahim dan memeluknya erat, sementara Hana berdiri tepat di samping Olan yang kesakitan.
__ADS_1
"s-sayang"
"bertahan, tolong bertahan. jangan tinggalkan aku" Maharani mulai menangis
"m-maafkan aku, a-aku...tidak bisa b-bersama kalian"
Maharani menggeleng dengan deraian air mata.
"j-jaga anak k-kita baik-baik"
"aku mencintaimu"
perlahan mata Rahim tertutup dan tangannya jatuh ke lantai.
"RAHIIIIIIIM"
"bang Rahim" Mahendra yang baru saja datang bersama Mahesa dan Danil langsung mendekat
segera mereka membawa Olan dan Rahim yang sedang terluka parah. tiba di atas, ambulan telah di sediakan. Robi dan Iyan telah dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu oleh Randi dan Riki sementara yang lainnya menunggu kedatangan Mahesa yang mencari Rahim.
suara sirine ambulan menandakan bahwa yang berada di dalam ambulan adalah seseorang yang benar-benar dalam keadaan terluka parah. Maharani tidak hentinya menangis di samping Rahim.
sesampainya di rumah sakit, Rahim dan Olan segera dilarikan ke ruang IGD untuk dilakukan operasi.
2 tahun kemudian
"bang, jadi jemput ayah dan ibu...?" tanya Danil
"jadi, pulang dari urusan kampus, abang langsung ke stasiun" jawab Mahendra
"terus orang tua bang Robi datang juga nggak bang...?"
"jelas datang Dan, kan Robi mau wisuda"
"Mahendra, ada pacar lu nih" Faiz berteriak di bawah sana
Mahendra dan Danil turun ke lantai satu. di ruang utama, Maureen sedang duduk di kursi, bukan hanya dirinya namun ada lagi satu wanita yang duduk di samping Iyan.
wanita itu adalah Rianti, wanita yang berteman dengan Olan dan Iyan namun ia menaruh hati kepada Olan. tapi sepertinya saat ini, Rianti menjalin hubungan dengan Iyan.
"yang mau wisuda wajahnya cerah banget ya secerah mentari" ledek Riki kepada Mahendra
"tapi yang satunya nggak cerah bang Riki, wajahnya kusut seperti kain yang nggak disetrika" Randi memperhatikan Robi
"Selda nggak datang Rob...?" tanya Mahendra
"masih sibuk dandan sepertinya" jawab Robi mengehala nafas
"punya pacar yang pintar dandan bagus tau bang Robi, bisa cantik setiap hari" celetuk Alan
"assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Selda datang dengan senyuman manisnya yang ia pasang untuk Robi yang menatapnya datar tanpa ekspresi.
"maaf yang, aku telat" Selda duduk di samping Robi
"humm" Robi menjawab malas
"ya udah berangkat yuk, siang nanti kan mau jemput orang tua kamu" ucap Maureen
keempat sahabat itu yang kini berubah status menjadi pasangan, berpamitan kepada yang lainnya untuk ke kampus. Robi dan Selda kini tengah menjalin hubungan sama seperti Mahendra dan Maureen.
hari kelulusan tiba juga. Selda dan Maureen sudah begitu cantik dengan kebaya yang mereka kenakalan dan baju wisuda serta toga di kepala mereka. sementara Mahendra dan Robi pun memakai pakaian mereka.
acara demi acara berlangsung dan kini saatnya mereka berfoto bersama.
"gue hitung ya. 1...2...3"
cek rek
berbagai pose dan gaya mereka lakukan. orang tua Mahendra dan Robi pun begitu antusias ingin mengambil gambar bersama anak-anak mereka.
sehari setelah wisuda, orang tua Mahendra dan Robi pulang ke kota tempat tinggal mereka. saat ini squad 010 sedang ke suatu tempat menemui orang-orang yang mereka sayangi.
tiba di tempat itu, mereka duduk mengelilingi tiga kuburan yang ada di depan mereka. mereka membersihkan tiga kuburan itu dengan tangan mereka.
"assalamualaikum" ucap Mahendra
"bagaimana kabar kalian di sana, Kevin, Wili dan bang Olan. kami datang lagi menjenguk kalian" lanjut Mahendra
"bang Olan, bang Kevin, bang Wili... sekarang kos sepi nggak ada kalian bang" ucap Alan berucap lirih
"semoga kalian tenang di sana ya" Faiz memegang nisan Kevin
"hanya bang Damar yang jauh, kapan-kapan kita harus menjenguk bang Damar. gue kangen sama dia" ucap Randi memeluk nisan Wili
"kita akan ke sana, sekarang kita ke rumah sakit" ucap Iyan yang
mereka menaburkan bunga di atas tiga kuburan itu kemudian berpamitan pulang dan meninggalkan tempat tersebut.
di rumah sakit, seorang wanita dengan anak kecil laki-laki berumur satu tahun lebih, sedang duduk di samping salah seorang laki-laki yang terbaring di ranjangnya.
pintu ruangan terbuka, squad 010 masuk ke dalam. Alan langsung mengambil bayi itu dari gendongan ibunya.
"ponakan om apa kabar, makin hari makin ganteng ya" Alan mencium pipi gembul anak itu
"belum ada tanda-tanda dia akan sadar...?" tanya Iyan kepada Maharani
wanita itu adalah Maharani, dan anak kecil yang Alan gendong adalah anaknya bersama Rahim yang kini terbaring koma.
"sudah dua tahun ia terbaring seperti ini" Maharani memegang tangan Rahim
"bahkan Akhtar pun sudah besar, tapi Rahim belum juga bangun" lanjut Maharani
"ehekk ehekk" Akhtar yang berada di gendongan Alan menangis
Maharani segera mengambil anaknya dan memangkunya. tangan bayi kecil itu terulur dan memegang erat jari kelingking ayahnya.
"bang Rahim pasti bangun, kamu harus yakin itu. kita semua harus yakin" ucap Riki yang melihat Akhtar memainkan jari-jari Rahim.
mereka kemudian duduk di sofa dan bermain dengan bayi Akhtar. bayi gembul dan montok itu sama sekali tidak takut kepada siapapun bahkan kepada orang yang baru saja ia kenal. saat mereka sedang sibuk bermain dengan bayi Akhtar, di ranjangnya Rahim perlahan menggerakkan tangannya dan kemudian membuka matanya.
Maharani sedang duduk menemaninya tanpa bosan sedikitpun. ia memperhatikan Akhtar yang begitu senang diajak bermain oleh semua om-omnya.
"sayang" tangan Rahim menyentuh tangan Maharani
Maharani menoleh dan seketika tangisnya pecah melihat Rahim telah sadar dari komanya. ia langsung memeluk Rahim dan menangis sejadi-jadinya. yang lain mendekat, mereka begitu bahagia Rahim akhirnya sadar juga.
Danil memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Rahim.
"apa yang kamu rasakan..?" tanya dokter
"kepalaku sakit dan pusing dok" Rahim memegang kepalanya
"karena pendarahan yang ada di kepalamu saat dioperasi dua tahun lalu, membuat dirimu koma selama itu. syukurlah, Tuhan masih menyayangimu untuk berkumpul bersama keluarga"
"sekarang keadaanmu sudah lebih baik namun tetap saja harus banyak istirahat"
"Alhamdulillah" mereka semua mengucapkan syukur
setelah memeriksa keadaan Rahim yang sudah mulai lebih baik, dokter meninggalkan ruangan itu.
"bang Rahim" panggil Alan
Rahim tersenyum dengan wajahnya yang pucat. perhatiannya tertuju kepada seorang bayi laki-laki yang digendong oleh Mahendra.
"dia Akhtar Rayyan Abdullah, anak kita" ucap Maharani mengambil bayi Akhtar dan memberikan kepada Rahim yang sedang bersandar di ranjang
mata bulat bayi Akhtar menatap Rahim dengan intens kemudian tersenyum dan mencoba meriah wajah Rahim.
Rahim mengangkatnya dan perlahan bayi itu malah mencium wajah Rahim.
"dia sepertinya tau kalau abang ayahnya" ucap Mahendra terharu dengan perlakuan Akhtar
Rahim meneteskan air mata dan menciumi seluruh wajah Akhtar membuat bayi berumur satu tahun lebih itu tertawa geli.
__ADS_1
Rahim memeluk Maharani dan putranya. ia bersyukur Tuhan memberikan dirinya kesempatan untuk hidup dan berkumpul dengan orang-orang yang ia sayangi.
Tamat......