Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 33


__ADS_3

Alan masih berada di kost, dia akan ke kampus jam 1 siang nanti. saat itu dirinya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk melihat luka di belakang Kevin. dia ingin memastikan kalau Kevin benar-benar pembunuhnya atau bukan.


"bagaimana cara untuk memeriksanya ya" gumam Alan. dia terus saja bolak-balik kanan dan kiri


tok...tok...tok


pintu kamar Alan diketuk membuatnya terlonjak kaget karena sejak tadi dirinya terus melamun.


tok...tok...tok


terdengar ketukan lagi dari luar. Alan mulai waspada, siapa yang mengetuk pintu kamarnya. biasanya kalau penghuni kost akan langsung memanggilnya tapi kali ini berbeda. dirinya mulai diliputi rasa cemas.


"siapa...?" Alan bertanya dari dalam


"gue" jawab yang berada diluar


mendengar jawaban orang tersebut, Alan mendekati pintu dan membukanya. tampaklah seseorang yang sedang tersenyum ke arahnya.


"ada apa bang...?" tanya Alan


"harusnya gue yang nanya udah siap-siap belum, katanya mau berangkat bareng ke kampus. gue udah mau pergi nih" jawab Wili, ya orang tersebut adalah Wili


"ooh... tunggu bentar, Alan siap-siap dulu. nggak akan lama kok" jawab Alan


"ya udah gue tunggu di bawah ya" ucap Wili


Wili melangkah pergi namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Alan.


"tumben bang Wili nggak langsung teriak aja saat datang di kamar Alan...?"


Wili berbalik dan menatap Alan yang sedang berdiri di pintu dan juga sedang melihat ke arahnya.


"rencananya mau nakutin elu tadi, tapi nggak jadi. nanti elu nangis lagi" ucap Wili tersenyum


"nakutin bagaimana, ini masih siang bang. nggak akan ada hantu kalau siang-siang begini"


"nakutin...gue jadi pembunuhnya" seketika wajah Wili menjadi datar dan menatap dingin ke arah Alan. hal itu membuat Alan merinding saat melihat tatapan tajam dari Wili


"nggak lucu bang" Alan berusaha menyikapi ucapan Wili sebagai candaan semata


"memangnya siapa bilang kalau ada yang lucu, apa wajah gue terlihat sedang melucu sekarang...?" jawab Wili dengan datar


"hai Alan, mau bermain denganku...?" Wili tersenyum menyeringai ke arah Alan


buuuk


seketika Alan melemparkan lap kaki yang ada di kamarnya dan langsung mengenai Wili.


"hahahaha, muka lu tegang banget Al" Wili langsung ngakak seketika


"kampret lu bang" Alan hendak mengejar Wili namun Wili langsung melarikan diri turun ke bawah


"hampir jantungan aku" gumam Alan yang mengambil lap kaki yang dilemparkannya tadi dan melangkah ke kamarnya


"tapi..." Alan menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah tangga dimana Wili sudah tidak ada di sana


"nggak mungkin, aku tau bagaimana bang Wili" Alan menggeleng kepala dan masuk ke dalam kamarnya


setelah bersiap dia langsung turun ke bawah menemui Wili yang sudah menunggunya sejak tadi.


"udah...?" tanya Wili


"udah bang" jawab Alan menghampirinya


"kuy jalan" Wili mengambil tasnya dan juga helmnya yang ada di atas meja kemudian mereka keluar dari kost. tidak lupa mereka mengunci pintu karena kini kost tersebut tidak berpenghuni atau semua penghuninya sedang tidak ada di tempat.


"pulang jam berapa Al...?" tanya Wili sedikit keras agar Alan dapat mendengar suaranya


"sore bang, kenapa...?" jawab Alan sekaligus bertanya


"pulang bareng sebentar ya, temani gue beli buku nanti" jawab Wili


"iya, nanti abang hubungi Alan saja"


Wili mengangkat jempol kirinya tanda setuju dengan Alan. hingga beberapa menit mereka sampai juga di fakultas Alan.


"nanti gue telepon ya" ucap Wili saat Alan sudah turun dari motornya


"iya bang" jawab Alan, setelah itu Wili meninggalkan fakultas Alan


di cafe kopi nikmat, Mahendra dan Danil tengah duduk berhadapan dengan seorang polisi, dia adalah Mahesa. Zulfikar dan Cakra tengah mencari tau kemana perginya Kevin saat semalam, sehingga kini tinggal Mahesa yang bertemu dengan Mahendra.


"pesan minum dulu, kalian pasti haus dari luar yang cuacanya sangat panas" ucap Mahesa


"nggak perlu pak, saya hanya ingin segera menyampaikan sesuatu" jawab Mahesa


"tapi Danil mau minum bang" ucap Danil


"ya sudah, pergi pesan kalau begitu" ucap Mahendra


Danil beranjak meninggalkan kursinya dan memesan dua kopi yang menjadi kopi favorit di cafe itu kemudian dia kembali lagi bergabung bersama Mahendra dan Mahesa.


"apa yang ingin kamu katakan...?" tanya Mahesa


Mahendra merogoh ponselnya di saku celananya dan mencari sesuap di layar benda pipih itu. banyak pesan masuk serta panggilan tak terjawab dari Maureen namun Mahendra mengabaikannya karena ada yang jauh lebih penting dari gadis itu.


"saya menemukan ini tas Damar" Mahendra menyerahkan ponselnya kepada Mahesa


Mahesa mengambil ponsel itu dan melihat gambar yang ada di ponsel Mahendra, kemudian matanya langsung mengarah kepada Mahendra.


"ini tulisan Damar...?" tanya Mahesa


"sepertinya iya pak, saya menemukan itu di tas Damar. dia menulis itu di tali tasnya dengan darah, dan sepertinya itu adalah darahnya sendiri" jawab Mahendra


"010 pembunuh...00...." Mahesa tidak dapat membaca angka selanjutnya


"angka terakhir tidak jelas" ucap Mahesa


"itu juga yang sedang saya cari pak. sepertinya Damar menuliskan angka nomor dari kamar pelaku" ucap Mahendra


"jadi benar ya kalau sekarang kita tinggal satu atap sama pembunuh bang" tanya Danil


"jangan terlalu dek, perlihatkanlah kalau kamu berani agar dia tidak mencelakaimu" Mahendra melihat Danil


"tapi Danil takut bang, bagaimana kalau...."


"jangan berpikiran buruk dulu, Abang akan mencari siapa orangnya" jawab Mahendra


"jadi apa maksudmu memberitahu ini padaku...?" tanya Mahesa


"aku ingin kita bekerjasama untuk menangkap pelakunya" jawab Mahendra

__ADS_1


"bagaimana aku bisa yakin untuk berkerjasama denganmu. kalian semua adalah tersangka sekarang, tidak menutup kemungkinan kalau kamu adalah pelakunya" Mahesa menatap dalam Mahendra


"pelaku yang menyuruh polisi untuk bekerjasama dengannya, itu sungguh tidak masuk akal. kalau saya pelakunya, untuk apa saya datang memasukkan diriku ke sarang polisi" jawab Mahendra yang terlihat tenang


"bang Arga bukan pelakunya pak. bang Arga dan bang Damar itu sahabat" Danil tidak terima abangnya dituduh


"sekarang ini banyak pagar makan tanaman, penjahat yang berkedok sebagai sahabat" jawab Mahesa masih belum percaya


percakapan mereka terhenti karena seorang waiters membawakan minuman yang di pesan oleh Danil tadi.


"bukannya kalian sudah memeriksa alibi saya saat malam kematian Damar. apa itu tidak cukup untuk membuktikan kalau saya tidak terlibat atau bukan pelakunya...?" ucap Mahendra


"lagipula ada yang harus patut dicurigai selain saya" ucap Mahendra lagi


"siapa...?" Mahesa sebenarnya sudah tau namun tidak mungkin langsung menyebut namanya, Mahendra akan curiga kalau hal itu dia lakukan


"Kevin. Randi menemukan pisau dan jam tangan Damar di dalam kamar Kevin" jawab Mahendra


"lalu kenapa barang bukti itu tidak diserahkan kepada kami...?" tanya Mahesa


"kalau diserahkan jelas sidik jari Randi akan berada di pisau itu sedang dia yang menemukannya" jawab Mahendra


"bagaimana kalau sebenarnya Randi adalah pelakunya. dia sengaja menyimpan pisau dan jam tangan itu untuk mengelabui kalian dan akhirnya kalian semua mencurigai Kevin" Mahesa mengeluarkan pendapatnya


"nggak mungkin pak, bang Randi orangnya baik banget. nggak mungkin melakukan hal keji seperti itu" Danil tidak percaya dengan ucapan Mahesa


"kalian tau apa keahlian dari seorang psikopat...? selain pandai membunuh tanpa meninggalkan jejak, dia juga pandai bersandiwara" jawab Mahesa


Mahendra dan Danil terdiam, mereka tidak membenarkan ucapan polisi itu namun tidak menutup kemungkinan kalau itu memang benar.


"dia berada di tengah-tengah kalian. tentu keberadaannya yang belum diketahui siapa sebenarnya dia, sangat memudahkan dia untuk membuat kalian saling tuduh satu sama lain meskipun memang kenyataannya kalian akan saling mencurigai, tapi dia lebih akan membuat situasi menjadi dibawah kendalinya" ucap Mahesa


"lalu apa yang harus kita lakukan...? tanya Mahendra


Mahendra menatap ke arah Mahesa dengan tatapan serius sementara Mahesa membalas tatapan Mahendra dan bersandar di kursi.


sore hari kost 010 mulai berpenghuni kembali. satu persatu mereka yang beraktivitas di luar mulai berdatangan. kali ini Iyan, Faiz dan Randi yang baru saja pulang. ketiganya bertemu saat akan masuk ke halaman kost.


di dalam sudah ada Rahim dan Damar serta Kevin yang sedang bersantai di ruang utama.


"nggak pulang malam yan...? Rahim bertanya kepada Iyan


"nggak bang, gue kan masuk pagi" jawab Iyan ikut bergabung bersama mereka begitu juga Faiz dan Damar


"malam ini makan di luar yuk" ajak Damar


"lagi bokek gue" jawab Kevin yang sedang memainkan ponselnya


"gue yang traktir" timpal Damar


"idih...ada angin apa main traktir, habis jadian ya...?" ucap Randi menebak


"jadian dari Hongkong. kebetulan hari ini gue ulang tahun" ucap Damar


"oh ya, wah selamat ulang tahun kalau gitu. kok nggak bilang-bilang sih kalau elu ulang tahun, tau gitu kita bisa rayain semalam" Iyan menepuk bahu Damar


"semalam gue rayain sama...."


"sama gebetan ya, cieeeee" Randi menggoda


"kenapa, elu iri... makanya cari cewek sana jangan makanan mulu yang elu pikirin" Damar membalas ejekan Randi


"selama masih bernafas, dia kayaknya nggak tertarik sama perempuan" timpal Kevin yang masih fokus dengan ponselnya


"sabar, dia butuh waktu" Faiz menepuk bahu Kevin saat Kevin melihat Randi meninggalkan ruang utama tanpa sepatah katapun


"dia kayaknya benci banget sama gue" ucap Kevin


"udahlah nggak usah mikirin itu, sekarang kalian mandi terus kita sholat, udah mau magrib" Rahim pun beranjak meninggalkan ruang utama, setelah itu yang lainnya pun ikut bubar


setelah magrib, Wili dan Alan baru saja datang bersamaan dengan kedatangan Mahendra dan Danil.


"tumben banget pulang malam Wil" ucap Mahendra turun dari motornya


"abis keliling sama adek bungsu" Wili merangkul Alan.


"Danil ya yang paling bungsu di sini" timpal Danil


"hahaha iya, Alan sekarang jadi abang" Wili menggoda Alan


"kamu merebut posisiku sekarang Dan" Alan memasang wajah cemberut


"bukan merebut bang, tapi emang kenyataan begitu" Danil tersenyum


"ya udah ayo masuk" ajak Mahendra


saat masuk mereka melihat yang lain sedang duduk berdiskusi di ruang utama.


"lagi ada rapat apaan...?" tanya Wili


"rapat makan-makan di luar, yang ulang tahun mau traktir" jawab Randi


"oh ya, siapa yang birthday...?" tanya Mahendra


"gue. gue mau ngajak kalian makan di luar" Damar menjawab


"pergi sekarang...?" tanya Alan


"nggak kita, kita nunggu Olan pulang dulu. tadi gue udah telpon dan dia bilang dalam perjalanan pulang" jawab Rahim


"kalau gitu gue mau mandi dulu deh, sebelum bang Olan datang" Wili beranjak menuju kamarnya


Mahendra, Danil dan Alan pun menuju ke lantai atas untuk ke kamar mereka. beberapa menit menunggu, Olan pun datang. setelah istirahat sejenak, merekapun keluar sesuai rencana yang telah mereka lakukan.


rekan : kami sudah keluar


seseorang mengirim pesan kepada Mahesa. setelah membaca pesan itu, ketiga polisi tersebut segera meluncur ke kost 010.


tiba di sana, mereka langsung masuk ke dalam dan memasang beberapa cctv di beberapa titik. mereka melakukan ini untuk mengetahui pergerakan si pelaku.


mereka datang dalam keadaan kost sedang kosong karena kalau mereka datang saat ditau oleh penghuni kost jelas pergerakan mereka akan terbatas. hanya dengan seperti itu mereka dapat memasang cctv di tempat yang tidak terlihat.


pertama mereka menyimpan di ruang utama, di sebuah pot bunga yang berada di pojokan ruangan karena hanya di pot bunga itu tempat yang aman. kedua di dapur, ketiga di lorong lantai atas dan keempat di balkon.


mereka tidak memasang di kamar penghuni kost karena tidak memiliki kunci untuk masuk ke dalam. mereka hanya memasarkan dibeberapa titik karena sudah jelas jika akan bertindak maka si pelaku pasti akan keluar dari kamarnya. setelah selesai, mereka kemudian meninggalkan tempat itu.


squad 010 berhenti di sebuah penjual nasi goreng di pinggir jalan. mereka berhenti di tempat itu dan akan makan di situ. sengaja mereka memilih tempat terbuka, agar dapat leluasa untuk bergerak.


"pak, nasi gorengnya 10 porsi ya, kemudian minumannya teh hangat" Damar memesan


"siap den" jawab penjual

__ADS_1


di tempat itu mereka duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan dengan bangku yang panjang.


"gue boleh ngomong sesuatu...?" Mahendra mendatangi salah satu penghuni kost yang duduk tidak sebangku dengannya


"ada apa...?" tanyanya


"kenapa Hen...?" tanya Olan


"gue mau ngomong sama dia, bentar aja bang" Mahendra memegang lengan temannya itu dan membawanya ke tempat sedikit jauh


"ada apa sih...?"


"gue udah tau siapa elu" ucap Mahendra


"maksudnya...?" ucapnya tidak mengerti


"elu mata-mata yang disuruh oleh pak Mahesa kan" Mahendra menatap Damar


"ssssttt" dia membungkam mulut Mahendra agar tidak berbicara terlalu keras


"bagus kalau elu udah tau, tetap rahasiakan dan bersikap yang sewajarnya saja" ucapnya


"apa rencana ini akan berhasil...?" tanya Mahendra


"elu sudah tau...?"


"iya, pak Mahesa memberitahu gue".


"kalau elu nggak buka mulut, jelas mereka nggak akan tau"


"terus bagaimana dengan alibi yang Kevin bilang kemarin...?"


"sudah di periksa dan memang benar dia menginap di rumah temannya. elu tau kan di jalan kaligasan tempat Karina meninggal, dia ke rumah temannya yang berada di tempat itu"


"yang bernama Rison itu...?"


"iya"


"jadi bukan dia pelakunya...?"


"psikopat akan mempunyai beribu cara untuk melancarkan aksinya. alibinya memang benar tapi bukan berarti dia dihilangkan dari daftar tersangka"


"woi, kalian ngapain di situ" Iyan memanggil mereka


"ayo balik"


mereka berdua kembali bergabung bersama yang lain. nasi goreng yang di pesan telah tersedia di atas meja, dengan segera mereka menyantap makanan itu dengan lahap.


"habis ini kita kemana lagi...?" tanya Olan


"ke puncak yuk, biasanya kalau malam begini kadang rame. banyak yang pacaran" ajak Randi


"elu kan jomblo, ngapain ke puncak" jawab Kevin


"kayak elu nggak jomblo aja" cibir Randi dengan nada ketus


"ke pantai aja yuk, suasana di pantai kalau malam hari itu sangat tenang, apalagi suara ombak yang begitu tenang" Danil memberikan usul


"boleh tuh, sekalian gue ngambil gitar di kost teman yang nggak jauh dari sini, nyanyi di pantai kayaknya seru" Wili menimpali


"kalau gitu kita pergi sekarang, sebelum terlalu malam" ajak Rahim


mereka pun beranjak dari tempat duduk. Damar segera membayar makan mereka semua kemudian meninggalkan tempat itu. Wili singgah di kost temannya untuk mengambil gitar, setelahnya mereka kembali membelah jalan raya menuju pantai terdekat di kota itu.


"ada yang bawa korek nggak...?" Mahendra bertanya, mereka kini telah tiba di pantai.


sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang duduk bersama pasangan mereka.


"untuk apa...?" tanya Faiz


"mau buat api unggun supaya nggak terlalu dingin" jawab Mahendra


"nih, gue punya" Wili memberikan korek gas kepada Mahendra


"elu kan nggak merokok Wil, tumben bawa korek" ucap Iyan


"gue merokok kok bang, ya sesekali kali aja nggak sering banget" jawab Wili


Mahendra menyalakan api unggun kemudian mereka duduk mengelilingi api unggun tersebut.


"semoga persahabatannya kita akan terus seperti ini ya, sampai kapanpun" ucap Rahim


"nggak mungkin bang, salah satu dari kita adalah pembunuh" Randi berucap kemudian melirik Kevin


"siapapun dari kalian yang menjadi pelakunya, gue yakin kamu masih punya hati nurani. tolong berhenti, apa nggak cukup sahabat kita menjadi korbanmu. kita saudara meski tidak serahim, gue mohon berhentilah" Mahendra mengatakan itu dengan tatapan sendu ke arah semua penghuni kost


"menyadarkan seorang psikopat tidak mempan hanya dengan kata-kata mutiara Hen, kalau sudah menjadi iblis dia tetap akan menjadi iblis" Damar menimpali ucapan Mahendra


"kalau seandainya nanti gue jadi korban selanjutnya, karena sebuah kesalahan yang membuat dia membunuh gue, gue pengen kalian tau kalau malam ini, sangat berkesan dalam hidup gue" Kevin berucap dengan tersenyum


"jangan ngomong gitu Vin, nggak akan ada yang menjadi korban. kita akan menemukan pembunuhnya, tolong jangan berbicara seperti itu. gue nggak suka" Randi menimpali


"elu khawatir sama gue...?" Kevin tersenyum melihat reaksi Randi


"nggak, gue hanya kasian sama orang tua elu aja" elak Randi


"dasar" Kevin merangkul Randi yang ada di sampingnya. kendatipun mereka pernah bertentangan namun tatap saja rasa sayang selalu melekatkan dalam diri mereka


"Bagaimana kalau seandainya Randi adalah pelakunya. dia sengaja menyimpan pisau dan jam tangan itu untuk mengelabui kalian dan akhirnya kalian semua mencurigai Kevin" *Mahendra teringat ucapan Mahesa tadi siang


"Kalian tau apa keahlian dari seorang psikopat...? selain pandai membunuh tanpa meninggalkan jejak, dia juga pandai bersandiwara*"


sungguh sangat membingungkan bagi Mahendra, dirinya sama sekali tidak tau mana pelaku sebenarnya karena keahliannya yang sangat pintar memainkan perannya sebagai sahabat dan saudara yang ternyata adalah seorang iblis berwujud manusia.


malam itu mereka lalui dengan suka cita. Wili dan Kevin membawakan lagu yang membuat malam semakin terasa hangat bagi persahabatan mereka.


hingga kemudian ponsel Mahendra berbunyi, sebuah pesan masuk dari Maureen.


Maureen : aku sudah mencaritahu angka terakhir yang elu perlihatkan kemarin,


Mahendra : terus, angka apa sebenarnya itu, cepat katakan


Maureen : katakan dulu itu sebenarnya angka apa...?


dengan terpaksa Majene memberitahu bahwa itu adalah angka yang ditulis oleh almarhum Damar di tali tasnya. dia juga memberitahu kalau sepertinya angka itu berkaitan dengan si pembunuh.


setelah membalas pesan itu, Mahendra pamit ke toilet. ponselnya ia biarkan begitu saja tergelatak di samping salah satu penghuni kost yang lain.


ting....


Maureen : kalau memang itu angka untuk menangkap pembunuhnya maka aku sudah mendapatkannya, kita bisa bertemu dan aku akan memberitahukan padamu

__ADS_1


saat itu juga salah satu penghuni kost membaca pesan yang di kirimkan oleh Maureen. karena posisinya berada di dekat ponsel Mahendra.


__ADS_2