
"mau balik di kost nggak, buat ganti baju. kita kan disini nggak ada baju ganti" ucap Iyan
mereka kini berada di teras rumah ibu Nani, hujan deras tadi membuat mereka semua basah kuyup dan otomatis mereka harus berganti pakaian jika tidak ingin masuk angin dan akhirnya sakit.
"balik aja deh, nanti malam kita datang lagi untuk pengajian buat Kevin" Mahendra menjawab
sementara berbincang untuk pulang ke kost 010, Zulfikar, Mahesa dan Cakra mendatangi mereka semua
"kami pulang dulu, ada yang harus kami lakukan untuk mengumpulkan bukti semua perbuatan Wili" ucap Mahesa
"kami harus ke rumah itu lagi" lanjut Mahesa
"terimakasih banyak pak sudah membantu kami mengusut masalah ini dan sampai akhirnya pelakunya kami ketahui" ucap Rahim
"itu memang sudah tugas kami" jawab Mahesa
"dan untuk kamu Damar, setelah ini kamu bisa kembali ke kehidupanmu seperti semula. tidak perlu lagi menyamar dan kembalilah ke rumahmu" Mahesa menatap Damar
"menyamar...?" mereka tampak bingung namun tidak dengan Mahendra
"oh iya, perlu kalian ketahui Damar adalah seorang polisi. dia adalah rekan kerja kami untuk mengusut kasus ini. kami mengutusnya menyamar menjadi mahasiswa dan kost di tempat kalian" Mahesa menjelaskan agar mereka tidak tampak bingung dengan ucapannya
"polisi...? kali ini mereka ternganga tidak percaya
"jadi bang Damar seorang polisi...?" Alan melihat Damar
"benar Dam...?" Faiz sungguh sangat tidak percaya kalau teman kostnya itu adalah seorang polisi
"benar, gue memang polisi. maaf nggak memberitahu kalian karena memang posisi gue adalah sedang menyamar sebagai mahasiswa" Damar menjawab dan membenarkan ucapan Mahesa
"jadi selama ini kita di mata-matai oleh polisi...?" ucap Danil
"lebih tepatnya mengawasi gerak-gerik kalian." Damar menjawab
"kalau begitu kami pergi dulu. Damar, elu bisa kembali setelah pulang dari sini" Mahesa menepuk bahu Damar
"siap, gue akan ke kost dulu untuk mengambil barang-barang" timpal Damar
ketiga polisi itu meninggalkan rumah ibu Nani, mereka telah berpamitan kepada tuan rumah sebelum mereka menghampiri squad 010.
setelah itu squad 010 ikut pamit untuk pulang ke kost. ibu Nani berpesan agar mereka kembali lagi untuk mengirimkan doa kepada Kevin termasuk juga Damar.
hujan yang sudah mulai reda meski masih menyisakan rintik-rintiknya, mereka terobos dan membelah jalan raya.
mereka harus menempuh 30 menit perjalanan karena memang rumah ibu Nani jauh dari wilayah kost 010. saat tiba, semua kendaraan di parkir di garasi.
"namamu siapa...?"
"Kevin bang"
"selamat datang di kost ini Kevin. kalau ada apa-apa bilang sama gue, anggap saja gue seperti abang elu sendiri"
"benar gue bisa anggap abang seperti abang gue sendiri...?"
"tentu saja, dan mulai sekarang gue akan menganggap elu seperti adik gue"
"boleh gue peluk bang Rahim...?"
"tentu"
buuuk
"makasih bang, gue senang banget bisa punya keluarga sekarang selain ibu Nani"
____________
"gue nggak mau gue nggak mau...."
"hahahaha...angkat Dam, ceburin sekalian"
"huwaaaaa celana baru gue...."
"jahat banget sih kalian berdua, tunggu pembalasan gue"
____________
"Al tangkap
"tunggu sampai banyak ya"
"aduh gimana caranya turunnya ini".
"Abang gimana sih, bisa naik pas turun nggak bisa"
"ya elah pakai ngomel lu, bantuin Napa"
"ya udah Alan tangkap deh"
"tangkap yang benar tapi ya"
"iya iya, udah mau loncat aja"
buuuk
"aduuuuh... katanya mau nangkap gue, kok malah menghindar sih. sakit nih pantat gue"
"hehehe sorry bang, ayuk Alan bantu berdiri"
"nggak usah, sini mangga gue. elu nggak dapat jatah biar satu"
"loh kok gitu..."
"terserah bleeeek"
__ADS_1
_________________
"bang iyaaaan"
bughhh
"aduh"
"elu ngapain salto d situ sih Vin"
"ck, bukan salto, gue lagi berenang. udah tau jatuh bukannya bantuin"
"ini juga, yang naruh pintu di sini siapa sih...halangin jalan aja"
"elu yang jatuh kenapa pintu yang elu salahin"
"salahnya dia ngapain di pasang di sini"
__________________
"woaaaah pahanya mulus banget"
"ya ampun, elu ngagetin aja Vin"
"hayo...bang Olan lagi nonton apa"
"ck, ini video yang lewat di beranda gue"
"bohong, buktinya dari tadi abang senyam-senyum kayak orang gila"
"kualat lu nyebut abang orang gila"
"Kevin aduin sama bang Rahim. abang Ra mmmm"
"ck, tukang ngadu banget sih lu"
"wanipiro" Kevin menaik turunkan alisnya
"nggak ada"
"oh ya udah. BANG RAHIM, BANG OLAN NONTON PAHA MULUS"
"oi Vin, kampret tuh anak"
________________
saat memasuki ruang utama, kenangan demi kenangan berputar di ingatan mereka. semua tentang Kevin yang pernah mereka lalui bersama, berputar bak film yang mengulang kisah silam.
mereka pun menuju ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian. saat telah berada di depan kamarnya, Alan terpaku melihat pintu kamar Kevin. dia pun melangkah mendekati kamar itu dan membuka pintunya yang tidak terkunci.
bau parfum abangnya itu masih tercium di hidungnya. Alan melangkah duduk di kasur dan memandangi kamar itu di setiap sudutnya.
ada salah satu bingkai foto kecil yang terletak di atas meja belajar. Alan mengambil foto tersebut, itu adalah foto penghuni kost 010 saat formasi mereka masih lengkap sebelum Faiz dan Damar yang menyamar menjadi polisi, masuk.
"Al" Iyan memanggil, dia berdiri di pintu memperhatikan Alan
"Alan kangen bang Kevin bang, hiks..hiks... Alan kangen bang Kevin" suara lirih Alan membuat Iyan menghampirinya dan memeluknya
"ikhlas Al, Kevin nggak akan tenang di sana kalau kita terlalu bersedih dengan kepergiannya" Iyan mengelus punggung Alan
"kita doakan dia bahagia di alam sana. sekarang tugas kita adalah, melanjutkan hidup dan juga mendoakan agar Wili dan Randi cepat pulih dan berkumpul dengan kita"
"bang Wili pasti nggak akan bisa bersama kita bang, dia akan diambil polisi" suara parau Alan membuat hati Iyan teriris.
memang benar bahwa teman mereka itu akan di bawa polisi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. entahlah hukuman seumur hidup di penjara ataukah hukuman mati yang menantikan Wili.
setelah berganti pakaian, mereka berkumpul di ruang utama. Rahim sedang memasak mie instan untuk sarapan pagi mereka. karena malas memesan makanan, mereka akhirnya sarapan dengan mie instan.
"karena kita semua berkumpul di sini, gue sekalian mau pamit pulang. gue mau pulang ke rumah dan kembali mengabdi seperti biasanya" Damar memulai percakapan
"makasih Dam, dan kami mohon maaf kalau selama elu di sini ada sikap kami yang kurang enak elu terima" Rahim menimpali
"nggak sama sekali, justru gue senang bisa dianggap keluarga oleh kalian semua" ucap Damar
"bang Damar benaran mau pergi...?" tanya Danil
"iya, tugas gue di sini sudah selesai" jawab Damar
"gimana kalau elu pulang setelah tiga hari kepergian Kevin. dia baru aja pergi Dam, masa elu mau ninggalin kita juga sekarang" Olan mengusulkan keinginannya
"sebaiknya memang seperti itu, terlalu cepat kalau elu pergi sekarang. kita juga harus kembali lagi ke rumah ibu Nani, setelah magrib nanti" ucap Mahendra
"benar Dam, elu di sini dulu selama tiga hari kedepan. meskipun elu nggak pergi jauh seperti Kevin dan Damar, tapi kami akan kehilangan juga karena kita akan jarang bertemu" Faiz setuju dengan usulan Olan
"baiklah, gue turuti keinginan kalian" jawab Damar
"sekarang kita makan terus istrahat, hari ini sangat melelahkan untuk kita semua" ucap Rahim
"baik bang" jawab semuanya
setelah makan, Danil membereskan piring kotor. Rahim melarangnya untuk membiarkan saja dan akan dicuci nanti namun Danil mengatakan sama sekali tidak apa-apa. akhirnya Rahim pun membiarkannya.
Mahendra sedang berada di dalam kamar dengan memainkan ponselnya. dia mengirim pesan kepada Maureen untuk mengetahui perkembangan gadis itu.
sebenarnya mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk Randi dan juga Wili. namun karena mereka juga butuh istirahat, akhirnya mereka akan ke pergi setelah pulang dari rumah ibu Nani.
keluarga Randi dan Wili telah dihubungi, sekarang ini mereka sudah berada di rumah sakit menemani anak masing-masing.
Maureen : gue udah baik kok Hen, thanks udah khawatir
Mahendra : jelas gue khawatir, elu kan sahabat gue
Maureen : nggak pernah bisa diganti ya status itu
__ADS_1
Mahendra sedang memikirkan balasan apa yang akan dikirimkan kepada Maureen. jujur saja saat ini pesan dari Maureen itu membuatnya menimbang-nimbang sesuatu.
Mahendra : apa yang elu lihat dari gue Reen, banyak cowok di luar sana yang lebih baik dari gue
Maureen : kalau elu nggak mau membalas perasaan gue, gue nggak apa-apa kok Hen. nggak usah terbebani dengan itu.
Mahendra : elu cantik Reen, pintar juga...tapi....
Maureen : it's ok, gue ngerti. Selda dan Robi mau ke sini, elu nggak datang...?
Mahendra : mungkin malam baru gue datang, ya udah istrahat kalau gitu
tidak ada lagi balasan dari Maureen, Mahendra menyimpan ponselnya dan menatap langit-langit kamar. hingga pintu kamar terbuka, Danil baru saja selesai mencuci piring dan langsung ke kamar.
"bang, telpon ayah sama ibu yuk, Danil rindu sama mereka" Danil duduk di samping Mahendra
"telpon aja, video call saja"
Danil pun mengambil ponselnya dan melakukan video call dengan orang tua mereka. Mahendra dan Danil terlibat percakapan dengan orang tua mereka, hingga kemudian mereka mematikan panggilan dan mulai terlelap.
setelah magrib, penghuni kost itu nampak telah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah ibu Nani.
"udah siap semua...?" tanya Rahim
"udah bang" jawab Olan, melihat mereka telah lengkap semua
"kalau begitu kita berangkat sekarang"
mereka meninggalkan kost 010 menuju ke rumah ibu Nani. tiba di sana rumah duka itu telah dipenuhi oleh para tetangga yang datang karena diundang ibu Nani. setelah semuanya siap, acaranya pun di mulai dan dipimpin oleh seorang ustad.
selesai acara, squad 010 bergegas ke rumah sakit. mereka ingin melihat perkembangan kedua teman mereka.
"maaf suster, pasien atas nama Wili Alfiansyam yang kemarin kritis sekarang dimana ya...?" Damar bertanya saat Wili ternyata sudah tidak ada di ruang ICU
"sudah dipindahkan pak, bapak bisa menjenguknya di kamar anggrek" suster itu menjawab sopan
"makasih sus" ucap Damar
"sama-sama"
mengetahui Wili telah dipindahkan, mereka segera menuju ke ruang rawatnya. hanya sebagian saja yang ikut karena sebagiannya sekarang sedang berada di ruangan Randi.
cek lek
"assalamualaikum" Rahim mengucap salam
"wa alaikumsalam" ibu Wili menjawab
"apa kabar bu" sapa Rahim dengan sopan
"baik, kalian bagaimana kabarnya...?" ibu Wili begitu dekat dengan mereka sebab dia pernah mengunjungi Wili di kost beberapa kali
"baik bu, Alhamdulillah. bagaimana kondisi Wili sekarang...?"
"seperti yang kamu lihat, dia belum juga bangun dari komanya" tatapan sendu wanita itu begitu dalam kepada anaknya
"maafkan anak ibu ya" dia kemudian menatap Rahim, Olan, Mahendra, Damar dan Iyan secara bergantian. air matanya jatuh tak tertahankan. dia sudah tau permasalahan yang dibuat oleh anaknya
"maafkan perbuatan anak ibu. ibu benar-benar tidak menyangka anak tante besarkan dengan kasih sayang dan kelembutan, ternyata mempunyai sifat monster dalam dirinya" seketika tangis wanita pecah
Iyan yang tidak tega langsung memeluk wanita itu. dia merasa kasihan, hati ibu mana yang tidak hancur saat mengetahui kenyataan kalau ternyata putra yang selama ini dia banggakan adalah seorang pembunuh.
"ibu gagal menjadi seorang ibu, ibu benar-benar gagal. bagaimana bisa ibu membentuk karakternya menjadi seorang pembunuh seperti ini, ya Allah...."
"jangan menyalahkan diri Bu, semuanya bukan salah ibu" Iyan mengelus punggung wanita itu
setelah merasa tenang, ibunya Wili mengusap air matanya dan tersenyum hangat. lingkaran hitam di bawah matanya benar-benar memperlihatkan betapa lelahnya wanita itu.
"setelah perpisahan ibu dengan ayahnya Wili, dari situ sikap Wili menjadi dingin dan pendiam"
"dia selalu melihat kami bertengkar, bahkan tak jarang ibu melihatnya menangis di pojokan saat ayahnya memukul ibu dengan brutal"
"dia pun bahkan pernah memergoki ayahnya mencekik leher ibu dan menikam ibu dengan pisau"
"astaghfirullah" semuanya kaget mendengar cerita wanita itu
"kekerasan yang dilakukan ayahnya, selalu dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. bahkan saat Wili membelaku, dia pun akan terkena amukan dari ayahnya dan bahkan sering mendapat kekerasan dari ayahnya sendiri"
"sepertinya karakter monster itu, berawal dari kejadian-kejadian itu" ucap Damar
"benarkah...?" ibunya Wili menatap Damar
"itu hanya pemikiran ku saja Bu. tapi bisa jadi memang benar" timpal Damar
"waktu umurnya masih 10 tahun, dia hampir membunuh ayahnya. dia menikam ayahnya beberapa kali dan mencekik lehernya. dia juga pernah membunuh kucing tetangga kami dan bahkan dia pernah memutilasi seekor tikus di sekolah"
"jiwa psikopatnya ternyata sudah ada sejak dia masih kecil" ucap Olan melihat Wili yang terbaring
"sepertinya, pemicu dia menjadi seperti itu adalah dari masalah yang ibu ceritakan tadi. dia terguncang dan bahkan ketakutan. hingga muncul pemikiran bahwa agar tidak ada lagi pengganggu di rumah kalian, dia harus melenyapkan ayahnya dengan cara membunuhnya meskipun pada akhirnya itu tidak berhasil tapi dia bisa membuat ayahnya pergi dari rumah itu" ucap Damar
"seperti halnya juga dengan kucing dan tikus itu, Wili merasa mereka hanya menjadi pengganggu dan tidak suka dengan pengusik makanya itu dia membunuh hewan-hewan itu" lanjut Damar
"ibu memang pernah menanyakan kepadanya kenapa dia melakukan itu dan jawabannya hanya karena dia tidak suka kucing itu sering datang ke rumah kami dan mengganggunya. kemudian dia tidak suka suara berisik dari tikus itu makanya dia memutilasinya" ucap ibunya Wili"
"jadi, hanya karena dia tidak suka diganggu makanya itu dia membunuh mereka...?" Mahendra sungguh sangat tidak percaya alasannya hanya sesimpel itu
"se-klasik itu, namun itulah kenyataannya" jawab Damar
"apa hukuman bagi seseorang yang melakukan pembunuhan seperti itu Dam...?" tanya Rahim
"yang pastinya bisa jadi.... hukuman mati" jawab Damar
"ya Allah....kenapa nasibmu seperti ini nak. dosa apa yang ibu lakukan sampai kamu menjadi monster seperti itu" wanita itu kembali menangis dan meraung. Iyan kembali memeluknya dan menenangkannya
__ADS_1