
"waduh, bakalan babak belur nih kita" Riki begitu ngeri melihat balok kayu yang Zohir dan teman-temannya pegang
"cari mati nih orang" ucap Olan menata dingin orang-orang itu
jalanan itu sudah dikunci oleh Zohir dan teman-temannya sehingga kini tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di tempat itu. mereka sengaja memasang pemberitahuan jalan sedang diperbaiki agar orang-orang tidak melewati jalan itu.
"minggir kalau tidak mau tangan elu patah" ucap Rahim memperingatkan
"apa...? gue nggak dengar" Zohir sengaja pura-pura tuli dengan memajukan telinganya pertanda ia tidak mendengar ucapan Rahim
"dia mau patahin tangan elu" salah satu teman Zohir memberitahu
"hahahaha" Zohir tertawa terbahak-bahak seakan mengejek
teman-teman yang bersama Zohir sekarang adalah bukan mereka yang bersamanya saat di cafe tadi. mereka adalah suruhan Zohir, teman-teman minummya menghabiskan waktu dengan minuman keras.
"sebelum kamu mematahkan tanganku, gue yang lebih dulu yang akan mematahkan lehermu" Zohir menatap Rahim dengan penuh kebencian
"kami nggak punya masalah sama abang, lebih baik abang jangan ganggu kami" ucap Robi
"bacot lu. elu duluan yang cari masalah sama gue brengsek" Zohir membentak Robi
"bukannya abang yang cari masalah hanya karena nggak dikasi ngutang. ngaca sana bang, atau nggak ada kaca ya di kost abang. mau gue belikan" Mahendra mencibir
"kayaknya dia nggak ngaca deh, keliling dari rambutnya yang nggak pernah disisir" Randi malah sibuk menilai penampilan Zohir
"mampus kalian hari ini. hajar mereka" teriakan Zohir membuat semua orang-orangnya maju menyerang squad 010
squad 010 melawan dengan tangan kosong sedang lawan mereka menggunakan kayu balok. beberapa dari mereka ada yang terkena pukulan lawan namun ada juga yang berhasil merebut kayu balok itu dan menghantam lawan dengan benda itu.
buaaaak
buaaaak
"aaaggghh"
Mahendra menghajar lawannya tanpa ampun. beberapakali pukulan mendarat di wajah, perut dan kini ia mendapat kepala lawannya hingga orang itu tumbang tidak sadarkan diri.
mereka sama-sama mempunyai lawan. dipukul dan memukul telah mereka lakukan dan rasakan. bahkan kini teman-teman Zohir mulai terkapar satu persatu di aspal jalan.
"bang Arga" teriakan Danil membuat Mahendra berbalik
"DANIL" Mahendra kaget karena adiknya telah disarangkan pisau di lehernya
"LEPASKAN DIA BRENGSEK" Mahendra begitu marah, apalagi pisau itu sudah mulai melukai leher Danil
"diam ditempat lu atau gue sayat lehernya" Zohir mengancam Mahendra
Mahendra diam di tempatnya, ia takut jika dirinya bergerak maka Zohir akan menggorok leher adiknya.
"bang" Danil sudah berlinang air mata
"tenang dek, ada abang" Mahendra berusaha menenangkan Danil
"woi bang Zohir, lepasin dia sialan" Robi datang menghampiri Mahendra
"hahaha, gue bisa melepaskannya dia asal tebus dia dengan harga 5 juta" Zohir seperti menjual Danil kepada kakaknya dan teman-temannya
"bang sadar, kalau mau uang nggak gini cara mendapatkannya" ucap Robi
"nggak usah ceramah gue nggak butuh. berikan uangnya atau dia mati"
"berani elu melukai dia, gue benar-benar akan membunuhmu" sorot mata Mahendra begitu menunjukkan kemarahan
"sebelum lu bunuh gue, adik lu duluan yang akan gue bunuh" Robi terus menempelkan pisau di leher Danil
"akan gue berikan uangnya tapi lepaskan pisau itu dari leher Danil" pinta Iyan
"sebelum ada uang nggak akan gue lepas" Zohir tidak mendengarkan ucapan Iyan
"lu mau uang...? maka ambil, ambil semuanya" Mahendra mengelus dompetnya, mengambil uang dan melemparkan uang itu ke arah Zohir
"duduk dan ambil uangnya" Zohir memerintah Danil untuk mengambil uang-uang itu
sedangkan Faiz menggunakan kesempatan itu untuk menghajar Zohir dari belakangnya saat laki-laki itu sedang sibuk dengan uang yang berserakan di aspal.
bughhh
aaaggghh
Faiz memukul punggung Zohir dengan kayu balok, saat itu juga Danil terlepas dari cengkraman Zohir dan berlari ke arah Mahendra.
__ADS_1
"kamu nggak apa-apa...?" Mahendra memeluk Danil
"perih bang" Danil meringis, lehernya terluka namun tidak begitu dalam
"pakai ini bang" Alan memberikan sapu tangan miliknya untuk diikat di leher Danil
"thanks Al" Mahendra menerima sapu tangan itu
sebenarnya yang lain masih ingin menghajar Zohir, namun Rahim melarang mereka. ia tidak mau adik-adiknya itu berurusan dengan pihak berwajib karena kasus penganiayaan. mereka pergi di tempat itu membiarkan orang-orang itu tergeletak pingsan di tengah jalan.
sore ini Mahesa, Angga dan Cakra akan menjenguk Damar di rumah keluarga pak Nandar. mereka sudah menghubungi Damar bahwa ketiganya dalam perjalanan untuk ke tempat Damar di rawat.
ketiganya tiba di tujuan setelah berkendara beberapa setengah jam perjalanan. mendengarkan suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah, Zakyas segera membuka pintu.
"pak polisi" sapa Zakyas dengan ramah
"kami ingin menjenguk Damar" ucap Mahesa
"mari masuk pak, bang Damar sedang di belakang rumah bersama ayah" Zakyas mempersilahkan ketiganya masuk
"tunggu sebentar saya panggilkan dulu bang Damar"
"tidak usah, biar kami saja yang ke halaman belakang" Mahesa menahan Zakyas
"kalau begitu ayo, ikut saya" Zakyas mengantar ketiga polisi itu di halaman belakang rumah
di sana Damar sedang duduk di lantai, di halaman belakang rumah itu banyak pohon-pohon yang membuat udara terasa sejuk. mulai dari pohon mangga, rambutan, kelapa dan berbagai buah-buahan lainnya.
"Dam" Cakra memanggil Damar, pak Nandar dan Damar sama-sama menoleh
"udah datang, ayo sini" Damar mengajar mereka
Zakyas kembali ke dalam, ia ingin memberitahu kakaknya untuk membuatkan minuman ketiga polisi yang datang bertamu sore hari itu.
"kak, kak Arika" panggil Zakyas di depan pintu kakaknya
"ada apa sih...?" Arika membuka pintu
"buatin minum buat tamu kita, mereka di halaman belakang bersama ayah dan bang Damar. aku mau jemput ibu di pengajian"
"emang siapa yang bertamu sore hari begini...?"
wanita itu segera menuju ke dapur untuk membuat minum. setelah selesai ia langsung bawa ke halaman belakang rumah. yang pertama ia lihat adalah Mahesa, polisi tampan itu sedang tersenyum sopan ke arah pak Nandar yang sedang mengajaknya bicara. Arika terus melihat Mahesa hingga tanpa ia sangka Mahesa melihat ke arahnya.
Mahesa melempar senyum saat bertemu pandang dengan Arika, wanita itu membalasnya dan melangkah semakin dekat dengan mereka.
"silahkan di minum pak" ucap Arika
"terimakasih, maaf sudah merepotkan" timpal Mahesa
"sama sekali tidak pak" Arika ingin kembali ke dalam namun pak Nandar menahannya, ia ingin agar putrinya itu menjelaskan keadaan Damar kepada ketiga rekannya
"kondisi Damar sudah lebih baik dari sebelumnya, mungkin butuh beberapa hari lagi kondisinya akan stabil. hanya saja untuk luka dikepalanya butuh beberapa waktu agar cepat kering" Arika menjelaskan kondisi Damar
"elu masih mau tetap di sini Dam...?" tanya Angga
"iya, setelah gue pulih total gue akan kembali pulang dan bergabung bersama kalian lagi" jawab Damar
"oh iya, Zulfikar mana...?" tanya Damar
"entahlah tuh anak, sejak tadi malam sampai sekarang kami nggak bisa menghubungi dia" anggap menjawab
"tumben, nggak biasanya dia seperti itu" ucap Damar
"itu dia, gue juga merasa aneh sekarang. semoga dia baik-baik saja" ucap Angga
"kami mengucapkan terimakasih banyak pak dan dokter Arika sudah mau menerima dan merawat Damar di sini" ucap Mahesa
"sama-sama pak Mahesa, kami juga sama sekali tidak kebetulan bisa membantu" pak Nandar menjawab
hari itu mereka berada di kediaman pak Nandar sampai magrib tiba. ketiganya berpamitan untuk pulang. Mahesa harus ke bandara untuk menjemput adiknya.
sebelumnya mereka singgah di masjid untuk sholat magrib dan setelah itu Mahesa mengantar kedua rekannya ke kantor polisi untuk mengambil mobil mereka.
"emang Almeera udah landing ya Hen...?" tanya Cakra
"gue juga nggak tau, nomornya nggak bisa dihubungi" jawab Mahesa
"masih di udara kali" timpal Angga
ting
__ADS_1
pesan masuk di ponsel Mahesa. pria itu segera memeriksa ponselnya, mungkin saja pesan itu dari Zulfikar atau dari adiknya Almeera untuk memberitahu kapan waktunya ia tiba di Indonesia.
saat melihat siapa yang mengirimkan pesan, kening Mahesa mengkerut. ia tidak tau nomor siapa yang tertera di layar ponsel miliknya.
08xxxxx : adikmu cantik juga pak polisi
sebuah pesan masuk bersama dengan sebuah foto seorang gadis yang sedang duduk menunggu seseorang di ruang tunggu bandara
"Almeera" ucap Mahesa
"kenapa Hes, Almeera yang kirim pesan ya...?" tanya Angga
"bukan, ini nomor baru. gue nggak kenal"
Cakra yang duduk di sampingnya segera mengambil ponsel Mahesa untuk melihat nomor siapa yang mengirimkan pesan kepada Mahesa.
"gawat Hes, buruan tancap gas langsung ke bandara nggak usah ke kantor" Cakra menyuruh Mahesa untuk segera meluncur ke bandara
"kenapa cak...?" tanya Mahesa
"dari isi pesan ini sudah jelas kalau adek lu diintai oleh seseorang. pasti orang yang melukai Damar itu, pembunuh Aretha dan Jasmine. cepat Hes, jangan sampai Almeera dia apa-apakan"
segera Mahesa tancap gas dan langsung belok kiri saat tiba di bundaran perempatan jalan. setiap kendaraan ia lambung dan terus melaju cepat. perasaan khawatir mulai menghantui pikiran dan Mahesa benar-benar takut Almeera dalam bahaya.
squad 010 saat ini sedang dalam perjalanan pulang setelah seharian berkeliling dan berkelahi dengan orang-orang yang meminta di pukuli oleh mereka.
saat tiba di kost satu persatu masuk ke dalam dan menuju kamar masing-masing.
Mahendra dan Danil belum menuju ke kamar mereka. kedua saudara itu duduk di ruang utama. Mahendradatta sedang mengobati luka di leher Danil menggunakan obat merah dan membungkusnya dengan kapas kemudian melilitkan leher Danil dengan perban yang telah ia beli di apotek.
"bang, ini nggak mau dibuka...? Danil menunjuk paket yang ditemukan oleh Robi tadi pagi belum sempat mereka buka
"nanti saja, sekarang kita ke kamar. kalau mandi jangan basahi lehermu"
keduanya naik ke lantai atas menuju kamar mereka. pukul 8 malam, mereka berkumpul di ruang utama setelah makan malam. kali ini mereka membuat lingkaran, duduk di lantai sedangkan paket itu ada di tengah-tengah mereka semua.
"jadi paket ini memang bukan punya salah satu dari kalian...?" Rahim menatap mereka semua
"bukan" semuanya menjawabnya dan menggeleng
"kalau bukan punya salah satu dari kita, lalu bagaimana barang ini bisa masuk ke dalam dan sampai di balkon" ucap Rahim lagi
"jelas pasti ada yang membawanya" ucap Olan
" dan salah satunya ada diantara kita. nggak mungkin orang lain yang membawanya masuk karena kemarin dan bahkan tadi pagi kita nggak menerima tamu" ucap Rahim
"iya juga. ini kan tempat kita, kalau bukan penghuni kost yang membawa paketnya lalu siapa coba" timpal Randi
"paket itu berada di balkon, berarti ada kemungkinan itu adalah milik orang-orang yang tinggal di lantai atas" Faiz memprediksi
"tapi gue dan Danil nggak pernah mesan paket" Mahendra mematahkannya asumsi Faiz
"gue mah nggak suka belanja online, sukanya langsung ke tempat penjual" ucap Iyan
"Alan juga, Alan lebih suka belanja melihat langsung barang yang akan Alan beli" timpal Alan
"kalau gue kan kemarin-kemarin sibuk pindahan, boro-boro mau pesan paket" ucap Robi
"kalau nggak ada yang mau mengaku lebih kita buka sekarang untuk melihat isi di dalamnya" ucap Riki
"ya sudah kita buka kalau begitu" ucap Rahim mulai mengambil pisau untuk membuka paket itu
"tunggu bang" Olan menghentikan Rahim
"kenapa Lan...?" tanya Rahim melihat Olan
"bagaimana kalau isi di dalamnya lebih parah dari apa yang kita lihat terakhir kali di kamar Mahendra" Olan ragu untuk membuka paket itu
"Danil jadi takut" Danil meringsek mendekat Mahendra
"bagaimanapun juga kita harus tau apa isi di dalamnya" Rahim tetap ingin membuka paket itu
"gue setuju sama bang Rahim, kita harus tau apa isi di dalam paket ini" Iyan menimpali
"kalian siap ya, apapun isi di dalamnya kita harus siap untuk melihatnya" Rahim berucap serius
"siap bang" mereka menjawab serempak
"bismillahirrahmanirrahim"
dengan mengucap basmalah, Rahim membuka paket itu. semua yang ada di tempat itu begitu tegang dan was-was untuk melihat apa sebenarnya yang ada di dalam paket tersebut
__ADS_1