
"k...k-kamu" Almeera tegang ketakutan
"halo gadis kecil, kita bertemu lagi. seringai iblis terukir di balik masker yang ia pakai
Almeera melangkah mundur, ia pun berbalik dan melarikan diri. psikopat itu tersenyum menyeringai kemudian mengejar gadis itu yang sedang berusaha menyelamatkan diri darinya.
bughhh
"aw"
Almeera jatuh tersandung oleh batu yang tidak ia lihat karena dirinya terus melihat ke belakang untuk memastikan apakah psikopat itu masih mengejarnya.
laki-laki misterius itu kini telah berada di depan Almeera. dengan merangkak mundur Almeera begitu ketakutan melihat sosok itu.
"awalnya tadi aku ingin bermain cantik denganmu. tapi kamu sendiri yang memperkeruh permainan kita. jadi jangan salahkan aku jika kali ini aku berbuat lebih ekstrim"
"j-jangan, tolong jangan sakiti aku"
"terlambat sayang, malam ini kita akan bersenang-senang" ia mendekati Almeera dan mencengkeram kuat wajahnya hingga gadis itu meringis kesakitan
"malam ini kita akan bersenang-senang. aku lihat kamu cantik juga" ia membelai wajah Almeera
"kira-kira akan seperti apa reaksi pak Mahesa jika mengetahui adiknya aku nikmati"
bughhh
"aaaggghh, brengsek.... gadis ******"
Almeera menanduk hidung psikopat itu hingga pembunuh itu teriak kesakitan. saat itu juga Almeera menggunakan kesempatan untuk melarikan diri.
dengan kaki yang pincang, dirinya berusaha menjauh dari si pembunuh. sedangkan psikopat itu emosinya kian meluap. ia membuka maskernya dan memegang hidungnya yang telah berdarah akibat sundulan kepala Almeera.
"aku benar-benar akan membunuhmu gadis sialan" umpatnya dengan begitu penuh kebencian
kembali ia memakai maskernya dan mengejar Almeera yang sudah jauh bahkan sudah tidak lagi terlihat oleh matanya.
"kenapa nggak ada orang...?" Danil melihat ke sekeliling mereka. saat ini tiba di tempat, mereka semua keluar dari mobil
"saya telpon dulu" Mahesa mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang tadi digunakan Almeera untuk menghubunginya
"kenapa nggak diangkat" gumam Mahesa namun masih didengar oleh yang lain
"angkat dek angkat"
"kenapa bang...?" tanya Mahesa
"telponnya masuk tapi nggak diangkat" jawab Mahesa yang terus mencoba menghubungi Almeera
hingga menunggu beberapa menit panggilan yang ia lakukan mendapatkan jawaban.
Mahesa
halo dek, kamu dimana...?
nomor tidak dikenal
dia bersamaku pak polisi, tenang saja
Mahesa
kurang ajar, lepaskan adikku brengsek
nomor tidak dikenal
hahaha, kamu menginginkannya adikmu yang cantik ini. maka carilah aku
tuuuuuuut
"aaaggghh, sialan. aku benar-benar akan membunuhmu psikopat gila kalau sampai kamu berani menyakiti Almeera, aku benar-benar akan membunuhmu" Mahesa menggenggam erat ponselnya
"bagaimana pak...?" Alan bertanya dengan wajah tegang
"saya harus melacak nomor ini dulu" timpal Mahesa
ia segera masuk ke dalam mobil dan mengambil laptop kemudian jari-jarinya mulai berselancar di setiap tombol benda canggih itu.
titik merah yang ia temukan, nomor itu berada di jalan Rajawali, tempat mereka berada sekarang, bahkan Mahesa tau dimana posisi psikopat itu sekarang.
"dapat kau" ucap Mahesa
"kita ke sana" ucap Mahesa saat keluar dari mobil
"dimana posisinya bang...?" tanya Mahendra
"500 meter dari tempat kita ini" jawab Mahesa
semuanya berlari ke arah dimana Mahesa maksud. sementara itu psikopat yang baru saja mematikan panggilan Mahesa langsung mencari Almeera yang saat ini belum juga ia temukan.
saat melarikan diri, gadis itu menjatuhkan ponselnya hingga ponsel itu di dapat kembali oleh pemilik aslinya. rupanya psikopat itu membohongi Mahesa bahwa ia bersama Almeera padahal sebenarnya gadis itu sudah tidak bersamanya.
"gadis sialan, membuat banyak pekerjaanku saja" umpatnya dengan penuh kekesalan
saat itu Almeera masuk di sebuah gedung yang masih dalam keadaan dibangun. semen dan pasir berhamburan di tempat itu. ia bersembunyi di salah satu tiang besar yang ada di dalam gedung itu.
Almeera mulai mencari-cari ponselnya untuk menghubungi Mahesa namun sekarang benda itu tidak ia dapatkan lagi.
"dimana ponsel itu...?" ucapnya sambil terus memeriksa setiap kantung jaket dan celananya
"astaga, sepertinya jatuh saat aku menyelamatkan diri. lalu bagaimana aku menghubungi abang Mahesa kalau seperti ini" Almeera mulai frustasi
dalam kegelisahannya, seseorang datang di tempat itu. Almeera menutup mulut rapat-rapat dan bersembunyi. ia mencoba mengintip untuk melihat siapa yang datang dan seperti dugaannya, laki-laki misterius itu kini telah tengah berdiri di tempat masuk. di gedung itu terdapat lampu penerangan, sepertinya para pekerjanya sering bekerja lembur sehingga di beberapa tempat ada lampu yang menerangi.
(Tuhan tolong lindungi aku, lindungi aku) batin
Almeera menggeser posisinya saat laki-laki itu melangkah maju ke depan.
"aku tau kamu ada di sini. keluarlah sebelum aku menemukanmu dan mencabik-cabik tubuhmu" ucapnya dengan nada ancaman
Almeera tidak bergeming. keluar atau tidak ia pasti akan dihabisi jika ditemukan oleh laki-laki itu. maka dari itu ia berdiam diri di tempatnya.
semakin laki-laki itu melangkah ke depan maka Almeera semakin mundur agar tidak terlihat. sayangnya saat itu Almeera menginjak sesuatu, botol air mineral yang sepertinya adalah milik pekerja di tempat itu.
__ADS_1
suara itu jelas terdengar di telinga si psikopat. dengan tersenyum menyeringai, ia melihat ke arah sumber suara.
"di situ rupanya kamu gadis kecil" gumamnya
Almeera panik seketika, ia mencoba tetap agar otaknya dapat memikirkan cara untuk menyelesaikan diri.
sementara psikopat itu perlahan-lahan maju melangkah untuk menangkap Almeera.
"dapat kau" saat dirinya akan menyergap Almeera rupanya di tempat itu tidak ada siapapun. Almeera berhasil berpindah ke tempat lain dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan
"BRENGSEK. BERANINYA KAMU MEMPERMAINKAN KU GADIS SIALAN. AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA"
"ALMEERA" suara teriakan Mahesa menggema
mereka telah tiba di gedung itu. karena psikopat itu tidak mematikan ponselnya hingga Mahesa dapat melacaknya.
"sialan, bagaimana bisa mereka ada di sini" psikopat mengumpan kesal
sedangkan Almeera yang sudah menemukan jalan keluar dari gedung itu, harus menghentikan langkah saat mendengar suara Mahesa yang memanggil namanya.
"bang Mahes" ucapnya pelan
Almeera kembali lagi untuk menemui Mahesa. namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena ia melihat psikopat itu sedang bersembunyi dan memperhatikan Mahesa serta yang lainnya.
kalau ia teriak maka pembunuh itu jelas pasti akan melihatnya dan kemudian mengincarnya namun kalau ia tidak teriak maka Mahesa akan dalam bahaya karena ternyata psikopat itu memegang sebuah pistol dan ia arahkan kepada Mahesa.
drrrttt.... drrrttt
ponsel Mahesa bergetar, si psikopat menghubungi dirinya.
Mahesa
keluar kamu, aku tau kamu berada di dalam
nomor tidak dikenal
hebat juga kamu pak polisi, baru hitungan menit kamu sudah menemukan keberadaanku
Mahesa
lepaskan adikku
nomor tidak dikenal
apa jaminannya jika aku menyerahkan adikmu
psikopat itu masih tetap mengarahkan pistolnya ke arah Mahesa.
"kita berpencar saja untuk mencarinya" Randi memberikan ide
nomor tidak dikenal
tetap di tempat kalian atau kepala gadis ini akan meledak
Mahesa menggeleng kepala ke arah Randi pertanda bahwa mereka tidak boleh gegabah dalam bertindak.
Mahesa
nomor tidak dikenal
hahahaha, bravo pak polisi. itu adalah pertanyaan yang sangat aku sukai. aku ingin kita bermain, sepertinya akan lebih seru jika aku mengajak kalian semua bermain
Mahesa
aku terima, tapi lepskan adikku
"jangan dengarkan dia bang. dia hanya membual. Meera sekarang baik-baik saja, Meera tidak sedang bersamanya. hati-hati bang, dia membawa pistol dan sedang mengarahkan ke arah abang" Almeera akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. jika dirinya hanya diam saja maka ia berpikir Mahesa akan terluka
psikopat itu yang berada tidak jauh dari tempat persembunyian Almeera langsung berlari ke arah gadis itu. Almeera hendak mencoba untuk kabur namun seketika ada yang menarik tangannya kemudian membekap mulutnya.
"sssttt" Faiz memberi isyarat agar Almeera tidak bersuara dan gadis itu mengangguk
sedangkan psikopat itu yang tidak menemukan Almeera langsung meninggalkan tempat itu. Mahesa yang melihatnya langsung mengejar bersama yang lain.
"kamu baik-baik saja...?" tanya Faiz
"a-aku....."
Faiz dapat melihat goresan luka di wajah Almeera. ia juga dapat melihat luka lebam di bibir dan dibawah leher gadis itu.
"ayo, kita keluar dari tempat ini" ajak Faiz
Faiz mulai melangkah namun ia berhenti karena Almeera tidak bergeming dari tempatnya dan hanya menatap laki-laki itu. Faiz kembali mendekati Almeera dan memegang tangannya.
"tenang saja, aku bukan orang jahat. aku adalah teman pak Mahesa"
"kamu benar bukan orang jahat...?" Almeera ragu untuk percaya kepada Faiz
"tentu saja bukan. nih, ambil ini dan tusukkan di perutku jika nanti aku berniat jahat padamu" Faiz memberikan pisau lipat miliknya kepada Almeera
gadis itu mengambilnya kemudian menggenggam erat tangan Faiz. ia mulai percaya kalau laki-laki yang bersamanya bukanlah orang yang akan mencelakakannya nanti.
"kita keluar dari sini, ayo" ajak Faiz
"woi, berhenti kamu" teriak Mahendra
sosok yang mereka kejar begitu cepat berlari. namun Mahendra dapat menyusulnya dan menendang punggung laki-laki itu hingga ia terjatuh ke tanah.
"bangun lu" ucap Mahendra
saat ini hanya mereka berdua karena yang lain masih tertinggal di belakang
"hhh....apa kamu sengaja datang mengantar nyawa padaku Mahendra Argadinata...?"
"katakan dimana bang Zohir elu sembunyikan"
"kenapa bertanya padaku, carilah dia. bukannya sekarang kita sedang bermain. jika tidak menemukannya maka.....kamu tau apa yang akan terjadi padanya"
"manusia iblis" Mahen ingin menyerang namun psikopat itu mengarahkan pistol ke arahnya sehingga Mahendra tidak berkutik. peluru pistol itu lebih cepat akan bersarang di tubuhnya daripada pukulan yang akan ia layangkan
"kamu orang pertama yang akan menyusul Damar, Wili dan Kevin di alam baka"
__ADS_1
dor
Mahesa datang tepat waktu. ia menembak pembunuh itu namun melesat. psikopat itu segera melarikan diri saat yang lainnya telah tiba.
"kejar dia" ucap Randi
"nggak perlu Ran. sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana caranya menemukan keberadaan bang Zohir, dan teman-teman kita yang lain" Mahendra menghentikan Randi yang ingin mengejar pembunuh itu
"astaga Almeera" Mahesa baru sadar kalau ia meninggalkan Almeera di gedung tadi
Faiz menghubungi polisi itu bahwa Almeera bersama dirinya sekarang. Mahesa yang tadinya panik langsung merasa lega. mereka semua menyusul ke mobil, tempat Faiz dan Almeera berada.
"terimakasih sudah menolongku" ucap Almeera
"sama-sama, tidak perlu dipikirkan" Faiz tersenyum
"Almeera" Mahesa memanggil saat mereka telah sampai
"bang" Almeera langsung berlari menghambur memeluk Mahesa
"maafin abang dek, kamu nggak apa-apa kan...?" Mahesa melepas pelukannya dan melihat wajah Almeera
"Meera baik-baik saja bang"
"baik bagaimana kalau kamu terluka seperti ini. kita ke rumah sakit. kamu harus diobati"
"bang. daripada mengkhawatirkan Meera, lebih baik abang tolong laki-laki yang bersama Meera saat disekap"
"laki-laki...?" mereka semua bertanya
"memangnya ada orang lain yang disekap bersama kamu...?" Riki bertanya
"iya, dia sudah babak belur dihajar oleh laki-laki misterius itu"
"ada beberapa orang yang kakak lihat...?" tanya Danil
"hanya satu"
"benar hanya satu, nggak ada yang lain...?" Alan memastikan
"nggak ada, yang bersama Meera hanya satu orang"
"itu mungkin bang Zohir. lalu kemana dia membawa bang Rahim, bang Olan, bang Iyan sama bang Robi" ucap Danil
"kita selamatkan bang Zohir dulu karena saat ini dia yang menjadi targetnya. Almeera, apa kamu tau dimana tempat kalian disekab itu" tanya Mahendra
"itu adalah rumah kosong. tidak ada apapun di dalamnya, benar-benar kosong" jawab Almeera
"dimana tempatnya, coba kamu ingat-ingat" ucap Mahesa
"tempatnya di....di..." Almeera mencoba untuk mengingat
"pelan-pelan saja jangan dipaksakan agar otakmu dapat rileks tanpa tekanan" Faiz mencoba mengingatkan dengan lembut
Almeera tersenyum ke arah laki-laki itu. laki-laki yang tadi sempat menyelamatkan nyawanya dari incaran si pembunuh.
"kamu sudah mengingatnya...?" tanya Mahesa
"eh, b-belum" Almeera kelabakan saat Mahesa mengagetkannya
(dasar) Mahesa begitu gemas melihat tingkah adiknya itu
"Meera melewati SPBU, di sampingnya ada butik yang bernama Maros"
"butik Maros...?"
Mahendra segera mencari di internet butik yang disebutkan oleh Almeera. biasanya jika butik yang terkenal, akan di dapat di halaman pencarian.
"apa butik ini yang kamu maksud...?" Mahendra memperlihatkan gambar butik yang dicarinya kepada Almeera
"iya...benar butik itu" Almeera mengangguk
"butik ini berada di wilayah S jalan kenanga" Mahendra memberitahukan yang lain
"iya, mungkin di wilayah itu. dan rumahnya, rumahnya masuk gang sempit. rumah paling ujung yang tidak berdekatan dengan rumah yang lain" ucap Almeera
"wilayah S itu luas sama halnya dengan wilayah di sini. kalau kita nggak tau pasti dimana tempatnya, kita jelas akan kesusahan untuk mencarinya" ucap Faiz
"kalau begitu kita berpencar. saya akan meminta bantuan polisi yang lain untuk membantu kita mencari laki-laki yang bernama Zohir itu" timpal Mahesa
"polisi siapa pak. pak Damar, pak Cakra dan pak Angga jelas nggak bisa membantu kita" ucap Randi
"meski bukan kasus yang ia tangani namun meminta bantuan untuk menangkap penjahat jelas akan direspon Randi. untuk sekarang saya harus mengantar Almeera pulang terlebih dahulu. setelah itu baru kita berangkat ke wilayah S"
"kami pergi lebih dulu kalau begitu bang. bang Mahes bisa menyusul setelah mengantar Almeera" ucap Mahendra
"ya sudah. tapi jangan bertindak ceroboh, dia itu psikopat berbahaya. dan satu lagi, jangan berpencar sebelum saya datang. kalian paham...?"
"paham bang"
"paham pak
"Meera, abang antar kamu pulang, ayo" Mahesa menarik tangan Almeera untuk masuk ke dalam mobil
"tunggu sebentar bang" Almeera menghentikan langkah. ia kemudian berjalan mendekat ke arah Faiz. yang lain mengernyitkan dahi
"aku kembalikan pisaumu. pakailah untuk menusuk pembunuh itu" Almeera memegang tangan Faiz dan meletakkan pisau lipat itu di tangan Faiz
"hati-hati" Almeera tersenyum manis
"bang, sepertinya Danil mencium aroma-aroma hujan asmara" Danil berbisik di telinga Alan
"gue kira elu akan mengatakan mencium aroma terapi" timpal Alan
"ck, nggak nyambung" Danil mencebik sedang Alan cengengesan
"terimakasih. pulanglah dan istrahat di rumah" Faiz membalas senyuman Almeera
Almeera mengangguk kemudian berbalik masuk ke dalam mobil dimana Mahesa sudah berada di dalamnya.
setelah mobil Mahesa pergi, kini squad 010 meninggalkan jalan rajawali dan akan menuju ke wilayah S untuk mencari keberadaan Zohir.
__ADS_1