Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 41


__ADS_3

"gue benar-benar nggak nyangka Wiliam punya tempat seperti ini" ucap Olan yang merinding dengan tempat dimana mereka berada sekarang


"dia nggak takut dengan gelapnya tempat ini. gue saja merinding berada di sini" ucap Rahim


"tidak ada yang ditakutkan oleh seorang psikopat. tempat seperti ini adalah tempat ternyaman bagi mereka" Cakra menimpali


"dimana ruangan tempat Kevin di sekap...?" tanya Cakra


"Maureen telah memberikan tanda di setiap bilik yang dia lalui" jawab Olan


"kalau begitu periksa setiap bilik yang telah kita lewati. saya periksa bagian kiri dan kalian periksa bagian kanan" perintah Cakra


Cakra mengambil posisi bagian kiri sementara Rahim memang telah berada di samping kanan.


"sepertinya ini tanda yang dibuat oleh Maureen. hanya tanda ini yang ada, nggak ada yang lain" Olan menemukan tanda anak panah


"kalau begitu kita ikuti tanda panah itu" ucap Rahim


mereka bertiga mulai mengikuti setiap tanda panah yang tergambar di setiap bilik. jalan yang berliku dan dipenuhi banyak bilik memang akan membuat mereka tersesat ketika tidak memiliki petunjuk sama sekali.


"tanda panahnya berakhir di sini" ucap Rahim menunjuk sebuah bilik


mereka membuka pintu bilik tersebut, cahaya lampu berwarna kuning menerangi bilik itu. hal yang pertama mereka lihat adalah benda-benda tajam yang tersusun rapi di atas meja.


bukan hanya itu, ternyata di tempat itu juga ada beberapa foto wanita yang telah menjadi korban atas perbuatan keji Wiliam Alfiansyam.


gadis yang bernama Clara, Sisil, Lila, Alexandria Robin, Karina dan bahkan foto Damar ada di tempat itu.


"astaga, mengerikan sekali" ucap Olan


"dia mengoleksi setiap foto korbannya" ucap Cakra


"lalu dimana Kevin...?" Rahim memeriksa setiap sudut di bilik itu, hingga dirinya melihat seseorang yang terkapar di sudut bilik tersebut


"Kevin" Rahim segera mendekat laki-laki itu


melihat keadaan Kevin, seketika Rahim menangis histeris. adiknya itu sudah tidak memakai baju, setiap inci tubuhnya terdapat bekas cambukan yang menggores kulit putihnya.


kedua pergelangan tangannya terus mengeluarkan darah dan membasahi lantai bilik itu. wajahnya sudah babak belur, matanya sebelah mengalami pembekakan dan mulutnya pun berdarah.


"Kevin bangun dek, bangun. ya Allah apa yang telah Wili lakukan padamu" Rahim memeluk erat tubuh adiknya itu


Olan pun ikut menangis melihat kondisi Kevin yang begitu mengenaskan. Olan membuka jas yang dipakainya kemudian menyelimuti tubuh Kevin.


pergelangan tangannya diikat dengan kain agar darah tidak terus keluar. mereka membawa Kevin keluar dari tempat itu. sebelum itu, Cakra mengambil gambar setiap bukti yang ada di tempat itu untuk menjerat Wili nantinya jika laki-laki itu telah ditangkap tanpa dia tau kalau Wili sekarang dalam keadaan antara hidup dan mati.


setelah sampai di atas, Kevin segera dimasukkan ke dalam ambulan dan membawanya pergi dari tempat itu.


Rahim dan Olan menemani Kevin di mobil ambulan sedangkan Cakra mengendarai mobil seorang diri.


kondisi Kevin saat ini masih bernafas hanya saja sangat lemah dan dia kini telah dipasangkan oksigen agar Kevin bernafas dengan normal.


"elu kuat dek, elu kuat" Olan menggenggam tangan Kevin seakan tidak ingin melepaskannya


hingga kemudian Kevin membuka mata, salah satu matanya yang bengkak tertutup tanpa bisa dibukanya, hanya mata sebelah kiri yang kini masih normal itupun mempunyai goresan yang hampir saja membuat matanya tidak dapat melihat.


"b-bang" panggil Kevin dengan suara lirih


"elu bangun...?" Rahim begitu senang melihat Kevin sadarkan diri


"g-gue...nggak k-kuat lagi" nafas Kevin tersengal-sengal


"bertahan, elu kuat dek elu kuat. kami akan membawa mu ke rumah sakit. bertahanlah sampai di rumah sakit. jangan tinggalkan kami, plisss... tolong kuat demi kami" Rahim yang tadinya sudah berhenti menangis kini air matanya tumpah kembali


"m-maafin Kevin ya bang, K-Kevin banyak s-salah sama Abang, s-sama semuanya"


"nggak ada, elu nggak punya salah apapun. elu nggak punya salah sama sekali. jangan bicara lagi, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" Rahim membelai wajah Kevin


uhuk...uhuk


Kevin terbatuk-batuk dan bahkan batuknya itu mengeluarkan darah. Rahim dan Olan sangat panik. Kevin sekarang sudah dalam keadaan kritis.


"CEPATAN PAK" teriak Rahim yang sudah menangis histeris melihat Kevin


"bangun Vin" Olan terus mengajak Kevin bicara namun Kevin sudah tidak meresponnya


sirine ambulan menggema di setiap jalan yang dilaluinya. ambulan tersebut melaju begitu kencang membawa pasien yang kini sangat membutuhkan pertolongan.


saat tiba di rumah sakit Kevin, segera dilarikan ke ruang ICU. penghuni kost 010 yang masih berada di ruang ICU begitu terkejut melihat beberapa suster dan seorang dokter berlari dengan cepat masuk ke dalam ruangan ICU. mereka melihat dengan jelas siapa yang terbaring di brankar itu.

__ADS_1


"Allah... Kevin" Mahendra lemas melihat keadaan Kevin


"hiks...hiks..." Rahim terjatuh di lantai rumah sakit yang dingin itu


Alan mendekati Rahim dan memeluknya. betapa tidak hancurnya perasaan mereka sekarang. dua orang sahabat mereka kini sedang berjuang di dalam untuk melawan kematian.


"bagaimana Wili...?" Cakra bertanya kepada Mahesa


"dia juga berada di dalam, kondisinya kritis karena kecelakaan. mobilnya terguling dan meledak. untung saja Damar bisa mengeluarkannya" jawab Mahesa


"ya Allah... tolong... tolong dengarkan hambamu ini. cukup Damar yang kamu ambil, jangan ambil adikku yang lain. tolong... tolonglah...hiks...hiks... tolonglah" ucapan Rahim membuat semua yang berada ditempat itu merasa teriris


"bang" Faiz ikut memeluk Alan dan Rahim


perjuangan yang mereka lakukan membentuk sebuah keluarga di kota orang tidaklah muda. banyak suka duka yang mereka rasakan. perdebatan kecil, pertengkaran, tawa dan air mata telah mereka lalui bersama di kost 010.


ikatan itu terus mereka jaga hingga tidak pernah terbayangkan sama sekali oleh mereka bahwa kejadian buruk sekarang ini akan menimpa mereka semua.


pintu ruangan ICU terbuka, seorang suster keluar dengan tergesa-gesa melewati mereka yang masih menunggu di depan itu. hingga kemudian suster tadi datang bersama dengan seorang dokter laki-laki dan memasuki ruangan itu.


"kenapa mereka terlihat begitu panik...?" tanya Iyan


"semoga tidak terjadi sesuatu dengan Wili dan Kevin" ucap Cakra


Zulfikar baru saja datang, dia yang telah mengurus kecelakaan yang dialami Wili tadi, dirinya harus ke kantor polisi terlebih dahulu untuk melapor kemudian dia kembali ke rumah sakit menemui ketiga rekannya.


"bagaimana keadaannya...?" tanya Zulfikar kepada mereka


"masih di tangani" jawab Mahesa


keadaan mereka sekarang sangat berantakan, terlebih lagi ketiga polisi itu. baju Damar berlumuran darah, begitu juga dengan Olan dan Rahim. Zulfikar dan Mahesa pakaian mereka terlihat kotor, berbeda dengan Cakra yang tampak penampilannya baik-baik saja.


"dimana aku...?"


"kita ditempat yang nyaman dan indah"


"elu...?"


"kenapa kaget...?"


"kenapa bisa elu..."


dua orang itu sedang berada di tempat yang sangat indah, lebih indah daripada pemandangan yang pernah mereka lihat sebelumnya. seseorang tersenyum hangat kepada teman yang sekarang sedang menatap bingung ke arahnya.


"hey, kalian datang di tempat ku" seseorang datang menghampiri keduanya. wajahnya bersih dan sangat tampan dari biasanya, dia menggunakan pakaian putih


"D-Damar...?" salah satunya terkejut


"gue datang ingin tinggal bersama denganmu di sini" sedang yang satunya tersenyum ke arah Damar


"apa kabar kalian berdua...?"


"gue sedang tidak baik-baik saja, sepertinya waktuku telah dekat"


"maka ikutlah denganku" Damar mengulurkan tangannya ke arah temannya itu, dengan senyuman yang mengembang dia meraih tangan Damar


"kalian mau pergi kemana...?"


"ke tempat yang indah, untuk elu, belum waktunya elu ikut dengan kami"


"pulanglah, kalau tiba saatnya nanti, kita akan berkumpul seperti dulu"


"pulang kemana, gue nggak tau arah pulang"


"ikuti cahaya itu saja. sampai jumpa kembali teman, tetaplah hidup dan perbaiki diri" Damar tersenyum hangat begitu juga dengan sosok yang berdiri di sampingnya


kemudian keduanya menghilang dari pandangan Wili. kedua orang itu adalah Kevin dan Wili. Kevin telah pergi bersama dengan Damar, sedangkan Wili mengikuti cahaya yang akan membawanya pulang.


"dokter, kondisi pasien sudah sangat lemah" seorang suster melihat layar monitor Kevin.


"siapkan alat" perintah dokter tersebut


sementara Wili pun sekarang dalam keadaan kritis juga. di luar sudah dalam keadaan tegang. tidak hentinya mereka melafalkan doa untuk keselamatan kedua sahabat mereka itu.


tiiiiiiiiiiiiiiiiit.....


"innalilahi wainnailaihi Raji'un" dokter yang menangani Kevin mengusap wajahnya


"catat waktu kematiannya sus" ucapnya

__ADS_1


sementara Wili, setelah denyut nadinya sempat berhenti, kini dia kembali bernafas. dokter dan suster yang menanganinya bernafaskan lega, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Wili untuk hidup.


cek lek


"dokter bagaimana keadaan adik saya dokter, dia baik-baik saja kan...?" saat melihat dokter yang menangani Kevin keluar, mereka segera menghampiri dokter tersebut


"Tuhan lebih sayang padanya pak, saya tidak bisa melawan kehendak Tuhan" dokter itu mengatakan kebenaran dengan berat hati


"m-maksud dokter....adik saya...dia..." Rahim terhuyung ke belakang, untungnya Olan Damar menahan tubuhnya


"pasien atas nama Kevin, meninggal dunia" ucap dokter tersebut


"bang Kevin" Alan teriak histeris dan langsung menerobos masuk ke dalam


mereka semua masuk melihat keadaan Kevin. Alan memeluk Kevin dengan tangisan yang memilukan.


"bangun bang...bang Kevin banguuun" Alan terus menggoyang tubuh abangnya itu namun tubuh itu sekarang telah terbujur kaku


"hiks... hiks... Kevin... aaaaagghhh" Rahim memeluk kepala Kevin, teriakannya menggema di ruangan itu


malam itu malam kepedihan untuk mereka semua. satu orang sahabat, kembali pergi meninggalkan mereka menyusul Damar yang telah pergi lebih dulu.


di samping ranjang Kevin yang hanya dihalangi tirai, Wili telah melalui masa kritisnya dan kini dirinya sekarang dalam keadaan koma. namun anehnya Wili mengeluarkan air mata membasah pipinya.


kini harapan Kevin telah terwujud. dirinya ikhlas pergi menghadap Tuhannya asal semuanya telah terbongkar dan ucapannya itu kini menjadi kenyataan.


pukul 4 pagi, Kevin Aprilio telah meninggal dunia di rumah sakit. kabar itu telah sampai di telinga Maureen. Mahendra yang memberitahu padanya. kedua orang tua Maureen sekarang telah berada di rumah sakit menemani putri mereka itu.


Maureen menangis terisak di pelukan ibunya. dia sangat menyesal sangat terlambat meminta bantuan sehingga kini Kevin pergi untuk selama-lamanya.


Faiz menghubungi ibu Nani untuk memberitahu kabar meninggalnya Kevin. saat mendengar itu, ibu Nani tidak dapat menahan tangis. kini dua orang anak kostnya telah pergi untuk selamanya.


karena sudah tidak mempunyai keluarga, ibu Nani meminta mereka untuk membawa jasad Kevin ke rumahnya. mereka akan kebumikan Kevin di kota itu.


selama ini Kevin hidup sebatang kara. ibunya meninggal karena dibunuh oleh ayahnya sendiri dan ayahnya sekarang masih berada di dalam penjara. ibu Nani lah yang memenuhi semua kebutuhan Kevin, bahkan membiayai kuliahnya.


dulunya Kevin ke kota itu untuk bekerja menafkahi hidupnya. di kota itu dia bertemu dengan ibu Nani dan memberikannya sebuah pekerjaan membantunya mengurus usahanya. hingga kemudian ibu Nani menguliahkan Kevin dan membawanya ke kost 010 untuk tinggal di sana.


pukul 7 pagi, jasad Kevin di bawah ke rumah duka, di rumah ibu Nani. semua penghuni kost 010 ikut mengantar ke rumah duka termasuk polisi yang selama ini mengusut kasus pembunuhan itu.


tiba di sana, jasad Kevin di turunkan dan di bawa masuk ke dalam rumah. Kevin dibaringkan di ruang tengah, tempat yang luas di rumah itu.


"ya Allah nak, cepat sekali kamu pergi" ibu Nani menangis di samping jasad Kevin


semua penghuni kost mengelilingi jasad sahabat mereka itu. air mata tiada hentinya mengalir. kepedihan kembali mereka rasakan, kehilangan seorang sahabat, dan adik yang sudah seperti saudara sendiri.


setelah dimandikan dan dikafani, jasad Kevin akan dimakamkan di TPU terdekat di tempat itu. penghuni kost mengangkat keranda, kendaraan terakhir sahabat mereka menuju ke rumah peristirahatan terakhirnya.


para tetangga pun datang melayat dan ikut ke tempat pemakaman mengantar Kevin.


pagi yang tadinya terik berganti dengan awan yang mulai menghitam di langit sana. pemakaman Kevin diringi dengan rintik hujan yang semakin lama semakin deras. meskipun begitu pemakaman tetap berlangsung dilakukan.


Rahim dan Iyan turun ke liang lahat untuk mengantar Kevin yang terakhir kalinya. setelah jasad itu ditutupi papan, yang masih berada di liang lahat mulai naik ke atas dan jasad Kevin mulai ditimbun dengan tanah.


hingga tertancap papan nisan yang bertuliskan Kevin Aprilio bin Mahmud di atas gundukan tanah yang masih basah itu.


semua orang telah meninggalkan tempat dan kini tinggal penghuni kost yang duduk menemani Kevin.


"selamat jalan bang, semoga tenang di sana ya" Danil mengusap papan nisan


"bang Kevin bahagia di sana ya, kita akan berkumpul lagi nanti. hiks...hiks...Alan akan sangat merindukan abang, kenapa cepat sekali abang pergi" Alan memeluk nisan Kevin dan menangis


Damar memeluk Alan sedang Mahendra memeluk Danil yang juga memeluk nisan Kevin.


hujan turun mulai deras, mereka semua mulai basah namun meskipun begitu mereka masih enggan untuk beranjak dari tempat itu.


"bahagia di sana ya dek, kami akan selalu mendoakan elu di sini" Iyan mengelus gundukan tanah yang ada di depannya itu


"masih nggak percaya elu sekarang udah nggak ada, rasanya baru kemarin kita menghabiskan waktu bersama dan sekarang kita sudah beda alam" ucap Mahendra dengan suara lirih


"kami akan datang mengunjungi elu kapan-kapan, sampai kapanpun elu tetap adik abang, sampai Abang menyusul elu nantinya" ucap Olan


mata mereka telah bengkak karena tangisan yang tidak pernah berakhir. merasa kedinginan, mereka memutuskan untuk pulang kembali ke rumah ibu Nani.


"kami pamit ya, kami akan datang lagi" ucap Damar mencium nisan Kevin


"Abang pulang dulu ya dek, tidurlah yang nyenyak. sekarang elu nggak sakit lagi" Rahim mengelus nisan kemudian berdiri


namun selanjutnya dia kembali duduk dan memeluk nisan Kevin, menangis terisak. yang lainnya pun ikut duduk kembali dan memeluk Rahim. mereka semua menangis di bawah guyuran hujan yang begitu deras.

__ADS_1


mereka semua meninggalkan kuburan Kevin dengan berat hati. meski berat melangkah untuk meninggalkan sahabat mereka itu, namun nyatanya memang mereka harus pulang. Kevin Aprilio kini telah berbeda alam dengan semua sahabatnya menyusul Damar yang telah lebih dulu pergi.


__ADS_2