
pagi hari penghuni kost 010 mendapatkan teror kembali, namun meskipun begitu tidak membuat aktivitas mereka terhalang oleh perbuatan seseorang yang tidak bertanggungjawab itu.
pukul 6 pagi, Rahim membuatkan sarapan untuk mereka, kali ini bukan makanan berat melainkan hanya roti tawar dilapisi slai coklat dan juga minuman kopi untuk pendampingnya.
seperti selera mereka berdua, Alan dan Randi begitu sumringah melihat sarapan pagi mereka kali ini.
"bang Rahim memang the best, makasih bang" ucap Alan saat roti dan minuman mereka sudah tertata rapi di atas meja
"makasihnya sama Riki, Alan" ucap Rahim
"makasih bang Riki, ini rotinya Alan makan ya. abang ikhlas kan" Alan meminta izin kepada Riki karena memang roti slai coklat itu adalah miliknya
"ikhlas dunia akhirat Al, makan yang banyak biar elu nggak kelaparan nanti di kampus" Riki menjawab sambil mengunyah roti miliknya
"siapa hari ini yang nggak mempunyai aktivitas di luar...?" tanya Rahim kepada adik-adiknya
"kalau gue sih jelas harus keluar mencari nafkah dan juga uang untuk masa depan" Olan menjawab setelah meminum kopinya
"bang Olan mau nikah ya...?" ucap Danil, si bungsu diantara mereka semua
"masih cari modal Dan, doain gue ya"
"pasti bang, semoga jodoh sama kak Hana" ucap Danil
"Aamiin" mereka semua mengaminkan doa Danil
"jadi selain Olan, siapa yang mau keluar...?" tanya Rahim lagi
"gue tentunya juga keluar bang, kan kerja" jawab Iyan
"gue ngampus sampai sore, pulang mungkin malam" ucap Faiz
"gue free hari ini bang, emang kenapa sih...?" tanya Mahendra penasaran
"gue juga hari ini nggak ada kegiatan di kampus" timpal Riki
"kalau Alan ada kuliah jam 10 nanti"
"Danil juga"
"jadi hanya Mahendra sama Riki ya yang nggak ada kegiatan di luar" Rahim memastikan
"iya bang, emangnya kenapa...? tanya Mahendra
"gue hanya mau kalian mengawasi kos saja, jangan sampai ada lagi aksi teror seperti tadi dan kemarin" Rahim menjelaskan keinginannya
"tenang aja bang, gue akan siap memantau" ucap Riki
"iya, gue dan Riki akan mengawasi kos. kita memang harus lebih berhati-hati sekarang" timpal Mahendra
setelah sarapan pagi, Olan dan Iyan berangkat kerja, Rahim berangkat ke kampus. sebagai dosen, kadang laki-laki itu mempunyai aktivitas padat di kampus.
untuk yang lainnya pun kini telah meninggalkan kos, tinggallah Mahendra dan Riki yang akan memantau keadaan di kos mereka itu.
"bang, gue mau mencuci dulu ya" ucap Riki
"oke, gue mau di sini aja sambil nonton televisi" jawab Mahendra
Riki segera meninggalkan Mahendra menuju kamarnya. mengambil pakaian kotor dan naik ke lantai dua dimana tempat mereka mencuci pakaian.
sementara Mahendra, sibuk menonton film action yang ditayangkan di layar televisi. masih menikmati film yang ia tonton, ponsel Mahendra bergetar, Robi menghubunginya.
Robi
oi Hen, dimana lu...?
Mahendra
di kos, dimana lagi
Robi
gue ada perlu nih sama elu, mumpung elu di kos, gue ke situ sekarang ya
Mahendra
ya udah datang aja, gue tunggu
Robi
oke sip
setelah berbicara dengan Robi, Mahendra berniat menghubungi ornag tuanya. sudah lama ia tidak mendengar kabar tentang kedua malaikatnya itu bersama Danil.
Mahendra
halo, assalamualaikum bu
ibu
wa alaikumsalam, kenapa nak, tumben telpon
Mahendra
nggak kenapa-kenapa, Arga hanya kangen saja sama ibu dan bapak
ibu
bapak sama ibu baik-baik saja di sini, kamu dan adikmu bagaimana, sehat-sehat kan...?
Mahendra
Alhamdulillah sehat bu, Danil lagi di kampus sekarang, sedang kuliah
ibu
terus kamu Ndak kuliah toh...?
Mahendra
hari ini Mahendra libur bu, besok baru masuk lagi. ibu sedang apa sekarang, bapak dimana...?
__ADS_1
ibu
bapak lagi dirumahnya pamanmu, sedang mengurus pembagian lahan
Mahendra
ibu nggak ke pasar jaga toko...?
ibu
Ndak, hari ini ibu mau ke rumahnya ibu Tini, anak gadisnya mau dilamar.
Mahendra
Tania udah mau nikah, wah cepat sekali ya
ibu
ya sudah ketemu jodohnya, ya harus menikah. uang saku kalian berdua masih ada tak...?
meski jarang menghubungi mereka, namun bagaimanapun itu kedua orang tua masih terus memikirkan anaknya yang ada di perantauan. Mahendra begitu menjadi semakin rindu dengan ibunya itu, wanita yang telah berjuang melahirkan dan membesarkan mereka. ayah yang banting tulang untuk membiayai sekolah mereka. Mahendra semakin rindu dengan keduanya.
ayah Mahendra adalah seorang PNS sedangkan ibunya hanya IRT yang mempunyai toko sembako di pasar. selain itu mereka juga mempunyai bengkel yang dibuka oleh ayahnya Mahendra. meskipun begitu kehidupan mereka tidak kurang sedikitpun namun tidak juga bergelimang harta. kehidupan mereka sederhana seperti orang-orang pada umumnya.
Mahendra
masih bu, tidak perlu cemas.
ibu
ya sudah, kalau habis tinggal hubungi ibu. sudah dulu ya nak, ibu sudah mau berangkat ke rumah ibu Tini
Mahendra
ya sudah, titip salam sama Tania. assalamualaikum
ibu
wa alaikumsalam
braaaakkk
"astaghfirullah"
baru mengakhiri panggilan, Mahendra dikejutkan dengan suara keras di lantai dua. mengingat ada Riki di atas, buru-buru Mahendra berlari ke lantai atas untuk melihat keadaan Riki.
"Riki, elu nggak apa-apa...?" Mahendra bertanya setelah melihat Riki yang sedang mencuci pakaian
"loh bang Mahen, kenapa bang...?" tanya Riki saat melihat Mahendra menghampirinya
"gue tadi mendengar suara benda di pukul, gue kira elu kenapa-kenapa"
"ooh, ini bang. baskomnya pecah, gue jatuh karena licin jadinya kena baskom, untung nggak sampai patah tulang" Riki cengengesan, menunjuk baskom yang pecah karena ulahnya
"astaga, gue pikir elu kenapa tadi. syukurlah kalau elu baik-baik saja" Mahendra bernafas lega
"maaf ya bang"
"nggak apa-apa, lain kali hati-hati"
Mahendra kembali ke lantai bawah, Robi sahabatnya sudah berada di depan kos. ia pun menyuruh sahabatnya itu masuk ke dalam.
sementara itu di kantor polisi, Mahesa sejak tadi terus menghubungi Damar namun nomornya tidak pernah aktif. berkali-kali ia mencoba dan jawabannya selalu sama, di luar jangkauan.
"kemana sih nih anak" gumam Mahesa, ia kemudian mengirimkan pesan kepada Damar
Mahesa : elu dimana...?
"Hes, panggil Angga saat masuk ke dalam ruangan"
"elu tau Damar dimana nggak...?" tanya Mahesa
"gue belum komunikasi sama dia pagi ini, kenapa...?" Angga duduk di depan Mahesa
"dia nggak bisa dihubungi, udah dari tadi" jawab Mahesa menyimpan ponselnya di atas meja
"mungkin masih ngorok di rumahnya, hukum saja kalau dia datang telat. gue punya kabar berita buat elu"
"tentang apa...?"
"minyak wangi yang elu cium di TKP kemarin, itu parfum langka"
"udah dapat mereknya...?"
"mereknya seperti ini, dan itu kata adek gue, lumayan mahal, ya bisa dibilang puluhan juta lah"
"gila, satu parfum saja harganya puluhan juta. Sultan mungkin tuh orang ya" Mahesa geleng kepala mendengar harganya
"biasa mah itu kalau yang banyak uang" ucap Angga
"oh iya, hasil otopsi Aretha udah elu ambil belum...?"
"udah, nih" Angga menyerahkan amplop coklat kepada Mahesa
"nggak ada sidik jari yang tertinggal. kemungkinan dia meninggal karena pukulan keras dikepalanya sehingga mengakibatkan tengkorak kepalanya retak" ucap Angga
"kenapa kita seperti mengalami Dejavu, ini seperti kasus satu tahun yang lalu dimana psikopat Wili pelakunya" ucap Mahesa
"menurut elu, kali ini pelakunya adalah psikopat lagi...?" tanya Angga
"entahlah, gue juga belum tau dan belum pasti. oh ya Cakra kapan pulang...?"
"dua hari lagi, dia tidak memberitahu mu...?"
"nggak, sibuk mungkin di sana"
"iya sih, lagi pusing dia. pusing sama perjodohan yang dilakukan kakeknya untuknya"
"gue yakin sebentar malam dia pasti sudah di kota ini"
"elu yakin banget"
__ADS_1
"yakinlah, nggak cuman kali ini dia dijodohkan terus, ujung-ujungnya paling dia kabur lagi seperti yang dulu-dulu"
"kasian banget hidupnya"
Mahesa hanya mengangkat bahu dan kembali memeriksa hasil otopsi korban pembunuhan Aretha Delano.
"Ariska, kapan dia sadar...?" ibu Masni bertanya kepada anaknya yang berprofesi sebagai dokter
ibu Masni adalah orang yang menolong Damar kemarin malam bersama dengan suaminya, pak Nandar"
"nanti juga dia siuman bu, paling sebentar lagi" jawab Ariska yang sedang memeriksa keadaan Damar
"kasian sekali nasib anak muda ini" ibu Masni melihat Damar dengan rasa iba
"bu, apa tidak ada ponsel atau semacamnya yang kalian temukan. dengan identitas dirinya, kita bisa menghubungi keluarganya" ucap Ariska
"tunggu, ibu periksa dulu di pakaiannya. siapa tau ponselnya ada di saku celananya" ibu Masni mencari pakaian Damar yang ada di keranjang pakaian kotor di tempat pencucian pakaian. semalam yang mengganti pakaian Damar adalah pak Nandar, jadi ibu Masni tidak tau perihal apakah ponsel Damar ada atau tidak
sambil menunggu ibunya, Ariska duduk di samping Damar dan memperhatikan wajahnya. penuh lebam dan luka, kepalanya sudah diperban begitu juga kedua tangannya.
"miris sekali hidupmu, siapa orang yang tega melakukan ini padamu" gumam Ariska
"kak, nggak berangkat ke rumah sakit...?" tanya Zakyas saat dirinya masuk ke dalam
"sebentar lagi. kamu tidak kuliah...?" Arini mengarahkan matanya ke arah adik laki-lakinya itu
"aku masuk jam 1 siang nanti" jawab Zakyas duduk di tepi ranjang
"Riska, ini ponselnya. ibu dapat di saku celananya" ibu Masni datang dan menyerahkan sebuah ponsel milik Damar
"sepertinya lobet. Zakyas kamu cas ponsel ini. cari nomor keluarganya di sini dan hubungi mereka" Ariska memberikan ponsel itu kepada Zakyas
"kalau ponselnya di kunci gimana kak...?"
"hacker masa dikalahkan sama kunci ponsel beginian. sistem kampus aja kamu bobol, masa begini nggak bisa"
"hehehe, iya ya. maaf, lupa" Zakyas nyengir lebar
"bu, Riska pergi dulu ya. kalau ada apa-apa hubungi Riska saja"
"hati-hati"
Ariska mencium tangan ibunya, sedangkan Zakyas mencium tangan kakaknya itu hingga akhirnya Ariska tidak terlihat lagi di balik pintu.
"tidak kuliah kamu...?" ibu Masni bertanya kepada Zakyas, mereka telah keluar dari kamar Damar
"nanti siang bu, aku mau bobol ponsel ini dulu untuk bisa menghubungi keluarga abang tadi" ucap Zakyas
"ya sudah, ibu mau membeli sayur di depan" ibu Masni keluar dari rumah menuju tukang sayur di depan sana dimana para ibu-ibu sudah mengerumuninya
sedangkan Zakyas menuju kamarnya. dia mencas ponsel Damar dan menunggu beberapa menit agar baterai ponsel itu terisi. setelah 20%, Zakyas menghidupkan ponsel itu. seperti dugaannya, ponsel itu memiliki kata sandi agar bisa masuk. Zakyas pun mulai mengeksekusi ponsel Damar.
"ini Damar kemana sih, sejak tadi pagi belum muncul juga. ponselnya pun nggak aktif, pergi bertapa dimana coba nih anak" Mahesa lagi-lagi menghubungi Damar namun seperti tadi pagi, di luar jangkauan
sudah pukul 2 siang, Damar belum juga menunjukkan batang hidungnya di kantor, tentu saja laki-laki itu tidak akan datang, karena dirinya sedang terkapar tidak sadarkan diri di rumah salah satu warga.
"mungkin dia ada urusan lain dan nggak sempat memberitahu kita" ucap Zulfikar
"perasaan gue nggak enak sama dia. Damar nggak pernah seperti ini sebelumnya. kalaupun dia nggak datang, dia selalu memberitahu gue" Mahesa menghela nafas panjang
"pesan gue juga belum dibacanya"
ting
dalam keresahannya, ponsel Mahesa berbunyi. pesan masuk di benda pipih itu. saat membaca pesan itu, Mahesa seketika bangkit dari tempat duduknya membuat Angga dan Zulfikar kaget.
"kampret lu Hes, hampir jungkir balik gue" Angga hampir saja jatuh dari kursinya
"astaga Damar" Mahesa shock melihat pesan di layar ponselnya
"kenapa, ada apa...?" Zulfikar mengambil ponsel Mahesa untuk melihat isi pesan itu
Damar : maaf, apa ini teman dari pemilik ponsel ini...? sekarang pemilik ponsel ini sedang terluka parah dan berada di rumah saya di jalan Anyer nomor 7
"kita ke sana sekarang" Zulfikar mengembalikan ponsel Mahesa
"tunggu, gue mau hubungi nomor Damar lagi karena pesan ini dikirim dari nomor Damar" Mahesa kembali menghubungi nomor Damar dan kali ini langsung tersambung
Mahesa
halo
Damar
iya halo
Mahesa
ini siapa, Damar dimana...?
Damar
oh jadi nama pemilik ponsel ini adalah Damar. maaf kak, kak Damar sedang tidak sadarkan diri dan sekarang berada di rumah saya. semalam orang tua saya menemukan kak Damar di depan rumah dengan keadaan sudah babak belur
Mahesa
kalau begitu saya akan segera ke sana, terimakasih sebelumnya sudah memberitahu saya
Damar
karena kakak banyak mengirimkan pesan ke ponsel ini jadi saya berpikir untuk memberitahu kakak saja. kalau begitu saya tunggu di rumah di alamat yang saya kirimkan tadi
Mahesa
baiklah, kami segera ke sana
"kenapa Hes, ada apa dengan Damar...?" Angga yang belum diberitahu langsung bertanya setelah Mahesa mematikan panggilan
"Damar terluka dan sekarang dia berada di salah satu rumah warga yang telah menolongnya. kita ke sana sekarang" jawab Mahesa langsung menyambar kunci mobilnya
"pakai satu mobil saja ya" ucap Zulfikar
__ADS_1
"iya, begitu saja" timpal Mahesa sudah keluar lebih dulu
sementara itu Zakyas yang baru saja berbicara dengan Mahesa di sambungan telpon, langsung memberitahu ibu dan ayahnya kalau keluarga dari Damar akan datang menjemputnya. harusnya Zakyas sudah berada di kampus, namun karena keting mereka memberitahu bahwa dosennya tidak jadi masuk, ia pun mengurungkan niatnya untuk ke kampus dan lebih memilih di rumah menunggu kedatangan Mahesa yang belum ia tau kalau yang akan datang adalah seorang polisi.