Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 35


__ADS_3

"gimana ini bang" Randi sangat khawatir terhadap Kevin. kendatipun dia mencurigai Kevin namun tetap saja dia khawatir. perasaan takut apa yang terjadi terhadap Damar, sangat membuatnya takut hal itu akan terjadi pada Kevin


"kita tunggu pak Zulfikar dulu" Rahim menjawab dengan perasaan tegang


sedangkan Zulfikar yang masih berada dirumahnya, langsung bersiap-siap untuk ke kantor polisi. dia juga sudah menghubungi Cakra dan Mahesa bahwa mereka akan ke kost 010 untuk menemui para penghuninya.


saat sedang memakai bajunya, Zulfikar jadi teringat sesuatu. apa yang dikatakan Mahesa memang benar, mereka melewatkan sesuatu, mereka tidak memasang cctv di belakang kost 010. bisa jadi pembunuh itu tidak lewat di depan namun lewat dibelakang kost tersebut.


"kenapa bisa lupa ya" gumamnya


sementara di kost 010 sambil menunggu ketiga polisi itu datang, mereka sarapan terlebih dahulu. meskipun dalam keadaan khawatir tapi mereka juga butuh tenaga untuk berpikir.


Damar telah datang membelikan mereka makanan. satu persatu mereka memakan nasi uduk yang dibelikan oleh Damar. hingga kemudian suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"biar Danil yang buka" Danil beranjak dan melangkah ke arah pintu


"silahkan masuk pak" ucap Danil saat telah membuka pintu


ketiga polisi itu masuk dan menuju ruang utama. Danil kembali menutup pintu dan menyusul mereka.


"selamat pagi" sapa Mahesa


"pagi pak, silahkan duduk" Rahim mempersilahkan ketiganya untuk duduk


"dimana Kevin pak, dia baik-baik saja kan...?" Alan melontarkan pertanyaan


"kami juga tidak tau bagaimana keadaannya sekarang. ponsel ini kami temukan di tengah jalan, titik terakhir dimana Kevin berada" jawab Mahesa


"bagaimana bisa ponsel Kevin berada di tengah jalan sementara dia tadi malam dia ada di kost dan tidak keluar" ucap Olan


"sepertinya Kevin memang keluar. karena tidak mungkin ponselnya berada di jalan kalau bukan Kevin sendiri yang membawanya" jawab Cakra


"lalu kemana dia, ya Allah Kevin" Rahim benar-benar sangat khawatir


"jangan-jangan pembunuh itu yang membawa pergi Kevin. bagaimana kalau Kevin dicelakai olehnya, bagaimana Kevin kalau dia bunuh dan.....dan" Randi tidak dapat melanjutkan ucapannya


"jangan berpikir macam-macam dulu Ran, kita belum tau apa yang terjadi dengan Kevin" Mahendra menenangkan Randi


sementara Mahesa dan Cakra bersama semua penghuni kost, Zulfikar mengambil kesempatan itu untuk memeriksa kamar mereka. mungkin waktunya tidak akan efisien maka dari itu Zulfikar memilih asal kamar yang akan diperiksanya.


polisi itu memasuki sebuah kamar yang rapi dan bersih. banyak buku-buku yang berjejer rapi. tidak ada yang mencurigakan di kamar itu. tampak biasa seperti halnya kost mahasiswa lainnya.


Zulfikar keluar dan memasuki kamar selanjutnya. di kamar itu terlihat berantakan, bantal dan selimut belum di rapikan oleh pemiliknya. bahkan laptop dan beberapa buku masih ada di atas tempat tidur.


di meja belajar, banyak beberapa novel horor yang menjadi koleksinya. Zulfikar mengambil satu novel itu dan membaca judulnya.


dia bukan pecinta novel, maka dari itu Zulfikar menaruhnya kembali di atas meja. setelah itu dia keluar lagi dan masuk ke kamar yang lain.


beberapa poster anime terpampang di dinding kamar. sepertinya penghuni yang satu itu menyukai film animasi. sama seperti kamar sebelumnya, ada beberapa novel yang berjejer di rak buku, namun bukan novel horor atau romansa melainkan beberapa novel yang menggambarkan seorang psikopat.


Zulfikar melihat beberapa novel itu. dia mengambilnya dan membaca sebagian isinya yang tentang pembunuhan berdarah dingin seperti yang mereka hadapi sekarang.


polisi itu memeriksa buku yang terdapat di atas meja, tertulis salah satu nama penghuni kost di sana.


"sedang apa pak...?" penghuni kamar itu datang menghampiri Zulfikar


Zulfikar berbalik dan melihat laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu.


"hanya melihat-lihat saja, kamarmu bersih dan rapi" jawab Zulfikar tampak bersikap tenang


"saya memang suka kebersihan" dia masuk ke dalam kamar dan duduk di atas tempat tidur"


"dan kamu juga suka dengan novel kriminal seperti ini...?" Zulfikar menunjukkan sebuah novel yang ada di tangannya


"iya. daripada membaca novel yang biasa hanya menceritakan CEO dan sekretarisnya, saya lebih suka membaca cerita yang menegangkan"


"tapi jangan salah ya pak, meskipun saya menyukai novel seperti itu bukan berarti saya akan melakukan hal yang sama seperti yang ada di dalam novel"


"saya banyak mengoleksi novel seperti ini tapi ada beberapa novel yang hilang, entah hilang atau saya lupa menyimpannya dimana. kalau tidak salah ada dua novel saya yang hilang"


"bapak suka juga membaca novel...?"


"tidak, saya tidak tertarik dengan novel" jawab Zulfikar


"oh iya sampai lupa, pak Mahesa dan pak Cakra sedang mencari bapak di depan" dia memberitahu


"ya sudah saya keluar dulu" Zulfikar keluar dari kamar itu dan menuju ke ruang tamu bersama dengan salah satu penghuni kost


salah satu rekan mereka yang sedang menyamar, melihat ke arah Zulfikar. sampai sekarang penghuni kost belum mengetahui bahwa selain pembunuh, salah satu dari mereka juga adalah seorang polisi yang menyamar menjadi mahasiswa dan tinggal bersama mereka.


"sudah selesai...?" tanya Zulfikar


"sudah, kita pergi sekarang" jawab Mahesa


ketiganya berpamitan, dan meninggalkan kost tersebut. sementara kini penghuni kost masih berada di ruang utama.


ting


pesan masuk di ponsel salah satu dari mereka. dia memeriksa pesan tersebut yang dikirim oleh salah satu polisi yang baru saja pergi tadi.


Zulfikar : dekati Olan, gue menaruh curiga padanya


rekan : elu menemukan sesuatu di kamarnya...?


Zulfikar : banyak novel genre kriminal di kamarnya, psikopat berdarah dingin. kita harus bergerak cepat, Kevin dalam bahaya sekarang


rekan : akan gue lakukan

__ADS_1


Zulfikar : satu lagi, pastikan elu memasang cctv di halaman belakang kost


rekan : siap. lalu bagaimana dengan laki-laki yang berada di foto Clara...?


Zulfikar : beritahu Mahendra untuk mendekatinya


"berbalas pesan dengan siapa sih lu" tanya Olan saat melihat temannya itu


"bukan siapa-siapa" jawab Damar menggeleng dan menyimpan ponselnya di atas meja


Damar adalah salah satu agen yang diperintahkan untuk menyamar menjadi mahasiswa dan tinggal di kost 010. tujuannya memang dari awal adalah untuk membantu Mahesa dan Cakra.


(kalau bukan bang Kevin pelakunya, lalu siapa...?) batin Alan


(masa iya Alan harus periksa satu-persatu kepala mereka. tapi kan....dia, punya luka dibelakang kepalanya. apa aku tanyakan lagi ya) Alan melirik salah satu abangnya


sedang Mahendra mengirimkan pesan kepada Maureen untuk bertemu hari ini. gadis itu tau nomor angka yang Mahendra perlihatkan kepadanya waktu lalu.


namun bahkan beberapa pesan yang sudah dia kirim, tidak satupun Maureen membalas pesannya itu.


(mungkin dia lagi sibuk) batin Mahendra


"gue mau ke kamar dulu, mau siap-siap berangkat kerja" ucap Iyan beranjak


"gue juga mau siap-siap, gue harus persentase hari ini" Olan pun langsung bangkit


"bang Iyan dan bang Olan nggak mau cari Kevin...?" tanya Faiz


"cari kemana Iz, kita nggak tau Kevin kemana dan dimana dia sekarang" jawab Iyan


"bukannya nggak mau cari, tapi kita juga bingung mau cari kemana. yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa semoga Kevin baik-baik saja" timpal Olan


keduanya meninggalkan ruang utama. Mahendra pun sama langsung beranjak untuk naik ke lantai atas. hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Damar : dekati bang Iyan. dia adalah salah satu yang ada di beberapa foto Clara


(bang Iyan...?) Mahendra berbalik dan melihat Damar, kemudian Damar mengangguk


Mahendra : oke


"bang Iyan" panggil Mahendra


"kenapa Hen...?" Iyan berbalik saat dirinya telah sampai di depan kamarnya


"mau kerja ya...?"


Iyan mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Mahendra namun dia tetap menjawab.


"iya, gue masuk shift pagi" jawab Iyan


Iyan membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, Mahendra mengikutinya masuk ke dalam.


"nggak usah meledek deh" jawab Iyan yang sebenarnya tau kalau ucapan Mahendra adalah antonim dari apa yang diucapkannya


"gue mau mandi dulu ya, kalau keluar jangan lupa tutup pintu" Iyan menyambar handuk yang menggantung di hanger baju


"Abang ngusir gue...?


"ya elah sensi banget sih Hen. udah ah mau mandi gue, telat nanti" Iyan langsung masuk ke kamar mandi


Mahendra langsung beraksi mencari apa saja yang menurutnya menimbulkan rasa curiga. laci-laci kecil di bukanya satu persatu bahkan lemari pakaian namun dia tidak menemukan apapun.


"nggak ada apa-apa" gumamnya menggaruk kepala


cek lek


pintu kamar mandi dibuka, Iyan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. rambutnya basah dengan sisa air yang berjatuhan membasahi lantai.


"loh, masih di sini Hen" Iyan berjalan ke arah lemari


"iya bang, kalau gitu gue ke kamar dulu ya" Mahendra pergi begitu saja


"lah, main pergi saja" ucap Iyan heran


"bang Arga darimana...?" tanya Danil saat melihat Mahendra baru saja masuk


"dari kamar bang Iyan" jawab Mahendra menjatuhkan dirinya di tempat tidur


"Abang nggak ke kampus...?"


"masuk jam 8"


"sekarang udah jam 7 lewat loh bang"


"ya sudah Abang mandi dulu. kamu mau ikut ke kampus nggak...? Mahendra bangun dan membuka bajunya


"nanti tiba di sana Danil sendirian, malas ah"


"ya kamu ikutan masuk ke kelas abang"


"emang bisa...?".


"bisalah, asal jangan ribut aja"


"nanti kalau ketahuan dosen gimana...?"


"ya nggak gimana-gimana, dosen juga malah senang ada calon Maba yang mau mengambil ilmunya"

__ADS_1


"ya sudah kalau gitu Danil ikut. sini Danil mandi duluan, Abang terlalu lelet kalau mandinya" Danil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi


"lah, main terobos aja tuh bocah"


Mahendra kembali berbaring dan memeriksa ponselnya. sampai sekarang Maureen belum juga membalas pesannya bahkan saat dia menghubungi nomor gadis itu, selalu saja tidak aktif.


"bang Olan udah mau pergi...?" tanya Damar


"iya, kenapa Dam...?" tanya Olan saat dirinya hendak mengunci pintu kamarnya


"bang Olan punya komputer kan di dalam...?"


"iya, kenapa emang...?"


"boleh pinjam nggak bang, soalnya gue mau kerja tugas kampus. laptop gue rusak, mau pinjam sama anak-anak lain tapi mereka pakai juga"


"oh, ya udah pakai aja. nih kunci kamar gue" Olan memberikan kunci kamarnya kepada Damar


"nggak apa-apa nih bang, gue masuk ke kamar abang...?"


"ya nggak apa-apalah, lagian nggak ada juga barang mahal yang bisa elu curi"


"komputer mahal loh bang"


"kalau hilang berarti elu yang gue cari. gue pergi ya, masuk aja ke dalam" Olan meninggalkan Damar di depan kamarnya


"kenapa bang Dam...?" tanya Randi yang keluar dari kamarnya


"nggak kenapa-kenapa, elu mau ngampus...?"


"nggak, gue mau keluar sebentar. pergi dulu ya bang"


"oke sip"


Damar segera membuka pintu kamar Olan. dia langsung masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamar. benar kata Zulfikar, Olan mengoleksi beberapa novel yang bergenre kriminal.


dia mulai memeriksa satu persatu laci meja dan di sana Damar menemukan satu bungkus rokok, beberapa permen mint dan juga gunting serta pisau kecil.


selain itu Damar juga menemukan sapu tangan. saat mengambil sapu tangan itu, Damar melihat nama yang terukir di sapu tangan tersebut.


"Viol...?" kening Damar mengkerut, sungguh nama yang aneh menurutnya


Damar menutup kembali laci meja dan beralih ke novel koleksi Olan. dia duduk di kursi dan membaca salah satu novel yang sepertinya baru saja Olan baca karena salah satu lembar novel itu dilipat dalam artian itu adalah batas dimana dia membacanya.


"sadis banget" gumamnya membaca tiap lembar novel itu


tidak ada yang Damar dapatkan di kamar itu. dia kemudian keluar dari kamar Olan dengan membawa salah satu novel yang ia baca tadi.


kost sudah mulai lenggang, yang lain sudah keluar beraktivitas. Damar pun akan keluar untuk mencari benda yang akan dia pasang di halaman belakang kost.


sementara itu Mahendra telah tiba di kampus bersama Danil. mereka segera menuju ke kelas tempat kuliah Mahendra. Robi dan Selda sudah ada di dalam kelas


"Rob, Sel... Maureen belum datang...?" tanya Mahendra


"belum. nih anak dari tadi gue telpon-telpon tapi nggak pernah nyambung" jawab Selda


"pesan gue aja belum dia baca" lanjut Selda


"gue juga udah hubungi dia sejak tadi tapi tetap nggak aktif. ini aneh sih, dia biasanya nggak seperti ini" ucap Mahendra


"ada urusannya mungkin, kita kan nggak tau" ucap Rudi


"dia siapa Hen...?" tanya Selda melihat Danil


"adek gue" jawab Mahendra


"eh udah masuk" Selda memberitahu kedua sahabatnya


perkuliahan dimulai, Danil duduk di samping Mahendra. mahasiswa yang lain bingung melihat keberadaan Danil namun dia biasa saja dan tidak terusik dengan mereka.


"Hes, gue udah periksa di cctv dimana Kevin tertangkap kamera sedang mengikuti sebuah mobil warna merah"


"coba gue lihat" Mahesa mengambil ponsel Cakra dan melihat rekaman itu


"ini di jalan dimana kita menemukan ponsel Kevin" ucap Mahesa


"iya, tapi sayangnya pelaku menghindari adanya kamera cctv, sepertinya dia tau itu makanya di jalan ini dia tidak terlihat" jawab Cakra


"tapi setelah itu mobil itu tertangkap lagi di beberapa cctv dan arahnya menuju ke ujung kota yang jauh dari keramaian. hanya saja dibagian itu sudah tidak ada lagi cctv. jadi kalau kita cari, sepertinya akan kesusahan mengingat di titik wilayah itu sangat luas"


"kita ke sana sekarang sebelum malam" ucap Mahesa


"elu yakin...?" tanya Zulfikar


"mungkin saja kan kita dapat menemukan petunjuk atau sebagainya. ayo, jangan membuang waktu sebelum malam tiba. karena kita harus mengawasi lagi kost tersebut"


Mahesa keluar begitu juga kedua rekannya. mereka masuk ke dalam mobil masing-masing karena mungkin saja di sana mereka akan berpencar untuk mencari jejak.


masing-masing mobil ketiga polisi itu membelah jalan raya. sinar matahari sudah mulai menyengat kulit. sekitar satu jam mereka sampai ditempat dimana mobil merah itu terakhir terekam kamera cctv.


"di sini ada tiga jalan, mana yang akan kita ambil...?" mereka turun dari mobil dan berdiri di pinggir jalan. di depan sana yang jaraknya beberapa meter, terdapat tiga persimpangan.


"kita ke kanan, kiri atau mengambil jalan tengah...?" tanya Cakra


"jalan satu-satunya adalah berpencar" ucap Mahesa


"baiklah, mari kita mengambil bagian masing-masing. gue ke kanan, Zulfikar ke kiri dan elu Hes mengambil jalan tengah" Cakra memberikan ide

__ADS_1


"oke. kita bergerak sekarang"


mereka kembali masuk ke mobil masing-masing dan berpisah di tempat itu dengan mengambil jalan yang akan mereka telusuri.


__ADS_2