
"Damar... Mahesa"
Zulfikar shock melihat mobil mewah itu meledak seketika. kedua rekannya masih menyelamatkan Wili saat mobil itu meledak. dia yang sibuk mencari sesuatu untuk membantu membuka pintu mobil langsung berlari saat terdengar suara ledakan.
"uhuk...uhuk"
Zulfikar yang mendengar suara seseorang yang terbatuk langsung memeriksa. di sana ada Damar dan Mahesa yang sedang terbaring di aspal. Wili berhasil mereka keluarkan, saat ini dia sedang terbaring di perut Damar.
"haaah syukurlah Tuhan, kalian selamat. gue hampir jantungan" Zulfikar menjatuhkan dirinya di dekat Mahesa
"pak, tolong bantu padamkan apinya" laki-laki yang hampir ditabrak oleh Wili, meminta bantuan kepada warga yang sedang berkumpul untuk melihat kejadian itu.
"pakai selang saja, di rumahku lebih dekat" seorang bapak-bapak memberitahukan
"kalau begitu cepat ambil selangnya dan bawa di sini" timpal yang lain
bapak itu berlari ke arah rumahnya, kemudian memasang selang di kran air dan membawanya ke tempat tadi. untungnya selang itu panjang sehingga dapat mencapai di dekat tempat kecelakaan.
mereka segera mematikan api dengan peralatan seadanya. menggunakan ember untuk menampung air dan mengguyur ke mobil yang terbakar.
"Wil... Wili" Damar berusaha menyadarkan temannya itu namun tidak ada respon
"periksa denyut nadinya" ucap Mahesa
Damar memegang leher Wili untuk memastikan apakah dia masih bernafas atau tidak.
"masih bernafas, kita bawa ke rumah sakit" ucap Damar
mereka menggotong tubuh Wili menuju ke mobil Mahesa. setelah itu, mereka membawanya ke rumah sakit. kecelakaan tadi, akan di urus oleh Zulfikar. dia tidak ikut ke rumah sakit, dirinya akan menyusul nanti menggunakan motor Damar, sedangkan Damar sendiri menemani Wili di kabin tengah, menuju rumah sakit.
"euughh" wanita yang ditabrak oleh Olan, kini telah sadarkan diri
saat itu juga ada seorang suster yang masuk ke dalam untuk melihat keadaannya.
"kamu sudah sadar...?" suster bertanya
"aku dimana...?" dia memegang kepalanya yang sakit
"kamu di rumah sakit, tunggu sebentar akan aku panggilkan seseorang yang mengantarmu ke sini tadi"
suster tersebut menghubungi Olan. di depan ruang ICU, ponsel Olan bergetar. sampai saat ini dokter belum juga keluar dari ruangan itu, setelah membawa kantung darah Alan dan juga Mahendra.
"ponsel lu bunyi bang" ucap Iyan
Olan mengambil ponselnya dan menerima panggilan.
π Olan
halo
π suster
atas nama bapak Olan...?
π Olan
iya, ini siapa ya...?
πsuster
maaf pak, saya hanya ingin menyampaikan kalau pasien yang bapak bawa tadi sudah sadarkan diri
π Olan
oh, suster yang tadi ya...?
π suster
iya pak
π Olan
terimakasih sus, saya akan ke sana sekarang
"gue cabut dulu ya, mau menemui wanita yang gue tabrak tadi" Olan mendekat yang lainnya
"iya, kabari kami kalau elu butuh sesuatu" Rahim menjawab
"tentu bang"
jawab Olan
dia segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruang perawatan wanita itu. saat tiba, di dalam sudah ada seorang suster dan dokter yang memeriksa keadaan wanita itu.
"bagaimana dokter...?" tanya Olan
"tidak ada yang serius pak, hanya luka di kepalanya saja. mungkin beberapa hari juga akan sembuh" dokter menjawab ramah
"kaki dan tangannya tidak ada yang patah kan dokter...?" Olan khawatir, karena dia merasa menabrak wanita itu dengan cukup keras
"tidak pak, Alhamdulillah tidak ada cedera lain selain kepalanya. kalau begitu kami permisi dulu"
"silahkan dokter, terimakasih" Olan mempersilahkan
__ADS_1
setelah dokter dan suster tadi keluar, Olan mengambil tempat duduk di samping wanita yang sedang memperhatikan dirinya.
"syukurlah kamu baik-baik saja" ucap Olan
"kamu siapa...?" tanya si wanita
"aku Olan, yang menabrak mu tadi di jalan"
"di tabrak...?"
"iya, apa kamu tidak ingat...?"
wanita itu mulai mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya, sebelum akhirnya dirinya benar-benar ditabrak oleh pengendara motor yang ternyata adalah Olan.
"iya, aku ingat"
"aku benar-benar minta maaf telah menabrak mu, aku benar-benar menyesal, aku tidak sengaja"
"tidak masalah, aku juga yang salah. saat itu sebenarnya aku ingin mencari pertolongan"
"jadi siapa namamu. berikan aku nomor keluargamu agar aku bisa menghubungi mereka dan memberitahu keadaan mu"
"aku Maureen, aku tidak punya ponsel. ponsel yang aku bawa adalah ponsel si pembunuh itu"
"pembunuh...?" Olan mengernyitkan keningnya
"iya. mas aku minta tolong, temanku dalam bahaya. dia membutuhkan bantuan. pembunuh itu menyekap kami ditempat terpencil, di sebuah ruang bawah tanah, dia menyiksanya. aku mohon tolong dia" Maureen sudah berkaca-kaca dan mulai menangis
"oke, tenangkan dulu dirimu. sekarang katakan siapa temanmu itu dan dimana dia sekarang"
"dia Kevin, sekarang dia berada di ujung kota, ditengah hutan. aku berhasil melarikan diri karena berhasil membuat pembunuh itu pingsan, namun aku takut bagaimana keadaan Kevin sekarang"
"Kevin...?" betapa terkejutnya Olan mendengar nama yang mirip dengan temannya
"iya, namanya Kevin"
"apakah Kevin yang ini...?" Olan memperlihatkan foto Kevin di ponsel miliknya
"iya benar, dia orangnya. kamu mengenalnya...?"
"ya Allah Kevin" Olan menutup matanya
"dia temanku yang hilang sudah beberapa hari. sekarang katakan siapa pembunuhnya, siapa dia...? Olan benar-benar geram
"aku tidak tau, tapi aku membawa ponselnya. dimana ponsel itu...?" Maureen mencari ponsel yang dibawanya
"apa ponsel ini...?" Olan menunjukkan ponsel yang ada di tangannya
"iya, itu ponselnya. itu adalah ponsel pembunuh itu" Maureen mengangguk cepat
sambil tersambung dengan colokan cas, Olan mengaktifkan ponsel itu. hal yang pertama dia lihat adalah harus memasukkan kata sandi.
"ini seperti ponsel Wili" gumam Olan
untuk memastikannya, Olan mencari nomor Wili di ponselnya dan melakukan panggilan. hingga kemudian tidak lama panggilan yang dia lakukan tersambung dan ponsel itu berbunyi.
"brengsek, jadi dia pelakunya selama ini" Olan sungguh tidak menyangka
"Maureen, maaf aku harus meninggalkan mu. aku harus segera menolong Kevin"
"tidak apa-apa, cepatlah pergi... Kevin pasti sangat menderitanya sekarang. rumah ruangan itu ada di sebuah kamar, dibalik lemari. geser saja lemarinya maka jalan rahasia akan muncul di tempat itu. aku sudah memberi tanda dimana tempat Kevin di sekap. gambar tanda panah di setiap bilik yang aku lalui" Maureen menjelaskan
"terimakasih, aku pergi"
Olan meninggalkan Maureen. dia bahkan berlari untuk menuju ke ruang ICU untuk memberitahukan yang lain.
"kenapa bang...?" Mahendra heran melihat Olan berlari ke arah mereka
"Kevin sudah ditemukan" jawab Olan ngos-ngosan
"yang benar bang, terus bagaimana keadaannya. dimana Kevin sekarang...?" tanya Alan
"dia di sekap di ujung kota, di sebuah rumah di tengah hutan, di ruang bawah tanah. Wili menyekapnya dia di sana dengan seorang wanita yang bernama Maureen, wanita yang gue tabrak tadi" jawab Olan
"Maureen...?" mendengar nama Maureen Mahendra bertanya
"iya, dia di sekap bersama Kevin" jawab Olan
"dia teman gue yang hilang bersamaan dengan hilangnya Kevin kemarin. syukurlah dia selamat. sekarang dimana dia...?" tanya Mahendra
"di kamar rawat mawar. sekali kita harus pergi menyelamatkan Kevin" jawab Olan
"kalau begitu kita pergi sekarang, saya akan ikut bersama kalian" timpal Cakra
"baiklah, biar pak Cakra, gue dan Olan yang pergi, kalian tetap di sini menunggu Randi" Rahim menentukan
"hati-hati bang" ucap Danil
"iya. ayo pak" ajak Rahim
ketiganya meninggalkan tempat itu. mereka menuju lobi rumah sakit dan melangkah ke parkiran tempat dimana mobil Cakra di parkir.sebelum pergi, Cakra meminta bantuan kepada pihak rumah sakit untuk membawa ambulan ke tempat tujuan mereka. dia menjelaskan kepada pihak rumah sakit bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan medis.
pihak rumah sakit pun menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh Cakra, terlebih setelah menunjukkan tanda pengenalnya, mereka mulai menyiapkan ambulan, dan beberapa perawat untuk mengikuti mereka.
__ADS_1
setelah masuk ke dalam mobil, Cakra menyalakan mobilnya dan meninggalkan halaman rumah sakit. mobil ambulan mengikuti mobil Cakra dari belakang.
sementara yang lainnya sangat tidak percaya kalau selama ini yang menjadi pelakunya adalah Wili. laki-laki yang sangat ramah, peduli, sopan dan santun ternyata adalah seorang psikopat berdarah dingin. tidak ada menyangka kalau Wili yang berhati seperti malaikat itu, adalah seorang pembunuh.
ruangan ICU terbuka, Mahendra serta yang lainnya segera menghampiri dokter yang menangani Randi.
"bagaimana adik saya dokter...?" tanya Mahendra
"bersyukur, Allah masih menyelamatkannya. untung saja lukanya tidak mengenai denyut nadi dan tidak begitu dalam. meskipun begitu kalau terlambat sedikit saja, dia sudah pasti tidak selamat" jawab dokter
jawaban dokter muda itu membuat mereka semua lega. mereka bahkan sujud syukur karena bahagia, Randi tidak mengalami hal seperti Damar.
"terimakasih dok, terimakasih" Mahendra seketika memeluk dokter itu
hingga kemudian pintu kembali terbuka, Randi dibawa ke ruang perawatan. mereka mengikutinya sampai di kamar rawat.
dokter menyarankan mereka untuk membayar administrasi, dengan segera Faiz pergi menyelesaikan semua yang perlu mereka selesaikan.
di halaman rumah sakit, saat mobil Cakra meninggalkan rumah sakit, saat itu juga mobil Mahesa baru saja sampai di rumah sakit. dia segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam memanggil dokter untuk menangani Wili.
beberapa orang suster datang membawa brankar dan Wili dinaikkan di atasnya. kemudian laki-laki itu dibawa ke ruang ICU. wajah Wili sudah tidak dikenali lagi karena darah yang sudah berlumuran di wajah tampannya.
setelah sampai di ruang ICU, Damar terduduk di lantai begitu juga dengan Mahesa.
Damar kemudian mengirimkan pesan ke grup squad 010 untuk memberitahu teman-temannya kalau Wili kini sedang kritis di ruang ICU.
Damar : Wili kritis, sekarang dia di ruang ICU
saat membaca pesan Damar, mereka yang berada di kamar rawat Randi langsung meninggalkan tempat kembali ke ruang ICU.
"Damar" panggil Faiz
"bagaimana keadaannya...?" tanya Mahendra
"masih ditangani di dalam" jawab Damar lesu
"hiks...hiks...bang Wili" Alan mulai terisak. Danil merangkul dan menenangkan Alan
mereka kini semua kembali tegang. tadi Randi yang berusaha melawan maut, sekarang di dalam ruangan itu, kini Wili yang sedang melawan maut. bahkan mereka kini memikirkan keadaan Kevin yang entah bagaimana nasibnya sekarang.
ada rasa sesal, sakit hati, benci dan amarah yang ada di dalam hati mereka untuk laki-laki yang terbaring di dalam sana. namun meskipun begitu, terlepas dari apa yang dia lakukan, mereka pernah melewati hari-hari indah bersamanya sebagai saudara. melihat dirinya sekarang tidak berada, amarah itu, seketika luntur begitu saja.
"elu kuat Wil" gumam Iyan menatap nanar pintu ruangan itu
semua yang dilakukan seseorang pasti mempunyai alasan tersendiri, dan itu juga yang dipikirkan oleh squad 010 terhadap pembunuhan yang dilakukan oleh teman mereka.
alasan apapun itu jika sudah menghilangkan nyawa seseorang jelas hukum yang akan menjerat. kali ini Wili sudah menjadi tersangka dari semua pembunuhan yang terjadi.
dirinya sekarang berada dalam antara hidup dan mati. tentunya jika selamat, hukuman yang berlaku sudah menunggunya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya selama ini. jika maut datang menjemputnya maka tanggung jawab itu akan dia pikul di hadapan Tuhan nanti.
"dimana Cakra...?" tanya Mahesa, karena saat datang dia tidak melihat rekannya itu
"pak Cakra, bang Rahim dan bang Olan sedang pergi menjemput Kevin di tempat penyekapan Wili" jawab Iyan
"dia sudah ditemukan...?" tanya Mahesa
"sudah pak. teman saya Maureen yang sempat hilang bersama Kevin, kini sedang di rawat di rumah sakit ini. dia yang memberitahu keberadaan Kevin sekarang" Mahendra menjawab
"semoga dia baik-baik saja" ucap Mahesa
Mahendra meminta Danil untuk menemani Randi di ruangan rawatnya. sementara dia sendiri, pamit kepada yang lain untuk melihat keadaan Maureen.
saat tiba, gadis itu sedang tertidur lelap di ranjangnya. Mahendra mendekati Maureen dan duduk di sampingnya. ada perasaan lega ketika melihat keadaan Maureen sekarang baik-baik saja. dia sangat bersyukur Wili tidak menyakiti Maureen bahkan melenyapkan nyawa sahabatnya itu, wanita yang pernah menyatakan cinta padanya.
setelah melihat Maureen baik-baik saja, Mahendra keluar dan menghubungi orang tua gadis itu. memang sudah larut malam namun Mahendra pikir, mereka harus tau keadaan anaknya bagaimana.
terdengar kepanikan di rumah Maureen saat menerima telpon dari Mahendra. ibu dan ayah Maureen segera bersiap menuju rumah sakit untuk melihat anak mereka. setelah menghubungi kedua orang tua Maureen, dia pun mengirimkan pesan kepada Robi dan Selda bahwa sahabat mereka telah kembali dan di rawat di rumah sakit
sementara itu, mobil Cakra masih terus mengikuti jalan raya yang pernah di susuri oleh Mahesa. benar apa yang dikatakan Maureen, tempat itu sangat jauh dan kini mereka telah berada di tengah hutan.
"apa benar ini tempatnya...?" sopir yang mengemudikan mobil ambulan bertanya kepada salah satu temannya
"mobil polisi itu membawa kita ke sini, sudah jelas di sekitar sini. ngapain dia ngajak kita ke sini kalau hanya untuk berkeliling" temannya menjawab"
hingga tidak berapa lama mereka sampai di rumah yang dimaksud oleh Maureen.
"dimana tempatnya...?" tanya Cakra kepada Olan
"di dalam kamar" jawab Olan
mereka semua langsung menuju ke kamar yang ternyata terdapat ruang bawah tanah.
"kalian menunggu di ruang tengah saja" Cakra mengatakan hal itu kepada perawat yang ikut bersama mereka
"baik pak" mereka menjawab
"dimana...?" tanya Cakra lagi
"di balik lemari" jawab Olan
Rahim dan Cakra menggeser lemari itu, hanya menariknya ke arah kanan dan terlihatlah jalan yang menuju ke bawah sana.
"ini benar-benar gila" ucap Rahim tidak percaya kalau Wili mempunyai tempat seperti itu
__ADS_1
mereka menggunakan senter ponsel dan mulai turun ke bawah. di bawah sana sangat pengap dan terasa panas juga begitu gelap tanpa penerangan. untungnya mereka menggunakan senter dari ponsel masing-masing untuk menerangi jalan mereka.