
"bang Alan makan dulu ya, sejak pagi kan abang belum makan" Danil menyodorkan nasi bungkus yang dibeli Olan tadi siang
"iya Al, itu nasi yang gue mau beli buat elu, taunya elu malah pingsan" ujar Olan
"makasih bang" ucap Alan
Alan mengambil nasi bungkus itu dan melahapnya sementara Danil pergi ke dapur mengambikan air minum untuk Alan dan kembali lagi.
"kalau gitu gue ke kamar dulu pengen istrahat, malah pinggang gue sakit banget lagi" Iyan berdiri dan memegangnya pinggangnya
"gue benar-benar minta maaf bang" Mahendra sangat merasa bersalah atas perbuatannya terhadap Iyan
"lain kali aku akan membalasmu, siap-siap saja gue kasi elu tendangan bebas nanti" sungut Iyan
"abang mau balas dendam...?" tanya Mahendra
"lihat keadaan, perlu belajar karate dulu. gue ke atas dulu ya"
"mau dibantu bang...?" Danil menawarkan diri
"gue nggak cacat loh Dan, hanya patah pinggang saja"
"justru itu, Danil bantu sampai ke kamar"
"nggak usah, makasih" Iyan meninggalkan mereka
"eh yan, tadi Rianti nelpon. dia ke cafe elu nggak...?" Olan menghentikan langkah Iyan dan dirinya berbalik menghadap kepada mereka
"nggak tuh, emangnya dia bilang mau ketemu gue...?" tanya Iyan
"iya, dia bilangnya mau ke cafe ketemu elu" jawab Olan
"tumben dia nyariin gue bukannya nyariin elu"
"dia sih tadi nelpon untuk bertemu tapi gue nolak, jadinya dia mau ketemu elu"
"oooh, nggak....dia nggak datang. nggak tau deh kalau gue udah pulang baru dia datang" Iyan berbalik kembali dan melangkah menjauh
Olan menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
(salah bicara gue, harusnya gue nggak bilang Rianti nelpon gue tadi) batin Olan
"gue mau bikin kopi, ada yang mau nggak...?" tanya Olan saat beranjak dari tempat duduknya
"boleh bang, gulanya seperti biasa ya" timpal Mahendra
"Danil nggak bang, Danil mau tiduran dulu, ngantuk" Danil merebahkan tubuhnya di kasur
"elu mau nggak Al...?
"mau bang" jawab Alan setelah menyelesaikan makannya
"ya sudah, tunggu sebentar" Olan berjalan menuju dapur
Alan bangun untuk membuang bungkusan nasinya tadi namun Mahendra menghentikannya dan mengambil bungkusan nasi itu.
"biar gue yang buang, elu di sini saja"
"makasih bang"
Mahendra mengangguk menuju dapur untuk membuang bungkusan nasi di tempat sampah yang ada di dapur. di sana ada Olan yang baru saja selesai membuat kopi.
"udah bang...?" tanya Mahendra
"udah" jawab Olan
"biar gue yang bawa bang"
"okelah, kalau gitu gue mau ambil cemilan dulu di kulkas untuk pelengkapnya"
Mahendra kembali ke ruang utama dan menaruh nampan berisi tiga gelas kopi itu di atas meja. baru saja duduk. Mahendra merogoh ponselnya dan dirinya baru sadar kalau sedari tadi ponselnya belum ia aktifkan.
"sampai lupa gue, Maureen pasti nelpon nih"
Mahendra mengaktifkan ponselnya itu, baru saja aktif beberapa pesan masuk dan salah satunya dari Mahesa.
Mahesa : kamu dimana, apakah kamu sibuk. aku ingin bertemu
"ada apa ya" gumamnya setelah membaca pesan dari Mahesa
Mahendra : di kost pak, mau bertemu dimana...?
setelah membalas pesan Mahesa, Mahendra membalas pesan Maureen yang sudah beberapa kali gadis itu mengirimkan pesan
Mahendra : aku baik-baik saja sayang, tidak perlu cemas
Maureen : kenapa lama banget membalas pesanku, aku khawatir tau
Mahendra : maaf sayang, tadi aku sedang mengurus Alan
Maureen : jadi bagaimana dengan Alan, apa yang terjadi dengannya...?
Mahendra : dia baik-baik saja, nanti aku ceritakan kalau bertemu. kamu jangan kemana-mana tetap di rumah. kalau ada perlu di luar beritahu aku, biar aku yang menemani kamu
Maureen : iya sayang
Olan datang dengan piring yang berisi cemilan di piringnya.
"sini Al, diminum kopinya" ucap Olan
Alan bangun dan menghampiri mereka kemudian duduk di kursi dan menyeruput minuman itu.
"gue mau tanya sesuatu Al" ucap Mahendra
"tanya apa bang...?" jawab Alan
"apa isi ancaman itu yang elu lihat tadi...?" tanya Mahendra
"nah iya, apa isi tulisannya. gue penasaran" timpal Olan
"selamat datang di detik-detik Kematian" jawab Alan
"kematian...?" ucap Olan
"iya bang, Alan takut banget. sepertinya dia...dia mengincar kita untuk membunuh kita semua" Alan mulai pucat kembali saat mengingat kejadian tadi
"kita akan bahas hal ini setelah bang Rahim, Faiz dan Randi pulang" ucap Olan
(siapa sebenarnya yang melakukan teror itu) batin Mahendra berpikir keras
ting
suara ponselnya membuyarkan lamunan Mahendra. ia membaca pesan masuk yang dikirim oleh Mahesa.
__ADS_1
Mahesa : di tempat biasa jam 7 malam
Mahendra : baik pak
"itu gelang siapa Hes...?" tanya Zulfikar saat dirinya melihat Mahesa sedang memperhatikan sebuah gelang yang ada di tangannya
"gue juga belum tau ini gelang siapa. gelang ini gue dapat di TKP tadi pagi" jawab Mahesa
"mungkin itu gelang si korban" ucap Angga
"sepertinya bukan. gelang ini gue dapat jauh dari tempat mayat wanita itu kemudian saat memeriksanya tadi gue nggak melihat ada tanda di pergelangan wanita itu yang memakai gelang" jawab Mahesa
"dan juga inisial nama huruf ini, bukan inisial nama korban. di sini tertulis huruf H sedangkan nama korban adalah Aretha Delano. harusnya kalau punya korban, akan tertulis A atau AD" lanjut Mahesa
"lalu kalau bukan punya korban, itu punya siapa...?" tanya Angga
"bisa jadi itu milik si pembunuh" timpal Zulfikar
"itu juga yang sedang gue pikirkan. ini gelang untuk wanita, apakah pelakunya adalah seorang wanita...?" ucap Mahesa
"kali ini sepertinya kita akan bermain teka-teki lagi seperti kasus pembunuhan berantai Wili setahun yang lalu" ucap Zulfikar
"oh iya Ngga, elu udah memberikan koran itu kepada adikmu untuk memeriksa minyak wangi apa yang ada di koran itu...?" tanya Mahesa
"sudah, gue sudah mengirim dengan cara dipaketkan. lebih cepat lebih baik" jawab Angga
sore harinya penghuni baru yang menempati kamar Wili telah datang. dengan mengendarai motornya, ia parkir di halaman kost 010.
Randi dan Faiz yang baru saja datang menghampiri laki-laki itu.
"ada yang bisa dibantu bang...?" tanya Randi
"gue penghuni baru kost disini" jawab laki-laki yang bernama Riki
"oh penghuni baru. sudah bertemu dengan bang Rahim ya...?" tanya Faiz
"bukan bang Rahim tapi bang Olan, gue sudah memeriksa kamar tadi siang dan sekarang gue akan menempatinya" jawab Riki
"ya udah kalau gitu, ayo masuk. oh iya perkenalkan gue Randi" Randi mengulurkan tangannya
"Riki" menjabat tangan Randi
"gue Faiz"
"Riki"
"ya udah masuk yuk, sini biar kita bantu bawa barang-barang lu"
"nggak usah terimakasih, gue nggak mau merepotkan" Riki menahan
"jangan sungkan gitu bang, kami disini tidak ada rasa nggak enak hati untuk saling membantu. bila perlu kalau ada apa-apa bilang saja pada kami, in shaa Allah kami akan bantu" ucap Randi
"iya benar, kami nggak merasa direpotkan kok. ayo"
Randi mengangkat koper sementara Faiz mengangkat satu tas ransel, Riki pun hanya membawa tas ransel yang ada di punggungnya.
"assalamualaikum" Randi memberi salam
"hoaaaam, wa alaikumsalam" Danil yang baru saja bangun dari tidurnya menjawab
"ngapain tidur di situ Dan...?" tanya Faiz
"takut tidur di kamar bang, eh bang Riki udah datang" Danil mengucek matanya dan tersenyum ke arah Riki
"iya, gue baru saja sampai" jawab Riki
"kamar nomor 5" jawab Riki
Randi dan Faiz melangkah ke kamar nomor 5. Randi membuka pintu kamar, jelas sudah terlihat rapi dan bersih di kamar tersebut.
"makasih ya udah mau repot-repot bawain barang-barang gue" ucap Riki
"sama-sama bang, kalau ada apa-apa bilang aja sama kita. ya udah kalau gitu kami berdua keluar dulu, elu mungkin mau istrahat" ucap Randi
"paling mau nyusun barang-barang aja bang" jawab Riki
"ya udah, kami keluar dulu ya"
"iya"
Randi dan Faiz keluar dari kamar Riki, mereka ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
"abang sebentar mau keluar Dan, elu mau ikut nggak...?" ucap Mahendra
"mau ketemu kakak ipar lagi...? malas ah, nanti Danil jadi obat nyamuk" jawab Danil yang baru saja keluar dari kamar mandi
"nggak, abang mau ketemu pak Mahesa" jawab Mahendra menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi
"kalau gitu Danil ikut ya bang, takut sendiri di kamar. nanti di teror kayak bang Alan tadi" Danil berbicara di dekat pintu kamar mandi
"iya, selesai sholat isya kita berangkat" jawab Mahendra dari dalam
di ruang utama Randi sedang mengerjakan tugas kampusnya dengan potongan kue yang ada di mulutnya. remaja itu memang tiada hari tanpa ingin makan. Faiz membantunya karena Randi terus merengek padanya.
untuk Alan, dia sedang menonton film di laptop Olan, film psikopat yang disukai oleh laki-laki itu. selain mengoleksi novel psikopat, Olan juga mengoleksi banyak film-film tentang pembunuhan berantai.
Olan sendiri sedang menyiapkan makan malam untuk mereka karena Rahim sampai sekarang belum juga pulang. sementara Iyan, dia sedang keluar ke minimarket di depan kampus untuk membeli kopi, kopi yang sering dibeli Mahendra dan dibawa pulang. Riki penghuni baru, masih berada di dalam kamarnya.
"udah masak nih, ayo makan" Olan memanggil mereka dari dapur
di dapur sudah tersedia meja makan yang disediakan oleh ibu Nani. pemilik kost sengaja menyiapkan meja makan agar anak-anak kostnya tidak berkumpul makan di ruang utama, tempat itu adalah tempat mereka untuk bersantai.
"gue panggil bang Mahen sama bang Danil dulu" Alan bergegas naik ke lantai atas
"gue juga mau panggil bang Riki" ucap Randi
Faiz menyimpan laptop yang ada di atas pangkuannya ke atas meja. dia berjalan menuju dapur di meja makan.
"woaaaah, bang Olan sama bang Rahim mah nggak ada yang bisa ngalahin masak di kost ini" ucap Faiz melihat menu makan malam mereka
"yang lain mana...?" tanya Olan saat mengatur piring untuk mereka
"Alan sama Randi masih manggil yang lain bang" jawab Faiz duduk di kursi
tidak lama mereka pun datang, segera mereka mengambil tempat duduk masing-masing.
"siapa yang masak...?" tanya Riki
"siapa lagi kalau bukan abang jagonya kami" jawab Randi mengambil piring dan menyendok nasi
"bang Olan yang masak...?" tanya Randi
"iya, maklumin aja ya kalau masakannya nggak enak" jawab Olan
__ADS_1
"makan Rik, jangan malu-malu. makan yang banyak" ucap Mahendra
"iya, selera makan gue langsung bertambah melihat makanan enak ini" Riki segera menyendok nasi dan juga lauknya
"bang Rahim kok belum pulang ya" ucap Alan
"mungkin urusannya belum selesai" jawab Olan
"terus bang Iyan mana...?" tanya Faiz
"assalamualaikum"
"wa alaikumsalam"
baru saja Faiz menanyakan abangnya itu, Iyan datang dengan dua kantung besar di tangannya.
"banyak banget belanjanya bang" ucap Danil
"stok di kulkas udah habis, ya gue beli aja sekalian" Iyan duduk bergabung dan mengambil air minum kemudian meneguknya
"makan bang" ucap Mahendra
"widiiiih... makanan enak kita malam ini" ucap Iyan
"habiskan kalau enak" ucap Olan
mereka makan malam dengan lahap. setelah makan malam, Riki dan Alan membersihkan dapur. Riki membersihkan meja makan dan membuang sampah sementara Alan mencuci piring. Iyan sedang membuat kopi untuk mereka sedangkan yang lain berada di ruang utama. setelah selesai dengan pekerjaan mereka, ketiganya bergabung di ruang utama.
"jadi keluar nggak bang...?" tanya Danil kepada Mahendra
"jadi, bentar abang ambil kunci motor sama helm dulu" Mahendra bangkit dan menuju kamar mereka menaiki setiap anak tangga
"memangnya kalian mau keman Dan...?" tanya Olan
"mau ketemu teman bang Arga" Danil tidak memberitahu bahwa mereka akan bertemu Mahesa
"pulang nanti bawa makanan ya Dan" ucap Randi, mata bulatnya fokus pada layar laptop yang ada di depannya
"belum kenyang juga lu Ran, itu perut apa karet sih" ucap Faiz geleng kepala
"selama makanan enak, perut gue siap menampung berapapun itu bang" jawab Randi mengelus perutnya
"anehnya tiap bang Randi makan banyak, abang nggak pernah buncit" timpal Alan
"kan diimbangi dengan olahraga Al, supaya perut gue tetap sixpack" ucap Randi
"ayo Dan" ajak Mahendra
"bang Mahen, pulang bawa martabak ya bang" ucap Randi
"hati-hati Kalian" ucap Iyan
"pasti bang" jawab Mahendra, setelah itu mereka keluar dari kost
"pakai jaket, di luar dingin" Mahendra memberikan jaket kepada Danil
"makasih bang"
"belum pulang Hes...?" tanya Damar kepada Mahesa
"udah mau pulang tapi gue mau singgah dulu ke cafe kopi nikmat mau bertemu Mahendra" jawab Mahesa
"bertemu Mahendra...? ngapain...?" tanya Damar penasaran
"kepo" Angga melempar kulit buah ke arah Damar
"ih gue serius, ngapain ketemu dia. ada masalah lagi di kost itu...?" tanya Damar
"daripada penasaran mending elu ikut kita berdua aja" ucap Angga
"bolehlah, udah lama juga gue nggak bertemu sama tuh anak" timpal Damar
kembali ke kost 010, setelah kepergian Mahendra dan Danil, kini Iyan dan Olan pun akan keluar. Olan akan bertemu kekasihnya, Hana sedang Iyan akan bertemu dengan temannya.
"jangan pulang larut ya bang Iyan bang Olan" ucap Alan
"iya, elu kalau nggak berani sendiri di kamar, sama Randi atau Faiz aja dulu" Olan menepuk bahu Alan kemudian berlalu pergi
"elu kenapa sih Al, takut banget" ucap Faiz
"tadi siang itu ada insiden yang bikin Alan takut sampai sekarang" jawab Alan
"emang insiden apaan..?" tanya Riki
Alan pun menceriakan apa yang dialaminya tadi siang. Randi, Faiz dan Riki mendengarkan dengan serius tanpa memotong cerita Alan.
"seriusan lu...?" tanya Randi kaget
"serius bang, makanya itu Alan nggak berani tidur di kamar sendirian" jawab Alan
"kok bisa sih, siap yang ngelakuin itu...?" ucap Riki
"padahal setelah Wili nggak ada dan setahun terakhir ini kita aman-aman saja loh. kenapa bisa sampai ada teror seperti itu" ucap Faiz
"Wili... Wili siapa...?" tanya Riki
"Wili Alfiansyam, psikopat berdarah dingin" jawab Faiz
"jadi dia tinggal di sini...?" tanya Riki
"iya. kami tinggal satu atap dengan seorang pembunuh" ucap Alan
"ngeri banget, sampai merinding gue" ucap Riki
"siang-siang saja dia bisa masuk ke dalam apalagi kalau malam. Alan semakin takut"
"tenang Al, lagi pula masih ada kita di sini" Randi menenangkan Alan
"iya, kalau elu takut, tidur di kamar gue aja" timpal Riki
"sepertinya kita harus tetap bersama deh, jangan saling tidur terpisah. takutnya nanti dia mendatangi salah satu dari kita" ucap Faiz
"itu yang Alan takutkan. malah bang Rahim belum pulang juga" ucap Alan
"assalamualaikum" suara Rahim terdengar dari luar
"wa alaikumsalam"
Rahim masuk ke dalam dengan menenteng kantung makanan.
"bang Rahim" Alan segera berlari dan memeluk abangnya itupun
"loh Al, kenapa...?" Rahim bingung dengan sikap Alan
__ADS_1
"huufffttt... syukurlah abang pulang" mereka bernafas lega karena salah satu abang mereka kini telah bersama dengan mereka
tanpa mereka ketahui di luar sana di dekat jendela, sosok yang mereka bicarakan sedang mengintai mereka dari balik kaca tersebut. seringai kecil terbentuk di wajahnya, kemudian ia melangkah meninggalkan tempat itu.