
Faiz yang mendapatkan hal seperti itu tentu saja kaget. kamar ini baru saja dibersihkan lalu bagaimana bisa ada darah di tempat itu. tas punggung warna coklat itu terdapat banyak darah yang sudah mengering.
dia yang awalnya ingin beristirahat kini terganggu dengan hal itu. ia memutuskan untuk keluar kamar dan mencari Damar. rasa lelahnya hilang seketika karena rasa penasaran yang sangat dia ingin tau.
Faiz membuka pintu dan menyapu sekitarnya dengan mata namun ia tidak menemukan Damar. ia beralih ke ruang utama karena saat tiba tadi laki-laki itu sedang menonton acar televisi namun lagi Damar tidak ada di sana.
"kemana dia" Faiz menggaruk kepala. televisi masih menyala, Damar meninggalkan begitu saja
Faiz mengambil remote dan mematikan televisi setelah itu dirinya berbalik namun disaat itu juga jantungnya hampir melompat dan karena kaget, Faiz refleks menampar seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya.
plaaaak
"aduuuuh"
"astaga sorry, sorry banget...gue nggak sengaja" Faiz menyesal telah melakukan kekerasan meskipun tidak dia sengaja
"sakit tau. ngapain sih pake nampar segala" Mahendra mencebik
Mahendra yang baru saja selesai mencuci turun ke bawah untuk menemui Damar. namun bukannya Damar yang dia lihat melainkan Faiz yang sedang celingukan mencari seseorang.
"maaf banget ya. abisnya elu ngapain juga berdiri di belakang gue. gue kalau lagi kaget suka refleks langsung mukul" ucap Faiz
"elu ini siapa...?" Mahendra memperhatikan Faiz
"kenalin gue Faiz, penghuni baru di sini" Faiz mengulurkan tangannya
"Mahendra" dia membalas uluran tangan Faiz
Mahendra duduk di kursi begitupun dengan Faiz. dia sangat merasa bersalah telah menampar Mahendra.
"sakit ya...?" tanya Faiz tanpa dosa
"nggak, rasanya manis kayak lollipop. ya jelas sakit lah, pake nanya lagi" cebik Mahendra
"maaf banget"
"iya iya gue maafin. tapi sebagai permintaan maaf, ambilin gue minum di dapur"
"oke, laksanakan" Faiz segera menuju dapur
melihat tingkah Faiz yang humble, Mahendra hanya geleng kepala dan tersenyum tipis. sepertinya penghuni baru itu lebih cepat mengakrabkan diri dengan orang lain.
"nih minumnya" Faiz datang dengan segelas air putih dan memberikan kepada Mahendra
"thanks" Mahendra mengambil dan meneguknya
"tadi itu gue lagi cari Damar, tapi kok dia udah nggak ada ya" ucap Faiz
"mungkin lagi keluar atau di kamarnya" jawab Mahendra
"gue boleh tanya sesuatu nggak" ucap Faiz
"tanya apa...?"
"kamar nomor 3 dulu itu siapa yang tinggali...?" Faiz menatap Mahendra
"namanya Damar, dia yang tinggal sebelumnya di kamar nomor 3"
"Damar yang tadi ya...?"
meskipun keponakan ibu kost namun Faiz tidak tau akan hal yang menimpa anak kost tantenya dan juga ibu Nani tidak bercerita apapun padanya.
"bukan, Damar yang tadi sebenarnya belum juga lama masuk. baru kemarin dia datang"
"terus, Damar siapa...?" Faiz menggaruk hidungnya
"Damar sahabat gue, yang meninggal empat hari yang lalu" jawab Mahendra
deg....
"m-meninggal...?" Faiz terbata
"iya. dia meninggal karena di bunuh. saat bang Rahim bilang kalau keponakan ibu Nani akan datang untuk tinggal di sini, kami membersihkan kamar itu dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam"
"ya Allah, sadis banget. siapa yang bunuh, dia punya musuh...?"
"kami juga nggak tau, sampai sekarang masih diselidiki oleh kepolisian"
Mahendra melihat Faiz dengan tatapan menyelidik.
"elu takut ya...?" tanya Mahendra
"hah, takut...?" Faiz bingung
"elu takut kalau kamar itu penghuninya meninggal, elu takut dihantui...?"
"sembarangan kalau ngomong. gue bukan sedang memikirkan itu tapi....gue menemukan sesuatu di kamar itu" jawab Faiz
"eh, udah akrab aja kalian rupanya" Damar datang dari luar
"darimana lu...?" tanya Mahendra
"abis dari warung, beli mie instan. kalian mau nggak, gue masakin sekalian" tawar Damar
"boleh boleh, kebetulan gue juga lapar. hehehe" Faiz cengengesan
"okelah, lu Hen, mau apa nggak...?" tanya Damar
"mau lah, lagi lapar juga gue" jawab Mahendra
__ADS_1
"ya udah gue masakin dulu"
Damar melenggang pergi meninggalkan keduanya menuju dapur.
"lanjut, elu menemukan apa di dalam kamar nomor 3...?" Mahendra sangat penasaran
"kalian lagi bahas apa sih, serius banget" Damar datang ikut bergabung
"lah, cepat banget elu masaknya" Mahendra dan Faiz kaget Damar sudah bersama mereka lagi
"masak airnya dulu lah, kalau mie-nya belum masak. kalian lagi cerita apa, gue penasaran" ucap Damar
"lanjut Iz" Mahendra kembali melihat Faiz
"gue menemukan sesuatu di kamar nomor 3" ucap Faiz
"sesuatu apa...?" tanya Damar
"lebih baik kalian lihat sendiri" usul Faiz
"emang apaan sih...?" tanya Damar lagi
"udah Dam, kita lihat ke kamar Faiz" ucap Mahendra
mereka bertiga beranjak dan meninggalkan ruang utama. tiba di depan kamar Faiz, dia membuka pintu dan mereka bertiga masuk ke dalam kamar kemudian Faiz kembali menutup pintu.
"mana...?" tanya Mahendra
"tuh" Faiz menunjuk ke arah pintu
di sana seperti yang dilihat oleh Faiz tadi. sebua tas warna coklat dengan bercak noda merah yang menempel di tas. Mahendra dan Damar saling pandang kemudian mendekatkan tas tersebut.
"ini tas Damar" ucap Mahendra. dia sangat ingat tas tersebut, tas yang selalu almarhum Damar gunakan untuk pergi ke kampus
"ini.....darah" Damar mencium noda merah itu
"iya, gue juga sempat cium dan itu memang bau darah" Faiz membenarkan ucapan Damar
"Iz, kunci pintu kamar lu" perintah Mahendra
meski bingung namun Faiz menuruti perintah Mahendra. Mahendra mengambil tas itu dan mereka duduk di lantai dengan membentuk lingkaran.
"kenapa bisa ada disini, bukannya kemarin udah dibersihkan ya dan barang-barang Damar sudah dikemas semua" ucap Damar
"mungkin yang ini tertinggal, maksud gue kalian nggak lihat" timpal Faiz
"Randi dan Kevin yang membersihkan kamar ini. tapi nggak mungkin kalau mereka nggak lihat tas ini" ucap Mahendra
"gue penasaran apa isi di dalamnya. coba buka Hen" ucap Damar
Mahendra membuka tas Damar dan mengeluarkan semua isinya di lantai. ada beberapa buku cetak, buku tulis, pulpen, headset, laptop, dan flashdisk. serta beberapa permen mint, Damar memang selalu membawa permen di dalam tasnya.
"isinya biasa saja, nggak ada yang mencurigakan" ucap Mahendra
foto semua penghuni kost terdapat di laptop itu, sebelum adanya Damar baru dan Faiz. rupanya Damar selalu mengabadikan setiap momen yang mereka lewati bersama.
"mana yang namanya Damar...?" tanya Faiz
"yang pakai baju warna hitam. dia memang sangat suka dengan warna hitam" jawab Mahendra. tanpa sadar matanya nampak berkaca-kaca saat melihat foto sahabatnya itu yang sedang tersenyum lebar
"dia sudah bahagia di sana" Damar menepuk pelan bahu Mahendra
"iya, dia sudah bahagia" Mahendra pada akhirnya tidak dapat menahan air mata yang jatuh di wajahnya
mereka masih terus melihat beberapa foto bahkan video. hingga suara teriakan dari luar menyadarkan Damar yang berada di kamar Faiz.
"woooi penghuni kost, siapa yang masak air. udah kering tuh" teriak seseorang dari luar
"ya ampun air gue" Damar langsung melompat dan membuka kunci pintu Faiz kemudian berlari ke arah dapur
"ya elah Dam, jadi elu yang masak air. gosong tuh kayaknya" Wili yang baru saja datang menghampiri Damar di dapur
"huufffttt... untung elu teriak Wil" Damar menghela nafas dan kembali menuang air ke dalam panci kecil
"elu ngapain sih sampai masak air pakai drama gosong segala" tanya Wili
"abis latihan drama, eh taunya terjadi drama betulan" jawab asal Damar
Wili geleng kepala dan kembali menuju kamarnya. Mahendra dan Faiz keluar dari kamar Faiz. Mahendra naik ke lantai atas menuju kamarnya. tas almarhum Damar ia bawa dan rencananya akan dirinya cuci agar kembali bersih.
Faiz menghampiri Damar di dapur. ia mengajak Damar bercerita sehingga tidak terasa mie instan buatan Damar telah selesai dimasak.
keduanya pergi ke ruang utama, di sana sudah ada Wili yang duduk dengan laptopnya.
"siapa...?" Wili bertanya kepada Damar. ia menanyakan Faiz yang baru pertamakali dia lihat
"keponakan ibu kost, penghuni baru" jawab Damar
"gue Faiz" Faiz meletakkan mangkuk mie-nya di atas meja dan mengulurkan tangan ke arah Wili
"Wili" dengan ramah menyambut tangan Faiz
"makan Wil" aja Damar
"boleh, suapin tapi ya" ucap Wili
"yaelah... nih" meski mencebik namun Damar tetap menyuapi Wili yang sedang fokus dengan laptopnya
"punya gue mana...?" Mahendra baru saja datang
__ADS_1
"di dapur" jawab Faiz
segera Mahendra mengambil makanannya dan bergabung bersama yang lainnya.
ditempat lain, dua orang pria sedang berkutat dengan beberapa berkas yang ada di depan keduanya.
"bagaimana, apa yang elu dapatkan" tanya Mahesa
"kita mulai dari Clara terlebih dahulu" ucap Zulfikar
"gue mencari beberapa rekaman cctv sebelum kematian Clara. di kampus, disekitar rumahnya, dan dibeberapa tempat yang sering dia kunjungi bersama teman-temannya"
"dan dibeberapa rekaman cctv, Clara bertemu dengan seseorang yang entah itu siapa tapi yang pasti dia adalah seorang laki-laki. gue nggak bisa melihat wajahnya karena dia selalu memakai masker dan topi"
"maksud elu, Clara bukan hanya satu kali bertemu dengan laki-laki itu...?"
"iya. dan pertemuan mereka hanya terekam sebentar saja kamera cctv selebihnya tidak ada lagi rekaman yang lain. di rekaman ini hanya menunjukkan laki-laki itu sering datang menjemput Clara di tempat sepi dan sunyi. dia nggak tau kalau ditempat itu ada cctv makanya mereka terekam"
"plat mobilnya bagaimana...?"
"itu nomor plat mobil palsu. gue sudah mengeceknya dan nomor itu tidak tertera sama sekali"
"kemudian kita pindah ke Sisil. ketiga temannya bercerita bahwa dia dekat dengan seorang laki-laki dan lihatlah apa yang gue temukan" Zulfikar mengarahkan laptopnya ke arah Mahesa
"ini laki-laki yang bersama dengan Sisil. mereka terekam cctv di sebuah jalan yang pada saat itu keduanya memasuki sebuah klub malam. gue menemukan rekaman ini dengan susah payah karena itu sudah lama sekali. tapi untungnya kedua teman perempuan Sisil memberitahukan kalau Sisil dan laki-laki itu sering ke klub malam. dia juga memakai topi dan masker. sekarang lihat baik-baik bagaimana bentuk tubuhnya dengan laki-laki yang bersama dengan Clara"
Mahesa memperhatikan kedua laki-laki di dalam rekaman yang berbeda. sama-sama memakai topi dan masker dan satu hal yang Mahesa ketahui, lalu itu sering menggunakan jaket Hoodie berbeda-beda warna namun sama.
"dia.... orang yang sama...?" Mahesa menatap Zulfikar
"betul, kedua rekaman itu adalah dengan satu laki-laki yang sama. sekarang lihat rekaman ini" Zulfikar kembali memperlihatkan rekaman yang berbeda
seorang laki-laki dan seorang wanita yang sedang bertikai. sang wanita menyiramkan air mineral ke wajah laki-laki itu. lagi lagi laki-laki itu memakai masker dan topi.
"bukan kah dia Alexandria Robin...?" tanya Mahesa
"benar, dia adalah korban keenam dari pembunuhan itu. dari ketiga rekaman ini sudah jelas kalau pembunuh mereka semua adalah hanya satu orang saja" jawab Zulfikar
"sekarang lihat ini. ini adalah chat terakhir antara si pembunuh dengan korbannya" Zulfikar mengambil map coklat dan mengeluarkan isinya. sebuah percakapan WA yang telah diprint out oleh Zulfikar
"darimana elu mendapatkan ini...?" tanya Mahesa
"gue memulihkan setiap chat di ponsel korban yang telah dihapus. untuk berkomunikasi dengan si pembunuh jelas mereka akan saling telepon atau mengirim pesan. untuk nomor, gue nggak bisa menghubungi karena nomor itu sudah tidak aktif" jawab Zulfikar
"namun dari berbagai pesan yang ini, kita dapat melihat kalau laki-laki itu menggunakan nama Syam, kepada semua tergetnya. baik itu Sisil, Clara dan Alexandria"
"untuk korban lain gue belum menemukan hal yang berkaitan dengan laki-laki ini, tapi gue yakin kalau yang membunuh mereka semua adalah dia. orang yang sama, yang membunuh Sisil, Clara dan Alexandria"
"oke...kita sudah tau kalau pembunuhnya adalah orang yang sama. sekarang bagaimana data dari mereka yang elu periksa...?" Mahesa menyimpan setiap bukti yang mereka dapatkan di depannya
"elu akan kaget setelah melihat ini" Zulfikar memberikan map berwarna biru kepada Mahesa
saat melihat apa yang Zulfikar berikan, mata Mahesa membulat sempurna. dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"elu serius...?" Mahesa melihat Zulfikar
"iya. gue juga kaget karena sama sekali tidak ada sikap yang mengarah ke sana. sangat normal seperti biasanya" ucap Zulfikar
"gue akan menghubungi dia" Mahesa mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
telepon terhubung
📞 misterius
halo
📞 Mahesa
bagaimana, berjalan baik kan...?"
📞 misterius
tentu. belum ada yang mencurigakan. hanya saja tadi kami menemukan sesuatu
📞 Mahesa
sesuatu apa...?
📞 misterius
hal yang sering kita lihat, bahkan mungkin setiap hari. gue akan terus memantau
📞 Mahesa
lakukan yang terbaik dan juga, gue akan memberitahu sesuatu
Mahesa memberitahukan seseorang disebrang sana apa yang mereka temukan dengan Zulfikar.
📞 misterius
oke, gue akan lebih jeli lagi. eh sudah dulu ya,
tuuuuut
panggilan dimatikan, Mahesa kembali ke tempat duduknya bersama Zulfikar.
"bagaimana...?" tanya Zulfikar
"sedang dalam menjalankan rencana. apakah sudah semua data mereka yang elu baca...?" ucap Mahesa
__ADS_1
"baru sebagian, gue akan selidiki lagi yang lain"
"gue percayakan padamu"