Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 53


__ADS_3

"jangan mendekat" wanita yang bernama Jasmine itu terus saja mundur


"memangnya kenapa kalau aku mendekat...?" sosok itu semakin maju ke depan


Jasmine berputar arah, ia berbalik dan berlari kembali ke jalan raya. sedangkan sosok itu mengejarnya. berharap mendapatkan pertolongan tapi sayangnya di tempat itu sangat sepi tanpa seorangpun.


"ya Allah tolong aku" air mata Jasmine luruh di pipinya


ia yang menggunakan high heels terjatuh ke aspal jalan karena tingginya sepatu yang ia pakai. Jasmine langsung membuka sepatunya itu dan memegangnya kemudian kembali berlari untuk menyelamatkan diri.


"haish.... wanita yang benar-benar membuatku muak. cari pekerjaan saja" sosok itu mengumpat kesal karena Jasmine terus melarikan diri


Jasmine tidak tau lagi harus kemana. ia benar-benar kalut terlebih lagi malam itu tidak satupun orang yang ia lihat untuk meminta bantuan.


akhirnya Jasmine bersembunyi di balik pohon yang ada di pinggir jalan itu. suara kaki yang sedang berlari terdengar dari jauh dan semakin dekat hingga berhenti tepatnya di depan pohon persembunyian Jasmine.


Jasmine menutup mulutnya agar tidak bersuara, ia mengintip dari balik pohon. di depannya sosok itu masih berdiri membelakanginya, menelisik sekitarnya dan kemudian ia berbalik melihat ke arah belakangnya. sontak saja Jasmine langsung menarik tubuhnya untuk mundur agar tidak terlihat oleh sosok itu.


sosok itu semakin maju ke depan, Jasmine begitu takut sosok itu akan menemukan dirinya. dengan pelan ia melangkah mundur saat sosok itu memeriksa pohon tersebut. tidak ada siapapun di balik pohon itu, Jasmine sudah tidak ada di sana.


"brengsek, wanita sialan" umpatnya penuh kemarahan


sosok itu pergi meninggalkan tempat itu, sementara Jasmine, wanita itu bersembunyi di semak belukar yang sedikit jauh dari pohon itu.


melihat sosok itu telah pergi, Jasmine duduk tersungkur di tanah. ia menangis dalam diam. tubuhnya masih bergerak karena ketakutan.


merasa lebih baik, Jasmine keluar dari tempat persembunyiannya. ia meninggalkan tempat itu dan kembali mencari pertolongan. kakinya yang tidak menggunakan sepatu, mulai tergores dan terluka.


"mau kemana kamu...?" suara dingin itu mengagetkan wanita itu


"k-kamu" Jasmine kaget bukan main, sosok itu menemukan dirinya


"berani sekali kamu mempermainkan ku"


"m-mau apa kamu, jangan mendekati atau aku teriak"


"teriaklah sepuasmu, tidak akan ada yang dapat mendengarmu"


Jasmine hendak berlari namun secepat kilat tangan sosok itu menarik rambut Jasmine dan membantingnya di aspal.


"jangan sakiti aku, aku mohon" Jasmine meringsut di aspal


tidak mendengar permohonan Jasmine, sosok itu kembali menarik rambutnya dan menyeretnya ke semak belukar. teriakan wanita itu begitu keras namun sayang sekali tidak ada seorangpun yang menderita suaranya.


plaaaak


plaaaak


plaaaak


sosok itu menampar Jasmine berkali-kali bahkan kepala wanita itu ia benturkan di pohon. bibir dan kepalanya sudah mengeluarkan darah segar.


saat itu Jasmine sudah tidak berdaya. darah yang sudah menutupi matanya membuat penglihatannya tidak lagi terang. di dekatnya ia melihat sebuah batu yang cukup besar. diraihnya batu besar itu dan saat sosok itu akan memukulnya dengan palu yang dipegangnya, saat itu juga Jasmine menendang perut laki-laki itu dan kemudian memukul kepalanya dengan batu yang dipegangnya.


Jasmine mengambil kesempatan untuk melarikan diri, laki-laki itu begitu marah karena Jasmine dengan berani melawannya.


"mati kamu wanita sialan" umpatnya begitu marah


ia bangkit dan mengejar Jasmine. Jasmine yang berlari melihat salah satu pengendara motor melintas di jalan itu. dengan cepat ia berlari ke arah tengah jalan raya, pengendara motor hampir saja menabraknya. untung saja motor itu dapat dihentikan sebelum menabrak Jasmine.


"cari mati nih cewek" ucap seseorang yang bonceng di belakang


"mas....t-" belum sempat Jasmine meminta tolong, sosok yang mengejarnya tadi datang menghampiri dan menarik Jasmine memeluk pinggangnya


"maaf mas, pacar saya sedang timbul penyakitnya" sosok itu berbicara dibalik maskernya


kedua pengendara motor tadi, mematikan lampu motor dan melihat ke arah dua orang itu. satu wanita yang sudah acak-acakan penampilannya dan satu lagi seseorang yang tidak mereka kenali. pajak serba hitam, menggunakan topi dan masker. sosok itu memeluk pinggang si wanita dengan eratnya.


sementara Jasmine tidak bisa berkutik saat benda tajam menempel di pinggangnya.


"berani kamu berbicara, pisau ini akan menembus perutmu" sosok itu berbisik dan mengancam Jasmine


"hati-hati lah mas, kalau gue nabrak cewek elu, gue juga yang repot" ucap salah satunya


"iya, sekali lagi maaf mas. dia memang seperti ini kalau penyakitnya kambuh. suka menyakiti diri sendiri dan orang lain dan bahkan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakkan dirinya di mobil atau di motor" sosok itu menekan suaranya agar tidak kentara dan diketahui


"bang Mahen, ayo bang. Danil pasti sudah menunggu di kost" Randi menarik Mahendra


kedua pengendara itu adalah Mahendra dan Randi. mereka dari apotek membeli obat untuk Danil. karena sudah larut malam otomatis akan susah untuk mencari apotek yang masih buka. untungnya ada apotek buka 24 jam. meskipun jauh, Mahendra tetap akan membelikan obat untuk Danil. adiknya itu tiba-tiba saja panas saat tengah malam.


Mahendra tidak menghiraukan Randi, matanya menatap Jasmine yang sedang menggeleng pelan seakan memberikan isyarat agar Mahendra tidak pergi dan menolongnya. bahkan Mahendra bisa melihat tubuh wanita itu bergetar, kedua tangannya ia remas bahkan air mata terus keluar membasahi wajah cantiknya.


(kenapa dia seperti orang yang sedang ketakutan) batin Mahendra terus memperhatikan Jasmine

__ADS_1


"sayang, ayo. kamu itu harus istirahat di rumah, kamu kan lagi sakit" sosok itu menarik Jasmine dan pisau tajam itu masih terus menempel di pinggang Jasmine


Jasmine terus melihat ke arah Mahendra, kepalanya terus menggeleng hingga kemudian dia dan sosok itu tidak terlihat lagi.


"bang Hen, ayo" panggil Randi lagi


"ayo" ucap Mahendra


dirinya kembali menaiki motornya dan Randi bonceng di belakang. namun entah kenapa Mahendradatta tidak menyalakan motornya, ia terus memikirkan keadaan Jasmine tadi.


"kenapa bang, kok belum jalan juga...?" Randi menepuk bahu Mahendra


(tunggu... tunggu, pakaian serba hitam, topi dan masker. bukannya itu...dia...yang hampir gue tabrak pada malam pembunuhan itu)


"bang, kok malah bengong sih. ayo jalan"


"turun Ran, cewek tadi dalam bahaya"


"hah...?"


Randi yang masih belum paham tetap turun dari motor seperti perintah Mahendra. sedangkan Mahendra langsung berlari ke arah dimana kedua orang tadi pergi. firasatnya mengatakan kalau wanita tadi dalam bahaya.


"bang Mahen, mau kemana bang. ya elah, main tinggal aja" Randi bergegas mengejar Mahendra yang sudah tidak terlihat entah kemana


"ini bang Mahendra kenapa sih, heran banget gue. bang tungguin woi" Randi ikut berlari meski tetap menggerutu karena kesal


sejauh Mahendra berlari, dirinya sudah tidak menemukan kedua orang tadi. nafasnya bahkan naik turun, dan ia duduk diaspal untuk melepas lelah.


karena di tempat itu terpasang lampu jalan, maka tidak begitu gelap di sekitarnya. hanya saja memang sangat sepi tanpa orang-orang yang berlalu lalang. siapa yang akan beraktivitas pada jam pukul 2 dini hari seperti itu.


"haaah... haaah, astaga...yang benar saja kita olahraga larut malam" Randi yang baru saja datang langsung terkapar dan baring di jalanan


"bang Mahen ini keterlaluan ya, pake ninggalin gue segala. gue capek tau ngejar abang" Randi terus mengomel


"maaf Ran, gue hanya ingin mengejar kedua orang tadi"


"emang mereka tadi kenapa...?"


belum sempat menjawab pertanyaan Randi, Mahendra menemukan sesuatu yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. salah satu sepatu high heels yang entah kemana pasangannya. saat diperiksanya, tumit sepatu itu terdapat bercak merah yang kental. Mahendra mencium bercak merah itu.


"darah" gumamnya


"kenapa bang...?" Randi menghampirinya


"pasti sepatu wanita tadi"


"eh bang, lihat" Randi menunjuk di aspal. seperti bekas seretan entah seseorang yang diseret atau barang. mereka mengikuti dengan mata kemana arahnya bekas seretan itu.


"di sana" tunjuk Randi ke tempat gelap yang tidak terkena sinaran lampu


Mahendra mengikuti jejak itu, semakin mendekati tempat gelap yang ditunjuk oleh Randi tadi. karena gelap, Mahendra mengambil ponselnya untuk menyalakan senternya. saat senter ponsel ia nyalakan, saat itu juga dirinya melihat hal yang mengerikan.


"innalilahi"


"kenapa bang...?


Randi yang penasaran bergegas mendekati Mahendra. saat tiba, Randi langsung tersungkur ke tanah, shock dengan apa yang ia lihat di depannya.


pukul 3 dini hari, jalan yang tadinya sepi itu kini mulai ramai dikerumuni oleh banyak orang. banyak diantara mereka yang mengambil gambar bahkan merekam apa yang mereka lihat.


drrrttt... drrrttt


Mahesa yang masih tertidur pulas terganggu dengan suara getar ponselnya. dengan malas dan mata yang masih terpejam, ia mencari-cari keberadaan ponselnya yang ada di atas kasur.


"siapa sih yang telpon tengah malam" khas suara bangun tidur Mahesa


Mahesa


halo


Mahendra


pak, terjadi pembunuhan


Mahesa


pembunuhan...? dimana...?


Mahesa langsung bangun dan duduk


Mahendra


di jalan mawar, bapak harus ke sini secepatnya

__ADS_1


Mahesa


ya sudah, saya ke sana


dengan terpaksa malam itu tidur Mahesa terganggu karena laporan adanya pembunuhan. tidak lupa ia menghubungi kedua rekannya untuk ke TKP. hanya Angga yang menerima panggilannya, untuk Zulfikar, nomor laki-laki itu tidak bisa ia hubungi.


"bang, obat Danil bagaimana...?" tanya Randi


"astaga, sampai lupa gue"


Mahendra buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu penghuni kost namun ternyata Faiz telah menghubunginya lebih dulu.


Faiz


Hen, elu dimana sih. kenapa belum datang-datang, udah 2 jam elu pergi tapi nggak balik-balik. kami di sini cemas nungguin elu


Mahendra


sorry Iz, sorry banget. sekarang ini gue sama Randi sedang berada di jalan mawar. terjadi pembunuhan di sini


Faiz


pembunuhan...?


Mahendra


iya, korbannya perempuan. sorry banget gue udah bikin kalian cemas. gimana keadaan Danil, obatnya belum gue bawa


Faiz


udah mendingan tapi dari tadi dia tanyain elu terus. gue telpon elu nggak angkat-angkat


Mahendra


tadi itu gue lagi ngejar pembunuhan tapi sudah terlambat, gue terlambat menyadari


Faiz


terlambat menyadari gimana maksud lu


Mahendra


nanti pulang gue cerita. tolong beri minum Danil madu ya, ada di tas kampus gue. sekarang ini gue belum bisa pulang


Faiz


oke, kalian berdua hati-hati


"kenapa Iz...?" Rahim bertanya saat Faiz mematikan panggilan


"Mahendra ternyata di jalan mawar bang, di sana ada pembunuhan"


"pembunuhan lagi...?"


"kenapa bang Mahen pergi ke sana, kalau mereka kenapa-kenapa bagaimana" Alan khawatir


"gue juga nggak tau bagaimana ceritanya. kita tunggu Mahendra pulang saja, namun sepertinya dia belum bisa pulang cepat. mungkin masih mengurus pembunuhan itu" ucap Faiz


"tapi bang Arga baik-baik saja kan bang...?" tanya Danil dengan suara lemah


"dia baik-baik saja Dan, elu nggak usah khawatir. sekarang gue mau bikinkan elu madu dulu untuk elu minum" Faiz beranjak dan mengambil tas Mahendra. di dalam tas ada madu Tj yang belum dibuka kemasannya. segera Faiz ke lantai bawah menuju dapur. sementara Alan mengompres kepala Danil dengan air dingin agar panasnya turun.


di TKP, Mahendra masih menunggu kedatangan Mahesa. mayat Jasmine telah ditutup dengan kain seadanya. selain menghubungi Mahesa, Mahendra juga menelpon ambulan untuk ke jalan itu.


Mahesa tiba di TKP bersamaan dengan kedatangan Angga. Mahendra dan Randi segera menghampiri kedua polisi itu.


"dimana mayatnya...?" tanya Mahesa


"di sana pak" tunjuk Randi


mereka melangkah mendekati mayat itu. kain yang digunakan untuk menutupi tubuh mayat telah berubah warna menjadi merah. warna merah itu adalah darah dari si mayat.


Mahesa membuka kain penutup itu. saat dibuka, ia memalingkan wajah begitu juga yang lain. mereka tidak sanggup melihat keadaan mayat itu.


"astaga, ini benar-benar kelakuan psikopat" ucap Angga yang dengan terpaksa harus melihat keadaan mayat itu


mayat seorang wanita yang dilihat oleh Mahendra tadi. mayat itu bernama Jasmine Halley. keadaan mayat Jasmine lebih mengerikan dari mayat Aretha Delano. kepalanya hancur dan isi kepalanya keluar berceceran di tanah. Randi yang melihat itu langsung menjauh dan hampir saja muntah.


Mahesa memeriksa sesuatu. ia mengambil jaket milik Jasmine dan mengendus-endus jaket itu seakan sedang mencium sesuatu.


"ini....wangi parfum yang pernah gue cium di tubuh Aretha Delano" ucap Mahesa menatap Angga


"berarti memang benar, pelakunya adalah orang yang sama dan dia adalah.... psikopat" timpal Angga menutup kembali mayat itu

__ADS_1


__ADS_2