Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 54


__ADS_3

Mahesa masih memeriksa mayat Jasmine. ia mengambil tas wanita itu dan melihat isi di dalamnya. sebuah dompet yang di dalamnya terdapat KTP yang namanya tertulis Jasmine Halley, kartu kredit, uang tunai 500 rb dan beberapa kartu lainnya. di dalam dompet itu, sebuah foto kecil terpajang, foto keluarga.


Mahesa memeriksa lagi isi di dalam tas itu. ada kacamata, vitamin dan air botol mineral yang masih berisi.


"kalau dia menghantam kepala, sepertinya pelaku menggunakan benda keras semacam palu misalnya" Angga berasumsi


"karena melawan, dia ditampar berkali-kali" ucap Mahesa melihat bekas tangan di wajah wanita itu"


"hubungi ambulan" perintah Mahesa kepada Angga


"saya sudah menghubungi ambulan pak setelah saya menelepon bapak tadi" Mahendra memberitahu


"bagus, terimakasih Hen. Angga, bagaimana Zulfikar apa bisa di hubungi...?" Mahesa melihat ke arah Angga


"belum bisa, ponselnya mati. mungkin lagi mimpi indah di kasurnya" Angga menjawab sambil menelisik di sekitar tempat itu


"tumben , biasanya ponselnya aktif terus" gumam Mahesa


mobil ambulan datang. mayat Jasmine diangkat dan dimasukkan ke dalam ambulan meninggalkan TKP. orang-orang yang berkerumun di tempat itu mulai membubarkan diri. namun mereka memposting kejadian itu di sosial media hingga baru beberapa detik saja peristiwa itu langsung menghebohkan masyarakat.


"astaghfirullah, ngeri banget" Riki memalingkan wajahnya saat melihat berita di sosial media miliknya


"kenapa Rik...?" tanya Rahim


"ini bang, korban pembunuhan di jalan mawar. isi kepalanya sampai keluar semua, gue hampir mual"


Rahim mengambil ponsel Riki untuk melihat berita itu. sama dengan Riki, Rahim memalingkan wajahnya dan mengucap istighfar.


"kasian sekali keluarganya" gumam Rahim begitu miris melihat keadaan korban


mereka saat ini berada di ruang utama. sengaja mereka tidur di tempat itu karena tempatnya lebih luas dan juga dapat memudahkan mereka mengurus Danil tanpa harus saling memanggil lagi di kamar masing-masing.


"bang Iyan sama bang Olan mana...?" tanya Alan ketika melihat tempat tidur kedua abangnya itu telah kosong


"pindah ke kamar kali" jawab Robi yang sebenarnya juga tidak tau kemana keduanya pergi


"kalian tidur saja, subuh masih satu jam lagi. pasti mengantuk begadang semalaman menjaga Danil" Rahim menyuruh adik-adiknya untuk tidur


"hoaaaam, gue lanjut tidur lagi kalau begitu. ngantuk banget" Faiz langsung baring di samping Robi yang juga sudah lebih dulu baring dan memejamkan mata


"bang Rahim sebaiknya tidur juga" ucap Riki saat melihat Rahim sesekali menguap menahan kantuk


"gue akan berjaga saja, jangan sampai ada penyusup yang membuat ulah lagi seperti kemarin"


"kalau begitu gue temani abang saja" ucap Riki


"Alan juga akan temani bang Riki dan bang Rahim. tunggu di sini ya, Alan bikin kopi dulu untuk menemani kita"


"sip dah tuh, thanks ya Al" Riki mengajungkan jempol ke arah Alan


"sama-sama bang" Alan meninggalkan mereka menuju dapur


di TKP, Mahesa menyuruh Mahendra dan Randi untuk pulang. sementara dirinya dan Angga, masih akan menyusuri tempat itu untuk mencari petunjuk.


"kalau begitu kami pulang dulu pak" Mahendra berpamitan


"Mahendra" panggil Mahesa


"iya pak" Mahendra yang sudah balik kanan langsung berhenti dan menoleh


"bukannya kita sudah sepakat kalau elu manggil gue abang saja. berasa tua banget gue dipanggil pak sama elu" ucap Mahesa


setahun kedekatannya mereka, membuat Mahesa dan Mahendra menjadi lebih akrab. bukan hanya mereka namun penghuni kost yang lain pun mulai dekat dengan para polisi itu. Mahesa pernah menyuruh mereka untuk memanggil dirinya dengan panggilan abang agar lebih akrab lagi.


"tapi...saya sungkan pak" ucap Mahendra


"biasakan supaya elu nggak sungkan" timpal Mahesa


"benar itu Hen, kita ini masih jomblo loh belum jadi bapak-bapak. kalau orang lain yang manggil ya nggak masalah secara nggak saling kenal" Angga setuju


"baiklah, bang Mahesa dan bang Angga. kami berdua pulang dulu" Mahendra akhirnya mengalah


"iya, hati-hati di jalan" jawab Mahesa


"pamit dulu ya bang" Randi berpamitan


"hati-hati, waspada dalam perjalanan pulang" Mahesa menepuk pundak Randi


"jadi, kita mulai darimana...?" tanya Angga setelah Mahendra dan Randi pergi


"kita ke rumah sakit" jawab Mahesa


"loh bukannya mau menyusuri tempat ini"


"besok saja, pembunuhnya juga sudah pergi. besok pagi kita datang lagi mencari petunjuk"


mereka berdua meninggalkan TKP untuk ke rumah sakit. pukul 4 pagi, jalanan masih lenggang, belum banyak kendaraan yang lalu lalang. mobil Mahesa melaju diikuti mobil Angga dari belakang. namun seketika Mahesa menginjak rem mendadak hal itu membuat Angga banting stir ke kanan dan menginjak rem. hampir saja Angga menabrak mobil Mahesa.


drrrttt... drrrttt


Angga


gila lu, hampir gue nabrak elu tau


Mahesa


berhenti mengomel. lihat arah jam 9, di yang berjalan mengikuti trotoar jalan


Angga melihat ke arah yang dimaksud Mahesa. dapat ia lihat seseorang yang sedang berjalan sendirian, menggunakan pakaian serba hitam, topi dan juga masker


Angga


kita kejar, bisa jadi dia pelakunya


keduanya langsung tancap gas mencari tempat untuk berbalik arah. sekitar beberapa meter di depan sana, mobil keduanya memutar untuk menyusul seseorang yang mereka lihat tadi.


"loh kemana perginya...?" orang itu sudah tidak ada di jalan itu


"cari, nggak mungkin dia pergi jauh" perintah Mahesa

__ADS_1


keduanya berpencar mencari orang itu. mereka bahkan memasuki gang dan lorong yang diperkiraan tempat lewat orang tersebut.


"sial" umpat Mahesa begitu kesal


dalam kekesalannya, ia melihat orang itu telah berada di sebrang jalan sana. mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. sosok itu mengacungkan jari tengah kepada Mahesa. seakan mengejek kalau mereka adalah polisi yang tidak berguna.


Mahesa menyebrang jalan untuk mengejar sosok itu. tentu saja orang itu tidak hanya akan berdiam diri menunggu ditangkap. ia meninggalkan tempat itu menjauh dari Mahesa, melarikan diri dari kejaran polisi itu.


Mahesa kehilangan jejak, orang itu sudah tidak terlihat olehnya. Angga baru saja datang menyusulnya setelah ia dihubungi oleh Mahesa.


"bagaimana...?" tanya Angga


"lolos. sepertinya dia tau kalau kita tadi mengincarnya" jawab Mahesa dengan nafas yang memburu


"kita kembali" ajak Mahesa, mereka berdua kembali ke mobil


pagi hari peristiwa pembunuhan di jalan mawar telah menguak di dalam publik. bahkan kini siaran di televisi tengah menayangkan kasus tersebut. masyarakat mulai takut untuk keluar rumah. korban pertama adalah Aretha Delano yang merupakan seorang model dan sekarang korban selanjutnya adalah Jasmine Halley yang kabarnya wanita itu adalah seorang mahasiswi di kampus swasta di kota itu.


"pelaku yang kemarin saja belum ditemukan, sekarang sudah ada korban lagi"


"kenapa kini seperti kasus satu tahun yang lalu"


"ini polisi yang menangani kasus ini kok pada bego ya, masa sampai sekarang pelakunya belum juga tertangkap"


"jadi takut keluar malam kalau seperti ini situasinya"


"pada lalod nih polisi, nggak mikir apa kita mulai was-was sekarang"


"makan gaji buta"


"jangan mencemooh para polisi, mereka juga sedang berusaha menangkap pelaku. daripada berkoar-koar di sosmed, kenapa nggak kalian aja yang cari tuh pelaku"


"benar, kasus pembunuhan berantai satu tahun yang lalu mereka berhasil ungkap, semua butuh waktu nggak secepat itu bisa menangkap seorang pembunuh yang lihai dalam bersembunyi"


"apakah ini kasus pembunuhan berantai lagi...?"


para netizen mulai berkomentar mengenai kasus pembunuhan itu. Mahesa yang melihat itu langsung memijit keningnya, merasa pusing dan lelah. sedang Angga, ia hanya menarik nafas dan bersandar di kursi.


drrrttt.... drrrttt


Mahesa


halo


Cakra


elu dimana


Mahesa


rumah sakit. elu masih di luar kota...?


Cakra


baru sampai, kalau begitu gue ke rumah sakit sekarang


Mahesa


Cakra


sudah melihat berita...? sepertinya kita di cap polisi yang lelet dan tidak berguna


Mahesa


biarkan netizen berkoar-koar, yang menjalani adalah kita bukan mereka. mereka hanya pandai berkomentar tanpa tau perjuangan kita


Cakra


oke. sampai bertemu di kantor


"siapa Hes...?" tanya Angga


"Cakra" jawab Mahesa


"dia sudah pulang...?"


"baru saja sampai. karena Cakra sudah pulang kita bisa bagi tugas nanti. sekarang kita ke kantor polisi


di perjalanan ke kantor polisi, Mahesa mendapat panggilan. tertera di layar ponselnya sebuah nama yang tertulis Almeera. ia menerima panggilan itu.


Mahesa


tumben telpon abang


Almeera


ish, abang suka gitu kalau aku telpon


Mahesa


iya iya maaf, ada apa...?


Almeera


Meera sekarang mau pulang ke Indonesia, abang jemput Meera di bandara ya


Mahesa


kenapa pulang cepat, bukannya kamu bilang satu bulan lagi


Almeera


udah libur bang, Meera kangen sama abang. emang abang nggak kangen sama adik cantiknya abang ini


Mahesa


nggak tuh


Almeera

__ADS_1


rese


Mahesa tertawa mendengar adiknya yang jengkel dengan jawabannya.


Mahesa


jam berapa landing, nanti abang jemput


Almeera


mungkin malam, ini Meera masih siap-siap dulu


Mahesa


ya sudah, sampai ketemu nanti ya


Almeera


oke abang sayang, bye bye


Mahesa hanya tersenyum mengingat adiknya itu. kini tidak terasa dirinya sudah sampai di kantor polisi.


Cakra sudah ada di sana tapi tidak dengan Zulfikar. entah kemana perginya polisi itu sekarang bahkan nomornya tidak bisa dihubungi.


"seperti biasa hal pertama yang akan kita lakukan adalah mencari cctv di tempat itu" ucap Mahesa


"kalau yang gue liat sepertinya di sekitar itu nggak ada cctv. dia selalu melakukan pembunuhan ditempat yang jelas sudah aman menurutnya. bukankah yang dilakukan Wili dulu adalah seperti itu" timpal Angga


"cari saja di tempat yang ada. dia melewati beberapa jalan pastinya sebelum ke tempat eksekusi".


"baiklah akan gue cari"


"Damar sama Zulfikar kemana...?" tanya Cakra


"Damar masih belum bisa bergabung dengan kita. kalau Zulfikar, entahlah. gue juga nggak tau dia dimana" jawab Angga


"memangnya ada apa dengan Damar...?" tanya Cakra


Mahesa menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya. tentu saja hal itu membuat Cakra kaget. beberapa hari di luar kota, dirinya tidak mengetahui kabar tentang teman rekan kerjanya.


"lalu bagaimana keadaannya sekarang...?"


"sudah lebih baik. untung saja malam itu ada sepasang suami istri yang menolongnya" jawab Mahesa


"kalau benar apa yang elu katakan, itu berarti keadaan kita juga sedang tidak aman. dia dengan berani menyerang polisi. gue sangat yakin kegagalan yang ia lakukan kepada Damar, pasti akan ia lakukan lagi entah kepada siapa diantara kita" ucap Cakra


"itulah, gue berpesan kepada kalian, dimana pun kalian berada harus tetap hati-hati dan waspada. karena sekarang ini nyawa kita pun sedang terancam" ucap Mahesa


"lalu bagaimana dengan penyelidikan tentang seseorang yang dekat dengan Wili. gue sudah mencari data terkait Wili Alfiansyam. teman-teman terdekatnya di kampus hanya dua orang, Jeje dan Gafar. untuk saudara, Wili tidak memiliki saudara dalam artian dia anak tunggal" ucap Angga


"setelah ayahnya masuk penjara, ibu Wili memutuskan untuk pindah dari kota tempat tinggal mereka dan menetap di kota ini. kalau gue pikir, sepertinya kali ini tidak ada kaitannya dengan Wili. maksudnya seperti ini, kalau memang ada seseorang yang ingin balas dendam atas kematian Wili, kenapa baru sekarang, kenapa tidak sejak dulu"


"sudah pasti jawabannya menunggu waktu yang tepat" timpal Cakra


"maksud elu...?"


"dendam itu tidak serta-merta langsung diluapkan saat itu juga, tapi dia menunggu hingga waktunya tiba. pastinya sudah penuh persiapan dan rencana yang matang. siapa-siapa target yang harus ia bunuh dan salah satunya adalah Damar" lanjut Cakra


"tapi dari data yang gue dapatkan, tidak ada seseorang yang mencurigakan yang dekat dengan Wili. dia hanya dekat sesama penghuni kost 010 dan kedua temannya di kampus" timpal Angga


"sesama penghuni kost 010...?" tanya Mahesa


"iya, dan kalian pasti tau itu secara kita sering bersama mereka"


"Angga, Cakra"


"iya"


"ada apa...?"


"bagaimana kalau ternyata pembunuhan berantai tahun lalu bukan hanya Wili seorang tapi dia mempunyai teman" Mahesa menatap kedua rekannya


"tapi bukankah Wili mengaku dia hanya seorang diri, bahkan saat itu kita mengejar Wili juga dia seorang diri" ucap Cakra


"ini hanya asumsi gue saja. baiklah kita bergerak sekarang, langsung ke TKP" perintah Mahesa


(tapi kenapa firasat gue mengarah seperti yang gue katakan tadi. Wili mempunyai partner seorang psikopat) batin Mahesa masih berperang dengan pemikirannya


saat hendak ke TKP, ponsel Mahesa bergetar. pihak dari rumah sakit menghubunginya.


Mahesa


halo, bagaimana dokter Anwar


dokter Anwar


saya menemukan ada kulit manusia yang tersangkut di kuku Jasmine. sudah saya periksa dan memang benar itu adalah kulit yang sepertinya Jasmine semoga melawan. ia mencakar si pelaku hingga si pelaku terluka dan kulit tubuhnya berada di kuku Jasmine


Mahesa


tolong simpan itu baik-baik dok, kami akan sangat membutuhkannya nanti


dokter Anwar


baiklah, saya akan menyimpannya dengan baik


"ada petunjuk baru...?" tanya Angga


"iya, sekarang kita berangkat. malam gue harus menjemput Almeera di bandara"


"dia pulang...?"


"iya, dirinya sedang libur"


"Hes maaf bukan gue mengatur elu tapi sebaiknya sampaikan kepada Almeera untuk tidak pulang dulu. keadaannya sekarang dalam kegentingan, nggak aman baginya dia pulang dalam kehebohan seperti ini"


"Angga benar Hes, sebaiknya beritahu Almeera untuk tidak pulang dulu ke Indonesia"


Mahesa mengangguk setuju. ia kemudian menghubungi adiknya itu namun sekarang nomornya tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


__ADS_2