
"Iyan adalah dalangnya, dia pelakunya"
pengakuan Olan membuat mereka semua kaget. tentu saja, laki-laki yang baiknya sama seperti Wili, humoris dan penolong ternyata adalah seorang psikopat.
"b-bang Iyan pelakunya...?" Randi menganga tidak percaya
"bagaimana mungkin...?" Danil menggeleng
"tapi kenyataannya memang seperti itu. dia pelakunya, dia pembunuhnya. yang meneror kita semua adalah dia" ucap Olan
"bang Iyan... gue nggak habis pikir" Faiz tercengang dan merasa benar-benar tidak percaya
ting
Mahendra yang masih kaget dengan apa yang ia dengar langsung menerima pesan dari Riki.
Riki : belum pulang ya bang, cewek ini dari tadi nanyain bang Rahim terus
Mahendra : tunggu sebentar lagi
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Randi
"lapor polisi saja" Hana menimpali
"gue harus menghubungi bang Mahesa. dia pernah bilang kalau dirinya mencurigai seseorang dari kita. gue ingin tau apa yang dia curigai adalah bang Iyan atau bukan" Mahendra mengambil ponselnya
"bang nanti saja telpon bang Mahesa. sekarang kita pulang, Riki sama Alan hanya berdua di kos" ucap Danil
"sebenarnya ada perempuan yang datang ke kos mencari bang Rahim" ucap Mahendra
"lah siapa...?" tanya Faiz
"entahlah, kalau begitu kita pulang sekarang. bang Olan, kak Hana kami pamit dulu. abang hati-hati di sini" Mahendra pamit kepada Olan dan Hana
"kalian hati-hati, pembunuh itu sangat licik"
Mahendra mengangguk dan mereka semua keluar meninggalkan kamar Olan. baru saja tiba di lobi rumah sakit, Mahesa menghubungi Mahendra.
Mahesa
kamu dimana Hen
Mahendra
di rumah sakit bang, ada apa
Mahesa
pembunuhnya sudah diketahui identitasnya
Mahendra
siapa bang, apakah bang Iyan karena bang Olan tadi bilang kalau bang Iyan adalah pelakunya
Mahesa
Olan sudah kembali...?
Mahendra
sudah bang. maaf saya lupa memberitahukan abang. sekarang bang Olan di rawat di rumah sakit
Mahesa
Hes, kembali ke sana
Mahendra
kemana bang
Mahesa
ke kamar Olan, cepat kembali
Mahendra
memangnya kenapa bang
Mahesa
dia pelaku sebenarnya Hes. nama aslinya Arkan Arsyad, dia psikopat sebenarnya.
Mahendra
abang yakin
Mahesa
__ADS_1
yang gue curigai itu adalah Olan, dan sekarang terbukti dari hasil lab yang kami ambil. ada kulit manusia di kuku Jasmine Halley dan kami melakukan pencocokan DNA dengan Olan dan hasilnya 99% positif.
deg.....
saat itu juga Mahendra mematung di tempatnya. kemudian ia berlari sekencang mungkin untuk kembali ke ruangan Olan.
"bang mau kemana...?" Danil meneriaki namun Mahendra tidak berhenti
"bang Mahendra kenapa...?" tanya Randi
"kita ikuti" Faiz berlari menyusul Mahendra, Danil dan Randi pun ikut menyusul
braaaakkk
dengan kasar Mahendra membuka pintu kamar rawat Olan. sudah tidak ada siapapun di sana, bahkan wanita yang bernama Hana pun tidak ada. kamar tersebut terlihat berantakan, kapas bantal berserakan dimana-mana dan juga pecahan gelas. pisau tajam tertancap di daun pintu kamar tersebut.
"ada apa sih Hen...?" tanya Faiz saat mereka semua baru saja datang "astaga, kenapa bisa berantakan seperti ini....?" Faiz kaget begitu juga Randi dan Danil
"bang Olan pelakunya" Mahendra menatap mereka semua
"bang Olan pelakunya...?" mereka mengulang menjadi pertanyaan
"hasil tes DNA yang dilakukan bang Mahesa di rumah sakit membuktikan kalau bang Olan pelakunya. kulit manusia yang ditemukan di kuku korban Jasmine Halley DNA-nya sama dengan bang Olan" terang Mahendra
"sudah gue duga ada yang salah cara saat dia kembali" ucap Faiz
"kalau begitu tunggu apalagi, kita cari bang Olan" ucap Randi
"ke kamar bang Zohir" perintah Mahendra
mereka melesat ke kamar Zohir. sementara Randi berusaha untuk menghubungi Riki dan Alan namun keduanya sama-sama tidak mengangkat panggilannya. ia pun mengirim pesan kepada mereka berdua, memberitahu pelaku yang sebenarnya.
saat tiba di kamar Zohir, semuanya baik-baik saja bahkan gadis yang bersama laki-laki itu sedang mengupas buah untuk Zohir yang sedang bersandar di ranjang.
"loh, kalian ke sini lagi. ada apa...?" tanya Zohir
"bang, nggak ada yang datang ke sini.. ?" tanya Randi
"nggak ada, hanya dokter saja yang belum lama keluar" jawab Zohir
"dokternya laki-laki atau perempuan...?" tanya Danil
"perempuan, ada apa sebenarnya, kenapa kalian tegang seperti itu...?" Zohir dapat melihat wajah mereka semua yang tegang dan khawatir
"syukurlah. bang, tolong kunci pintunya dari dalam jangan biarkan siapapun masuk kalau bukan dokter perempuan atau suster. kami pergi dulu" ucap Mahendra yang langsung keluar begitu juga yang lain
"pasti dia sudah pergi dari tempat ini" ucap Faiz
"tunggu dulu, kita ke ruangan pak Angga dulu. dia adalah salah satu korban dari bang Olan, jangan sampai di ke sana" ucap Mahendra
tanpa basa-basi mereka semua melesat lagi menuju ke ruangan rawat Angga. ruangan rawat polisi itu berada di lantai tiga dan mereka harus menaiki lift untuk sampai ke sana.
saat mereka masuk lift, saat itu juga seseorang baru saja keluar dengan pakaian seragam dokter bersama dengan seorang suster. laki-laki itu bergegas pergi sementara squad 010 masuk ke dalam lift.
tiba di lantai tiga, mereka mencari kamar Angga. Mahendra membuka pintu dan polisi itu di dalam sudah kejang-kejang dengan alat oksigen yang telah terlepas dari mulutnya.
"panggilkan dokter cepat" Faiz berlari memasang kembali oksigen Angga sementara Mahendra memencet tombol merah di dekat ranjang. beberapa menit berlalu, dokter dan suster datang. squad 010 diminta untuk keluar karena pasien akan diperiksa oleh mereka.
"benar-benar bejad bang Olan" Randi mengepalkan tangannya
"kak Hana pasti dibawa olehnya. bang sebaiknya kita pulang, Danil khawatir sama bang Riki dan bang Alan" ucap Alan
"lalu bagaimana dengan pak Angga, apa kita akan meninggalkannya begitu saja" Randi melihat ke arah pintu kamar rawat Angga
"tapi kalau kita tunggu, gue khawatir bang Olan akan ke kos apalagi saat ini Riki sama Alan nggak menjawab panggilan dari kita" ucap Faiz
mereka semua serba salah. ingin pergi tapi mereka harus tau bagaimana kondisi pak Angga, jika menunggu mereka takut Olan berbuat sesuatu dengan Riki dan Alan apakah mereka belum tau yang sebenarnya.
disaat-saat menegangkan seperti itu, pintu ruang rawat Angga terbuka.
"pak bagaimana keadaan abang saya...? tanya Mahendra saat dokter baru saja keluar
"untung saja kalian memanggil kami dengan cepat kalau tidak mungkin nyawa pasien tidak akan tertolong. keadaannya kini kembali stabil seperti sebelumnya"
jawaban dari dokter tersebut membuat mereka semua lega. Akira Khairina, adalah dokter yang memeriksa Angga tadi.
di dalam mobil, seorang wanita duduk di kabin tengah dalam keadaan terikat dan mulut disumpal dengan kain. sementara laki-laki yang menyetir mobil sesekali melihat wanita itu di spion gantung.
"harusnya kamu tidak melawan sayang, harusnya kamu patuh apa yang aku perintahkan" Olan tersenyum ke arah wanita itu
"mmmm...mmmm" Hana menatap tajam kearah Olan
"jangan melihatku seperti itu, kamu tidak tau betapa kejamnya aku jika menguliti dirimu hidup-hidup" Olan menekan ucapannya
(ya Allah, orang yang aku anggap malaikat selama ini ternyata adalah iblis) Hana membatin
flashback
__ADS_1
"sayang, aku keluar sebentar ya" ucap Hana yang berada di kamar Olan
"mau kemana...?" tanya olan
"aku mau beli makan, kamu kan katanya nggak suka makanan rumah sakit. nggak lama kok" Hana mengelus tangan Olan yang sedang ia genggam kemudian keluar dari kamar itu
setelah Hana keluar, Olan tersenyum menyeringai. ia pun terkekeh kemudian tertawa keras seperti seseorang yang hilang akal.
namun kemudian tawa itu berubah menjadi tatapan tajam yang ingin meminum darah manusia. kilatan amarah sangat terlihat di mata Olan.
"Mahesa sialan, aku yakin pasti diriku yang dia curigai. brengsek"
braaaakkk
Mahesa memukul meja yang ada di samping ranjangnya hingga gelas minuman yang ada di atas meja itu jatuh ke lantai dan pecah.
kemudian ia turun dari ranjang dan mendekat ke arah jendela. pisau tajam yang digunakan untuk mengupas apel dipegangnya dengan erat.
sementara Hana yang lupa membawa dompetnya, wanita itu berbalik arah untuk kembali ke kamar Olan. saat membuka pintu, betapa kagetnya ia dikala melihat Olan tengah menusuk-nusuk bantal hingga kapasnya keluar dan berhamburan.
"Mahesa brengsek, akan gue bunuh elu sama seperti yang lainnya. elu akan menjadi korban gue selanjutnya" Olan belum menyadari kalau Hana melihat semua perbuatannya
"mati kalian semua.... mati"
tubuh Hana bergetar, bahkan bibirnya tidak sanggup untuk bersuara. saat Olan melihat ke arahnya, Hana berbalik untuk keluar namun pisau yang Olan pegang ia lemparkan ke arah wanita itu dan tertancap di daun pintu.
"mau kemana sayang...?" suara Olan membuat Hana mematung dan menelan ludah
"a-aku.....a-aku mau keluar sebentar" Hana membuka pintu namun gerakan Olan lebih cepat. ia menarik tangan Hana dan memeluknya dari belakang
"kenapa begitu cepat kamu datang, harusnya kamu tidak datang sayang" Olan berbisik di telinga Hana membuat wanita itu semakin ketakutan
"kamu sudah mendengar dan melihat semuanya. jadi....apa yang harus aku lakukan padamu hmm...?"
"ikuti apapun perintahku, jangan sekali-kali kamu membantah jika tidak ingin aku melukaimu"
"sekarang jalan, kita keluar dari kamar ini. bersikap biasa saja, romantislah seperti sebelumnya" Olan membalikkan tubuh Hana dan mengecup keningnya kemudian tersenyum dan membelai wajah wanita itu
"aku benar-benar mencintaimu, tapi setelah apa yang kamu lihat, kamu tidak akan bisa lepas dariku"
Olan menggenggam tangan Hana kemudian mereka keluar dari ruangan itu. saat beberapa suster bertanya mereka akan kemana maka Hana akan menjawab ingin mengajak kekasihnya itu jalan-jalan karena Olan bosan di dalam kamar.
Olan mencuri pakaian pegawai di rumah sakit tersebut dan juga mengambil jas putih milik seorang dokter yang tinggalkan di ruangannya.
Olan menuju ke lantai tiga masih bersama dengan Hana, tiba di lantai tiga laki-laki itu mendesak Hana untuk masuk di sebuah ruangan dimana di dalam seorang laki-laki sedang terbaring tidak berdaya dengan selang oksigen di mulutnya.
ada seorang suster yang melihat keadaan Angga. Olan membuat suster itu pingsan dengan memukul tengkuknya.
"apa kabar pak Angga, sudah waktunya kamu untuk istrahat selamanya" ucap Olan yang melepas oksigen milik Angga
"apa yang kamu lakukan" Hana ingin memasangkan kembali oksigen Angga namun Olan menahannya
"aku bilang jangan banyak bertingkah" Olan menarik rambut Hana dan menghempaskan wanita itu ke dinding
"harusnya aku menyuntikkan obat racun di dalam tubuhmu, sayangnya waktuku tidak banyak. sampai berjumpa dengan malaikat maut pak Angga" Olan tersenyum puas melihat Angga yang sesak nafas
"ganti pakaianmu dengan wanita itu" ucap Olan
dengan patuh Hana melakukan perintah kekasihnya itu. Olan berbalik ke arah lain agar Hana nyaman mengganti pakaiannya. Hana memakai pakaian suster tersebut sementara suster itu memakai pakaian Hana.
Olan menarik kasar tangan Hana dan meninggalkan tempat itu. mereka bertemu dengan squad 010 saat akan keluar dari lift. saat itu, mereka tidak menyadari kalau Hana ada di dalam begitupun juga dengan Olan. karena Hana kini telah berganti pakaian. ia menggunakan seragam suster dan memakai makser sementara Olan memakai pakaian layaknya seorang dokter dan masker.
keduanya meninggalkan rumah sakit masuk ke dalam mobil Hana. saat di dalam mobil, Hana berniat kabur dengan memukul kepala Olan menggunakan sepatu miliknya. sayangnya Olan berhasil menangkapnya dan mengikat kedua tangan serta kaki dan menyumpal mulutnya
flashback end
saat akan meninggalkan rumah sakit, squad 010 bertemu dengan Mahesa, Zulfikar, Damar dan Cakra.
"bang" Mahendra memanggil Mahesa
"dimana Olan...?" tanya Mahesa
"dia kabur bang, dan dia berusaha membunuh bang Angga, untungnya kami cepat datang tepat waktu" jawab Mahendra
"kurang ajar, benar-benar biadab kamu Arkan Arsyad" Mahesa mengepalkan tangannya
"Arkan Arsyad...?" Randi, Danil dan Faiz bertanya
"itu adalah nama aslinya, ceritanya panjang. sekarang kita harus mencari Olan. kami akan ke tempat dimana dulu menjadi markas bagi Wili. di situ juga dulu ia menyekap Kevin dan Maureen" ucap Cakra. tentu saja Cakra tau karena dulu dirinya pernah ke tempat itu untuk menyelamatkan Kevin yang tidak bisa tertolong lagi
"kami ikut bang" ucap Randi
"kita ke kos dulu, Riki dan Alan masih ada di sana" ucap Faiz
"kalau begitu kita ke kos kalian" ucap Zulfikar
"Dam, sebaiknya elu di sini saja menemani Angga jangan sampai Olan datang lagi" Mahesa melihat Damar
__ADS_1
"baiklah, kalian semua hati-hati" Damar setuju
Damar masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk Angga sementara yang lain bertolak langsung ke kos 010. saat ini mereka telah mengetahui siapa pelaku sebenarnya sehingga mereka tidak perlu lagi untuk bermain teka-teki dan menerka-nerka siapa sebenarnya pelakunya.