Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 58


__ADS_3

malam itu di kost 010, semua penghuninya sudah terlelap dalam tidur. jarum jam pas menunjukkan angka 12. Robi terbangun dari tidurnya karena merasa tenggorokannya kering.


namun baru saja dia akan beranjak dari tempat tidurnya, ponselnya berbunyi menandakan satu pesan masuk di benda yang super canggih itu.


"hoaaaam, siapa yang ngirim pesan larut malam begini" gumamnya mencoba mengumpulkan kesadarannya


sebenarnya Robi masih enggan untuk memeriksa pesan yang masuk namun karena ada dorongan dalam dirinya bahwa ia harus membuka pesan itu, ia pun mengambil ponselnya dan membuka layar kunci.


08xxxx : kalian bersantai di dalam kamar, maka bersiaplah melihat mayat esok hari


Deg


"astaga sepertinya ini benar bukan hal konyol"


kesadaran Robi langsung muncul seketika. dengan cepat ia melompat dari tempat tidur dan keluar kamar kemudian mengetuk semua pintu kamar yang ada di lantai atas.


braaaakkk


braaaakkk


"BANG IYAN BANGUN BANG"


"ALAN BANGUN"


"MAHENDRA, DANIL BANGUN, INI URGENT"


teriakan Robi di lantai atas membuat mereka semua yang berada di lantai bawah terusik.


cek lek


"bang Robi kenapa sih teriak-teriak, ini bukan hutan bang" Alan keluar kamar dengan wajah kusut


kemudian tidak lama Iyan, Mahendra dan Danil pun ikut keluar.


"kenapa Rob...?" tanya Iyan


"ini gawat bang, gawat" Robi terlihat panik


"gawat kenapa sih, coba jelasin yang benar" ucap Mahendra


"jelasinnya nanti saja, sekarang kita turun ke bawah untuk membangunkan yang lain"


buru-buru Robi turun ke bawah bahkan sebagian anak tangga ia langkahi karena panik.


"bang Robi kenapa...?" Danil menatap heran Robi yang sudah tidak terlihat lagi


"kita turun, mungkin memang ada yang urgent" ucap Iyan


mereka turun ke bawah menyusul Robi yang sudah menggedor pintu kamar penghuni lain. akibat ulahnya itu, semua orang tidak tidur nyenyak dan bahkan ada yang mengomel saat tidurnya di ganggu.


"kenapa sih Rob, elu ganggu tidur nyenyak gue tau nggak" Faiz memberenggut


"ini gawat. gue dapat pesan dari nomor tidak dikenal dan isinya yang membuat gue jadi panik membangunkan kalian semua" ucap Robi


"pesan apaan...?" tanya Rahim


"nih, lihat bang" Robi memberikan ponselnya kepada Rahim


"astaga, jadi ancamannya semalam itu memang bukan main-main" ucap Rahim saat membaca pesan yang ada di ponsel Robi


"emang isi pesannya seperti apa...?" tanya Olan


08xxxx : kalian bersantai di dalam kamar, maka bersiaplah melihat mayat esok hari


ting


ting


baru saja Rahim membaca pesan itu, Randi dan Alan yang memegang ponsel saat keluar kamar langsung mendapatkan pesan masuk. keduanya membuka layar kunci dari ponsel mereka dan saat membawa pesan itu, Randi dan Alan saling pandang.


"Alan dapat pesan yang sama seperti bang Robi" Alan memperlihatkan isi pesan itu kepada Mahendra


"gue juga dapat pesan seperti bang Robi" ucap Randi


"tunggu, kalau kalian mendapat pesan berarti harusnya kami juga mendapatkannya" ucap iyan


segera yang lain berlari ke arah kamar masing-masing untuk mengambil ponsel mereka dan kembali lagi ke ruang utama.


"benar, Danil juga mendapatkan pesan yang sama" Danil memberitahu setelah membuka ponselnya


"gue juga dapat" ucap Mahendra


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, dari clue yang kita dapatkan kita tidak mempunyai teman yang tergila-gila dengan minuman keras" ucap Faiz


(yang tergila-gila dengan minuman keras...?) batin Robi. ia berpikir keras dan kini dirinya menemukan jawabannya


"bang Zohir" ucap Robi seketika


"Zohir...?" tanya Rahim


"Zohir itu bukannya dia yang menghadang kita tadi sore...?" tanya Olan


"benar, dia adalah teman kost gue di kost lama sebelum gue pindah ke sini. dia sangat suka dengan minuman keras bahkan setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukkan" jawab Robi


"gue yakin bang Zohir orangnya, gue harus ke kost lama sekarang" ucap Robi


"kalau begitu kita semua akan pergi, jangan ada yang tinggal di kost" perintah Rahim

__ADS_1


malam itu pukul 01.00, semua penghuni kost meninggalkan kost 010 menuju ke kost tempat tinggal Robi yang dulu. jalanan sangat lenggang karena sudah larut malam dan tidak banyak lagi orang-orang yang melakukan aktivitas di malam yang larut itu.


saat tiba suasana dalam keadaan sangat sunyi, semua penghuni kost pastinya sudah dalam terlelap tidur.


"masa iya kita datang bertamu larut malam begini, apa kita nggak akan mengganggu mereka...?" ucap Riki


"gue hubungi bang Julian dulu" ucap Robi


Robi mencari nomor Julian di ponselnya dan melakukan panggilan.


tuuuuuuut..... tuuuuuuut


panggilan masuk namun tidak diangkat. beberapakali Robi mencoba namun tetap saja Julian tidak mengangkat telponnya.


"bang Julian pasti sudah tidur" ucap Mahendra


"baiklah, kalian tunggu di sini gue akan masuk ke dalam melompati pagar ini" Robi mulai ancang-ancang


"bagaimana caranya elu bisa masuk di dalam, pasti sudah dikunci pintu utama" ucap Faiz


"gue masih menyimpan kuncinya" jawab Robi


Robi mulai melompati pagar dan kini dirinya telah berada di dalam. kemudian ia berjalan ke arah pintu utama dan membukanya dengan kunci yang masih ia punya.


"woi, siapa itu...maling ya...?" seseorang meneriaki Robi saat dirinya telah berhasil membuka pintu


"ini gue bang" jawab Robi


"Robi, elu ngapain larut malam datang di sini seperti pencuri" Julian menghampiri Robi


"maaf bang gue terpaksa main terobos masuk, soalnya gue telpon abang tapi nggak diangkat"


"ponsel gue lagi cas. ada apa elu malam-malam begini datang ke sini...?"


"bang Zohir ada nggak bang...?"


"elu datang jam segini hanya untuk menanyakan Zohir...?" kening Julia mengkerut


"eemmm sebenarnya ada yang mau gue ambil di kamar, kemarin pas pindah gue lupa bawa. sekalian mau menanyakan bang Zohir, kan ribet kalau bertemu dia lagi" Robi beralasan


"ooh" Julian manggut-manggut


"Zohir sejak kemarin nggak kelihatan, mungkin lagi di tempat tongkrongannya sama teman-temannya"


"jadi dia belum pulang ke sini.. ?"


"belum, makanya itu kost pada sepi seperti kuburan kalau jam segini. biasanya kan kalau ada dia, di sini paling ribut. elu kayak nggak pernah ngalamin aja"


(iya juga, harusnya gue tau itu. bodoh banget gue masuk kayak pencuri) Robi merukuti kebodohannya


"ya sudah kalau gitu bang, gue pulang dulu"


"baru ingat bang kalau gue lupa bawa kuncinya" Robi nyengir dan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal


"gue cabut ya bang"


Robi melesat pergi setelah mendapat informasi kalau Zohir tidak ada di kost itu. sementara Julian terheran-heran dengan tingkah Robi kali ini namun ia hanya menganggap biasa saja dan kembali ke kamarnya.


Robi keluar dari kost berlantai dua itu dan kembali memanjat pagar.


"bagaimana...?" Rahim bertanya


"nggak ada. bang Zohir sudah sejak kemarin nggak pulang di kost ini" jawab Robi


"lalu kita harus mencarinya kemana...?" ucap Randi


"kita cari ditempat biasa bang Zohir nongkrong bersama teman-temannya" timpal Robi


"dimana itu...?" tanya Iyan


"di club" jawab Robi


"Danil nggak mau ke sana, banyak godaannya nanti Danil khilaf" Danil dengan cepat menggelengkan kepala


"Alan juga malas ke tempat itu, bisa-bisa Alan diperkosa lagi sama yang nakal-nakal" Alan pun tidak ingin pergi


"kalian berdua ini yang LAKIK dikit kenapa sih. masa iya takut sama cewek" Randi meledek keduanya


"bukan takut bang, hanya nggak ingin salah langkah saja" timpal Alan


"kita tetap pergi, kalian berdua di luar saja kalau memang tidak ingin masuk. ayo, waktu kita tidak banyak" Rahim mengajak mereka semua menuju ke club yang dimaksud oleh Robi


mereka semua bergegas ke club tempat Zohir dan teman-temannya berkumpul. tiba di sana yang masuk hanyalah Mahendra dan Robi sedang yang lainnya menunggu di luar.


mereka berdua bahkan berpencar untuk mencari Zohir di tempat itu namun keduanya tidak menemukan Zohir.


"ketemu nggak Rob...?" tanya Mahendra


"nggak ada, bahkan teman-teman yang sering ngumpul bersamanya nggak keliatan. sepertinya mereka tidak ke sini" jawab Robi


keduanya keluar dari tempat yang khas dengan minuman alkohol. di luar yang lain tengah menunggu mereka.


"nggak ketemu ya...?" tanya Olan


"nggak bang" jawab Mahendra


"terus kita harus mencari kemana lagi...?" tanya Riki

__ADS_1


"di jalan tempat kita bertarung tadi, kita ke sana saja. mungkin saja di sana kita mendapatkan petunjuk" Faiz memberikan usul


"benar kata bang Faiz, kalau begitu kita ke sana saja sekarang" ucap Randi


malam ini mereka berputar-putar mencari keberadaan Zohir. yang seharusnya mereka terlelap dalam mimpi di dalam kamar namun kali ini yang mereka lakukan berkeliaran larut malam untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang juga belum tentu apakah dia orang yang seharusnya mereka tolong atau bukan.


"kita bertarung di sini, dan meninggalkan mereka disini yang sudah tidak sadar. sekarang mereka sudah tidak ada, jelas mereka sudah pergi" Mahendra menelisik sekeliling


"itu.... mobil siapa...?" Riki menunjuk sebuah mobil yang terparkir di dekat taman


"apa jangan-jangan"


mereka semua berlari ke arah mobil itu. mereka berpikir pasti mobil itu ada sangkut pautnya dengan Zohir namun siapa sangka dugaan mereka salah. saat tiba di sana, mereka melihat tiga orang yang mereka kenal sedang duduk di dekat mobil itu.


"bang Mahesa" panggil Mahendra


"Mahendra" ucap Angga


"kalian ngapain di sini bang...?" tanya Mahendra


"kalian juga sedang apa disini...?" Angga bertanya balik


Mahendra pun menceritakan apa yang mereka alami hingga harus berkeliaran tengah malam seperti itu.


"jadi kalian di teror...?" tanya Cakra


"iya, dan sekarang nyawa seseorang tergantung dari usaha kami untuk menyelamatkannya. jika sampai pagi kami tidak menemukan orangnya, maka.... orang itu akan menjadi mayat" Robi menjawab


"lalu pak Cakra, pak Angga dan pak Mahesa sedang apa di sini...?" tanya Olan


"adik saya di culik seseorang di taman ini" Mahesa mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. matanya bengkak karena tangisan pilu memikirkan adiknya


"psikopat itu, yang membunuh Aretha dan Jasmine kini dia mengincar adikku" ucap Mahesa


"psikopat...?" mereka yang belum tau ceritanya langsung bertanya


"iya, psikopat. yang membunuh Aretha dan Jasmine adalah orang yang sama. beberapa hari yang lalu dia mengincar Damar. hampir saja Damar celaka, untungnya dia berhasil melarikan diri meskipun dirinya sempat terluka parah dan kini dirawat" ucap Cakra


"kini dia mengincar adik Mahesa yang baru saja pulang dari Australia" Angga menambahkan


"jadi pelaku pembunuhan itu adalah seorang psikopat lagi...?" ucap Rahim


"apa jangan-jangan yang meneror kita akhir-akhir ini adalah orang yang sama yang telah membunuh Jasmine dan Aretha" Faiz berasumsi


"bisa jadi, dan kini dirinya sedang mempermainkan kita. siapa sebenarnya si brengsek itu. padahal Wili sudah nggak ada, siapa lagi yang menjadi pelakunya sekarang ini" Iyan kini mulai geram


ting


ting


ting


masing-masing ponsel dari squad 010 berbunyi. mereka menerima pesan dari nomor yang sama.


08xxxx : sisa waktu kalian 4 jam lagi. begitu miris nyawa seseorang yang melayang karena ketidak becusan kalian untuk menolongnya


"dia mengirimkan pesan lagi" ucap Rahim


"gue juga mendapatkan pesan dari nomor yang nggak di kenal" timpal Riki


"sepertinya kita semua mendapat pesan" ucap Iyan


"bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan sekarang...?" Robi panik, ia takut jika memang Zohir yang menjadi incaran psikopat itu


"kalian semua mendapatkan pesan...?" tanya Mahesa


"iya pak, isi pesannya waktu kami tersisa 4 jam lagi dari sekarang" Randi menjawab


"coba saya lihat nomor pengirimnya" Cakra mengambil ponsel Randi untuk melihat nomor yang mengirim pesan itu. Cakra juga mengambil ponsel Danil yang berada di dekatnya untuk mencocokkan kedua nomor itu


"nomor yang sama" ucap Cakra


Cakra menggunakan ponsel Randi untuk menghubungi nomor itu namun hasilnya tidak dapat dihubungi.


"sudah tidak aktif, sepertinya kartu sekali pakai. setelah memakainya ia akan membuangnya" ucap Cakra


"tapi tadi nomor ini juga mengirimkan pesan ke nomor saya pak" timpal Randi


"itu berarti bukan kartu sekali pakai tapi memang sengaja dinonaktifkan" ucap Mahesa


sejak tadi Mahesa mengamati squad 010. dari mereka semua hanya ada satu orang yang ponselnya tidak berbunyi. itu artinya dia tidak menerima pesan dari siapapun.


(kalau mereka semua menerima pesan lantas kenapa dia tidak memeriksa ponselnya dan hanya berdiam diri) batin Mahesa mulai mencurigai sesuatu


"apakah ponsel kamu mati...?" Mahesa bertanya kepada salah satu squad 010


"hah...?" dia kaget dan bingung atas pertanyaan Mahesa


"apa kamu tidak menerima pesan dari nomor itu, saya lihat kamu tidak memeriksa ponselmu" ucap Mahesa


semua orang mengalihkan pandangan ke arah orang itu. mereka menatapnya meminta penjelasan.


"ah itu....maaf pak ponsel saya lobet. saya belum sempat mengisi baterainya tadi" jawabnya memberikan penjelasan


ia merogoh ponselnya yang ia simpan di kantung celananya dan memperlihatkan kepada Mahesa kalau keadaan ponselnya dalam keadaan mati total karena kehabisan baterai.


masih dalam keadaan curiga, Mahesa mendekatinya dan berniat mengambil ponsel itu. namun saat di dekatnya, satu hal yang Mahesa rasakan.

__ADS_1


(tunggu....kenapa harum tubuhnya seperti tidak asing bagiku) batin Mahesa


(wangi ini..... seperti.....parfum yang dikenakan psikopat itu)


__ADS_2