Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 65


__ADS_3

dua hari di rawat di rumah sakit, hari ini Danil diizinkan untuk pulang. sementara keadaan Olan yang cukup parah belum mendapat izin untuk pulang padahal dirinya ingin ikut pulang bersama yang lain.


Hana yang menjadi kekasihnya kini sedang menemaninya di rumah sakit. gadis itu begitu khawatir setelah mendapatkan kabar dari Mahendra kalau Olan masuk rumah sakit.


di dalam kamar, Mahendra sedang bersiap untuk pulang bersama yang lain. hanya ada Faiz dan Randi yang datang sedangkan Alan dan Riki berada di kost untuk menyiapkan makanan jika nanti ketiga teman mereka pulang.


"Faiz, kalian tunggu gue saja di lobi ya. gue mau ketemu bang Olan dulu mau pamit sekalian bilang entar sore baru kita jenguk dia lagi" ucap Mahendra


"Danil boleh ikut nggak bang. Danil juga ingin melihat keadaan bang Olan" ucap Danil yang meminta untuk ikut bersama Mahendra


"kalau begitu kita semua menjenguk bang Olan saja sebelum pulang" timpal Randi


"ya sudah, ayo kita ke ruangan rawatnya. sini biar gue yang pegang tas itu" Faiz mengambil tas ransel yang ada di tangan Mahendra dan kemudian memakainya di punggung


"tapi apa nggak sebaiknya kita lihat keadaan bang Zohir juga sekalian pamit sama dia" Danil memberikan saran


"boleh. kalau gitu kita ke kamar bang Zohir dulu lalu setelah itu kita ke bang Olan" Mahendra setuju


untuk administrasi telah di urus oleh Mahendra, kini mereka keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangan dimana tempat Zohir Olan di rawat. hanya keluar dan masuk ke kamar yang berada di samping kamar rawat Danil.


Zohir sedang disuapi makan oleh seorang gadis. melihat kedatangan squad 010, Zohir menghentikan makannya.


"elu sudah sehat...?" Zohir bertanya kepada Danil


"sudah bang, hari ini Danil pulang" Danil menjawab


"kami ke sini mau melihat keadaan abang sekalian mau pamit pulang. kapan-kapan kami akan menjenguk abang" ucap Mahendra


"terimakasih tapi nggak perlu repot-repot karena gue juga paling hanya beberapa hari udah mau pulang juga" timpal Zohir


setelah berbincang-bincang sebentar, mereka memutuskan untuk ke ruangan Olan. mereka pamit kepada Zohir dan juga gadis yang sedang duduk di sofa yang menyuapi Zohir tadi. namun belum sampai mereka di tujuan, ponsel Mahendra bergetar, Riki menghubungi dirinya.


"kalian pergi saja duluan, gue mau ngangkat telpon dari Riki dulu" ucap Mahendra


"ya sudah. ayo bang" Danil mengajak Faiz dan Randi sementara Mahendra mencari tempat nyaman untuk menerima panggilan Riki


Mahendra


halo Rik, ada apa


Riki


Hen, ada cewek yang nyariin bang Rahim


Mahendra


cewek...? siapa...?


Riki


nggak tau gue. dia sekarang di ruang utama, Alan yang menemani. apa mungkin pacarnya bang Rahim ya...?


Mahendra


terus elu ngomong apa sama dia


Riki


yaaa gue sama Alan belum ngasih tau yang sebenarnya. kami bilang tunggu elu sama yang lainnya pulang dari rumah sakit.


Mahendra


ya sudah kami juga akan pulang sebentar lagi.


Riki


jangan lama-lama ya


Mahendra


iya


Mahendra mematikan panggilan, ia nampak berpikir siapa perempuan yang mencari Rahim itu. baru hendak melangkah, sebuah pesan masuk di ponselnya.


Maureen : kamu dimana...?


Mahendra langsung membalas pesan dari gadis itu.


Mahendra : rumah sakit sayang


Maureen : kamu sakit...? kok nggak bilang-bilang. aku ke sana sekarang


Mahendra : nggak usah, bukan gue yang sakit tapi Danil dan kami sudah mau pulang. sayang, kamu jangan kemana-mana kalau nggak ada hal yang penting ya, bilangin juga sama Selda, kalian berdua jangan keluyuran


Maureen : memangnya kenapa sayang...?


Mahendra : nanti aku hubungi kamu baru aku jelaskan. untuk sekarang patuhi apa yang aku katakan ya


Maureen : iya sayang


Mahendra tersenyum membaca pesan dari kekasihnya itu. baginya Maureen adalah gadis yang tidak sulit diatur dan sangat patuh dengan apa yang ia katakan.


sebenarnya Mahendra ingin memberitahu tentang hilangnya Robi, namun ia berpikir sekarang bukanlah waktu yang tepat. dirinya harus bertemu secara langsung dengan Maureen dan juga Selda agar mereka tidak begitu panik.


Mahendra kembali menyusul teman-temannya ke ruangan Olan.

__ADS_1


Mahesa sedang menuju ke rumah pak Nandar untuk menjemput Damar. beberapa hari di rawat di rumah itu, keadaan Damar kini sudah membaik dan dirinya menghubungi Mahesa untuk menjemputnya.


sementara itu Zulfikar dan Cakra ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab yang dilakukan oleh dokter Anwar.


sebenarnya hanya Zulfikar seorang yang akan pergi namun Mahesa meminta Cakra untuk menemani karena ia tidak ingin kejadian mengenai Angga satu tahun lalu terulang lagi akibat bukti yang diambilnya di rumah sakit.


Damar sedang bercakap-cakap dengan pak Nandar dan istrinya di ruang tamu. Zakyas dan Akira pun ada di rumah.


"terimakasih banyak pak, bu, sudah mengizinkan saya tinggal di sini. kebaikan bapak dan ibu sungguh saya tidak bisa membalasnya dengan apapun juga" ucap Damar


"sama-sama nak Damar. melihat kamu sehat kami semua ikut senang. semoga setelah ini kejadian kemarin tidak akan nak Damar alamai lagi" pak Nandar menjawab


"in shaa Allah saya akan lebih berhati-hati dan menjaga diri. ini....ada sedikit rejeki buat keluarga bapak dan ibu" Damar mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya kepada ibu Masni


"eh jangan nak jangan. kami ikhlas membantu kamu, kami sama sekali tidak mengharapkan imbalan" ibu Masni menolak, ia tidak ingin mengambil uang dari yang Damar berikan


"bu, saya tau kalian ikhlas tapi saya juga ikhlas memberikan ini. anggap saja ini rejeki dari Allah buat bapak dan ibu, tolong diterima. saya akan bersedih jika bapak dan ibu tidak ingin menerimanya" Damar tetap memberikan uang amplop itu ke tangan ibu Masni


"bukankah ibu ingin mendirikan usaha warung makan. pakailah uang ini untuk membangun usaha itu. jika ibu tidak ingin mengambil dengan cuma-cuma maka cara pengembaliannya gampang kok. setelah ibu membangun warung makan, cukup izinkan saya makan gratis di tempat itu. bagaimana...?" Damar menatap penuh harap wajah ibu Masni


"pak, bagaimana ini...?" ibu Masni melihat suaminya


"kalau nak Damar ikhlas maka terima saja. kita doakan rejekinya bertambah dan selalu dilindungi yang Maha Kuasa" ucap pak Nandar


"aamiin" Damar mengaminkan doa pak Nandar


Arika dan Zakyas hanya menjadi penonton. bagaimana pun juga mereka tidak bisa melarang Damar untuk melakukan hal itu.


"assalamualaikum" seseorang mengucapkan salam


"wa alaikumsalam. nak Mahesa, mari silahkan masuk" ibu Masni mempersilahkan Mahesa yang baru saja datang untuk masuk ke dalam rumah


Mahesa melangkah dan duduk di samping Damar. ia melempar senyum ke arah Zakyas dan juga Akira.


"kira, buatkan minum untuk pak Mahesa" ibu Masni menyuruh anaknya


"tidak usah bu, saya juga tidak akan lama. saya hanya datang untuk menjemput Damar" Mahesa menolak


"kenapa buru-buru sekali...?" tanya pak Nandar


"ada tugas yang harus kami kerjakan pak dan itu tidak bisa ditunda" jawab Mahesa


"tentang pembunuhan berantai ya pak...?" Zakyas bertanya


"iya, kami harus bergegas menemukannya sebelum ada korban yang jatuh lagi" Mahesa melihat ke arah Zakyas. saat itu tatapan matanya bertemu dengan mata Akira. Mahesa melempar senyum sementara Akira mengangguk kecil dengan senyuman


"kalau begitu kami berdua pamit dulu pak bu. jika ada waktu kami akan datang lagi untuk berkunjung" Damar akhirnya berpamitan


"iya. kalian berhati-hatilah" ucap pak Nandar


"terimakasih banyak dokter" ucap Damar


"sama-sama mas, melihat kamu sehat itu membuat saya senang" Akira memanggil Damar dengan panggilan mas karena itu adalah permintaan Damar yang tidak ingin dipanggil bapak polisi


setelah berpamitan Mahesa dan Damar menuju ke mobil mereka. keluarga pak Nandar mengantar keduanya sampai di depan rumah.


Mahesa membunyikan klakson mobilnya dan Damar melambaikan tangan. perlahan mobil Mahesa bergerak meninggalkan rumah yang bercat abu-abu itu.


"kita langsung ke kantor saja Hes"


"elu memangnya udah benar-benar pulih...?'


"udah, hanya saja perban di kepala gue yang belum bisa di buka. itu pesan dokter Akira tadi. eh tapi ya Hes, ngomongin tentang dokter Akira kayaknya dia suka deh sama elu"


"ngaco lu"


"bukan ngaco Hes tapi memang benaran. sejak tadi elu datang gue memergoki dia melihat terus ke arah elu"


"kita kan satu tempat duduk, bisa saja dia sedang menatap elu"


"kalau dia natap gue harusnya matanya mengarah ke gue bukan ke elu"


"hanya perasaan elu sajalah. mana mau dia dokter yang cantik begitu sama gue yang wajah pas-pasan gini. sepertinya kepala elu benar-benar belum sembuh"


"dibilangin juga nggak percaya banget sih. gue tikung baru tau rasa"


Mahesa hanya tertawa pelan dan menggeleng kepala. baginya perkataan Damar tadi hanyalah gurauan saja.


"Angga masuk rumah sakit" Mahesa memberitahu


"kenapa...? apa yang terjadi padanya...? kenapa nggak memberitahuku...? Damar panik seketika


"nah ini gue lagi ngasih tau elu"


"Angga kenapa...?"


"dicelekai sama psikopat itu"


"brengsek. siapa sih sebenarnya bajingan itu. gue berharap dia mati mengenaskan" Damar mulai emosi


"tenanglah, sebentar lagi kita akan tau siapa pembunuhnya" Mahesa tersenyum misterius


di rumah sakit, Olan tetap memaksa untuk ikut pulang. dirinya meminta Hana untuk mengurus kepulangannya. mau tidak mau Hana melakukannya meskipun sebenarnya ia khawatir dengan kondisi kekasihnya itu jika tidak lagi di rawat di rumah sakit.


Hana keluar untuk bertemu dokter yang menangani Olan sementara squad 010 masih berada di tempat itu.

__ADS_1


"abang yakin mau pulang...?" tanya Randi


"yakin. elu kan tau gue nggak suka bau rumah sakit. makin lama berada di sini gue makin stres" jawab Olan yang sedang terbaring di ranjang


"tapi kan abang belum sehat total. kalau abang kenapa-kenapa gimana...?" Danil ikut khawatir


"gue nggak selemah itu Dan, tenang saja" Olan tersenyum menatap mereka semua


"bang, gimana keadaan bang Rahim, bang Iyan sama Robi...?" pada akhirnya Mahendra mempertanyakan hal yang sejak kemarin ingin ia tanyakan. mendengar pertanyaan Mahendra, yang lain memasang kuping dan wajah yang serius


"gue nggak tau keadaan mereka. pas sadar gue sudah di dalam ruangan yang sempit dan cahaya yang remang-remang. gue di siksa di tempat itu, untungnya gue berhasil kabur" jawab Olan


"abang nggak tau dimana tempat itu...?" tanya Randi


"nggak, tapi jauh dari keramaian. hampir saja gue ditangkap saat melarikan diri, untung saja gue bersembunyi di mobil pickup yang membawa barang"


"lalu kenapa abang nggak langsung ke rumah sakit waktu itu...?" Faiz bertanya


"karena mobil itu berhenti di dekat kos-an kita, jadi gue memilih untuk ke kos. namun ternyata nggak ada orang. untungnya waktu itu ada elu, jadi gue langsung ke kamar elu"


"gimana abang tau kalau gue ada di kos. kamar gue kan di atas bang dan gue kunci" Faiz masih tetap ingin menyelidiki bagaimana cara Olan masuk ke dalam kamarnya


"elu nggak kunci kamarnya Iz, makanya gue bisa masuk. kalau elu kunci bagaimana bisa gue masuk. gue nggak punya ilmu menembus dinding, dan gue tau elu di kos karena suara air dimana elu lagi mandi di kamar mandi" Olan menjelaskan dengan tenang


(apa iya gue nggak kunci pintunya, tapi perasaan waktu itu gue kunci sebelum masuk ke dalam kamar mandi) batin Faiz yang lagi-lagi masih kekeuh dengan ingatannya


"lalu abang tau siapa pelakunya...?" tanya Mahendra


belum sempat menjawab, Hana sudah kembali dengan seorang dokter. dokter itupun memeriksa keadaan pasiennya.


"harusnya mas Olan belum bisa pulang" ucap sang dokter saat memeriksa keadaan Olan


"saya sudah merasa baikan dokter" Olan tersenyum saat dokter itu melihat dirinya


"apa masih merasa pusing...?"


"tidak dok, pusing yang saya rasakan kemarin sudah tidak ada lagi"


"maaf ya saya angkat dulu bajunya" dokter itu mengangkat baju Olan untuk melihat luka-luka yang ada di perutnya. Olan juga di suruh bangun dan duduk agar dokter dapat menyingkap bajunya ke atas untuk melihat luka di punggungnya


"astaghfirullah, bang Olan lukanya banyak banget" Danil meringis melihat semua luka yang dialami oleh Olan


"dalam keadaan kamu yang seperti ini, lebih baik jangan dulu pulang. bukannya saya melarang hanya saja kesembuhan pasien itu adalah nomor satu bagi kami. bagaimana jika tinggal lagi beberapa hari. jika luka-lukanya sudah mulai mengering, kamu akan saya perbolehkan untuk pulang" dokter mengatasi hal itu setelah Olan berbaring kembali


"tapi saya harus pulang dok, abang dan adik saya menunggu. mereka harus kami jemput" Olan tetap bersikukuh untuk pulang


"sayang, bagaimana kamu bisa menjemput mereka kalau keadaan kamu seperti ini. patuh untuk kali ini ya" Hana mendekat dan mengusap lengannya


"ini untuk kebaikan kamu juga" lanjut Hana


dengan berat hati akhirnya Olan mengangguk dan setuju. dokter itupun tersenyum senang.


setelah memeriksa keadaan Olan, dokter itu keluar dari ruangan tersebut. di saat yang sama Zulfikar dan Cakra baru saja kembali dari ruangan dokter Anwar untuk mengambil hasil lab yang mereka lakukan.


"dokter Akira" Zulfikar menyapa wanita itu


"pak Zulfikar, pak Cakra, kalian di sini...?" Akira tersenyum ramah


rupanya dokter yang menangani Olan adalah Akira, wanita yang merawat Damar di rumahnya.


setelah kepulangan Mahesa dan Damar tadi, dokter Akira pun pamit kepada orang tuanya untuk ke rumah sakit menjalankan tugasnya.


"iya dok, kami baru saja bertemu dokter Anwar dan sekalian mau menjenguk Angga" Cakra menjawab


"Angga yang polisi itu ya...?"


"iya dok, dia dirawat di sini karena musibah" jawab Zulfikar


"kalau begitu mari kita ke ruangannya bersama-sama. saya juga ingin memeriksa keadaannya"


"loh bukannya yang menangani Angga adalah dokter Naura...?"


"memang seperti itu namun karena dokter Naura sedang ke luar kota mengisi seminar jadi tugasnya dilimpahkan kepada saya"


Zulfikar dan Cakra manggut-manggut kemudian mereka bertiga melangkah ke kamar rawat Angga.


di dalam, Angga belum juga sadarkan diri. Akira segera melakukan pemeriksaan sedang kedua polisi tadi hanya memperhatikan.


"bagaimana keadaannya dok...?" tanya Zulfikar


"sudah mulai stabil, semoga saja secepatnya dia akan sadar" Akira menjelaskan hasil dari pemeriksaannya


"syukurlah, semoga elu cepat bangun ya Ngga"


setelah melihat keadaan Angga, Zulfikar dan Cakra akan kembali ke kantor polisi. mereka telah menerima pesan dari Mahesa bahwa dirinya dan Damar telah berada di kantor menunggu mereka.


sementara itu di kamar Olan, laki-laki itu yang tidak diizinkan untuk pulang hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"gue benar-benar akan membunuhmu Yan kalau elu menyakiti mereka" Olan membentuk tinju di tangannya


"maksud abang apa...?" Mahendra bertanya karena ia mendengar apa yang dikatakan oleh Olan


"Iyan adalah dalangnya, dia pelakunya"


pengakuan Olan membuat mereka semua terkejut, tentu saja. laki-laki yang baiknya sama seperti Wili, humoris dan penolong ternyata adalah seorang psikopat.

__ADS_1


__ADS_2