
"lu benar-benar brengsek, bangsat lu" Damar begitu geram dengan kelakuan manusia yang ada di depannya
"baru tau lu kalau aslinya gue memang seperti ini" jawabnya dengan tanpa rasa bersalah
jangan harapkan bela kasih dari sang pembunuh berdarah dingin, aslinya mereka sangat bahagia melihat korbannya begitu menderita.
"elu harusnya membusuk di neraka, manusia seperti lu nggak pantas hidup"
"banyak bacot lu"
bughhh
bughhh
aaaggghh
laki-laki itu menendang tubuh Damar dengan kerasnya membuat Damar mengerang sakit. kepala Damar diinjak dengan kaki laki-laki.
"kalau seandainya elu nggak berani macam-macam, semuanya nggak akan seperti ini Dam. sayangnya gue nggak akan membiarkan elu membongkar semua identitas gue"
Damar yang lemah sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kepala, mulut dan hidungnya telah mengeluarkan darah segar. melawan pun percuma karena dirinya sudah tidak mempunyai tenaga sama sekali.
"biasanya gue hanya membunuh para wanita tapi kali ini sepertinya prinsip gue akan berubah haluan. siapapun yang mengusik gue tentu harus menerima akibatnya, dan lu" ia menarik rambut Damar sehingga Damar dengan menahan sakit melihat wajah sang pembunuh dengan begitu jijik
cuih.... Damar meludahi wajah laki-laki yang sudah ia anggap saudara itu. Damar pikir laki-laki itu adalah orang yang begitu baik namun nyatanya dia adalah iblis bertopeng Malaikat.
"elu bisa bunuh gue, tapi lihat saja nanti. sebaik-baik bangkai disembunyikan pasti akan tercium juga" Damar tersenyum mengejek meskipun sakit luar biasa yang dia rasakan
"brengsek"
bughhh
bughhh
bughhh
jleb
ughh
pisau tajam menusuk perut Damar. melihat penderitaan yang dialami Damar, laki-laki itu begitu puas dan tertawa.
Damar akhirnya sudah tidak bergerak lagi. darah segar menggenangi aspal jalan. dengan tersenyum puas, dirinya berjongkok dan menatap wajah Damar yang sudah babak belur.
"kasian sekali nasibmu kawan, ck ck ck"
Mahendra baru saja tiba di tempat tujuannya. teman-teman kampusnya sudah berkumpul, rupanya di sana ada juga Viona, gadis itu ingin mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Mahendra dan yang lainnya.
Viona yang melihat Mahendra datang langsung tersenyum senang, ia kemudian menghampiri Mahendra yang sedang membuka helmnya.
"hai Hen" sapa Viona
"loh Vi, ngapain lu di sini...?" tanya Mahendra
"emang nggak boleh ya gue ikut acara kalian...?" tanya Viona memasak wajah sedihnya
"yaaa nggak gitu, gue hanya kaget aja elu ada di sini"
"kalau gitu kita masuk yuk" Viona merangkul lengan Mahendra
sedangkan Maureen dan Selda saat melihat Viona menempel pada Mahendra membuat kedua gadis itu jengah.
"kesal banget tau nggak gue, kalau lihat si ulat bulu itu cari perhatian lagi sama Mahendra" ucap Selda
"udah selingkuh eh tiba-tiba minta balikan. dan lebih parahnya dia nggak satu kali loh jalan sama cowok lain. Mahendra juga nggak tegas banget sih jadi cowok. nggak tau apa bagaimana mantannya itu. pengen banget gue cekik lehernya" lanjut Selda
"tenang aja, gue punya cara ampuh untuk menyingkirkan si ulat bulu dari sahabat kita. gue juga nggak rela Mahendra yang baik banget malah dapat cewek kegatelan kayak Viona" timpal Maureen
"caranya gimana...?" Selda menatap Maureen meminta jawaban
Maureen membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya itu. setelah itu terukir senyuman di bibir keduanya.
"boleh juga tuh ide lu" ucap Selda
"gue udah mempraktekkannya kali waktu kita mau nongkrong di kafe tapi elu malah jalan sama gebetan" timpal Maureen
"seriusan...? elu kok nggak cerita ke gue sih"
"cerita apa sih...?" Robi datang menghampiri mereka
"ada deh. kuy kalian lihat gue beraksi" ucap Maureen saat Mahendra dan Viona mendekat ke arah mereka
"beraksi...?" Robi menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Viona bergelayut manja di lengan Mahendra, bahkan saat mereka telah semakin dekat dengan ketiga sahabat Mahendra, gadis itu tampak tidak melepaskannya rangkulannya. ia bahkan menatap Maureen dengan senyum ejekan. sayangnya saat mereka telah sampai di ketiganya, Maureen melepas tangan Viona dan mengambil alih tubuh Mahendra.
"sayang" sapa Maureen dengan senyum manisnya dan menggenggam tangan Mahendra
Mahendra mengangkat alisnya, heran dengan sikap sahabatnya itu. sudah dua kali Maureen bersikap seperti itu padanya dan ia tidak tau apa yang membuat Maureen berubah seperti itu.
(oh, jadi ini yang dibilang mau beraksi) batin Robi tersenyum
(hebat juga akting lu Reen, tingkatkan daaah) Selda mengedipkan sebelah matanya ke arah Maureen dan Maureen membalas kedipan sahabatnya itu
"aku kira kamu bakalan telat lagi kayak waktu lalu" ucap Maureen membuat Mahendra semakin heran pasalnya Maureen sekarang memanggil dirinya dengan panggilan kamu, bukan seperti biasanya
"yank...kok bengong sih" Maureen memegang bahu Mahendra
"eh...eemmm pengen datang cepat aja" jawab Mahendra
"elu kenapa...? kesambet ya...?" bisik Mahendra di telinga Maureen
melihat Mahendra berbisik di telinga Maureen membuat Viona semakin kesal. sedang Robi dan Selda hanya menjadi penonton.
"woi udah mau mulai, ayo siap-siap" salah satu teman mereka memberitahu
"ayo Hen" Viona mengajak Mahendra dan berniat memegang tangannya namun Maureen dengan cepat menepisnya
"elu nggak liat ada gue pacarnya di sini, ngapain lu megang tangan cowok gue" Maureen menatap tajam ke arah Viona
__ADS_1
"ayo sayang" Maureen menarik Mahendra meninggalkan Viona seorang diri. Mahendra menurut saja kepada Maureen, ia hanya melihat sekilas ke arah Viona. meskipun sebenarnya tidak bisa dibohongi kalau perasaan Mahendra masih ada untuk gadis itu namun mengingat penghianatan yang dilakukan Viona membuat hatinya enggan untuk mengiba.
permintaan Viona untuk kembali merajut cinta pada akhirnya sampai sekarang Mahendra belum pernah menjawabnya.
"aaaggghh, cewek sialan. awas aja lu" Viona mengeram kesal
kegiatan yang mereka lakukan adalah membagi-bagikan sembako kepada yang membutuhkan. mereka membentuk kelompok untuk menyebar di beberapa titik.
Mahendra tetap berada di tempat jalan cendrawasih karena dirinya akan menunggu Damar. sesekali Mahendra melihat jam tangannya, namun Damar belum juga memunculkan diri.
"kamu kenapa sih yank, dari tadi liatin jam tangan mulu" tanya Maureen masih dengan aktingnya yang bagus karena Viona tidak pernah ingin jauh dari Mahendra sehingga Maureen pun semakin menempel pada Mahendra
"gue lagi tunggu Damar tapi sampai sekarang dia belum datang juga" jawab Mahendra
"kena macet mungkin" jawab Maureen
"mungkin juga kali ya, tapi ini udah jam segini masa iya dia belum nongol juga" Mahendra mencoba menghubungi Damar namun nomor temannya itu tidak aktif
"nggak aktif lagi" ucap Mahendra
"palingan juga lagi di jalan, nggak usah cemas" Viona mendekat dan mengelus bahu Mahendra
Maureen yang melihat itu memutar bola matanya, sungguh gadis yang bersama mereka adalah gadis yang tidak tau malu, pikirnya. namun bukan Maureen namanya kalau tidak membuat Viona kesal dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Maureen menarik kasar tubuh Viona dan menggantikan gadis itu merangkul lengan Mahendra.
"sorry ya, jadi cewek itu punya malu dikit. udah tau dia cowok gue ngapain elu dekatin terus. mending sama pacar baru lu sana, si Marvin" Maureen menatap sinis ke arah Viona
"Marvin...?" Mahendra mengernyitkan keningnya
"iya, kamu nggak tau ya sayang kalau mantan kamu ini udah punya gebetan baru lagi namanya Marvin, mahasiswi Hukum" jawab Maureen
"bukannya elu bilang lagi nggak dekat siapa-siapa Vi setelah putus sama Mario...?" Mahendra menatap tajam ke arah Viona. Mario adalah laki-laki yang pernah Mahendra lihat di restoran bersama dengan Viona
"nggak Hen, elu jangan percaya sama dia" Viona mulai gugup
"aku nggak asal bicara sayang, aku punya kok buktinya" Maureen mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan foto yang diambil diam-diam olehnya saat ia melihat Viona dan Marvin sedang berkencan. bahkan dalam beberapa foto itu mereka tampak mesra
"dan satu lagi, dia juga jalan sama cowok lain selain Marvin. gue nggak tau siapa orangnya soalnya pakaiannya tertutup banget bahkan pakai masker" Maureen memperlihatkan foto yang lainnya
"elu ngebuntuti gue" Viona meninggikan suaranya
"idih pd banget lu, gue nggak sengaja liat kali. yank, cewek kayak gini yang masih elu harapkan. gue sayang sama elu itu tulus, daripada dia banyak bohongnya" Maureen menatap teduh mata Mahendra
tatapan keduanya saling bertemu, baru kali ini mereka bertatapan sedekat itu selama mereka bersama sebagai sahabat. Mahendra mengalihkan pandangannya ke arah Viona dengan perasaan kecewa.
"gue bisa jelasin Hen, semuanya nggak seperti yang elu pikirkan" Viona mulai mendrama
"nggak habis pikir gue Vi, elu ternyata cewek murahan" dengan perasaan kecewa Mahendra mengeluarkan kata-kata kasar untuk didengar.
dianggap murahan adalah hal yang sangat memalukan untuk seorang wanita
"gue cintanya sama elu Hen, mereka hanya...."
"hanya apa...? hanya mainan elu, itu yang mau elu jelaskan...? munafik lu"
"lu menjijikkan tau nggak Vi"
deg...
"Hen" Viona mulai menangis
tanpa banyak kata Mahendra menggenggam tangan Maureen dan meninggalkan Viona. keduanya menghampiri Robi dan Selda yang masih membagi-bagikan rejeki kepada yang membutuhkan.
"cie....tuh tangan nggak mau lepas aja dari tadi" goda Robi
Mahendra melihat ke bawah, ia pun melepaskan tangan Maureen dan duduk di tepi jalan. selain memikirkan perasaan kecewanya, ia juga memikirkan Damar. entah mengapa perasaannya tidak enak mengenai teman satu kostnya itu.
"udah selesai nih, mau langsung pulang atau kita cari makan dulu" ucap Selda
"sholat isya aja dulu deh baru setelah itu cari makan" jawab Maureen
"ok lah, di sana ada masjid, kita ke sana saja" ucap Robi
"sayang ayo" panggil Maureen kepada Mahendra
Mahendra menghela nafas dan berdiri kemudian mendekati Maureen yang sedang menunggunya.
"elu sengaja jadi pacar gue karena mau membuat cemburu Viona kan...?" ucap Mahendra. Robi dan Selda sudah lebih jalan duluan
"gue nggak suka saja elu masih terus didekati sama dia padahal dia udah punya cowok lain" Maureen melihat ke arah Viona yang sedang memperhatikan mereka berdua
"thanks ya Reen, elu udah memberitahu gue. elu emang sahabat penyelamat gue" Mahendra tersenyum hangat
"woi, mau sampai kapan berduaan di situ, ayo buruan" Robi memanggil mereka
"oke" jawab Mahendra
Mahendra merangkul bahu Maureen dan menyusul kedua sahabat mereka.
(andai elu tau Hen kalau dari dulu gue memang udah suka sama elu) batin Maureen
setelah sholat isya mereka mencari warung makan terdekat. Mahendra sampai sekarang masih terus menghubungi Damar namun sampai saat ini juga nomor laki-laki itu belum juga aktif. sudah menunjukkan pukul 21.00, karena khawatir Mahendra mengirim pesan ke grup chat penghuni kost 010.
Mahendra : ada Damar nggak di kost...?"
Rahim : bukannya mau ketemu elu ya...?"
Olan : nggak tau gue, soalnya gue diluar
Kevin : nggak ada, belum pulang dari tadi
Wili : gue di luar, nggak tau gue
Mahendra : rencana sih mau ketemu gue, tapi sampai sekarang dia belum datang juga
Randi : udah hubungi dia...?
Mahendra : udah tapi nomornya nggak aktif
__ADS_1
Rahim : mungkin sama teman-teman kampusnya yang lain.
Mahendra : mungkin juga. oh iya gue pulang nanti kalian mau pesan apa...?
Randi : bakso Hen
Alan : martabak bang, seperti biasa
Wili : nanti gue yang beli martabak
Alan : bang Wili memang the best 🤗🤗
Olan : nggak ada yang mau pesan sama gue...?
Iyan : kopi aja bang Lan,
Olan : okeh...
Mahendra menyimpan ponselnya ke dalam kantung celananya.
"udah ada kabar dari Damar...?" tanya Maureen
"belum, mungkin dia nggak jadi datang" jawab Mahendra
"lobet kali ponselnya jadi nggak bisa hubungi elu untuk memberitahu" timpal Selda
"mungkin saja" angguk Mahendra
setelah makan mereka bersiap pulang. Robi mengantar Selda sedang Mahendra mengantar Maureen. untuk Viona, gadis itu sudah tidak di tau apakah dia sudah pulang atau belum, Mahendra tidak ingin lagi berurutan dengannya.
setelah sampai di rumah Maureen tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. terpaksa Mahendra berteduh sejenak sambil menunggu hujan redah.
"masuk Hen" ajak Maureen
"thanks"
keduanya masuk ke dalam rumah yang cukup besar, penghuni rumah sepertinya sudah beristirahat di kamar masing-masing.
"mau minum nggak, kopi atau teh...?"
"nggak deh, udah minum juga tadi"
"kalau gitu tunggu bentar ya, gue ganti baju dulu"
"oke"
Maureen meninggalkan Mahendra di ruang tamu dan tidak lama dirinya kembali lagi dengan pakaian yang berbeda.
"elu biar nggak makai make up tetap cantik aja" puji Mahendra
"oh ya, cantik siapa gue sama Viona...?" Maureen menaik turunkan alisnya
"dua-duanya" jawab Mahendra
"tapi lebih cantik sahabat gue ini" ucap Mahendra tulus
"kalau gue cantik, kenapa elu nggak punya perasaan apapun sama gue" Maureen menatap sendu ke arah Mahendra
"jelas gue punya perasaan, perasaan sayang ke seorang sahabat" jawab Mahendra
"apa hanya sebatas itu, elu anggap gue Hen...?"
"maksud elu...?"
"gue...gue sayang sama elu lebih dari sahabat Hen"
Maureen memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. sudah saatnya ia mengutarakan apa yang ia rasakan karena semakin ia pendam perasaan itu akan semakin meledak dan dirinya sudah tidak sanggup untuk menahan terlalu lama.
belum menjawab ponsel Mahendra berbunyi, dan ternyata Rahim yang menghubunginya.
📞 Mahendra
assalamualaikum, ada apa bang...?"
📞 Rahim
elu pulang Hen, cepatan pulang. terdengarlah suara serak di sebrang sana bahkan ada suara tangisan
📞 Mahendra
memangnya kenapa bang, ada apa...?" Mahendra sudah diliputi rasa cemas
"bang Damaaaar" terdengar suara teriakan Alan
📞 Mahendra
bang, Damar kenapa bang, ada apa...? Mahendra mulai panik
📞 Rahim
Damar..... Damar meninggal Hen...hiks...hiks...damar meninggal
deg
deg
deg
📞 Mahendra
a-apa...?
Mahendra menjatuhkan ponselnya, air matanya mulai mengalir deras. seketika kepalanya mulai pusing bahkan kini penglihatannya terasa gelap.
"Hen, ada apa...?" Maureen memegang bahu Mahendra
"gue pulang dulu Reen"
tanpa menunggu jawaban Maureen, Mahendra segera keluar dari rumah gadis itu. hujan di luar belum juga reda namun Mahendra tidak memperdulikan itu. ia melaju motornya dengan sangat kencang, pikirannya sangat kacau dan berharap apa yang disampaikan Rahim adalah sesuatu yang tidak benar.
__ADS_1