
"dari tadi ponsel lu bunyi terus tuh" ucapnya saat Mahendra telah kembali dari toilet
Mahendra mengambil ponselnya dan memeriksa pesan yang dikirim oleh Maureen.
Mahendra : besok kita bertemu
Maureen : iya
Mahendra tidak lagi membalas pesan Maureen. dirinya ikut bernyanyi saat semua teman-temannya mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Damar.
"bosan nih dari tadi nyanyi Mulu. gimana kalau kita main ini aja" Randi mengambil sebuah botol yang tidak jauh darinya
"untuk apaan...?" tanya Alan
"kita putar botol ini, dimana kepala botol ini berhenti maka dia yang akan menjawab pertanyaan atau menerima tantangan dari yang memutar botol" jawab Randi
"humm bolelah, kayaknya seru" ucap Iyan
"oke kita mulai"
Randi mengambil papan yang ada di dekat Kevin sebagai pengawas botol itu akan mudah untuk berputar.
Randi pun memutar botol tersebut dan kepala botol itu berhenti tepat di hadapan Olan
"bang Olan pilih pertanyaan atau tantangan...?" tanya Randi
"pertanyaan aja lah" jawab Olan
"siapa gadis teman kencan bang Olan kemarin malam...?" tanya Randi
"elu kayaknya pengen tau banget deh Ran" ucap Faiz
"hehehe, kapan lagi bertanya secara langsung seperti ini" Randi terkekeh
"nyesal gue pilih pertanyaan" cebik Olan
"jawab dong bang, malah diam aja" ucap Randi
"dia anak kuliahan" jawab Olan singkat.
"namanya...?" tanya Randi.
"elu kan tadi nggak menanyakan namanya, jadi ya nggak harus gue sebut" jawab Olan
"lah ini sekarang gue nanya"
"itu nggak termasuk pertanyaan elu tadi ya"
"ck, curang banget" cebik Randi
"Anda belum beruntung, harap coba kembali" Wili menjulurkan lidah ke arah Randi
"diam lu" Randi berdecak kesal
kini botol itu kembali diputar dan sekarang kepala botol itu berhenti di depan Rahim.
"Alan yang ngasih pertanyaan buat bang Rahim" ucap Alan dengan cepat
"semangat banget elu Al" ucap Mahendra
"hehehe, pertanyaannya itu adalah...."
"gue belum milih kali Al, pertanian atau tantangan" Rahim memotong ucapan Alan
"oh iya, oke sekarang Abang pilih yang mana...?" tanya Alan
"perawan atau janda" celetuk Randi
buuuk
karena gemas dengan kelakuan Randi, Damar langsung menggeplak kepala anak itu.
"sakit tau" Randi meringis
"itu mulut kenapa sih Ran, di rem dikit napa" ucap Damar
"remnya blong bang, jadi harap maklum" ucap Danil
"nggak pernah sekolah mulut gue, jadinya ya begitu" timpal Randi
"udah ah, kok malah bahas bang Randi sih. ayo bang Rahim pilih yang mana...?" tanya Alan lagi
"pertanyaan" jawab Rahim
"Alhamdulillah" Alan mengucap syukur
"lah, kenapa nih anak" Olan terheran
"hehehe, abis Alan mau tanya sesuatu sama bang Rahim. jadi pertanyaannya adalah siapa nama kekasih bang Rahim sekarang, orang mana dan sekarang tinggal dimana..?"
"wuidih...lengkap bener kayak mie instan campur telur" celetuk Kevin
"tambahkan jeruk dan sambal enak bet dah itu" ucap Mahendra
"gue nggak punya pacar" jawab Rahim singkat
"bohong, waktu lalu Alan pernah ya baca pesan yang masuk di ponsel abang. isi pesannya seperti ini. hai sayang, selamat beraktivitas ya" Alan mematahkan jawaban Rahim
"wah parah lu Al, gue aja nggak pernah loh baca pesan bang Rahim" Wili menanggapi
"nggak sengaja bang, mata Alan kepeleset makanya nggak sengaja Alan baca" jawaban Alan membuat mereka semua menyorakinya
"gigi lu, kepeleset" Olan menjitak kening Alan
"jawab bang, malah senyum-senyum nggak jelas" ucap Alan
"gue nggak punya pacar Alan, itu hanya pesan dari teman saja" Rahim menjawab datar
"ah Abang mah nggak asik, kaku banget kayak es balok" Alan menggerutu
"oke Abang jawab. namanya Maharani, seorang mahasiswi kedokteran" Rahim mengungkapkan identitas kekasihnya
"wah Daebak, Abang benaran punya pacar...?" Randi begitu takjub
"dia kan normal daripada elu" cibir Kevin
"kampret lu" Randi memukul lengan Kevin
"oke lanjut"
botol kembali di putar dan kini berhenti di depan Wili.
"gue pilih tantangan" ucap Wili
"Danil yang kasih tantangan" Danil angkat tangan
"silahkan Dan" Wili mempersilahkan Danil memberikan tantangan untuknya
"Abang Wili harus pergi merayu kedua bencong sana" Danil menunjuk dua bencong yang sedang duduk bersama di salah satu gazebo
"iw, amit-amit...ganti deh ganti" Wili merinding melihat mereka
"nggak ya, nggak boleh. orang elu udah pilih tantangan kok" Mahendra tidak mengizinkan
__ADS_1
"ya tantangannya yang diganti, masa iya gue ngerayu bencong sih" Wili tetap tidak terima
"buktikan kalau elu laki Wil" Rahim ngakak seketika
"udah sana" Faiz mendorong tubuh Wili agar segera mendekat kedua bencong itu
(astaga, yang benar aja) Wili geregetan sendiri
dengan terpaksa Wili mendekat targetnya, dia dengan senyuman menawan dan bermodalkan wajahnya yang tampan mulai mendekati kedua bencong itu.
"Hay, berdua aja nih" sapa Wili dengan sopan
"nggak, kami bertiga dengan yey" salah satu dari mereka mengedipkan mata ke arah Wili
"hahahaha" Mahendra tidak dapat menahan tawanya
(awas saja kalian ya) geram Wili dalam hati
"boleh aku duduk di sini...?" tanya Wili
"boleh boleh, mau duduk dipangkuan aku juga boleh"
"hehehe, di sini aja lebih nyaman" Wili duduk sedikit jauh dari mereka
"boleh kenalan nggak...?" ucap Wili
"boleh dong. aku Tini kalau teman aku ini namanya Rini" jawab Tini dengan genit
"kalau Abang, namanya siapa...?" tanya Rini
"aku... Dante" jawab Wili
"bang Dante ganteng banget sih" Tini merapat kepada Wili, seketika Wili mundur perlahan
"bang Dante kok sendirian aja...?" Rini beranjak dan duduk di samping Wili hingga jadilah kini dia berada di tengah-tengah keduanya
"iya, maklum nggak punya teman makanya sendirian" jawab Wili
"sama kita aja gimana, dijamin mah bang Dante nggak bakal rugi" Rini mengelus rahang Wili
(anjir...ini kok gue jadi bulan-bulanan mereka) Wili ingin sekali kabur dari tempat itu
"kalian berdua kok di sini malam-malam, apa nggak takut diapa-apain sama laki-laki hidung belang"
"kalau hidung belangnya bang Dante sih, Rini pasrah aja bang, aaah, bang Dante ganteng banget deh" tangan Rini mulai nakal
(kayaknya gue harus beraksi nih)
"tapi Tini juga cantik" Wili mengelus wajah Tini membuat Rini tidak suka
"Tini mending kamu masuk sana, aku mau berdua aja sama bang Dante"
"enak aja, kamu aja yang pergi. bang Dante kan bilang Tini cantik, berarti bang Dante mau sama Tini, iya kan" Tini bersandar di bahu Wili
"bang Dante punya aku, pergi sana kamu"
"heh, dia punya aku. kamu aja yang pergi
kedua bencong itu mulai bersiteru, itulah kesempatan Wili untuk melarikan diri. dengan cepat Wili meninggalkan mereka berdua dan kembali ke teman-temannya.
"gimana Wil, enak banget ya di elus pahanya" Damar menggoda
"kampret tau nggak kalian" Wili benar-benar kesal
"bang Dante.....kok malah pergi sih" kedua bencong itu berlari ke arah mereka
"mampus gue, kabur woi kabur"
pukul 11 malam mereka bergegas pulang. di tempat itu juga sudah semakin sepi, pengunjung yang lain sudah pulang sejak tadi.
tiba di kost, mereka langsung ke kamar masing-masing untuk istirahat. namun seseorang menghampiri kamar Mahendra dan mengetuknya.
"Hen, udah tidur ya" ucapnya
cek lek.
"ada apa...? elu belum tidur...?" Mahendra membuka pintu dengan mata mengantuk
"gue pinjam ponsel elu, mau telpon nyokap. dari tadi dia miscol Mulu tapi gue juga nggak punya pulsa"
"tunggu bentar" Mahendra mengambil ponselnya dan menyerahkan kepadanya
"gue telpon nyokap gue bentar aja ya"
"iya"
dia meninggalkan kamar Mahendra dan kembali ke kamarnya. setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia kembali lagi ke kamar Mahendra.
"cepat banget" ucap Mahendra
"udah tidur mungkin, nggak diangkat. thanks ya, maaf udah ganggu tidur lu"
"oke sip"
setelah mengambil ponselnya, Mahendra menutup pintu kamarnya kemudian temannya tadi kembali ke kamarnya dan menghubungi seseorang.
"siapapun yang berniat mengusikku, dia akan mati" ucapnya dengan tatapan tajam
Maureen yang mendapatkan telpon dari Mahendra langsung bangun dan berganti pakaian. sebenarnya dia merasa aneh kenapa Mahendra meminta bertemu dengannya saat malam larut seperti ini, apalagi dia menggunakan nomor baru. namun karena takut sesuatu yang penting, Maureen segera keluar dari rumah dan menuju jalan perempatan untuk menunggu Mahendra.
di kost 010, Kevin masih berada di balkon dan sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon. hanya dia satu-satunya penghuni kost yang belum terlelap. saat hendak kembali ke kamarnya, dia melihat seseorang yang gerak-geriknya mencurigakan. orang tersebut berada di samping kost 010 sedang mengawasi situasi sekitar.
"jangan-jangan dia pelakunya" gumam Kevin
tanpa pikir panjang Kevin segera turun ke lantai satu dan keluar dari kost. dia memakai jaket agar tidak kedinginan. Kevin dapat melihat seseorang itu sedang masuk ke dalam mobil berwarna merah.
Kevin pun segera berlari kembali ke kost untuk mengambil motornya dan mengikuti mobil tersebut yang berada jauh di depannya.
hingga beberapa menit mobil itu berhenti di perempatan dimana ada seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan.
orang tersebut turun dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. awalnya mereka bicara biasa saja hingga beberapa detik laki-laki itu membius wanita itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Hes, Hes...ada pergerakan Hes" Cakra yang sedang melihat cctv memberitahukan Mahesa
Mahesa segera melihat dan dengan cepat mengambil kunci mobil. ketiganya meninggalkan kantor polisi dan menuju titik dimana Kevin berada. mereka melacak keberadaan Kevin lewat GPS. karena ponsel Kevin aktif maka dengan mudah mereka menemukan titik dimana dia berada sekarang.
sementara itu Kevin masih mengikuti mobil yang ada di depannya. karena melaju terlalu kencang, Kevin tidak dapat mengejar mobil itu. kini dirinya berhenti di sebuah jalan yang sepi, dia kehilangan jejak.
"sialan" umpat Kevin begitu kesal
ketika hendak berbalik, seseorang berada tidak jauh di belakangnya. dia memakai jaket, topi dan masker.
"elu mencari ku...?" ucapnya
"dasar pembunuh, dimana elu sembunyikan wanita tadi" Kevin menatap tajam
"tentunya ditempat yang aman, elu ingin bergabung bersamanya...?"
"lebih baik buka masker lu, hanya pengecut yang bersembunyi di balik maskernya"
"hahahaha" dia tertawa begitu kerasnya
"jangan terkejut saat melihat wajahku" ucapnya
__ADS_1
dia pun membuka topinya setelah itu membuka masker yang selama ini dipakainya untuk menutupi wajahnya.
"elu, bangsat" Kevin begitu geram dan melayangkan tendangan ke arah laki-laki itu, membuat dirinya terhuyung beberapa langkah
"elu sudah melakukan kesalahan fatal Vin" dia tersenyum kecut kemudian senyuman itu menghilang digantikan dengan tatapan tajam, tatapan seorang pembunuh yang ingin menghabisi korbannya
"gue nggak nyangka elu ternyata sekeji itu. gue pikir elu itu malaikat, ternyata iblis yang berwujud manusia" Kevin mengepalkan tangannya
"apa jangan-jangan elu yang menaruh pisau dan jam tangan di kamar gue"
"ya, itu memang gue. bagaimana kejutan dari gue, sangat menghibur kan...?"
"bajingan"
Kevin hendak kembali menyerang namun seketika aksinya terhenti karena ancaman dari si pembunuh.
"berani elu menyentuh gue, maka elu akan lihat bagaimana gue akan menghabisi wanita itu"
"elu benar-benar iblis. lepaskan dia" langkah Kevin tertahan saat melihat wanita itu sedang tertidur pulas di bagasi mobil
"ikuti saja perkataan gue Kevin, atau mobil itu akan gue buat meledak dan elu dapat melihat wanita itu terbakar habis dan menjadi abu"
Kevin sungguh tidak berdaya, di satu sisi dirinya ingin melawan namun di sisi lain dia tidak ingin wanita yang sama sekali tidak dia kenal terancam nyawanya.
"apa yang lu mau...?"
"good, aku suka pertanyaan elu" dia tersenyum menyeringai
"jangan melawan atau aku akan melakukan hal yang lebih keji"
dia mendekati Kevin dan kemudian dengan cepat memukul tengkuk Kevin sehingga Kevin langsung tidak sadarkan diri.
"dasar bodoh" ucapnya dengan senyuman tipis
dia membawa Kevin dan memasukkan ke dalam mobilnya. setelah itu dia meninggalkan tempat tersebut, ponsel Kevin jatuh di tempat itu.
"Sepertinya ini posisi terakhirnya" ucap Zulfikar
"tapi kenapa nggak ada orang" mereka turun dari mobil
"lihat" Cakra menunjuk ke sebuah ponsel yang tergeletak di aspal
"ini ponsel Kevin" ucap Cakra saat mengambil ponsel itu dan melihat layar walpapernya
"lalu kemana dia...?"
"sial" Mahesa menendang ban mobilnya karena kesal, lagi-lagi mereka kehilangan jejak
sementara itu setelah lama mengendarai mobilnya, dia berhenti di sebuah rumah yang jauh dari keramaian. tempat itu berada diujung kota.
dia membawa masuk Kevin dan wanita itu ke dalam. di sebuah ruang bawah tanah yang sangat panjang dan mempunyai banyak bilik. tubuh Kevin diletakkan di sebuah bilik yang bahkan sulit untuk ditemukan oleh orang lain. setelah itu dia kembali lagi ke atas dan membawa masuk Maureen, wanita yang tadi ia bius di jalan.
"selamat beristirahat, aku akan datang lagi mengunjungi kalian" ucapnya dengan tersenyum tipis
setelah itu dia meninggalkan Kevin dan Maureen yang belum juga sadarkan diri. sementara Mahesa, Zulfikar dan Cakra saat ini sedang mengawasi kost 010. Cakra terus mengawasi kamera cctv yang telah mereka pasang namun sampai saat ini belum ada pergerakan sama sekali dari penghuni kost.
"aneh sekali, kenapa tidak ada pergerakan sama sekali dari mereka" ucap Cakra
"apa kita melewatkan sesuatu...? tanya Mahesa
"atau dia tau letak kamera cctv yang kita pasang...?" ucap Zulfikar
"semuanya sudah aman, bahkan Mahendra dan dia nggak memberitahukan kepada yang lain" timpal Mahesa
"lalu apa yang salah, gue merasa ada yang kita lewatkan" ucap Cakra
bahkan menjelang subuh situasi di kost tersebut masih terlihat normal. adzan subuh menggema di seluruh kompleks perkost-san tersebut. seperti biasa penghuni kost akan bangun untuk bersih-bersih dan pergi melaksanakan sholat subuh di masjid.
"Kevin kemana...?" tanya Olan saat tidak melihat adiknya itu
"masih ngorok mungkin" jawab Randi
"biar Alan yang bangunin" ucap Alan
Alan segera naik ke lantai atas dan menuju kamar Kevin. beberapa kali dia mengetuk dan memanggil nama Kevin namun sama sekali tidak ada jawaban di dalam.
"loh nggak dikunci" gumam Alan saat hendak membuka pintu kamar Kevin
"kosong"
tidak menemukan Kevin, Alan segera turun ke bawah dan memberitahu semua penghuni kost.
"bang Kevin nggak ada di kamarnya" ucap Alan
"nggak ada...?" tanya Iyan
"iya, kamarnya kosong"
"lah kemana tuh anak" ucap Wili
"ya sudah kita ke masjid sekarang, nanti kita pikirkan lagi mengenai Kevin" ucap Rahim
mereka segera menuju masjid. setelah selesai sholat subuh, mereka semua pulang ke kost dan berkumpul di ruang utama.
Faiz menghubungi nomor Kevin, saat tersambung Faiz langsung menanyakan keberadaan temannya itu namun ternyata yang mengangkat bukan Kevin.
📞 Kevin
maaf, ini bukan Kevin
📞 Faiz
lalu ini siapa, Kevin dimana...?
📞 Kevin
saya Zulfikar dari kepolisian
📞 Faiz
pak Zulfikar, kepolisian...?
mendengar itu mereka semua terkejut. bagaimana bisa ponsel Kevin berada di tangan pak Zulfikar itulah yang mereka pikirkan sekarang.
📞 Kevin
kami akan ke sana sekarang juga, kami harap kalian tidak kemana-mana
📞 Faiz
baik pak, kami akan tunggu kedatangan bapak
Faiz mematikan panggilan, dia menatap semua penghuni kost yang juga sedang menatap bingung ke arahnya.
"itu tadi pak Zulfikar...?" tanya Mahendra
"iya, ponsel Kevin ada sama pak Zulfikar" jawab Faiz
"bagaimana bisa ponsel Kevin ada sama polisi itu" Iyan menimpali
"jangan-jangan terjadi sesuatu dengan bang Kevin" ucap Alan
"Allah, kami berserah diri kepadamu, pencipta langit dan bumi" Rahim memijit pelipisnya begitu khawatir dengan keadaan Kevin sekarang
__ADS_1