Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 49


__ADS_3

buaaaak


buaaaak


bughhh


bughhh


serangan yang dilakukan oleh sosok itu membuat Damar kewalahan dan bahkan terkena pukulan serta tendangan. namun meski begitu, Damar juga dapat membalas setimpal dengan yang dilakukan oleh sosok itu.


uhuk...uhuk


Damar terbatuk lagi, terus mengelus darah dari mulutnya. perutnya terasa perih dan saat mengangkat bajunya, perut sixpack itu sudah memar berwarna keunguan.


(bagaimana ini, tenagaku sudah hampir habis. kepalaku rasanya ingin pecah. apa yang harus aku lakukan) batin Damar memegang kepalanya yang nyut-nyutan


"sudah ingin menyerah, ck payah. padahal baru juga beberapa menit kita bermain tapi kamu sudah kewalahan" dia tersenyum mengejek ke arah Damar yang sedang bersandar di mobilnya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja


"kalau begitu mari kita akhiri permainan ini" dirinya mengambil pisau tajam dari balik jaketnya


"selamat tinggal Damar"


ia berjalan cepat dan mengarahkan pisau tajam itu ke perut Damar.


jleb....


pisau itu Damar tahan dengan kedua tangannya. darah mulai mengucur dari tangan Damar membuat warna pisau itu menjadi merah.


"MATI KAMU" sosok itu semakin mendorong pisaunya


buuugh


"aaaggghh... brengsek"


Damar membenturkan kepalanya di hidung laki-laki itu. dengan memegang hidungnya yang berdarah, sosok itu mengerang sakit dan mengumpat. di saat itu juga Damar menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari tempat itu mencari pertolongan.


kalau saja seandainya dari awal Damar tidak terluka, mungkin dia bisa melawan laki-laki misterius itu. namun karena kepalanya yang sudah terluka, membuat dirinya tidak dapat bertahan lama.


"gue benar-benar akan membunuhmu" ucapnya dengan mata yang nyalang penuh kebencian


darah yang keluar dari hidungnya ia usap dengan telapak tangannya. kemudian segera ia bangkit menyusul Damar yang sudah tidak terlihat olehnya.


"brengsek, kemana perginya polisi sialan itu"


ia menyusuri sepanjang jalan untuk mencari Damar namun tidak ia temukan polisi itu. sementara Damar, dirinya yang sudah semakin jauh dengan sosok misterius tadi langsung merebahkan tubuhnya di teras rumah salah satu warga yang ada di tempat itu.


tok...tok...tok


pelan, sangat pelan Damar mengetuk pintu rumah yang bercat warna abu-abu itu. tangannya yang terluka terus mengeluarkan darah, kepalanya pun terluka akibat kayu balok yang menghantam kepalanya tadi.


"t-tolong"


"pak, seperti ada suara yang meminta tolong" ucap seorang ibu yang mengenakan mukenah


"bapak tidak mendengar apapun bu, ibu salah dengar mungkin" laki-laki yang menjadi suami dari ibu itu tidak mendengar apapun. dirinya masih menggunakan pakaian sholat, sepertinya suami istri itu telah melaksanakan sholat malam


"tolong... siapapun tolong saya"


"nah tuh kan, ada yang minta tolong di luar pak" sang ibu mulai dengan jelas mendengar suara Damar


"ayo pak kita periksa di luar, siapa tau memang ada yang membutuhkan pertolongan" sang ibu bergegas melepas mukenah yang terpakai di badannya dan mengambil jilbab instan untuk menutupi kepalanya sedangkan suaminya tetap menggunakan pakaian sholat


"bu berhenti" sang bapak menghentikan istrinya yang ingin membuka pintu


"kenapa toh pak...?"


"biar bapak lihat dulu di jendela, siapa tau itu orang jahat di luar sana" ucapnya


bapak itu membuka gorden jendela dan memeriksa jauh di depan jalan raya sana, tidak ada siapapun. hingga matanya tertuju di teras rumahnya, seketika dirinya beristighfar dan dengan buru-buru langsung membuka pintu rumahnya.


"astaghfirullahaladzim pak, ada mayat" sang ibu histeris melihat Damar sudah terkapar tidak sadarkan diri


"hus...ibu ini loh, ngawur saja kalau bicara. kalau dia mayat, kenapa bisa dia meminta tolong" suaminya menegur

__ADS_1


"bawa masuk saja pak, sepertinya dia habis dibegal"


si bapak membawa masuk Damar ke dalam rumah dan bersamaan dengan itu saat tubuh Damar berhasil dimasukkan ke dalam rumah, saat itu juga sosok yang mencarinya tadi datang dan berhenti tepat di depan rumah itu. pintu di tutup rapat dan dikunci.


"sialan, bisa-bisanya gue kehilangan dia"


"tapi nggak apa-apa setidaknya gue sudah melukai dirinya. untung-untung kalau dia mampus sekalian"


"pak, ada orang di depan rumah" si ibu berbicara pelan kepada suaminya


si bapak melangkah mendekati jendela dan melihat ke arah jalan. dilihatnya seseorang yang berpakaian serba hitam sedang mengamati sekitar. hingga kemudian matanya tertuju pada rumah yang ada di depannya.


"harusnya dia belum terlalu jauh untuk perginya. seharusnya gue masih bisa menemukannya. apa dia....masuk ke salah satu rumah warga" tatapan matanya tertuju kepada rumah bercat abu-abu itu


"bu, angkat dia simpan di lantai di belakang sofa" perintah si bapak


"loh kenapa pak"


"angkat saja cepat, ayo bantu bapak"


. keduanya mengangkat tubuh Damar dan menyimpannya di lantai di belakang sofa. sementara keduanya bersembunyi di balik sofa tersebut. untung saja lampu di ruang tamu dimatikan sehingga di luar sana tidak akan melihat apapun dari luar karena gelap dan juga terhalang oleh gorden.


sosok yang misterius itu berusaha melihat ke dalam rumah, namun dirinya sama sekali tidak dapat melihat apapun. selain gelap juga penglihatannya dihalangi oleh gorden.


tap....tap....tap


suara langkah kaki terdengar semakin menjauh dari rumah tersebut. suami istri itu dapat bernafas dengan lega.


"kita bawa dia ke kamar lalu bangunkan Arika untuk mengobati lukanya"


"ibu mana kuat pak mengangkat dia, lebih baik ibu bangunkan kedua anak kita saja dulu. biar Zakyas yang membantu bapak mengangkat dia" si ibu melangkah menuju ke kamar kedua anaknya


Arika dan Zakyas terbangun, melihat ada seseorang yang terluka membuat Arika segera bertindak. sebagai dokter, dirinya tentu saja tidak bisa diam hanya untuk melihat seseorang menderita.


"dia kok bisa ada di rumah kita pak...? tanya Zakyas. saat ini Arika sedang menjahit luka di tangan Damar dan juga yang ada di kepalanya


"dia sepertinya mau dibunuh. waktu sholat malam tadi ibu dan bapak mendengar suara seseorang meminta tolong. saat membuka pintu ternyata pemuda ini yang ada di teras rumah kita" jawab si ibu


"orang yang mencelakainya bahkan sampai mencarinya di rumah ini. untungnya lampu di ruang tamu mati jadi dia tidak bisa melihat apapun" ucap si bapak


"jangan, kita tidak tau manusia seperti apa yang ada di luar sana. bisa celaka kamu. lihat pemuda ini yang hampir saja meregang nyawa karena orang itu"


"ganti bajunya pak, tidak baik dia menggunakan pakaian yang penuh darah seperti ini" ucap Arika setelah selesai melakukan tugasnya


si bapak menyuruh Zakyas untuk mengambil baju dan juga celana miliknya untuk dipakaikan kepada Damar. setelah mengganti pakaian Damar, mereka meninggalkan dirinya di kamar tamu itu dan kembali ke kamar masing-masing. hanya Zakyas yang berada di kamar itu. dirinya ditugaskan oleh bapaknya untuk menjaga Damar. maka jadilah Zakyas tidur di bawah dengan kasur yang tersedia.


"Allahuakbar Allahuakbar"


Adzan subuh mulai terdengar menggema membangunkan setiap insan yang masih terlelap di bawah selimut mereka.


penghuni kost 010 masing-masing keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi untuk pergi ke masjid melaksanakan sholat subuh berjamaah.


"semalam kalian baik-baik saja kan...?" tanya Rahim memastikan keadaan adik-adiknya


"Alhamdulillah nggak ada gangguan bang" jawab Randi


"memangnya semalam kenapa...?" Iyan bertanya saat mereka semua keluar dari kost


mereka berjalan beriringan keluar dari pagar dan berjalan kaki melewati setiap kos-kosan dan juga warung-warung di tempat itu.


"karena teror yang dialami Alan, kita semua harus waspada setiap saat" jawab Rahim


"eh... tunggu, gue kayaknya melupakan sesuatu" Olan menghentikan langkah mereka semua


"kenapa bang...?" tanya Riki


"astaga, gue lupa kunci pintu kos. kalian duluan saja, gue mau balik kunci pintu dulu jangan sampai ada orang seperti tadi siang lagi yang masuk ke dalam" buru-buru Olan berbalik dan setengah berlari meninggalkan mereka. dirinya yang terakhir keluar dari kos, harusnya ia yang mengunci pintunya namun ternyata Olan malah teledor


"bikin pekerjaan aja" gerutu Olan pada dirinya sendiri


setelah mengunci pintu, Olan juga mengunci pagar setelah itu dia kembali lagi menyusul yang lainnya.


"hummm...hummm... hummm" sambil bersenandung dan bersiul, Olan menyusuri jalan yang dilaluinya tadi sambil memainkan kunci yang ada ditangannya.

__ADS_1


saat Olan melempar kunci miliknya ke udara dan akan menangkapnya, saat itu juga seseorang menabrak dirinya hingga membuat Olan jatuh ke tanah. ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpukan agar dirinya tidak terbaring di tanah.


"astaga, liat-liat dong kalau jalan. gimana sih" Olan mengomel sambil berdiri. kedua tangannya terluka karena terkena aspal jalan namun tidak begitu parah


"maaf" satu kata yang keluar dari mulut seseorang yang menabraknya kemudian orang itu yang Olan tidak ketahui pergi begitu saja setelah mengatakan maaf


"manusia zaman sekarang memang rada-rada aneh" Olan menunduk mengambil kuncinya yang jatuh kemudian melanjutkan langkahnya


tiba di masjid hampir saja Olan terlambat, untungnya saat tiba baru saja akan dimulai sholat berjamaah. banyak anak-anak muda, entah mahasiswa atau seorang pekerja, mereka melaksanakan sholat subuh di masjid. selain dekat, mungkin karena mereka juga lebih khusyuk berubah di masjid.


"pagi ini Alan pengen sarapan roti dan susu, kayaknya enak" Alan membuka obrolan setelah mereka meninggalkan masjid menuju pulang


"roti tawar dilapisi slai coklat enak tuh" timpal Randi ikut menghayalkan makanan enak itu


"kalau mau roti, gue punya kok di kamar. kebetulan pas pindah kemarin gue sempat belanja tapi lupa menaruhnya di kulkas karena malah was-was jangan sampai ada teror lagi seperti yang Alan alami" Riki menimpali


"waaah enak kayaknya tuh bang, dinikmati dengan kopi panas....huuuuummm maknyus" Randi menutup mata dan membayangkan


"semua makanan mah terasa maknyus buat elu Ran" ucap Mahendra


"dikasih racun juga pasti dibilang maknyus sama dia" cibir Faiz


"enak aja, nggak gitu juga kali bang konsepnya. bisa almarhum gue kalau itu mah" jawab Randi


"loh tunggu, kok pagar terbuka ya... perasaan tadi gue udah kunci deh" Olan berhenti dan memperhatikan pagar kos yang sudah terbuka


"lupa mungkin bang" ucap Danil


"nggak, tadi gue benar-benar kunci loh sama pintu ruang utama" segera Olan berjalan cepat mendekati pagar


"siapa yang buka ya" Olan menggaruk kepalanya


"pintu itu juga terbuka" Alan menunjuk pintu ruang utama yang tidak tertutup rapat


"jangan-jangan maling" segera Rahim berlari ke arah pintu dan masuk ke dalam


bukan hanya Rahim, yang lainnya pun ikut berlari. penasaran dan juga takut jangan sampai ada penyusup yang masuk ke dalam kos.


tidak ada apapun, bahkan Rahim sudah mengecek di lantai dua, tidak siapapun di tempat itu selain mereka.


"nggak ada siapa-siapa" ucap Rahim kembali ke ruang utama


"bang Argaaaaa" teriakan Danil mengagetkan mereka semua


mereka berlari menuju ke lantai atas, di kamar, Danil duduk dipojokkan dengan ketakutan. beberapa ekor tikus yang sudah dimutilasi tubuhnya berada di sebuah kardus kecil yang tergeletak di lantai.


sebagian yang melihat itu langsung meninggalkan tempat karena merasa mual dan tidak sanggup melihat. Riki berlari ke kamar mandi Mahendra dan muntah-muntah di dalam sana.


terdapat sebuah kertas yang bertuliskan tunggu tanggal permainanku. tulisan itu dari darah tikus yang kini sebagian isi dalam tubuhnya tubuhnya berada di lantai.


"Faiz, tolong bawa Danil ke bawah. gue mau membersihkan bangkai ini dulu" ucap Mahendra


"baik. ayo Dan...ikut gue kebawah" hanya Faiz, dan Rahim yang bertahap di kamar itu. selebihnya mereka melarikan diri karena tidak sanggup menahan muntah


dengan tubuh bergetar, Danil mengikuti Faiz turun ke lantai bawah. sementara Rahim kembali memeriksa di lantai dua itu, tidak siapapun yang ia lihat. Riki mulai oleng saat keluar dari kamar mandi, Mahendra segera membantu remaja itu untuk turun ke lantai bawah.


"jijik banget gue, sampai hilang seketika makan gue" ucap Iyan bergidik ngeri


"gimana bang, ada orang selain kita...?" tanya Mahendra kepada Rahim.


semua seluk beluk kos itu telah diperiksa oleh Rahim. bahkan kamar semua penghuni kos telah ia masuki namun tidak menemukan sesekali yang telah melakukan aksi teror menjelang pagi itu.


"nggak ada siapapun, tapi jendela dapur terbuka. sepertinya dia pergi lewat jendela" ucap Rahim


"loh kok aneh banget sih, masuk lewat pintu depan tapi kenapa keluarnya lewat jendela dapur" ucap Alan merasa aneh


"mungkin karena kita sudah pulang dan tidak ingin ketahuan makanya itu dia lewat jendela dapur. hanya penyusup bodoh yang melarikan diri di depan tuan rumah" ucap Olan


"kenapa jadi seperti ini sih, gue benar-benar akan menghajar orang yang melakukan ini" Rahim begitu geram dengan teror yang mereka alami


"kita udah nggak aman sekarang, bagaimana ini" Danil berkata dengan bibir bergetar


"tenang dek, semuanya akan baik-baik saja" Mahendra menenangkan adiknya

__ADS_1


pagi itu mereka lewati dengan rasa penasaran siapa yang dengan beraninya melakukan aksi teror kepada mereka.


akankah akan ada lagi yang menjadi korban pembunuhan diantara mereka....?


__ADS_2