Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 32


__ADS_3

"Randi" semuanya kaget melihat apa yang dilakukan Randi kepada Kevin


Kevin yang jatuh dibantu oleh Iyan untuk berdiri. untungnya bukan kepala duluan yang mendarat di lantai, karena saat terjungkal Kevin menggunakan tangannya untuk menahan kursinya.


"apa-apaan lu Ran, cari mati lu" Kevin sangat tidak terima diperlakukan seperti tadi. bahkan wajahnya sudah merah padam menahan amarah


"elu yang bangsat. gue muak liat drama lu selama ini. ternyata dibalik sifat malaikatmu itu ada sifat iblis yang bersembunyi di balik topeng" Randi menunjuk Kevin dengan amarah yang memuncak


"maksud lu apa sih Ran, kalau gua punya salah gue minta maaf" ucap Kevin


"minta maaf...? cuih" Randi meludah


"nggak segampang itu meminta maaf setelah elu menghilangkan nyawa orang, nyawa sahabat yang sudah seperti saudara. elu memang bajingan tau nggak Vin, elu pembunuh" teriak Randi dengan kerasnya


deg...


mendengar Randi memanggil Kevin pembunuh membuat semuanya menatap Kevin dengan berbagai macam pertanyaan di kepala mereka.


"jangan asal ngomong lu, gue nggak pernah bunuh orang" Kevin sungguh tidak terima di tuduh seperti itu


"gue nggak asal ngomong" Randi berlalu pergi ke kamarnya kemudian datang lagi dengan dua benda di tangannya


"lihat" Randi menaruh pisau dan jam tangan yang sudah berlumuran darah yang telah mengering


"jam tangan ini punya bang Damar. gue temuin ini semua di dalam kamar elu. elu bangsat Vin, elu kan yang membunuh bang Damar" Randi hendak menyerang Kevin kembali namun Olan segera menahannya


Kevin membulatkan matanya saat melihat pisau dan jam tangan itu. dirinya benar-benar kaget sekaligus tidak percaya.


"nggak, ini salah. gue nggak pernah simpan benda seperti ini di kamar" Kevin menggeleng


"tapi buktinya gue temuin di kamar elu" Randi sungguh sangat emosi


"tapi gue nggak punya pisau dan jam tangan ini, sumpah gue nggak tau" Kevin tetap menggeleng


"terus kalau bukan punya elu terus punya siapa. jelas-jelas keduanya ada di kamar elu" ucap Randi


"Kevin, bisa jelaskan kepada kami semua" Rahim menatap tajam adiknya itu


"gue nggak tau bang, sumpah. gue nggak tau kenapa pisau dan jam tangan ini ada dikamar gue" Kevin terduduk lesu


"bohong, nggak mungkin dia nggak tau. dia pembunuh Damar. dia pembunuhnya selama ini. elu benar-benar bangsat Vin, harusnya elu saja yang mati" Randi benar-benar tidak dapat menguasai kemarahannya


"Randi stop" Olan membentak Randi sehingga Randi diam dan menatap benci kepada Kevin


Mahendra mendekat dan mengambil jam tangan itu. memang benar, jam tangan itu adalah milik Damar. dia sangat mengenalnya karena dialah yang membelikan jam tangan itu untuk Damar saat ulang tahun sahabatnya itu.


"ini benar jam tangan Damar" ucap Mahendra


"Kevin, jadi elu selama ini....." Wili tidak dapat melanjutkan ucapannya


"gue nggak tau Wil, gue berani sumpah gue nggak tau. kalian harus percaya sama gue" Kevin frustasi karena kini mereka semua menyudutkannya


Rahim memijit pelipisnya, dia kemudian menyuruh semuanya untuk duduk dan menyuruh Kevin menjelaskan kepada mereka.


"Abang percaya kan sama gue. gue benar-benar nggak tau bang, pisau ini bukan punya gue" Kevin memelas ke arah Rahim


"tapi buktinya pisau itu ada di dalam kamar elu" ucap Randi dengan suara keras


"lu diam deh, jangan sampai gue habisi lu di sini" Kevin mulai emosi dan menunjuk Randi. dia sangat kesal terus di tuduh oleh temannya itu


"Randi, Kevin...cukup" Iyan menghentikannya keduanya


"kalau kayak gini sikap Kalian, gimana kita bisa tau kebenarannya" lanjut Iyan dengan membentak keduanya


Randi dan Kevin kembali duduk. sungguh saat ini Randi sangat membenci temannya itu. dia bahkan enggan untuk melihat wajah Kevin.


"kematian Damar, kalian tau kalau gue ada di sini bersama kalian. lalu bagaimana bisa gue membunuhnya dengan jarak yang begitu jauh" Kevin mulai buka suara


"tapi elu yang menemukan mayat Damar di luar" ucap Damar


"iya, tapi bukan gue pelakunya. gue kan nemuin Damar pas dia udah mati. jelas gue nggak akan punya pisau yang ditusukkan padanya. jam tangannya saja gue nggak tau ada apa nggak malam itu" jawab Kevin


"lalu kenapa bisa sekarang pisau dan jam ini ada di kamarmu...?" tanya Faiz


"gue kan udah bilang dari tadi, gue nggak tau. gue benar-benar nggak tau. harus berapa kali sih gue bilang supaya kalian percaya" Kevin menjambak rambutnya


"gue ada di kost ini loh waktu itu. yang keluar kan hanya Wili, bang Olan, Mahendra sama bang Iyan. mereka yang berada di luar sedang gue di kost" ucap Kevin


"jadi elu sekarang menuduh kami...?" ucap Mahendra


"kalian saja bisa menyudutkan dan mencurigai gue, kenapa gue menyebut nama kalian aja nggak bisa" balas Kevin dengan kesal


"masalahnya bukan ada situ sekarang Vin. masalahnya sekarang, kenapa bisa elu mempunyai pisau ini dan jam tangan ini" Mahendra memukul meja karena mulai terpancing emosi


"gue udah bilang gue nggak tau bangsat" Kevin mulai emosi


"elu yang bangsat"


buaaaak


Mahendra melayangkan pukulan ke wajah Kevin. tidak terima dipukul, Kevin membalas memukul dan kini mereka sekarang saling bertarung.


Iyan dan Damar memisahkan mereka berdua. suasana sekarang nampak tegang dan mereka kini saling mencurigai satu sama lain terlebih lagi kepada Kevin.


"gini saja, kita berikan pisau dan jam tangan ini kepada polisi untuk membuktikan apakah benar ini punya Kevin atau bukan" Danil memberikan solusi


"iya benar. dengan begitu kita bisa tau siapa pemilik pisau ini. mungkin saja di pisau ini ada sidik jari si pelaku kan" Alan membenarkan ucapan Danil


"kalau kita menyerahkan pisau ini, otomatis sidik jari Randi juga akan terlihat karena Randi memegang pisau dan jam itu" ucap Rahim


"dan bisa jadi Randi juga akan tertuduh atas kematian Damar" lanjut Rahim


"tapi kan gue hanya menemukan itu bang, gue bisa menjelaskan kepada mereka" timpal Randi


"elu harus ingat Ran, kita semua di sini itu tersangka. kalau pembunuh itu belum ditemukan maka siapa saja diantara kita adalah pembunuhnya, itu adalah pikiran polisi. kalau seandainya pisau ini diserahkan terus sidik jari elu di lihat dan elu dituduh bagaimana. penjelasan elu saja nggak cukup untuk meyakinkan mereka" jawab Rahim


"tapi kalau seandainya sidik jari pelaku itu ada di pisau ini bagaimana...? tanya Mahendra. dia setuju dengan usulan Danil namun penjelasan Rahim juga ada benarnya


"kalau sidik jari gue terlihat, berarti sidik jari dia juga akan terlihat, karena pisau ini ada di kamarnya" Randi menunjuk Kevin


"gue sama sekali nggak nyentuh pisau itu, kemungkinan sidik jari gue nggak akan ada di pisau itu" jawab Kevin


"apa susahnya sih elu ngaku Vin, pisau dan jam ini sudah menjadi bukti" Randi tetap menuduh Kevin


"kalau kalian nggak mau memberikannya kepada polisi, biar gue yang membawanya kepada mereka" Randi beranjak dan mengambil pisau serta jam itu namun dengan segera Olan menahan tangannya

__ADS_1


"elu mau di tahan di penjara hanya karena sidik jari elu ada disini dan dituduh sebagai pembunuhnya...?" Olan menatap tajam Randi yang membuat Randi seketika duduk kembali


"aaaggghh brengsek" Randi mengumpat kesal. dirinya benar-benar serba salah sekarang. bukan hanya dia namun juga penghuni kost yang lain


meskipun begitu mereka kini telah memasukkan daftar orang tersangka diantara mereka yaitu Kevin. Kevin telah masuk dalam kecurigaan mereka yang dulunya tidak ada satu orang pun yang mereka curigai. semua karena pisau dan jam tangan yang ada di dalam kamarnya.


masih dalam pemikiran masing-masing, tiba-tiba suara ponsel Mahendra berbunyi. Mahendra langsung mengangkat panggilan dari Robi.


📞 Robi


halo Hen, elu dimana...?


📞 Mahendra


di kost. ada apa...?


📞 Robi


elu udah liat berita nggak, Viona....dia...


📞 Mahendra


udah, rencananya gue mau ke rumah sakit sekarang


📞 Robi


perlu gue temani nggak


📞 Mahendra


kalau elu nggak sibuk, boleh saja


📞 Robi


ya udah gue ke kost elu sekarang


📞 Mahendra


oke, gue tunggu


setelah mematikan panggilan, Mahendra kemudian menatap satu persatu penghuni kost.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Mahendra


"kita tetap seperti biasa. sekali lagi gue ingatkan, di sini kita semua adalah tersangka. siapapun pelakunya sudah pasti ada diantara kita. tetap hati-hati dan kalau tidur malam ataupun siang hari, kunci pintu agar tidak terjadi sesuatu saat kita sedang tidur" ucap Olan


sedangkan Alan melirik ke arah Kevin. dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya namun dirinya juga tidak bisa menampik bahwa semuanya bisa saja terjadi termasuk Kevin yang menjadi pelakunya atau siapa saja.


(bagaimana caranya memeriksa luka itu ya) batin Alan


"kenapa Al...?" Kevin melihat ke arah Alan yang sedang memperhatikannya


"nggak bang" Alan menggeleng


"elu pasti nuduh gue kalau gue pelaku kan" ucap Kevin


"maaf bang, tapi pikiran Alan nggak bisa menampik itu" jawab Alan pelan


"terserah kalian mau berpikir bagaimana yang jelas bukan gue pembunuh Damar" Kevin beranjak dan meninggalkan mereka menuju kamarnya


"biar gue saja" Damar mengusulkan


"nggak, gue yang akan simpan pisau dan jam tangan ini" ucap Rahim


"kalau gitu gue mau siap-siap dulu, mau ke kantor" Olan beranjak dari duduknya


"gue juga mau ke cafe, masuk shift pagi" Iyan pun sama langsung melangkah menuju ke atas


mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk memulai aktivitas. Mahendra kini sedang bersiap sementara Danil sedang memperhatikannya.


"Abang mau ke kampus ya...?" tanya Danil


"mau ke rumah sakit" jawab Mahendra


"Danil ikut ya, Danil takut di sini" Danil tidak ingin ditinggalkan


"Abang nggak lama dek. kalau kamu takut, kunci pintu dan jangan sampai Abang pulang" ucap Mahendra


"Danil ikutlah bang. semua pada pergi tinggal Danil sendiri di kost. nanti kalau pembunuh itu datang di kamar gimana"


Mahendra kembali berpikir, memang benar tidak akan aman membiarkan Danil sendirian. pembunuh itu belum diketahui, mereka semua adalah tersangka. Mahendra sudah kehilangan Damar, dia tidak ingin adik satunya kenapa-kenapa karena dia yang meninggalkannya.


"ya udah, kamu siap-siap. Abang tunggu di bawah" ucap Mahendra


"oke, nggak lama Danil turun" Danil sumringah


Mahendra turun di bawah, ada Damar dan Wili yang sedang berbincang. dia menghampiri keduanya dan duduk di kursi.


"mau pergi Hen...?" tanya Damar


"iya. kalian berdua nggak ngampus...?" tanya Mahendra


"gue nanti siang" jawab Wili


"kalau gue nggak ada jadwal" jawab Damar


Rahim, Iyan dan Olan pun sudah lebih dulu pergi termasuk Faiz yang ada urusan mendadak. sementara Danil setelah bersiap dia pun keluar dari kamar dan menguncinya. saat keluar, saat itu juga bertekad dengan Kevin yang juga sedang bersiap akan ke kampus.


"mau kemana Dan...?" tanya Kevin tersenyum


"k-keluar bang" jawab Danil yang takut saat bersama Kevin


"Danil duluan ya bang" Danil langsung berlari turun ke bawah sedangkan Kevin mengerutkan kening melihat tingkah Danil yang tidak seperti biasanya


"kenapa tuh anak" gumam Kevin


di bawah Danil menghampiri abangnya. cukup kaget mereka melihat Danil berlari dari lantai atas.


"kenapa lu Dan, kayak dikejar setan aja" ucal Wili


baru hendak menjawab Kevin sudah turun ke bawah, Danil langsung tutup mulut dan tidak bersuara.


"mau ngampus Vin...?" tanya Damar


"iya, gue cabut ya" ucap Kevin

__ADS_1


"oke" jawab Wili dan Damar sedang Mahendra hanya diam saja


setelah Kevin pergi, terdengar ucapan salam dari dalam. Mahendra keluar bersama Danil karena suara itu adalah suara Robi. ia berpamitan kepada Wili dan Damar.


"kita langsung ke rumah Viona saja Hen, mayat Viona sudah dijemput orang tuanya tadi. semua teman-temannya sudah menunggu di rumah duka" Robi memberitahu


"yasudah, kita berangkat sekarang" jawab Mahendra


mereka meninggalkan kost 010. di tempat lain Mahesa sedang berada di TKP pembunuhan Ardian dan teman-temannya termasuk Viona.


"informasi apa yang elu dapatkan...?" tanya Mahesa


"Ardian dan juga teman-temannya dua hari yang lalu sempat cekcok dengan penghuni kost 010" jawab Cakra


"cekcok bagaimana...?" tanya Mahesa


"mereka terlibat perkelahian di jalan Cendana. lihat ini" Cakra memperlihatkan rekaman cctv yang diambilnya


"pasti dia yang membunuh mereka" ucap Mahesa saat melihat rekaman itu


kemudian ponsel Mahesa berbunyi, sebuah pesan masuk di ponselnya.


rekan : kita harus bertemu


Mahesa : di tempat biasa saja, sekarang


rekan : baik


"malam ini kita harus berjaga lagi. kita tidak akan berhenti sampai bisa menangkapnya" ucap Mahesa


"kami mengikut perintah darimu" ucap Zulfikar


"kita temui dia di tempat biasa" ucap Mahesa


"dengan pakaian kita seperti ini...?" tanya Cakra


"kita ganti pakaian" ucap Mahesa meninggalkan tempat itu


ketiga polisi itu sudah tiba di tempat biasa mereka bertemu dengan seseorang. mereka menunggu beberapa menit hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


"apa ada informasi...?" tanya Mahesa


"ada dan ini harus kalian tau" jawabnya duduk di samping Cakra


"katakan" ucap Zulfikar


dia mulai menceritakan kejadian yang terjadi tadi. ketiga polisi itu nampak serius mendengarkan.


"kenapa tidak diserahkan kepada kami...?" tanya Mahesa


"alasannya seperti yang gue bilang tadi" jawabnya


"berati dia yang harus kita intai terus" ucap Cakra


"tapi dia bilang bukan dia pelakunya dan juga dia tidak tau dengan benda-benda itu" jawabnya


"kalau pencuri mau ngaku, maka penjara semuanya sudah penuh. nggak mungkin dia akan mengaku begitu saja" ucap Zulfikar


"dimana ditemukan benda itu...?" tanya Mahesa


"di kamarnya" jawabnya


"gue merasa ada yang aneh" ucap Mahesa


"aneh bagaimana maksudnya..?" tanya Cakra


"pembunuh itu tidak akan seteledor itu untuk menyimpan barang bukti begitu saja. paling tidak mereka akan menyimpan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain" jawab Mahesa


"jadi maksudnya bukan dia pelakunya...?" tanya Zulfikar


"gue belum memastikan kalau bukan dia, hanya saja ini agak sedikit aneh menurut gue. sepertinya kita harus ke sana dan menanyakan itu semua. kita harus melakukan penyelidikan terhadap benda tajam itu" jawab Mahesa


"mereka bisa curiga kalau kalian pergi. Malasah ini hanya kami yang tau. kalau kalian pergi otomatis mereka akan berpikir kalau ada yang membocorkannya kepada polisi dan tentu saja pergerakannya akan sulit untuk kita jangkau. dia akan sangat berhati-hati lagi. lebih baik seperti ini saja dulu. gue akan berusaha untuk mendapatkan barang bukti itu dan kita lakukan penyelidikan" jawabnya


"Mahendra juga semalam menghubungi gue dan menanyakan ponsel Damar" ucap Mahesa


"Mahendra...?" tanyanya


"iya, kami berjanji untuk bertemu hari ini. ada sesuatu yang dia inginkan sampaikan dan katanya itu sangat penting" jawab Mahesa


baru saja membahas Mahendra, pesan masuk datang dari laki-laki itu.


Mahendra : bisa kita bertemu sekarang pak...?


"nah, ini dia kirim pesan" ucap Mahesa


Mahesa : bisa, saya tunggu di cafe kopi nikmat sekarang


Mahendra : baik pak, saya segera kesana


"oh iya, Kevin semalam nggak pulang kan. selidiki dimana dia pergi semalam" ucap Mahesa setelah membalas pesan Mahendra


"akan gue cari tau" ucap Zulfikar


"kalau gitu gue pergi sekarang. gue nggak mau nanti Mahendra melihat gue di sini bersama kalian"


"ya sudah, jaga diri baik-baik di tempat kandang singa. dia bisa menerkam kapan saja" Mahesa mengingatkan


"tentu" jawabnya


setelah menghadiri pemakaman Viona, Mahendra, Robi dan Danil kembali pulang. saat ini Mahendra begitu terluka atas kepergian Viona. bagaimanapun juga gadis itu pernah singgah dihatinya dan menjadi seseorang yang istimewa.


saat jasad Viona di turunkan ke liang lahat, Mahendra meneteskan air mata. kenangan demi kenangan berputar diingatannya bagai sebuah film. hal-hal yang indah yang pernah mereka lalui membuat Mahendra merasakan sesak yang luar biasa. perasaannya hancur dan sakit begitu ia rasakan.


"gue langsung pulang yang Hen" ucap Robi saat mereka telah berada di persimpangan jalan ke arah yang berbeda


"iya, thanks ya Rob" jawab Mahendra


"sama-sama. kapanpun elu butuh, gue selalu ada" jawab Robi


"elu memang sahabatnya paling baik" Mahendra memeluk Robi


mereka kemudian berpisah, Robi pulang ke rumah sedangkan Mahendra akan menemui Mahesa bersama Danil. sepanjang jalan ponsel Mahendra terus berbunyi, karena dalam perjalanan tidak mungkin dia menganggap panggilan masuk itu. saat tiba di cafe Mahendra langsung masuk bersama Danil untuk menemui Mahesa.


sebelum menemui Mahesa, Mahendra memeriksa ponselnya dan ternyata itu adalah Maureen. ada pesan yang masuk dari gadis itu yang menanyakan keberadaannya dan juga panggilan tak terjawab. Mahendra tidak menghiraukan itu dan melangkah menemui Mahesa yang duduk di pojok sebelah kiri.

__ADS_1


__ADS_2