
mereka yang berada di ruang tamu pada akhirnya memutuskan untuk tidur di tempat itu dengan beralaskan karpet. mereka yang kamarnya berada di lantai atas tidak lagi mengambil selimut. mereka memakai selimut penghuni kamar di bawah.
Alan satu selimut dengan Wili, Iyan bersama Randi, Danil bersama Faiz dan Kevin satu selimut dengan Rahim.
jam waktu subuh hampir sampai, Rahim membangun semua adik-adiknya untuk bersiap menuju masjid.
"Vin, bangun" Rahim menggoyang lengan Kevin
"euughh...udah subuh ya bang...?" Kevin mengucek matanya dan merenggangkan otot-ototnya
"iya. cepat bangun, kita ke masjid" Rahim melipat selimut kemudian membangunkan yang lain
dengan wajah yang tentu saja kusut, mereka beranjak menuju kamar masing-masing.
cek lek
Danil membuka pintu kamar, di dalam Mahendra dan Damar masih terlelap dalam mimpi. laptop yang terus menyala pada akhirnya mati total karena lobet.
"bang Arga, bang Damar... bangun" Danil membangunkan keduanya
"bang Arga, bangun bang...udah subuh"
Mahendra membuka mata kemudian langsung bangun dan duduk di tepi ranjang.
"sudah jam berapa dek...?" tanya Mahendra
"jam 4 pagi, siap-siap bang, kita mau ke masjid" jawab Danil langsung masuk ke kamar mandi
"Dam, bangun Dam" Mahendra menggoyang lengan Damar namun tampak laki-laki itu tidak terusik sama sekali
plak
plaaak
Damar yang belum juga bangun pada akhirnya membuat Mahendra mengambil tindakan ekstrim. ia memukul bokong Damar sehingga Damar langsung bangun seketika dan meringis kesakitan.
"bisa tepos pantatku elu pukul begitu, dikira kasur apa" Damar mengomel
"siapa suruh tidur kayak kebo, beruntung nggak gue siram pakai air" balas Mahendra
"hoaaaam, masih ngantuk"
Damar menguap dan berniat tidur kembali namun Mahendra langsung mengangkatnya dan membawanya keluar kemudian memasukkan ke dalam kamar temannya. Damar memberontak minta diturunkan namun kemudian yang terjadi selanjutnya
byuuur
"Mahendraaaaaaa"
Damar diguyur air oleh Mahendra, bahkan bukan hanya satu timba melainkan satu ember. setelah mengguyur Damar, Mahendra langsung kabur dengan tawa yang menderai.
"awas aja lu ya, gue cincang lu kayak perkedel" Damar menggerutu dengan tubuh yang sudah basah kuyup
"siapa tuh yang teriak...?" Rahim keluar dari kamarnya
"nggak tau bang, kayaknya Mahendra dan Damar lagi adu jotos" Olan menjawab
"anak-anak itu, ada-ada saja" Rahim geleng kepala
setelah semuanya lengkap, mereka segera menuju ke masjid terdekat. suara adzan menggema di komplek kost-kostan di tempat itu. banyak dari anak-anak kost lain yang juga ikut shalat di masjid.
"hari minggu nih, kita jalan yuk" ucap Damar. mereka sedang dalam perjalanan pulang
"jalan kemana, mending jadi kaum rebahan di kost" Randi menimpali
"ke rumah ku aja gimana, kebetulan hari ini ada acara ulang tahun di rumah. adik sepupu gue." ujar Faiz
"malu lah, nggak diundang dan bukan siapa-siapa tapi main nongol aja di acar orang" Iyan berujar
"kata siapa kalian orang lain. Tante Nina kan sudah menganggap kalian anak-anaknya, terus gue udah menganggap kalian saudara juga. katanya kita semua saudara, kenapa sekarang bilang orang lain" Faiz menimpali
"bukan gitu Iz, maksudnya keluarga elu nggak kenal sama kita terus kita main hadir aja nggak dapat undangan. kan itu malu-maluin" ucap Iyan
"kalian semua diundang kok bang. Tante Nina yang ngundang kalian lewat gue. yang ulang tahun anaknya Tante Nina. tadi malam sebelum tidur Tante Nina telpon gue. mereka ngundang anak yatim juga untuk bagi-bagi rezeki" jawab Faiz
"wah bakal makan gratis dong kalau gitu" ucap Randi
pluuukk
"sakit bang" Randi meringis karena Olan memukul kepalanya
"elu makanan mulu yang dipikirin, heran deh gue" ucap Olan. Randi memang seperti itu, soal makanan dialah juara satunya. dia adalah seseorang yang paling bahagia jika salah satu abang-abangnya atau teman kostnya pulang membawa makanan apa saja.
"gue kan nggak punya pacar bang. daripada pusing mikirin hidup mending mikirin makanan" timpal Randi
"tenang aja Ran, di sana memang nanti banyak makanan. elu bisa makan sepuasnya sampai muntah-muntah" ucap Faiz
"boleh bawa pulang nggak...?" tanya Randi tanpa malu
"astaga nih anak" Olan melotot mendengar pertanyaan Randi
"hehehe, ampun bang" Randi cengengesan sementara yang lain geleng kepala
"boleh, nanti kita bungkus bawa di kost. sekarang gimana, mau pergi nggak. Tante Nina udah berharap loh kalian mau datang" ucap Faiz
__ADS_1
"bolehlah, untuk menghargai ibu Nina saja. beliau sudah banyak membantu kita selama ini" Rahim akhirnya mengiyakan
"yeeee makan-makan" Randi melompat girang
"asik, makan gratis" Alan bersorak
"nanti kita bawa pulang yang banyak ya, untuk stok sampai malam" Danil memberi ide
"hah...?" yang lain mengangga, tadinya hanya Randi yang gila makan rupanya ada dua orang lagi yang diam-diam tapi bersifat sama seperti Randi
"dasar" Mahendra mengacak-acak rambut Alan dan Danil
tiba di kost, masih jam 5 pagi. mereka kini berbagi tugas. ada yang mencuci piring, menyapu halaman dan di dalam kost dan ada juga yang menyiapkan sarapan pagi.
pukul 7 pagi, mereka sedang menikmati nasi goreng dan teh hangat di ruang utama. saat sedang sarapan terdengar ketukan pintu dari luar.
"biar gue yang buka" Faiz menaruh piringnya dan berjalan ke arah pintu
cek lek
"cari siapa...?" tanya Faiz. dua orang laki-laki berseragam polisi sedang berdiri di depan pintu
"boleh kami masuk, kami ingin bertemu semau penghuni kost 010" ucap Mahesa
"oh, silahkan pak" Faiz mempersilahkan kedua polisi itu masuk ke dalam
"loh pak Mahesa, pak Zulfikar. selamat pagi pak" Rahim menyapa ramah
"selamat pagi. maaf kami mengganggu acara makan kalian" ucap Mahesa
"ngapain pagi-pagi udah datang di sini pak...?" Kevin bertanya
"hus, ngomong apa sih lu. mereka tamu kita, yang sopan Kevin" Rahim menegur adiknya itu
"gue kan hanya bertanya bang, apa salahnya" jawab Kevin
"kami ingin mengatakan sesuatu tentang kematian Damar" jawab Zulfikar
"apa pembunuhnya sudah ditemukan...?" Wili bertanya
"boleh kami duduk...?" Zulfikar bertanya balik dan belum menjawab pertanyaan Wili
"ya ampun maaf pak. silahkan duduk" Rahim mempersilahkan keduanya untuk duduk
"pak Mahesa dan pak Zulfikar mau kopi...?" Mahendra menawarkan
"tidak usah, terimakasih" jawab Mahesa menolak
"Kevin" Iyan menatap tajam adiknya itu
"kami sudah sarapan. bagaimana, bisa kita mulai saja...? ucap Mahesa
"silahkan pak" Olan mempersilahkan
Mahesa dan Zulfikar saling pandang kemudian Zulfikar mulai menjelaskan apa yang telah mereka ketahui.
"berdasarkan penyelidikan yang kami lakukan, saudara Damar di bunuh di jalan cendrawasih, dengan kepala dihantam benda tumpul dan perut ditusuk" ucap Zulfikar
"itu kan kami sudah tau pak" Kevin memotong ucapan Zulfikar
"saya belum selesai" ucap Zulfikar datar
"oke lanjut" ucap Kevin. Faiz menyenggol lengan Kevin agar diam dan tidak banyak bicara
"setelah dibunuh di jalan cendrawasih, mayat Damar di angkut dan dibawa ke kost ini, kost 010"
"malam itu pada pukul 23.00, saudara Kevin keluar untuk memakirkan motor di garasi dan saat itu juga Kevin melihat mayat Damar tergeletak di depan pagar. bukan begitu Kevin..?"
"iya, benar" jawab Kevin
"saat itu pagar sudah dikunci bukan...?" tanya Zulfikar lagi
"iya, jam 10 kami sudah mengunci pagar dan juga pintu utama" jawab Kevin
"oke saya lanjut. Rahim mengatakan kalau masing-masing dari penghuni kost telah memegang kunci pagar dan juga kunci pintu utama. tidak ada yang bisa masuk ke dalam kost kecuali orang yang memegang kunci saat semua akses masuk telah dikunci" ucap Zulfikar menatap satu persatu penghuni kost
"terus...?" tanya Mahendra, ingin agar Zulfikar melanjutkan ucapannya
"kalau mayat Damar berada di halaman kost dan Kevin menemukan mayat Damar pada jam 11 malam dan saat itu pagar telah dikunci, otomatis yang membawa masuk mayat Damar adalah orang yang memegang kunci kost 010 itu sendiri" jawab Zulfikar
"bapak menuduh kami...?" Kevin mulai tidak ramah
"apa kamu merasa tertuduh...?" Mahesa menatap tajam Kevin
"bukankah pernyataan pak Zulfikar mengarah kalau kami yang melakukannya. pernyataan macam apa itu" ucap Kevin
"kami sedang tidak menuduh, menuduh sesuatu tanpa bukti jelas tidak dibenarkan. kami hanya berkesimpulan kalau yang membawa mayat Damar ke kost ini adalah orang yang memegang kunci akses masuk ke dalam kost dan tentu saja sudah jelas kalau orang itu adalah pelakunya" ucap Mahesa
"yang mempunyai kunci akses untuk masuk kan hanya kita penghuni kost" Iyan mulai bersuara dan semua mengangguk
"maksud bapak salah satu dari kami adalah pelakunya...?" Rahim bertanya
"iya, tidak mungkin orang lain karena mereka tidak memiliki kunci untuk masuk ke dalam" jawab Zulfikar
__ADS_1
"gila......ini benar-benar gila" Mahendra sulit percaya
"nggak mungkin pak, kami di sini sudah menganggap seperti saudara sendiri. kami tidak mungkin melakukan itu" Randi menggeleng tidak membenarkan
"siapa yang bisa tau, bahkan saudara sendiri saja dibunuh jika memiliki permasalahan" timpal Mahesa
"tapi kami tidak mempunyai masalah dengan Damar bahkan penghuni yang lain" ucap Wili
"ini sungguh tidak masuk akal" Rahim begitu shock mendengarnya
"jadi pembunuhnya adalah salah satu dari kita...?" Alan mulai bergetar
"elu percaya begitu saja...?" Kevin menatap tajam Alan
"ingin tidak percaya, tapi kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh pak Zulfikar. tidak ada yang bisa masuk kecuali yang mempunyai kunci akses untuk masuk ke dalam dan yang mempunyai kunci itu hanya kita penghuni kost" ucap Iyan
"ya Tuhan, jadi Damar dibunuh oleh salah satu teman kita sendiri" Mahendra lemas mendengar kenyataan
(*jadi tulisan yang ada di tas Damar itu memang benar. 010 pembunuh, dia ingin memberitahu kalau pembunuhnya adalah orang yang tinggal di kost 010) Mahendra teringat dengan tulisan darah yang ada di tas Damar
(apa jangan-jangan, tulisan yang angka terakhir tidak diketahui itu adalah nomor kamar sang pelaku) Mahendra terkesiap seketika*
sedangkan pelaku yang berada diantara mereka, mulai was-was. keberadaannya sekarang tidak aman, dia harus lebih hati-hati untuk sekarang. dia menatap benci ke arah Mahesa dan Zulfikar, kedua polisi itu benar-benar membuatnya muak.
ting....
pesan masuk di ponsel Mahesa. segera ia membaca pesan itu.
rekan : apa ini tidak terlalu cepat...? dia sekarang pasti akan mulai bergerak dengan hati-hati dan akan memantau pergerakan kita Mahesa membaca pesan dalam hati
Mahesa : mereka harus tau kalau pembunuhnya tinggal bersama mereka. setidaknya mereka dapat berhati-hati dan kita akan terus memantau mereka
rekan : baiklah, semoga itu keputusan yang baik
"brengsek" Mahendra meninju meja, Danil yang berada di dekatnya begitu kaget begitu juga yang lain
"gue bersumpah akan menemukan pembunuhnya. siapapun dari kalian yang menjadi pelakunya dan bersembunyi dibalik wajah malaikat bangsat itu, gue benar-benar akan membunuh elu jika gue mendapatkan elu" Mahendra begitu marah saat tau kenyataannya
"bang Arga" Danil memegang lengan Mahendra yang tersulut emosi
"tenang Hen, belum terbukti juga kalau salah satu dari kita adalah pembunuhnya" Olan menenangkan Mahendra
"bukti apalagi bang, pernyataan pak Zulfikar sudah membuktikan kalau diantara kita ada pembunuh berdarah dingin. dia bersembunyi dibalik topengnya yang bajingan itu" Mahendra meninggikan suaranya
(polisi brengsek, menyusahkan pergerakan gue saja) sang pelaku mengepalkan tangannya
"kami mengatakan ini bukan untuk agar kalian saling menyalahkan. kami hanya ingin memberitahu bahwa tinggal bersama pembunuh, bahaya dapat mengintai kapan saja. dia membawa mayat Damar di kost ini secara tidak langsung sebagai peringatan kalau kalian bisa saja akan bernasib seperti Damar" ucap Mahesa
"pak, apakah pembunuh Damar ini adalah juga pembunuh dari semua korban wanita yang meninggal karena di bunuh...?" tanya Rahim. dia hanya ingin memastikan benar atau tidak pikiran yang ada di otaknya sekarang
"itu kami belum tau pasti, tapi satu hal yang sudah kami tau kalau pembunuh semua korban wanita itu adalah orang yang sama. kami sudah menemukan bukti yang mengarahkan ke salah satu orang. belum ditau siapa identitasnya namun kami akan terus mencari tau dan menangkapnya" jawab Mahesa
setelah mengatakan apa yang mereka ketahui, Mahesa dan Zulfikar pamit pulang. sementara semua penghuni kost 010 sedang berkecamuk dengan pemikiran masing-masing.
"jadi salah satu dari kita ada seorang pembunuh...?" Faiz mulai bersuara
"ini sulit dipercaya. kita tidak tau siapa salah satu dari kita yang benar-benar berhati iblis" ucap Damar
"dan sekarang kita akan saling mencurigai satu sama lain" ucap Danil
(*bukankah waktu itu aku memukul pembunuh itu dengan kayu di belakang kepalanya. kalau pembunuh itu adalah orang yang sama dengan yang membunuh bang Damar, berarti dia pasti mempunyai luka dibelakang kepalanya) Alan menatap satu persatu abang-abangnya
(tapi tunggu, bukankah dia.... mempunyai luka di bagian belakang kepalanya...?) Alan menatap salah satu dari mereka*
"*aw sakit Bambang"
"kepala lu kenapa...?"
"luka"
"luka kenapa...?"
"dipukul pakai botol di bar"
"kapan. elu tengah malam ke bar ngapain...?"
"kemarin malam"
"bukannya malam itu terbunuhnya Alexandria Robin ya"
"iya".
"ya ampun, elu berani banget keluar malam-malam, ke bar lagi*"
"kenapa lu liatin gue kayak gitu...?" orang tersebut mengagetkan Alan
"nggak bang, Alan hanya sedang berpikir saja" Alan kaget
"berpikir kalau gue pelakunya...?"
"sudahlah jangan saling memojokkan. kita semua sekarang adalah tersangka. jadi mulai sekarang kita harus berhati-hati kepada setiap penghuni kost" Olan menengahi
pada akhirnya mereka larut dalam pikiran masing-masing. sementaranya si pelaku tersenyum licik dan menatap satu persatu semua yang ada di tempat itu.
__ADS_1