Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 39


__ADS_3

mobil Mahesa masih mengejar mobil si pembunuh itu, dirinya bersama Zulfikar sedang Damar mengejar dengan menggunakan motornya.


"brengsek" dia memukul setir mobil saat melihat di kaca spion dirinya dikejar oleh polisi


di pahanya terus mengalir darah akibat luka tembak yang di berikan oleh Mahesa. tangannya yang masih terborgol terus memainkan setir mobil bahkan dengan kecepatan yang tinggi.


Maureen yang sudah sampai di jalan raya bahkan sudah sangat jauh dari sarang Wili, psikopat berdarah dingin kini sedang istirahat di pinggir jalan.


untungnya ada sebuah mobil pick up yang memberikan dirinya tumpangan namun tidak sampai di rumahnya. dirinya diturunkan karena kini arah pemilik mobil dengan Maureen berbeda.


"terimakasih banyak pak" ucap Maureen saat turun dari mobil


"sama-sama mba. maaf sekali tidak bisa mengantar sampai rumah karena istri saya sedang membutuhkan saya di rumah sakit" dia sebenarnya tidak tega menurunkan Maureen di jalan dalam keadaan sepi


"tidak apa-apa pak, rumah saya tidak jauh lagi dari sini" Maureen berbohong agar pria itu tidak merasa bersalah


sebenarnya Maureen ingin meminta tolong untuk membawanya ke kantor polisi namun melihat pria itu yang sepertinya sedang terburu-buru, dia urungkan niatnya dan akan meminta tolong kepada yang lain.


dia berjalan lurus ke depan, jalanan sudah nampak sepi karena memang sudah sangat larut malam. saat melihat ponsel yang dipegangnya, angka di layar ponsel itu menunjukkan pukul 2 dini hari.


baterai ponsel tersebut hanya tersisa 10% lagi. dia duduk di sebuah warung di pinggir jalan dan mulai menulis acak sandi yang ada di ponsel tersebut, namun tetap saja tidak ada yang cocok untuk dapat membukanya.


di rumah sakit, Faiz mengirimkan pesan kepada Olan, Wili dan Iyan. dia memberitahu kalau Randi sekarang dalam keadaan kritis di rumah sakit. entah siapa dalangnya namun Faiz berpikir mereka harus tau tentang keadaan Randi.


Iyan berada di kost temannya lantaran menjenguk temannya itu karena sakit, seketika langsung pamit pulang. dia akan ke rumah sakit untuk bertemu yang lainnya.


sementara Olan yang ternyata baru saja mengantar kekasihnya di rumah, langsung tancap gas ke rumah sakit setelah membaca pesan dari Faiz.


Olan dan kekasihnya baru saja pulang menghadiri pesta ulang tahun sepupu kekasihnya itu. dirinya yang masih berada di kantor langsung dihubungi oleh sang kekasih untuk menemaninya ke acara ulang tahun dan tentunya Olan tidak bisa menolak.


karena posisi Iyan yang tidak begitu jauh, hanya beberapa menit dirinya sudah berada di rumah sakit. sedangkan Olan yang lumayan jauh, masih diperjalanan. sesekali dia menguap karena mengantuk. hingga tanpa sadar dia menabrak seorang wanita yang secara tiba-tiba berlari ingin menyebrang.


Olan terjatuh dan terseret beberapa meter, sedangkan wanita itu pingsan setelah kepalanya membentur aspal.


"astaghfirullah"


dengan gontai Olan menghampiri wanita itu. sudah tidak dipedulikan luka yang dialaminya, melihat wanita itu pingsan Olan langsung panik.


drrrttt.... drrrttt


ponselnya bergetar, Faiz menghubunginya.


📞 Faiz


bang Olan dimana...?


📞 Olan


Iz, tolongin gue iz


suara panik dari sebrang sana membuat Faiz seketika menjadi panik.


📞 Faiz


bang Olan kenapa, ada apa bang. abang dimana sekarang...?


melihat kepanikan Faiz, yang lainnya pun menjadi tegang. mereka takut terjadi sesuatu dengan Olan.


"kenapa Iz...?" tanya Iyan


"nggak tau bang" jawab Faiz


📞 Olan


gue nabrak orang Iz, dia pingsan. malah nggak ada kendaraan yang lewat di sini


📞 Faiz


huufffttt... syukurlah


📞 Olan


kok elu malah ngucapin syukur gue nabrak orang


📞 Faiz


bukan gitu bang. ya sudah Abang kirim lokasi abang dimana, nanti gue yang pergi jemput abang


Olan pun memberitahu dimana posisi dirinya berada sekarang. setelah itu Faiz meminjam mobil Cakra untuk menjemput Olan yang kini sedang menunggunya.


"saya ikut, takutnya pembunuh itu masih mengincar salah satu dari kalian" ucap Cakra


"benar Iz, sebaiknya pak Cakra menemanimu. kita belum tau siapa pelakunya" Rahim setuju


Faiz pun mengangguk, kemudian dirinya dan Cakra meninggalkan rumah sakit untuk menjemput Olan.


setelah lama berkendara, keduanya telah sampai di tempat tujuan. mereka dapat melihat Olan yang sedang memeluk seorang wanita.


"bang Olan" Faiz keluar dari mobil


"syukurlah Iz elu datang. tolong, kepalanya berdarah" Olan memangku kepala wanita itu


"bawa masuk di mobil" ucap Cakra


Olan menggendong wanita itu masuk ke dalam mobil. dia menemani wanita itu di dalam mobil sementara Faiz mengambil alih motor Olan untuk menuju rumah sakit. setelah sampai, wanita itu segera ditangani oleh dokter. Olan menunggu sementara Faiz dan Cakra kembali ke ruang ICU.


"belum keluar juga...?" tanya Cakra


"belum pak" Alan menjawab dengan lesu


wanita itu telah dipindahkan ke ruang rawat. setelah memastikan keadaannya baik-baik saja, Olan meninggalkan wanita itu untuk menemui teman-teman.


"bang Rahim" panggil Olan saat dia tiba


"kenapa bisa seperti ini bang...?" Olan duduk di samping Rahim


"ini ulah pembunuh itu" jawab Rahim


"brengsek, siapa sih sebenarnya dia. teman sendiri dia celakai" Olan mengeraskan rahangnya

__ADS_1


"bisa jelaskan kalian berdua darimana...?" Cakra ingin tau, karena memang keduanya tidak ada ditempat kejadian


"saya dari kost teman. dia sakit dan nggak ada yang jaga makanya gue mampir ke sana. setelah pulang kerja gue langsung ke kost teman. saat membaca pesan Faiz, gue langsung ke sini" Iyan menjawab


"bisa tunjukkan bukti kalau kamu memang berada di kost teman mu...?" ucap Cakra


"ini foto teman saya yang lagi sakit, namanya Hendri. terus ini percakapan saya dengan dia sebelum saya ke tempatnya. ada juga cctv di tempat itu, bapak bisa cek kalau tidak percaya" jawab Iyan


"hubungi temanmu sekarang, kalau kamu memang dari tempatnya" Cakra masih belum percaya


sebenarnya Iyan ragu untuk menghubungi temannya selarut itu namun karena dia harus membuktikan dirinya tidak bersalah, dia pun menekan nomor temannya itu.


panggilan tersambung


📞 Hendri


halo yan, elu udah sampai...?


📞 Iyan


udah, elu nggak apa-apa kan gue tinggal


📞 Hendri


nggak apa-apa, gue udah mulai mendingan juga. oh ya keadaan teman lu gimana...?


📞 Iyan


masih di ruang ICU. syukurlah kalau elu udah mendingan. gue telpon hanya untuk memastikan saja. kalau gitu gue tutup ya


📞 Hendri


iya, thanks udah peduli


"bagaimana pak, sudah percaya sekarang...?" tanya Iyan saat telah memutuskan panggilan


"bagaimana denganmu...?" Cakra beralih ke Olan


"saya dari menghadiri pesta ulang tahun sepupu pacar saya di jalan xxx. kalian menjemput saya tadi, itu saya baru saja pulang mengantar pacar saya ke rumahnya" Olan menjawab


"siapa nama pacarmu...?" tanya Cakra


"Hana" jawab Olan


"buktinya...?" tanya Cakra. dia menanyakan bukti dari apa yang diucapkan Olan tadi


Olan segera menghubungi pacar yang dia maksud.


📞 Hana


ada apa sayang...?


📞 Olan


kamu belum tidur...?


📞 Hana


📞 Olan


masih diperiksa. kalau begitu kamu tidurlah


📞 Hana


iya. terimakasih ya sudah menemani ku ke ulang tahun Arina malam ini meskipun aku tau kamu tidak nyaman bertemu dengannya


📞 Olan


tidak masalah. sekarang tidurlah, aku tutup ya


📞 Hana


iya sayang


"dia Hana pacar saya pak, percaya kan sekarang...?" tanya Olan


"kalau alibi kalian benar berarti tinggal mencurigai satu orang" ucap Cakra


"Wili...?" mereka semua mengucapkan nama itu bersamaan


"bang Wili...? nggak mungkin pak, bang Wili orangnya sangat baik, nggak mungkin dia" Alan tidak percaya


"bahkan saudara kandung kita sendiri saja tidak akan kita percaya kalau dia yang telah menyakiti kita, apalagi jelas-jelas orang lain yang tidak mempunyai ikatan darah" Cakra menimpali


"Allah Wili" Rahim sungguh tidak mengira


"kami selama ini telah mencurigai tiga orang, namun ternyata kecurigaan kami meleset"


"siapa mereka pak...?" tanya Mahendra


"Iyan, Olan dan Kevin"


"saya...?" Iyan menunjuk dirinya


"iya. kami melihat ada dirimu di beberapa foto korban yang bernama Clara" ucap Cakra


"Clara...?" lagi-lagi Iyan bertanya


"lihatlah ini" Cakra menunjukkan foto-foto itu kepada Iyan


Iyan melihat, yang lain pun ikut melihat. memang benar kalau dilihat secara teliti, Iyan ada di foto itu.


"kok bisa gue ada di sini" ucap Iyan


"apa kamu mengenal Clara sebelumnya...?"


"nggak pak, saya juga tidak tau kalau saya tertangkap kamera wanita ini. memang kalau di pantai ini saya pernah ke sana tapi kami banyak. waktu itu saya bersama teman-teman kost sebelum Mahendra masuk dan juga Faiz, Danil serta Damar. Damar yang dimaksud adalah Damar yang sekarang


"ingat nggak bang, pas ulang tahun bang Olan. Abang kan mengajak kita ke pantai untuk merayakannya" Iyan melihat ke arah Olan

__ADS_1


"iya gue ingat, saat itu Damar hampir tenggelam" Olan menjawab


"kalau foto-foto yang lain...?" tanya Cakra


"saya nggak ingat pak, tapi saya berani sumpah saya tidak mengenal wanita ini" Iyan memberikan kembali ponsel Cakra


"terus sekarang kenapa bang Olan dan bang Kevin juga di curigai...?" tanya Danil


"kalau Olan, dia memiliki beberapa novel gender kriminal, psikopat berdarah dingin. jadi kami pikir bisa jadi, dari membaca novel itu dirinya membuktikan di dunia nyata. kebanyakan seorang psikopat memang senang membaca hal-hal yang berbau pembunuhan seperti itu" jawab Cakra


"saya memang mengoleksi banyak novel seperti itu pak, tapi saya tidak melakukan kejahatan yang ada di novel itu ke kehidupan nyata. dan dari sekian banyaknya novel yang saya punya, dua diantaranya hilang. padahal itu novel yang paling saya suka" timpal Olan


"bang Wili juga punya novel gender kriminal, psikopat berdarah dingin. Alan pernah lihat di kamarnya" Alan bersuara


"bukannya Wili sukanya novel romantis ya, kenapa jadi minat novel tindak kriminal" ucap Iyan


"ada kok novelnya. ada dua novel, judul salah satunya kalau nggak salah....sang psikopat misterius" jawab Alan


"loh, itukan sama dengan judul novel gue yang hilang" Olan dengan cepat menimpali


"tulisan sampulnya warna merah nggak Al, semacam darah begitu" tanya Olan


"iya bang" jawab Alan


"terus ada gambar orang yang memegang pisau dengan lumuran darah...?" tanya Olan lagi


"iya benar bang, kok Abang bisa tau" jawab Alan


"itu novel gue yang hilang. kenapa bisa ada sama Wili"


"apa jangan-jangan Wili mengambilnya dan tidak memberitahu elu" ucap Faiz


"berarti pelaku sebenarnya memang bang Wili...?" tanya Alan


"astaga, kalau memang dia, gue benar-benar nggak nyangka" Olan memijit pelipisnya


mereka kemudian dikagetkan dengan pintu ruang ICU yang terbuka. dengan cepat mereka menghampiri dokter yang sekarang masih memakai pakaian khusus untuk menangani pasien yang sedang berada di ruang ICU.


"keluarga pasien" tanya dokter


"iya dokter. saya kakaknya, bagaimana keadaan adik saya dok...?" Rahim menjawab


"kami membutuhkan darah O"


"saya darah O dokter, ambil darah saya sebanyak mungkin asal bang Randi selamat" Alan segera turun tangan


"saya juga darah O dok, ambil juga darah saya" ucap Mahendra


"baik, silahkan ikut saya"


Mahendra dan Alan mengikuti dokter itu sementara yang lain tetap menunggu di tempat mereka.


Wili masih terus mengemudikan mobilnya sedang Mahesa dan Damar masih terus mengejarnya.


"kemana dia akan pergi...?" tanya Zulfikar


"entahlah tapi yang pasti kali ini dia nggak boleh lolos" jawab Mahesa dengan fokus pandangannya terus ke depan


"harusnya gue pukul pingsan saja tadi dia. semoga Randi tidak kenapa-kenapa" Zulfikar mengusap wajahnya dengan kasar


Wili yang terlalu laju membawa mobil hampir saja menabrak pengendara motor yang sedang melintas. dengan cepat dia membanting stir ke kanan dan mobil itu berputar seperti gasing.


"aaaggghh"


braaaakkk


braaaakkk


dia tidak bisa mengendalikan mobil itu sehingga mobil tersebut menabrak trotoar dan berguling hingga mobil itu terbalik.


"astaga Hes, dia kecelakaan" Zulfikar kaget


mereka segera berhenti begitu juga dengan Damar. pengendara motor tadi yang hampir di tabrak juga menepikan motornya dan menghampiri mobil itu.


Wili sudah tidak sadarkan diri. entah pingsan ataukah telah mati mereka belum tau. wajahnya sudah berlumuran darah.


Damar berusaha mengeluarkan temannya itu. dia berusaha membuka pintu depan yang sudah sangat ringsek.


"bau bensin" ucap Mahesa mencium sesuatu


"kita harus keluarkan dia secepat mungkin, kalau tidak mobil ini akan meledak" ucap Zulfikar


"gue sedang berusaha" jawab Damar yang sekuat tenaga mengeluarkan kekuatannya


"aaaggghh, susah sekali"


braaaakkk


braaaakkk


Damar menendang pintu mobil namun sama sekali tidak berhasil.


"gue bantu" Mahesa membantu Damar membuka pintu mobil namun tetap saja tidak terbuka sama sekali


"saya punya linggis pak, mungkin itu bisa membantu" ucap laki-laki yang hampir ditabrak oleh Wili


"ambilkan cepat pak" perintah Mahesa


laki-laki itu segera berlari ke motornya dan mengambil sesuatu kemudian setelahnya dia kembali lagi dan menyerahkan linggis itu kepada Mahesa.


Mahesa berusaha mencungkil pintu mobil itu dengan linggis laki-laki tadi.


"Hes, Dam...api" Zulfikar berteriak saat dirinya mulai melihat api yang sudah menyala di mobil


"aaaggghh"


ddduuuaaaar


buuuuum

__ADS_1


mobil itu meledak seketika. kobaran api begitu tinggi, orang-orang di sekitar yang mendengar suara ledakan itu langsung menghambur keluar dari rumah masing-masing untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar.


__ADS_2