Misteri Pembunuhan Berantai

Misteri Pembunuhan Berantai
Episode 43


__ADS_3

"elu datang lagi...?"


dua orang menghampiri salah seorang yang sedang berdiri terpaku melihat keindahan di sekitarnya.


"bagaimana kabarmu...?"


"gue.... ingin ikut bersama kalian"


"belum saatnya"


"kenapa, bukankah gue sudah di sini. gue bisa ikut ke tempat kalian berdua"


"setelah apa yang elu perbuat, elu ingin pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab...?"


"apa....kalian membenciku...?"


"tentu nggak, kita kan saudara"


"iya, kita adalah saudara. kembalilah ke tempatmu, belum saatnya kamu berada di sini"


"kalian nggak ingin balas dendam selagi gue di sini...?"


"untuk apa, jika itu kami lakukan, lalu apa bedanya kami berdua dengan elu"


"kembalilah, saat waktumu tiba kami pasti akan menjemput"


"bangunlah, banyak yang harus elu hadapi setelah bangun nanti"


"bisakah gue memeluk kalian berdua...?


"kemarilah"


di pelukannya keduanya dia terisak menangis dan memeluk mereka dengan eratnya.


"bang, bang Wili nangis"


"tangannya gerak bang"


"Wil... Wili"


"nak, bangun sayang. ini ibu"


"kembalilah, kami akan menjemputmu jika waktunya telah tiba"


"sampai jumpa lagi kawan"


air mata Wili terus mengalir membasahi bantal, entah mengapa saat susah rasanya hanya untuk sekedar menggerakkan tangannya.


"g-gue nggak bisa. berat sekali rasanya. ada apa dengan tubuhku, apa gue lumpuh"


"panggilkan dokter"


"pencet tombol di samping itu Hen"


"bang Wili sadar....bang Wili sadar"


matanya yang lama tertutup membuatnya perih saat silauan cahaya mengenai penglihatannya. Wili kembali menutup matanya lama kemudian membuka kembali dengan pelan.


masih kabur penglihatannya, dia belum mengenali siapa yang kini telah mengerumuninya. hingga kemudian dia menutup kembali matanya dan membukanya lagi. ia lakukan itu secara berulang-ulang hingga akhirnya ia dapat melihat dengan jelas.


satu minggu dalam keadaan koma, Wili Alfiansyam hari itu kini telah bangun dari komanya. semua squad 010 merasa senang karena sahabat mereka itu dapat melewati tidur panjangnya.


"saya periksa dulu ya" seorang dokter yang menangani Wili sejak awal memeriksa keadaannya


"coba lihat ini berapa...?" tanya dokter memperlihatkan dua jarinya


"dua" jawab Wili pelan


"kalau ini semua...?"


"sepuluh"


"kamu tau apa ini...?"


"pulpen"


"apa yang kamu rasakan sekarang...?"


"pusing. kepalaku pusing dan sakit" Wili meringis


"kamu ingat siapa namamu...?"


"nama...?"


"iya, namamu. coba beritahu saya siapa namamu"


"Wili Alfiansyam"


"hah syukurlah dia ingat" ibunya Wili merasa lega


"kamu kenal siapa mereka...?" dokter itu menunjuk semua orang yang berada di dalam ruangan itu


yang pertama ia lihat adalah wajah seorang wanita yang kini sedang menangis haru ke arahnya.


"ibu" panggil Wili


wanita itu segera memeluk anaknya dan menciumi seluruh wajahnya. dia bersyukur selama seminggu menemani anaknya akhirnya Wili bangun juga dari komanya.


"kalau mereka apakah kamu ingat...?" ucap dokter kembali


Wili kembali melihat ke arah depan. semua orang yang sedang menatapnya itu tersenyum hangat ke arahnya. bahkan salah satu dari mereka memakai baju pasien rumah sakit yang sama dengannya.


"kembalilah, disini bukan tempatmu"


"apa kalian membenciku...?"


"tentu saja nggak, kita kan saudara"


"kami akan menjemputmu jika waktunya telah tiba"


"sampai jumpa lagi kawan, kita akan bertemu lagi. bangunlah dan perbaiki dirimu"


air mata Wili kembali mengalir, dia menatap sendu ke arah squad 010 yang juga sedang menatapnya.


"b-bang" Wili memanggil Rahim dengan terbata


seketika itu Rahim langsung memeluknya. dia memeluk adiknya itu dengan sayang, tidak ada kebencian dalam dirinya termasuk juga yang lainnya. setelah mengetahui apa yang dilalui Wili sehingga dirinya menjadi salah langkah, mereka tidak menghakimi namun merangkul dan memeluk sahabat mereka itu.


"hiks...hiks...m-maaf...maaf" Wili terisak di pelukan Rahim


Rahim mengangguk tanpa menjawab, dia tidak bisa mengeluarkan suara sekedar untuk menyahut permintaan maaf adiknya. dirinya hanya ikut menangis dan memeluk erat tubuh Wili.


semua squad 010 berkaca-kaca, air mata mereka tumpah melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka.


mereka telah kehilangan dua orang sahabat, mereka tidak ingin lagi kehilangan hanya karena rasa benci menguasai hati dan pikiran mereka.


"maaf bang, gue minta maaf...hiks...hiks...g-gue pembunuh"


"sssttt" Rahim menenangkan Wili untuk tidak melanjutkan ucapannya


"kami semua nggak membencimu, kami semua sayang sama elu. tugas elu sekarang, cepatlah sembuh" ucap Rahim melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Wili


Wili mengangguk. kemudian ia alihkan pandangannya ke arah depan. dirinya dapat melihat Randi yang sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


sahabatnya itu hampir mati karenanya, ia mengingat saat bagaimana dirinya menggorok leher Randi kemudian meninggalkannya begitu saja.


"Wil" panggil Randi


Wili tidak dapat lagi menahan dirinya, dia kembali menangis sejadi-jadinya. perbuatan yang telah ia lakukan kepada ketiga sahabatnya membuat dirinya sangat merasa bersalah.


"gue pembunuh....gue pembunuh" Wili membenturkan kepalanya di tembok


"Wil... Wili cukup" Rahim menarik kembali tubuh Wili dan memeluknya


bahkan Wili mencoba untuk melukai dirinya sendiri. dokter mengambil tindakan dengan menyuntikkan obat penenang sehingga kini Wili kembali tertidur dengan pulas.


"gue takut saat dia bangun nanti, dia akan melukai lagi dirinya sendiri" ucap Olan


"dia anak yang baik" ibunya Wili mengelus kepala Wili


"apakah nanti polisi akan datang menjemput bang Wili...?" tanya Danil


"setelah dirinya baik-baik saja, tentu saja kami akan membawanya" jawab Damar


"apa putraku akan menjalani hukuman mati...?" ibunya Wili bertanya dengan suara serak


"maaf Bu, saya belum bisa mengatakan kepastiannya" Damar tidak ingin menduga-duga meski sebenarnya kemungkinan hukuman mati akan ada


"anakku yang malang, kenapa hidupmu seperti ini nak"


sementara kini Mahesa, Zulfikar dan Cakra telah mengumpulkan banyak bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Wili. karena dalam keadaan serius, mereka sampai tidak mengira kalau ada seseorang yang tengah berdiri memperhatikan ketiganya.


"kalian memang tidak pernah berubah. kalau sudah serius, pendengar kalian seakan mati" ucapnya


mendengar suara seseorang, ketiganya mengangkat kepala dan melihat siapa yang datang mengunjungi mereka.


"Angga"


"apa kabar kawan...?" Angga tersenyum


segera mereka beranjak dan memeluk pria itu. kini keadaannya baik-baik saja setelah hampir merenggut nyawa dalam sebuah kecelakaan.


"elu sudah pulih...?" tanya Mahesa


"seperti yang kalian lihat" jawab Angga


"kita duduk di sana saja" ajak Mahesa untuk duduk di sofa


"bagaimana kakimu...?" tanya Cakra


"Alhamdulillah setelah melewati beberapa kali perawatan, gue bisa berjalan seperti sebelumnya" jawab Angga


"syukurlah" ucap ketiganya


"oh iya, gue lihat kalian sedang sibuk-sibuknya. apa yang kalian kerjakan...?" tanya Angga


"pembunuh berantai itu telah kami dapatkan" jawab Zulfikar


"iya, gue lihat itu diberita. salah satu penghuni kost 010" ucap Angga


"dari semua bukti yang kami dapatkan, ini dapat menjeratnya hukuman berat" ucap Mahesa


"berat atau nggak, dia tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya" ucap Angga


"apakah dia akan dihukum mati...?" tanya Cakra


"kita hanya menunggu keputusan sidang nanti, untuk sekarang kita belum memastikan. apalagi sekarang kondisinya dalam keadaan nggak baik-baik saja" jawab Mahesa


"padahal dia adalah anak yang baik, bahkan sangat baik. nggak nyangka saja ada jiwa psikopat dalam dirinya" ucap Zulfikar


"itulah psikopat, dia sangat pandai membaur dalam lingkungannya dan bersikap manis dari balik topengnya yang asli" jawab Mahesa


saat sedang mengobrol, ponsel Mahesa bergetar. sebuah pesan masuk dari rekannya, Damar.


Mahesa : lalu bagaimana keadaannya sekarang...?


Damar : perlu pemulihan total untuk membuat dirinya baik-baik saja. sepertinya kita harus menunggu


Mahesa : kami akan kesana


"kita ke rumah sakit, dia sudah bangun dari koma" Mahesa memberitahu


"kalau begitu kita pergi sekarang" ucap Cakra


"boleh gue ikut...?" Angga menawarkan diri


"tentu saja, kita berangkat sekarang" jawab Mahesa


mereka meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. selang beberapa menit tibalah mereka di rumah sakit besar yang ada di kota itu. keempatnya memasuki lobi rumah sakit dan menuju ke kamar rawat Wili yang sudah diberitahu oleh Damar.


cek lek


pintu terbuka, nampak ramai di dalam ruangan itu. mereka mendekat dan ibunya Wili menyambut kedatangan mereka dengan baik


"apa anak saya akan dibawa sekarang...?" tanya ibunya Wili. dia masih sangat belum sanggup jika berpisah dengan putra satunya


"belum Bu, kami akan membantu setelah keadaannya pulih" jawab Mahesa


Wili kini masih dalam keadaan tertidur pulas. semua squad 010 masih berada di kamar itu tanpa berniat untuk pulang.


"namun kami akan memberitahu bahwa Wili Alfiansyam kini telah menjadi salah satu tahanan yang perlu kami pantau setiap saat" lanjut Mahesa


"saya mengerti, dia memang harus menjalani hukumannya" ibunya Wili mengangguk pelan dan menatap sendu ke arah Wili


siang berganti malam begitu seterusnya. squad 010 setiap hari mengunjungi Wili yang masih dalam masa pemulihan. Damar telah keluar dari kost 010, namun meskipun begitu dia masih tetap sering berkunjung ke tempat itu.


"dalam keadaan koma, gue bermimpi bertemu Kevin dan Damar" ucap Wili memberitahu semuanya


"mereka sudah bahagia di sana" jawab Olan


"iya, mereka bahagia. senyuman keduanya masih sama seperti dulu, mereka tersenyum hangat padaku" Wili menatap ke arah jendela


"gue... ingin seperti mereka. tersenyum tanpa beban" lanjut Wili


"tapi di satu sisi gue....takut bertemu Tuhan"


"bertobat dan teruslah meminta ampun. Tuhan mengampuni setiap dosa manusia kecuali syirik" ucap Mahendra


"apa....Tuhan akan memaafkan gue...?" Wili menata Mahendra


"tentu saja. Tuhan maha pengampun segala dosa manusia. itulah betapa baiknya Tuhan kepada hambanya. maka dari itu jangan sia-siakan kesempatan waktu untuk elu meminta ampun" jawab Mahendra


"belum saatnya elu ikut bersama kami"


"bangunlah, masih banyak yang harus elu lakukan. pertanggung jawabkan semua perbuatan mu, dan perbaiki dirimu"


(apa karena itu kalian tidak ingin gue ikut karena belum meminta ampun dari lumuran dosa) batin Wili


hari terus berlalu hingga kini tiba saatnya Wili akan dijemput oleh Mahesa dan yang lainnya. untuk saat ini mereka sedang berada di kost 010. tampak mereka semua sedang menunggu kedatangan polisi itu di ruang utama.


Mahesa datang bersama Angga. mereka berdua yang datang menjemput Wili untuk dibawa ke kantor polisi. tidak ada perlawanan sama sekali dari Wili, bahkan dirinya menyerahkan tangannya untuk diborgol. segera Mahesa mengeluarkannya borgol dan memborgol tangan Wili.


"kami akan sering menjenguk elu" Rahim memeluk Wili


yang lainnya pun ikut memeluk dan terakhir Wili berpelukan dengan ibunya. tangis wanita itu pecah saat anaknya dimasukkan ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


Wili menjalani interogasi. Mahesa bertanya banyak hal dan Wili menjawabnya tanpa ada yang ia tutupi. hingga akhirnya Wili Alfiansyam kini dijadikan sebagai tersangka pembunuhan berantai dan dimasukkan ke sel tahanan. dia akan melakukan sidang untuk menentukan hukuman yang akan dijalaninya nanti.

__ADS_1


beberapa bulan dirinya telah melakukan sidang sebanyak dua kali dan minggu depan adalah sidang terakhir, sidah keputusan hakim untuk hukuman yang akan Wili terima.


kali ini teman-teman kostnya datang menjenguk dirinya, mereka membawa makanan dan minuman kesukaan sahabat mereka itu.


"ini enak" ucap Wili menikmati makanannya


"itu Alan yang masak bang" jawab Alan


Wili tersenyum dan kembali menyantap makanannya. dia begitu menikmati makanan itu hingga habis tanpa sisa.


"terimakasih sudah sering datang menjengukku" ucap Wili


"itulah gunanya saudara, tentu kami akan datang melihat mu" jawab Iyan


"elu baik-baik saja kan, kenapa muka lu pucat begitu" Mahendra melihat Wili begitu pucat dan bahkan bibirnya mengering padahal tadi dirinya habis makan dan minum


"gue baik-baik saja" jawab Wili


"tapi elu pucat banget Wil" Randi merasakan kalau temannya itu sedang dalam keadaan tidak sehat


"gue ok Ran, jangan khawatir" jawab Wili dengan senyuman pucatnya


"bang Alan harus sehat-sehat, Alan nggak mau kehilangan Abang lagi. cukup bang Damar dan bang Kevin yang pergi, bang Wili jangan" Alan memegang erat tangan Wili


"elu harus jadi orang yang membanggakan dikemudian hari ya" ucap Wili


uhuk...uhuk


Wili terbatuk, Mahendra segera memberikan air minum kepada Wili dan ia pun meneguknya sampai habis.


tidak terasa waktu kunjungan telah habis, Wili kembali di bawa masuk sementara yang lainnya kembali pulang.


seminggu waktu berlalu, hari ini adalah hari keputusan sidang yang akan di jalani oleh Wili. dengan pakaian bertuliskan tahanan, Wili duduk di kursi dengan badan yang kurus tidak seperti dulu. wajahnya mulai kusam tidak terawat lagi seperti dulu. kumis tipis mulai tumbuh, kini Wili Alfiansyam tidak lagi merawat diri namun meskipun begitu ketampanan laki-laki itu tidak pernah luntur.


sang ibu duduk di kursi belakang, memperhatikan putranya yang akan menerima hukuman atas segala perbuatannya. wajah lelah wanita itu terlihat jelas di matanya, kepedihan dan kehilangan begitu menunggu di depan matanya.


sementara semua penghuni kost 010, juga ikut hadir dalam sidang tersebut. mereka begitu deg-degan menunggu hasil keputusan sidang yang akan dibacakan oleh hakim.


"saudara Wili Alfiansyam, saudara dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan berantai yang telah menewaskan banyak korban. maka dari itu, dengan ini saya menjatuhkan hukuman sesuai peraturan yang berlaku. saudara Wili Alfiansyam, saudara divonis dengan hukuman mati"


tak


tak


tak


hakim menjatuhkan palu setelah membacakan vonis hukuman yang akan diterima oleh Wili.


Wili tersenyum bahkan kini senyumannya mengembang setelah mendengar hukuman yang akan diterima. dia melihat ke atas dan tetap dalam keadaan tersenyum.


(kita akan bertemu) batin Wili


sementara itu ibunya Wili pingsan, melihat keadaan ibunya Wili beranjak untuk memeluk ibunya itu namun saat itu juga dirinya langsung ditahan dan akan dibawa kembali ke sel tahanan.


"pak sebentar saja, saya ingin bertemu ibu saya" Wili memberontak


"tidak bisa, kamu sudah harus kembali"


"saya mohon pak, saya ingin bertemu ibu saya untuk terakhir kalinya" Wili memohon


"tetap tidak bisa"


Wili dipaksa untuk ikut namun saat itu juga Mahesa datang dan memberikan waktu kepada Wili untuk menemui ibunya. dengan cepat Wili menghempaskan tangan pria yang menahannya tadi dan berlari mendekati ibunya.


"Bu, bangun bu. ini Wili" Wili memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya


"maafin Wili Bu, maaf" ia terisak dan menangis


semua teman-temannya pun ikut menangis. mereka ikut memeluk Wili bahkan mungkin itu adalah pelukan terakhir untuk mereka semua. tidak ada yang dapat mereka lakukan, segala perbuatan yang diperbuatnya semua ada konsekuensinya dan sekarang Wili mendapatkan hasil dari apa yang telah dia perbuat selama ini.


"bang, tolong jaga ibu gue saat gue udah nggak ada" Wili menitipkan amanah kepada Rahim


"pasti, gue akan menjaganya seperti ibu gue sendiri" Rahim memeluk Wili


dengan penuh air mata, Wili dan yang lainnya pun berpisah. ibunya telah dibawa ke rumah sakit.


"bang Wili" Alan mulai menangis terisak


"elu tetap akan di hati kami Wil" ucap Faiz


"kami semua sayang sama elu" ucap Randi


"titip salam untuk kedua sahabat kita, kami akan selalu mendoakan kalian" ucap Mahendra


Wili melangkah menjauh dan kemudian berhenti. ia berbalik melihat ke arah teman-temannya. dia tersenyum, senyuman itu adalah senyuman yang terakhir untuk dilihat oleh squad 010.


(selamat tinggal)


setelah itu Wili tidak terlihat lagi, semua penghuni kost 010 kembali merasakan sakitnya kehilangan. tiga orang yang sangat mereka sayangi, pergi meninggalkan mereka.


1 tahun kemudian


"apa kabar, elu pasti udah bahagia di sana ya" Mahendra menjenguk makam Damar


"kalian di sana pasti sudah bersama"


"maaf, gue lama datang menjenguk elu. elu taulah mahasiswa pasti super sibuk"


Mahendra membersihkan makam Damar, kemudian menaburkan bunga di atasnya. setelah itu dia mengirimkan doa untuk sahabatnya itu.


drrrttt.... drrrttt


📞 Mahendra


halo


📞 Rahim


kapan kesini Hen


📞 Mahendra


bentar lagi gue mau berangkat bang


📞 Rahim


ok di tunggu


📞 Mahendra


sip


setelah mematikan panggilan, Mahendra meninggalkan makam Damar. dia dan Danil akan kembali ke kota Y.


hari ini semua penghuni kost akan mengunjungi makam Kevin dan Wili. sebelum menjalani hukuman mati, Wili berpesan kepada Mahesa bahwa dia ingin dikubur di samping makam sahabatnya, Kevin dan pesan terakhirnya itu diwujudkan oleh mereka.


di depan mereka semua, kedua sahabat mereka telah beristirahat dengan tenang. satu tahun telah berlalu, ketiganya akan tetap ada dihati mereka semua. persahabatan mereka dibawa sampai mati.


selamat jalan sahabat......


Damar Pradipta


Kevin Aprilio

__ADS_1


Wili Alfiansyam


__ADS_2